
Putri Tara kemudian tersenyum melihat kedatangan Pangeran Hakim.
Jangan sampai Pangeran Hakim mencurigai bibi Kaliya. Saat ini kehadiran bibi, sangat aku butuhkan dalam misi merebut kembali kerajaan ini. Apalagi bibi disini sudah cukup lama, pasti bibi bisa membawaku ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh Ratu Mayang. Dan disalah satu tempat itu pasti menyimpan rahasia tentang Keris Mayapada.
"Pangeran...."
"Oya Putri hamba mohon diri dulu." Kata dayang Kaliya sambil mengangguk kepada Pangeran Hakim.
Dari jauh kelihatan jika gerak-gerik dayang Kaliya diperhatikan oleh seseorang yang tidak lain adalah Pangeran Haris.
Kemudian dayang Kaliya segera berlalu dan Pangeran Haris mendekati Putri Tara yang sedang berdiri disekitar bunga mawar.
"Apa yang kamu lakukan Putri?" Tanya Pangeran Hakim sambil melihat keranjang Putri Tara.
"Saya sedang memetik beberapa bunga Pangeran. Hamba bisa membuat parfum dari beberapa bunga ini." Kata Putri Tara.
"Benarkah?" Tanya Pangeran Hakim heran.
"Tentu saja. Di istana Muria saya terbiasa memetik bunga beberapa hari sekali, dan kemudian dengan bunga itu saya akan membuat parfum. Dan saya melihat bunga disini bermekaran dengan sangat indah. Dan beberapa bunga tidak tumbuh dikerajaan kami."
"Begitukah? Jika begitu bisakah kau buatkan parfum untukku?"
"Baiklah. Tapi saya belum selesai memetik bunga ini." Kata Putri Tara yang ingin memetik lebih banyak bunga sebelum bunga itu layu dan tidak terpakai.
"Aku akan membantumu putri." Kata Pangeran Hakim sambil memetik beberapa bunga didekatnya.
"Tidak usah pangeran."
"Tidak apa Putri. Aku juga ingin berbincang-bincang denganmu. Bukankah kita akan menikah sebentar lagi? Menurutmu, bagaimana istana ini?"
"Ini adalah istana yang sangat megah dan indah pangeran."
"Iya. Ibunda yang membangun istana ini dan mendesain semuanya."
Kau salah pangeran. Ayahandalah yang membangun istana ini dibantu dengan rakyat. Dan Ibumu telah membunuh ayahku dan merebut istananya.
Tapi tidak lama lagi aku akan merebut kembali hak ku atas istana ini. Aku akan menyelamatkan rakyatku dari kekejaman ibumu.
"Bagaimana kau tahu Pangeran?"
"Ibunda yang menceritakan kepadaku setiap hari. Bahwa ibunda telah membangun istana megah ini dan menjadi Ratu yang adil untuk rakyatnya."
Ratu Mayang telah mencuci otak mu pangeran. Sungguh aku kasihan padamu.
"Aku salut dengan kehebatan dan kecantikan Ratu Mayang. Kau sangat beruntung pangeran mempunyai ibunda yang hebat dan bijaksana."
Aku harus mengambil hati dan kepercayaanmu pangeran. Pelan-pelan aku akan membuatmu melawan ibumu dan dengan kecantikanku aku akan memikatmu dan mengendalikanmu.
"Iya bagiku, ibunda adalah segalanya. Dia bagaikan Dewi dan aku sangat menghormatinya."
"Iya. Saya bisa melihat betapa kau menyayangi ibunda Ratu Mayang."
Aku harus pura-pura memuji Ratu Mayang. Meskipun sebenarnya aku begitu membencimu juga Ibumu.
"Yang kau katakan itu benar Putri. Aku bahkan rela mengorbankan segalanya demi ibuku." Kata Pangeran Hakim sambil berjalan disekitar bunga yang berwarna-warni disamping Putri Tara.
"Sepertinya bunganya sudah cukup banyak. Dan keranjangnya sudah tidak muat lagi. Saya akan membawa bunga ini kekamar untuk dijadikan minyak wangi." Kata Putri Tara dan berpamitan kepada Pangeran Hakim.
__ADS_1
"Oya Putri, saya menaruh hadiah dari ibunda dikamarmu. Saya harap kamu menyukainya. Dan besok saya akan mengajakmu berkeliling diluar istana." Kata Pangeran Hakim.
"Baiklah Pangeran." Kata Putri Tara sambil meninggalkan pangeran Hakim yang sedang berdiri didekat kolam ikan.
Didalam kamar
Putri Tara kemudian memilih beberapa bunga untuk dijadikan parfum dan menyisihkan yang lainya untuk dijadikan ramuan.
Tiba-tiba seorang peri hijau keluar diantara bunga-bunga itu dan terbang disekitar Putri Tara.
Putri Tara membuka telapak tangannya dan membiarkan Peri Hijau untuk hingga diatasnya.
"Hai putri....." Sapa peri hijau.
"Hai ternyata kau bisa berbicara? Apakah kau seorang peri?"
"Iya, aku seorang peri. Aku disini sudah lama menantikan kedatanganmu. Aku rindu menjadi manusia bebas. Rebutlah kembali kerajaanmu Putri. Kalahkan Ratu Mayang. Sehingga aku bisa berubah menjadi manusia tanpa rasa takut dan was-was.
"Apakah Ratu Mayang yang menyihirmu menjadi seorang peri."
"Tidak Putri. Kami memang hidup dalam masyarakat peri. Hanya saja selama ayahmu berkuasa kami bebas menggunakan sihir kami. Tapi sejak Ratu Mayang berkuasa sihir dilarang diseluruh kerajaanya. Jika ketahuan maka kami akan dibunuh tanpa ampun."
"Ooohhh Ratu Mayang tidak ingin ada yang lebih hebat dari dirinya sehingga dia bertindak sewenang-wenang."
"Ada yang datang." Kata Peri Hijau memberitahu Putri Tara.
Seseorang mengetuk pintu dan membuka pintunya setelah dipersilahkan masuk.
"Pangeran."
"Silahkan pangeran. Ini hampir selesai."
Tiba-tiba Ratu Mayang juga datang kekamar Putri Tara.
"Salam Ratu...." Kata Putri Tara kepada Ratu Mayang. Ratu Mayang kemudian mengangguk dan tersenyum padanya.
"Apakah ini putri?" Tanya Ratu Mayang sambil mencium aroma parfum.
"Siapa yang membuat parfum sewangi ini?" Tanya Ratu Mayang sambil mengambil beberapa bunga.
"Hamba Ratu...."
"Hai....kau pandai sekali. Selain cantik kau juga bisa manfaatkan bunga itu untuk membuat parfum. Ini wangi sekali."
"Benar Ibunda hamba juga baru pertama kali ini melihat bagaimana parfum bisa dibuat dari bunga yang ada ditaman." Kata Pangeran Hakim.
"Aku dengar kau juga pandai bela diri, bermain pedang dan....menggunakan sihir?" Selidik Ratu Mayang dibalut pujian.
"Itu tidak benar Ratu...hamba memang mempelajari semuanya tapi itu hanya demi menjaga diri hamba sendiri. Dan hamba hanya mempelajari sedikit."
"Apakah kau suka jadian dariku?" Tanya Ratu Mayang?
"Ya baju itu bagus, hamba sangat menyukainya." Kata Putri Tara.
"Bisakah aku melihat kau memakai baju itu sebelum kembali ke kerajaan Muria?"
Putri Tara berfikir sejenak.
__ADS_1
"Iya. Ratu. Besok hamba akan memakainya." Kata Putri Tara sambil memasukan parfum bunga kedalam botol kecil-kecil yang sudah disediakan.
"Baiklah aku akan menemui Guru Duma. Kamu istirahatlah.".Ratu Mayang kemudian meninggalkan ruangan putri Tara."
Setelah kepergian Ratu Mayang dan pangeran Hakim, Putri Tara kemudian melihat baju yang diberikan dan melebarkannya. Sehingga terlihat jika bagian belakang baju itu terbuka. Dan tanda Keris Keabadian yang melekat pada tubuhnya pasti akan kelihatan. Permaisuri Andini sudah berpesan untuk merahasiakan tanda itu dari siapapun.
Ohhh ternyata aku tahu kenapa Ratu Mayang dan pangeran Hakim ingin sekali dia memakai baju ini. Pasti mereka ingin melihat tanda di punggungku. Jika benar dugaanku, maka mereka saat ini sudah mengetahui jika Keris Keabadian itu telah kembali. Dan mereka mencari gadis pewaris keris itu. Benar dugaan ibunda, bahwa tidak mungkin Ratu Mayang melamarku semata-mata hanya untuk mendampingi Pangeran Hakim. Semua ini hanya sebuah cara demi mendapatkan Keris Keabadian itu. Aku tidak akan mempercayai tipu daya kalian. Ibu dan anak sama saja!
Kemudian Putri Tara melipat baju itu dan menimpanya didalam Lemari. Aku harus mencari cara agar tanda ini tidak terlihat meskipun aku menggunakan baju itu. Sebaiknya aku minta bantuan peri hijau.
"Ada apa Putri? Kau memanggilku? Kau nampak gelisah?" Tanya peri hijau setelah ada dihadapan Putri Tara.
"Benar peri, aku akan memakai baju ini...."Kata Putri Tara sambil mengambil baju yang sudah disimpan kedalam lemari dan membukanya kembali. "Tapi aku tidak ingin bagian belakangnya terbuka seperti itu. Apakah kau punya ide untuk menutupnya? Sehingga baju itu tertutup di bagian punggung?"
Kemudian Peri hijau menutup matanya dan akan membaca mantra.
"Jangan gunakan sihirmu!" Cegah Putri Tara. "Jika kau menggunakan sihir Ratu Mayang akan lebih mencurigaiku. Bukankah Ratu Mayang tidak suka orang lain menggunakan sihir?"
Akhirnya Peri Hijau menghubungkan niatnya. Dan mengambil baju itu lalu matanya berputar-putar tanda dia sedang berfikir.
"Oh iya! Aku punya cara Putri." Kemudian Peri Hijau berbisik kepada Putri Tara cara agar bagian belakang baju itu tertutup.
"Ya. Yang kau katakan benar. Tapi bagaimana caranya mendapatkan bunga-bunga itu?"
"Serahkan padaku." Kata Peri Hijau sambil melesat keluar dari jendela kamar Putri Tara.
Tidak lama kemudian Peri Hijau sudah membawa berbagai macam bunga dan juga daun yang akan dirangkai sehingga menutupi bagian punggungnya.
"Kau cepat sekali Peri. Dan dimana kamu mendapatkan bunga-bunga sebagus ini?" Tanya Putri Tara dengan takjub melihat keindahan bunga-bunga itu.
"Aku memetiknya dari Taman sebelah sana." Kata Peri sambil merangkai bunga itu menjadi sebuah penutup punggung yang lebar.
"Untunglah ada kau peri...jika tidak aku akan sangat bingung sekali. Dan tidak tahu harus bagaimana. Jika aku keluar malam-malam begini maka orang akan mencurigaiku sebagai pencuri."
"Hehe...kau memang pencuri!" Kata Peri Hijau.
"Maksudmu?" Tanya Putri Tara tidak mengerti.
"Maksudku, kau pencuri hati pangeran Hakim. Dia jatuh cinta padamu." Kata Peri pada Putri Tara.
"Hahaha itu tidak mungkin. Semua alasan pernikahan ini bukanlah cinta. Tapi permusuhan." Kata Putri Tara dengan tegas.
"Banyak kisah cinta yang berawal dari permusuhan dan berakhir dengan saling jatuh cinta. Karena benci dan cinta itu hanya beda tipis." Kata Peri Hijau.
"Tapi kisah itu tidak berlaku untukku. Aku tidak mungkin mencintai anak dari pembunuh ayahku. Bahkan mereka bekerjasama untuk menipuku melalui sebuah hubungan suci."
"Kita lihat saja nanti, apakah kisahmu akan berakhir diujung pedang atau diujung mata dan turun kehati." Kata Peri Hijau kepada Putri Tara.
"Aku pasti akan membalaskan kematian ayahku dan mengembalikan apa yang menjadi milik ibuku."
"Syukurlah jika kau tidak akan jatuh cinta pada pangeran Hakim. Aku menjadi lega. Aku juga takut jika pada akhirnya kau jatuh cinta. Dan cinta juga hatimu membuatmu lemah dan lupa pada tujuanmu kesini." Kata Peri Hijau.
"Aku akan mengingat tujuanku kemari meskipun dalam mimpi tak kuizinkan Pangeran itu menggoyahkan keyakinanku." Kata Putri Tara dengan mata berapi-api.
"Jangan sampai lengah. Karena cinta selalu datang setelah kebersamaan. Dan hadirnya tiba-tiba tanpa kau sadari. Saat kau menyadarinya kau akan sulit berpaling. Dan jika cinta sudah menguasai hatimu. Maka bukan akal sehatmu lagi yang mengendalikanmu, tapi keinginan hati yang mulai menguasai jiwa dan ragamu. Dan itu tidak baik untuk tujuanmu. Jadi...jagalah jarak dengan Pangeran Hakim." Peri Hijau mengingatkan Putri Tara.
Kau masih sangat muda, dan aku yakin kau belum mengenal apa itu cinta. Dan saat kau mengenal apa itu cinta, aku takut kau jatuh cinta pada orang yang salah putri...
__ADS_1