Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Ratu kesepian


__ADS_3

Ratu masih mondar-mandir dikamarnya setelah Silsila pergi. Dia menunggu hingga sore hari, dan Raja belum juga masuk kedalam kamarnya.


Sementara Raja didalam kamar sendirian. Saat malam hampir tiba, raja memanggil panglima kumbang kembali.


"Siapa nama selir yang kemarin?" Kata Raja yang rupanya lupa dengan nama selir yang sudah melayani dan memuaskanya.


"Silsila." Kata Panglima kumbang dengan hormat.


"Panggilkan dia kemari. Aku ingin melewati malam ini bersamanya." Kata Raja.


"Apakah Raja tidak akan kekamar Ratu?" tanya Panglima kumbang pada Raja.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, kau lancang bertanya seperti itu pada seorang raja." Kata Raja muda Hakim.


"Maafkan hamba Raja. Kemarin Ratu menemui saya dan sepertinya menunggu kedatangan Raja." Kata panglima kumbang.


"Pergilah! Panggilkan Silsila kemari secepatnya." Kata Raja tanpa menghiraukan pertanyaan Panglima kumbang.


"Ampun yang mulia raja. Hamba melaksanakan perintah." Kata panglima kumbang dan tidak lama kemudian dia sudah sampai di istana kaputren.


"Mana Silsila?" Tanya Panglima kumbang kepada pemimpin istana Putri.


"Dia ada didalam. Dari tadi tidak mau makan dan tidak mau keluar kamar." Kata pemimpin istana kaputren itu.


"Minta dia berdandan. Raja menginginkannya malam ini!" Kata Panglima kumbang padanya.

__ADS_1


"Silsila lagi?" Tanya pemimpin itu.


"Iya dia lagi. Apakah kau juga menunggu panggilan Raja?" Tanya Panglima kumbang dengan kesal padanya.


"Hhhhhh, semua orang juga tahu, jika kita semua ingin menemani yang mulia raja yang tampan itu." Kata pemimpin itu.


"Tidak usah berceloteh, cepat panggil dia dan nanti baru giliranmu." Kata panglima kumbang bergurau.


"Hhhhh,ck, kau tidak setia kawan. Kau bahkan langsung memanggil Silsila tanpa berdiskusi padaku kemarin dan menyodorkannya pada yang mulia raja." Kata pemimpin istana Putri itu.


"Apakah kau kecewa karena aku tidak memanggil dirimu?" Tanya Panglima kumbang.


Tidak lama kemudian pemimpin itu masuk dan keluar bersama Silsila yang sudah rapi dan siap menghadap raja.


"Kau harus selalu cantik seperti ini." Kata panglima kumbang.


"Dasar gadis genit!" Kata panglima kumbang.


Ratu Tara baru saja keluar dari kamarnya dan akan melewati kamar Raja. Namun saat dari jauh dia melihat Silsila mau masuk kekamar Raja, Ratu Tara mengurungkan niatnya.


Dia bersembunyi dibalik tiang yang besar hingga Silsila masuk kekamar Raja.


"Dia tidak menemuiku seharian dan sekarang dia memanggil pelayan wanita itu. Kau menantangku rupanya. Baiklah, mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya." Kata Ratu pada dirinya sendiri.


"Ratu disini?" Tanya Panglima kumbang yang tanpa sengaja melihat ratunya dibalik tiang besar itu.

__ADS_1


"Ohh, iya, aku mencarimu dari tadi."


"Aku ingin kau pergi ke perkampungan yang waktu itu terserang wabah. Apakah mereka sudah makmur sekarang? Dan catat apa saja yang mereka butuhkan, besok aku akan mengirim pasukan untuk kebutuhan mereka dan anak-anak." Kata Ratu Tara pada panglima.


"Baik. Hamba akan segera kesana."


"Besok pagi-pagi kau pergilah kesana." Kata Ratu lalu masuk kedalam kamarnya sendiri.


Ratu menarik nafas panjang dan hampir saja dia mendapatkan rasa malu dari perbuatanya yang mengintai kamar raja.


Keesokan paginya Raja memanggil panglima kumbang namun seorang prajurit mengatakan jika panglima kumbang pergi kedesa atas perintah Ratu.


Raja terlihat kesal dengan perkataan prajurit itu.


"Sepertinya disini ada ular dua kepala." Kata Raja yang menyindir Ratunya.


"Bahkan tanpa berbicara padaku dia melakukan segalanya. Aku tahu dia sangat pintar, tapi aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku!" Kata Raja.


"Kau akan kesepian didalam kamarmu. Dan itu hadiah dariku karena sudah mengkhianati Rajamu ini." Kata Raja seorang diri didalam kamarnya setelah selirnya pergi.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kerajaan ini sekarang seperti mempunyai dua Raja, Aku dan istriku yang pengkhianat itu!" Kata Raja dengan kesal.


Ratu Tara melamun didalam kamarnya, dia menopang kan dagunya pada salah satu punggung tangannya.


Dia menatap jauh keluar istana.

__ADS_1


Tidak lama kemudiam dia menatap langit yang menjulang.


Tiba-tiba saja dia merasa mual dan pusing hingga akhirnya dia pingsan didalam kamarnya.


__ADS_2