
Tiga bulan kemudian....
Ratu Tara akan melahirkan bayinya, dan dia ingin melahirkan bayi itu diruangan yang tertutup dan hanya dia dan tabib saja yang hadir disana.
Sementara, berulang kali permaisuri Andini berusaha masuk kedalam kerajaan putrinya, namun selalu dihalangi oleh Ratu Mayang hingga dia tidak mampu menggugurkan bayi itu dari kandungan putrinya.
Bahkan saat ini putrinya akan melahirkan bayi itu.
Dia ingin hadir disana untuk menyelamatkan nyawa putrinya, namun Ratu Mayang dan raksasa itu selalu menghadangnya hingga dia terpaksa mundur kekerajaanya.
"Sudahlah Permaisuri, kita akan mencari cara yang lain agar bisa masuk kedalam istana putrimu." Kata Raja Muria melihat Permaisuri terluka akibat serangan dari Ratu Mayang yang dibantu oleh raksasa penjaga hutan itu.
"Tapi aku khawatir pada keselamatan putriku raja. Bagaimana jika setelah melahirkan, Ratu Mayang dan suaminya membunuhnya demi bayi jelmaan itu?"
"Itu tidak akan terjadi. Putrimu masih memegang kedua keris sakti yang tidak terkalahkan." Kata Raja Muria.
"Ratu Mayang benar-benar licik dan kejam, dia menggunakan putranya untuk memperdaya putriku." Kata Permaisuri dengan sedih.
Raja melihat permaisuri dengan tatapan iba dan kesedihan yang mendalam.
Tapi Raja juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena kekuatannya tidak sebanding dengan Ratu Mayang dan raksasa itu.
***
Diistana Putri ...
"Ratu akan melahirkan!"
Teriak beberapa wanita diistana putri itu. Salma segera pergi keistana Ratu untuk melihat keadaan ratunya.
Sementara Silsila yang tidak bisa menemui Ratunya dari hari dia mendapatkan racun itu mulai berfikir untuk memasukkan racun itu kedalam cincin yang sedang dia pakai.
Silsila membuka mutiara dicincinya dan memasukkan serbuk itu kedalamnya. Setelah itu, Silsila menutupnya kembali.
"Jika aku tidak bisa menghabisinya saat didalam perut Ratu, maka aku akan melakukanya setelah dia lahir ke dunia ini." Kata Silsila dalam hati.
Silsila lalu menemui Bibi Kaliya dan mengatakan keinginannya untuk melakukanya setelah bayi itu terlahir kedunia ini.
"Aku akan membuatmu masuk kedalam istana Ratu. Cepat menyamarkan sebagai pelayan." Kata Bibi Kaliya.
__ADS_1
"Gunakan pakaian ini!" Kata bibi Kaliya dan memberikan baju pelayang untuk dikenakan oleh Silsila.
Silsila menatap bibi Kaliya dan mengangguk pelan.
"Cepat pakailah ini. Bayi itu akan segera lahir. Kau bisa melakukanya saat mereka lengah." Kata Bibi Kaliya.
Dengan cepat Silsila lalu mengenakan baju yang diberikan bibi itu dan menutup mukanya dengan tompel dikanan dan kiri pipinya.
Dia juga menodai sebagian mukanya dengan warna gelap agar tidak terlihat kecantikanya dan agar tidak ada yang mengenalinya.
"Sekarang aku akan melakukan yang seharusnya kulakukan dari dua bulan lalu." Kata Silsila bergumam pada cermin didepannya.
"Ratu terus menyelimuti dirinya dengan kubah sihir dan aku tidak bisa masuk kedalamnya. Tapi hari ini aku pastikan jika aku akan melakukan tugasku dengan baik."
Silsila lalu keluar dan menemui tabib istana. Dia menawarkan dirinya untuk membantu mengambilkan air hangat dan air bunga sebagai persiapan untuk memandikan bayinya.
Tidak ada yang mencurigainya karena semua sedang sibuk menunggu kelahiran putra mahkota.
Raja juga mondar-mandir dan tidak sabar dengan kelahiran bayinya.
Didalam kamar yang tertutup, Ratu masih berusaha mengeluarkan bayinya hingga keringat mengalir deras membasahi seluruh bajunya.
"Sekarang, mengejanlah." Kata tabib itu memberikan aba-aba pada Ratunya.
Karena dari tadi, tabib istana melarang Ratu mengejan jika belum genap pembukaan sebagai jalan kelahiran bayi itu.
Didalam istana tidak ada kelahiran secara Caesar seperti dikehidupan masa depan. Disana hanya menggunakan cara-cara alami dan tradisional untuk melahirkan setiap bayi mereka.
Hah....hah...hah...!
Ratu mulai terengah-engah.
"Ayo Ratu, lebih keras lagi!" Kata Tabib pada Ratunya.
Dan tidak lama kemudian kepala bayi itu sudah keluar.
"Lebih keras lagi, kepalanya sudah keluar."
Dan perlahan-lahan, tabib menarik kepala dan tubuh bayi itu lalu memotong tali pusarnya atau ari-ari.
__ADS_1
"Bayinya laki-laki." Kata Tabib Istana dengan bangga karena berhasil membantu kelahiran bayi atau putra mahkota.
Raja yang mendengar tangisan bayi itu ikut bahagia karena artinya putranya sudah terlahir kedunia ini.
Raja lalu masuk kedalam dan melihat bayi itu. Ratu tersenyum melihat putranya dalam gendongan tabib istana.
"Biarkan aku melihatnya tabib." Kata Ratu pada tabib tersebut.
"Tidak!" Tiba-tiba raja mencegahnya.
"Biarkan tabib membersihkan putra kita." Kata Raja.
Ratu terlihat sedih karena tidak diijinkan untuk melihat putra yang sudah dilahirkannya.
Saat Tabib itu membawa bayi itu kembali kekamar Ratu, tiba-tiba Ratu Mayang sudah ada didepannya.
"Ratu?!" Tabib itu kaget dan hampir saja bayi itu terjatuh dari gendongannya.
"Tabib, yang kau gending itu cucuku bukan?" Kata Ratu Mayang dengan suara yang dibikin selembut mungkin.
"Ratu, iya ratu, tapi...tapi bagaimana Ratu ada disini?"
Tabib itu kaget dan ketakutan. Dia juga gemetar.
"Kemarilah Tabib, serahkan bayi itu, aku juga adalah neneknya, aku ingin melihatnya....dan aku ingin menggendongnya. Ohh cucuku....." Kata Ratu Mayang diluar kamar Ratu Tara.
"Tapi...." Tabib itu bingung dan dengan cepat Ratu Mayang mengambil bayi itu dan bayi itu menangis sangat kencang.
Tabib semakin gemetar dan takut.
"Ohhh, ohhh, ohhhh, cucuku laki-laki yang tampan, ikutlah bersama nenek.....Aku adalah nenekmu...." Dan tiba-tiba Ratu Mayang menghilang.
"Tolooooong! Ratu Mayang membawa bayinya!" Raja!!!!!!"
Teriak Tabib lalu Raja keluar dan melihat apa yang sedang terjadi.
Ditangan tabib itu kosong, bayinya tidak ada digendonganya.
"Raja! Ratu...Ratu Mayang barusan datang dan mengambil bayi raja! Ratu lalu menghilang!" Kata Tabib itu.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan tabib itu, Raja lalu keluar istana dan dari aroma wangi yang biasa dipakai ibunya, Raja lalu menghilang mengikuti aroma itu.