
Barra melihat mommynya dengan perasaan cemas karena dia lupa mengunci kamar yang dipakai Tarra.
"Cepatlah menikah. Kau tahu berapa usiamu sekarang?" Tanya Mommynya khawatir dengan Barra yang nyaman hidup melajang.
"Tenang mommy, nanti juga Barra akan menikah."
"Kau selalu mengatakan tenang, tenang, lihatlah teman mommy, saat arisan mereka semua membawa cucunya."
"Ini hanya masalah waktu mom, mereka duluan dan aku belakangan."
"Apakah kau menunggu hingga mommy mu ini tidak kuat lagi menggendong cucunya?"
"Nggak lah mom, Mommy masih muda dan terlihat seperti usia 40 an, jadi Bara masih punya banyak waktu...."
"Dasar kau ini....Oh ya, mommy mau ketoilet." Kata Mommynya langsung masuk kekamar yang dipakai Tara.
Bara akan mencegahnya tapi mommy nya sudah masuk begitu saja.
"Ahk, ck, ketahuan deh." Keluh Bara karena dikamar Tara banyak ada perlengkapan bayi dan juga keranjang bayi.
***
Mommynya keluar dari toilet dan terkejut saat melihat kamar yang ada keranjang bayi dan juga peralatan bayi. Ada pempers dan botol susu bayi.
Mommynya mengerutkan keningnya dan tersenyum. Mommynya berfikir pasti ini kejutan dari Barra.
"Barra!" Mommynya memanggilnya.
"Ya mom. Sudah kuduga....." Kata Bara lalu masuk kekamar Tara.
"Apakah ini kejutan untuk mommy?" Tanya Mommynya dengan wajah berseri.
"Kejutan! kejutan bagaimana maksud mommy?"
"Kau sudah punya kekasih dan kekasihmu punya anak? Kenapa tidak kau katakan kepada mommy? Ayo kita resmikan dan buat pesta yang besar."
Mommynya terlihat bersemangat dan Bara bingung harus bilang apa. Dan dalam hati dia juga mengagumi Tara, dia cantik alami dan belum pernah dia melihat gadis seunik dirinya.
"Ehm....Mommy salah...." Bara akan mengatakan jika mommynya salah paham. Tapi mommynya terlalu senang dan tidak memberinya kesempatan berbicara.
"Sudah! sudah! Dimana kekasihmu itu? Mommy ingin bertemu. Besok kau datanglah bersama dirinya. Mommy tidak jadi menginap dirumahmu." Kata Mommynya lalu mengambil tas kecilnya dan pergi dari rumah Barra.
***
Barra memegang kepalanya dan bingung harus bagaimana. Mommynya sudah salah paham tentang dirinya dan Tara. Sementara dia bingung harus bilang apa pada Tara, dan bagaimana mengatakan keinginan Mommynya itu.
Lama berfikir, akhirnya Barra menelpon Zayn. Barra meminta Zayn untuk mengantarkan Tara kerumahnya, mommynya tidak jadi menginap dirumahnya.
"Zayn, bisa kau antarkan Tara sekarang. Mommy tidak jadi menginap." Kata Barra.
"Ya. Aku akan mengantarkanya sekarang." Kata Zayn lalu berjalan mendekati Tara.
__ADS_1
"Barra memintamu pulang sekarang. Mommynya tidak jadi menginap." Kata Zayn menatap Tara dengan tatapan aneh.
Kenapa aku melihat lukisannya didalam mimpi. Dan lukisannya ada dikamarku? Apa yang terjadi? Baju didalam lukisan itu sama persis seperti yang dia pakai saat pertama kali bertemu.
"Baiklah, aku akan siap-siap!" Kata Tara lalu berjalan menemui baby sitter dan juga putranya yang sedang minum susu.
"Kita akan pulang sekarang Sus." Kata Tara pada baby sitter nya.
"Iya non." Kata Baby sitternya lalu berkemas.
"Jangan sampai ada yang ketinggalan sus." Tara mengingatkan agar mengemas barangnya dengan tapi sehingga tidak ada yang tertinggal.
Zayn lalu mengambil kunci mobil dan menghidupkan mesinnya agar saat mereka masuk, mobilnya sudah tidak panas lagi.
"Haruskah aku cuci piringnya dulu." Kata Tara pada Zayn.
"Tidak perlu. Kau hanya mengelapnya dengan tissue." Kata Zayn yang ingat jika Tara membersihkan piring hanya dengan mengelapnya dengan tissue.
"Tidak. Aku akan mencucinya, Barra sudah mengajarinya." Kata Tara.
"Aku bilang tidak perlu ya tidak perlu. Cepatlah berkemas. Aku akan segera mengantarmu."
Tara kaget dengan sikap Zayn yang kadang hangat namun kadang menyebalkan.
Zayn mengantarkan Tara hanya sampai gerbang rumah Barra.
"Ini sudah malam, aku akan langsung pulang. Cepat masuk!" Kata Zayn langsung pergi dari rumah Barra.
Belum sempat Tara mengucapkan terima kasih, Zayn sudah pergi dengan mobilnya.
***
"Sus, bawa masuk kedalam. Ada yang harus aku bicarakan dengan Tara." Kata Barra memutih susternya masuk kedalam.
"Tara, duduklah disini. Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Barra.
Tara lalu duduk didepan Barra. Tara bingung melihat sikap Barra yang berbeda dari biasanya. Kali ini dia sedikit canggung.
"Mommy melihat kamarmu dan mengira jika kau adalah kekasihku." Kata Barra berterus terang.
"Kekasih? Tapi kita hanya berteman." Kata Tara.
"Itulah, makanya aku mengajakmu duduk disini dan ada yang ingin aku katakan." Kata Barra.
"Kau tinggal sendirian disini bersama bayimu, tanpa keluarga dan tidak ada siapapun. Kau seperti orang asing di negara ini. Jadi aku pikir, harus ada seseorang yang selalu menemanimu demi keselamatan mu dan juga bayimu." Kata Bara berusaha menjelaskanya dengan detail sebelum ke pokok pembicaraan.
"Ya, lalu..."
"Bagaimana, kalau aku melamarmu dan kita menikah?" Tanya Barra.
"Menikah? Tapi kita...." Tara bingung dengan ajakan menikah yang tiba-tiba seperti itu.
__ADS_1
"Tara, ini demi kebaikan bayimu. Dinegara ini kau harus mempunyai identitas yang jelas tentang asal-usul bayimu, jika tidak maka kau akan mengalami kesulitan saat dia akan sekolah dan untuk urusan yang lainnya, misalnya rumah sakit, vaksin, dan semua fasilitas dari pemerintah yang harusnya dia dapatkan dengan mudah, tapi dia akan mengalami kesulitan jika asal-usul nya tidak resmi." Kata Barra mencoba menjelaskan pada Tara.
"Aku sangat terkejut, karena kau melamarku dengan tiba-tiba seperti ini. Tapi...jika itu demi bayiku maka....aku akan memikirkannya." Kata Tara.
"Aku memberimu waktu satu hari. Aku tidak bisa menunggu jawabannya terlalu lama. Aku akan mengajakmu besok makan malam dirumah Mommy." Kata Barra.
"Baiklah, aku akan segera memikirkannya. Sekarang sudah malam, sebaiknya aku akan istirahat." Kata Tara.
"Ya sudah, kau pergilah tidur. Aku masih mau disini." Kata Barra.
***
Sampai dikamar Tara mondar-mandir sambil memikirkan lamaran Barra.
"Tapi aku tidak berasal dari dunia ini, bagaimana aku bisa menikah?"
"Apakah dengan berpindah dimensi putraku akan kehilangan gen raksasanya?"
"Aku benar-benar selalu was-was dan khawatir jika tiba-tiba dia berubah dan ada orang lain yang meelihatnya." Kata Tara lalu melihat putranya yang tertidur pulas.
"Tapi jika demi dirimu, keamanan mu dan masa depanmu, maka apapun akan aku lakukan." Kata Tara sambil menatap lembut wajah bayinya.
***
Sementara Zayn masuk rumahnya dan merasa kesepian setelah Tara dan bayinya pergi. Zayn tersenyum sendiri sambil mencuci piring bekas makan Tara tadi.
"Dia gadis yang lucu dan polos." Tiba-tiba dia bergumam.
Zayn mulai sering memikirkan Tara dan wajahnya terus tertinggal dimatanya.
Saat akan tidur Zayn teringat pada senyumnya yang manis. Dan juga wajahnya yang lucu saat Zayn memarahinya.
"Ohh, shiittt, kenapa aku jadi terus memikirkannya? Gadis aneh itu...."
Saat Zayn tidur, dia bermimpi dengan mimpi yang sama seperti sebelumnya. Tiba-tiba saat dia melihat kecermin dikamar mandinya, wajahnya berubah menjadi seperti raksasa.
Zayn akhirnya berusaha bangun dari mimpi buruknya itu.
"Ini sudah yang kedua kalinya. Mimpi yang sama. Aku tidak rela, wajahku begitu tampan dan tiba-tiba berubah menjadi seperti raksasa? Ahk, sial! Kenapa mimpi seperti itu harus datang padaku?"
***
Malam ini Tara juga bermimpi yang sama. Dia melihat suaminya Raja Hakim bangkit dari kematian setelah terkena tusukan Keris keabadian.
Wajahnya berubah-ubah sehingga Tara tidak bisa melihat dengan jelas setiap perubahan wajahnya.
"Raja!?" Tiba-tiba Tara terbangun dari mimpi buruk itu.
"Kenapa aku bermimpi jika Raja bangkit dari kematiannya? Dan wajah siapakah itu? Wajahnya berubah-ubah dengan cepat."
Tara lalu mencoba mengingat kembali wajah yang dia lihat didalam mimpinya, namun dia tetap tidak bisa mengenali wajah Raja.
__ADS_1
"Sebaiknya aku tidur lagi. Dan aku ingin mimpi yang sama. Dan akan aku lihat dengan benar, wajah siapa itu?" Kata Tara lalu kembali tidur.
Dan saat tidur, dia malah tidak bisa mendapatkan mimpi yang sama hingga fajar tiba.