
Putri Tara saat ini sedang merangkai bunga yang sudah dia petik dari Hutan Sihir. Bunganya memang sangat indah dan cantik, wanginya juga berbeda. Tangannya dengan lincah merangkai satu persatu hingga menjadi sebuah hiasan yang sama persis seperti yang saat ini dipakainya.
Pangeran Hakim masih menunggunya sambil mengamati gerakan tangan Putri Tara yang cekatan merangkai semua bunga itu menjadi hiasan yang sangat indah.
Aku benar-benar terpana dengan kecantikan juga keanggunanmu Putri.
Wajahmu yang bersinar seindah bulan purnama, membuatku tidak sabar ingin memilikimu.
"Pangeran tolong petik untuk hamba bunga yang seperti ini lagi, hamba membutuhkannya, dan akan membawanya keistana." Pangeran Hakim lupa jika ibunya berpesan untuk jangan meninggalkan Putri Tara dan tetap mengawasinya supaya bisa melihat tanda dipunggungnya saat putri Tara mengganti hiasan bunga itu.
Namun karena sedang melamun dan mengagumi putri Tara sehingga Pangeran Hakim melupakan pesan dari ibundanya.
Saat Pangeran Hakim pergi, Putri Tara kemudian pergi kesebuah pohon yang membentuk lingkaran sehingga saat Putri Tara merusak hiasan bunga yang saat ini sedang dia pakai dan menggantinya dengan yang baru Ratu Mayang yang sedang melihat dari bola ajaib tidak bisa melihat punggung Putri Tara karena tertutup oleh pohon yang melingkar itu.
"Kurang ajar!" Kata Ratu Mayang karena setelah penantiannya dia tetap tidak bisa melihat punggung Putri Tara dan tanda keris itu.
"Kenapa Mayang?" Guru Duma sampai terperanjat.
"Aku sudah melakukan berbagai cara agar bisa melihat tanda dipunggung gadis itu, Namun selalu saja usahaku sia-sia."
"Kalau begitu kita harus menggunakan cara lain Ratu." Kata Guru Duma.
"Bagaimana caranya Guru? Kita harus membuat gadis itu pingsan, setelah itu kita akan lebih mudah melihat tanda yang ada dipunggungnya."
"Kau benar guru."
*****
Pangeran Hakim sudah kembali dan betapa terkejutnya Pangeran Hakim saat melihat Putri Tara sudah mengganti hiasan bunga itu.
Ahk ibunda pasti marah karena aku tidak berhasil melihat tanda dipunggungnya itu. Dan saat ini Putri Tara sudah memakai hiasan bunga yang baru, tanda itupun tertutup oleh hiasan bunga.
Tiba-tiba Ratu Mayang sudah berdiri disamping Pangeran Hakim, dan membuatnya terkejut.
"Pangeran apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melewatkan kesempatan ini?" Kata Ratu Mayang.
"Hamba pikir Putri belum selesai merangkai bunga dan masih membutuhkan bunga lagi. Dan saat hamba mengambil beberapa bunga ternyata Putri sudah mengganti hiasan bunganya."
"Ya sudah ayo kita kembali keistana. Kita akan melakukan cara yang lain." Kata Ratu Mayang sambil melirik kearah Putri Tara yang sedang sibuk memetik beberapa bunga untuk dia bawa keistana dan dijadikan ramuan.
Kalian pasti terkejut karena aku lebih cerdik dari kalian bukan? Tidak semudah itu untuk melihat punggungku. Apa yang akan kalian rencanakan setelah ini? Aku harus waspada, Ratu Mayang sepertinya mempunyai rencana untuk mengetahui siapa diriku yang sebenarnya.
__ADS_1
"Putri ayo kita kembali keistana." Kata Pangeran Hakim saat misinya kali ini gagal.
"Baiklah Pangeran."
Kemudian dalam sekali kedipan mata mereka sudah ada ditaman istana Ratu Mayang, dan sudah keluar dari hutan sihir itu.
"Pangeran hamba mohon diri untuk beristirahat." Kata Putri Tara sambil membawa hiasan bunga itu.
Sedangkan Ratu Mayang saat ini sudah kembali kekamarnya.
Didalam kamar Putri Tara tidak beristirahat melainkan keluar lagi untuk mencari Dayang Kaliya.
Akhirnya setelah melewati beberapa prajurit yang berjaga Putri Tara berhasil menemukan Dayang Kaliya yang sedang memasak ramuan didapur.
"Putri apa yang sedang kamu lakukan disini?"
"Saya ingin berbicara dengan bibi."
"Ya sudah kemarilah. Bahaya jika ada yang melihat kita."
"Ada apa?"
"Bibi tahukah bibi dimana kitab-kitab kuno disimpan diistana ini?"
"Mungkin kitab-kitab kuno itu disimpan didalam kamar Ratu Mayang bibi. Pasti ada pintu tersembunyi yang hanya bisa dibuka menggunakan sihir atau mantra." Kata Putri Tara sambil matanya awas melihat sekelilingnya.
"Iya, mungkin yang kau katakan benar Putri."
"Bibi...kita harus kekamar Ratu Mayang dan masuk kedalam kamarnya setelah itu kita akan mencoba membuka perpustakaan disana. Pasti ada tempat dimana Ratu Mayang menyimpan semua buku kuno dan mempelajarinya."
"Yang kau katakan benar Putri. Setiap berhasil mengalahkan kerajaan dan orang-orang sakti Ratu Mayang selalu mengambil kitab-kitab Kuna dan menyimpanya, agar tidak ada satupun orang yang mempelajarinya."
"Kau benar bibi...Ratu Mayang itu sangat licik, dan dia tidak ingin ada orang yang menentang ataupun melawannya."
"Sebaiknya kita tunggu sampai Ratu Mayang keluar dari kamarnya." Kata Bibi Kaliya.
"Apakah bibi tahu kapan saat-saat Ratu Mayang keluar dari kamarnya?"
Bibi Kaliya mengingat-ingat kapan Ratu itu meninggalkan istana dalam waktu lama.
"Malam ini!" Seru bibi Kaliya setelah mengingat-ingat kapan Ratu Mayang tidak ada dikamarnya.
__ADS_1
"Benarkah bibi?"
"Ya. Ini adalah malam dimana bulan purnama penuh akan dimanfaatkan untuk menambah kekuatanya."
"Apa yang akan dilakukanya bibi?"
"Ratu Mayang dan Guru Duma akan mempersembahkan seorang gadis yang masih perawan untuk kecantikan dan keabadiannya."
"Jahat sekali dia bibi."
"Iya, tidak ada yang bisa menghentikanya. Bahkan akupun tidak bisa menghentikanya meskipun aku tahu banyak nyawa yang sudah menjadi korbannya."
"Aku harus segera mengakhiri kekejamannya bibi. Kasihan sekali gadis-gadis yang tidak berdosa itu."
"Benar Putri...kita harus bisa menemukan cara untuk melawanya."
"Ayo bibi...kita lihat apakah saat ini Ratu Mayang masih ada dikamarnya atau tidak?!"
"Itu dia!" Seru Bibi Kaliya." Tetaplah disini Putri...jangan kemana-mana, Ratu Mayang sedang keluar dari kamarnya dan berjalan kearah kita."
"Baiklah bibi. Aku akan menggunakan sihirku agar tidak kelihatan olehnya."
"Dia semakin mendekat." Bisik Bibi Kaliya. "Syukurlah ternyata dia kekamar Guru Duma. Sepertinya Ratu Mayang akan melakukan pemujaan itu saat ini juga."
"Ayo kita segera pergi kekamarnya bibi!" Kata Putri Tara.
"Ayo Putri...."
Kemudian Setelah Ratu Mayang meninggalkan kamarnya maka Putri Tara dan Bibi Kaliya berjalan menyelinap masuk kedalam kamar Ratu Mayang dengan menggunakan Sihirnya.
"Apa mantranya bibi?"
"Biarkan aku mencobanya Putri. Mungkin aku tahu mantranya dari Pangeran Hakim saat dia masih kecil."
"Bibi....lihatlah sebuah getaran diarah sana." Kata Putri Tara sambil melihat sebuah garis dilantai.
"Ucapkan terus bibi. Mungkin garis itu akan terbuka dan menjadi pintu masuk menuju perpustakaan kuno."
Bibi Kaliya terus membaca mantra dan benar saja pintu itu semakin lama semakin bergeser dan lantai itu terbelah membentuk pintu masuk menuhu sebuah ruangan dibawah tanah.
"Ayo kita segera masuk bibi, sebelum ada yang melihat kita."
__ADS_1
"Mari Putri...." Mereka kemudian dengan cepat masuk kedalam perpustakaan yang sangat luas. Semua buku-buku tersusun dengan rapi dan jumlahnya ribuan.