Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Ilusi serigala dan ular


__ADS_3

Malam semakin gelap terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan dan terdengar suara lolongan panjang seekor serigala.


Krik! krik! krik!


Diantara suara jangkrik terdengar juga suara yang kian mendekat.


Aaaauuuuungggg aaauuung!


Aaaauuuuungggg aaaauuuuungggg!


Suara lolongan serigala itu membuat bulu begidik bagi yang mendengarnya. Serigala itu sepertinya tahu jika ada manusia yang saat ini ada dikawasan kekuasaan mereka.


Terdengar lolongan yang sangat panjang dari atas bukit tidak jauh dari tempat Pangeran Hakim dan Ratu Mayang serta Guru Duma berdiri. Seekor serigala itu seperti memberikan sinyal kepada kawannya untuk berkumpul.


"Sepertinya ada yang mengintai kita diantara semak-semak." Kata Pangeran Hakim sambil memasang kuda-kuda dan mencabut pedangnya.


"Sepertinya mereka binatang buas." Kata Ratu Mayang yang juga memasang kuda-kuda siap untuk melawan jika ada serangan mendadak.


Pangeran Hakim dan Ratu Mayang berdiri saling memunggungi dan siap untuk menangkis serangan mendadak. Sementara Guru Duma masih berkomat-kamit membaca mantra dan berusaha memadamkan api suci itu.


"Hati-hati ibunda. Mereka telah mengepung kita dan terdengar gerakan halus semakin mendekat." Kata Pangeran Hakim.


"Aku juga merasakan kehadiran mereka Pangeran."


"Mereka berjumlah diatas 10 ekor." Kata Pangeran Hakim.


"Lebih sepertinya jika didengar dari bunyi yang sangat kuat."


"Apakah mereka prajurit musuh?" Tanya Pangeran Hakim.


"Bukan! Kakinya sangat ringan. Ini pasti binatang buas."


"Bersiaplah ibunda mereka semakin dekat." Kata Pangeran Hakim sambil matanya awas melihat kesekelilingnya.


"Awas Pangeran!" Teriak Ratu Mayang saat sekawanan Serigala itu menyerang tiba-tiba.


Crusshhh!


Swosssh!


Krrosaaak!


Kresssss!


Buuukkkk!


Bunyi pedang Pangeran Hakim dan Ratu Mayang yang dengan kecepatan tinggi menghajar sekawanan serigala. Merekapun bertarung sengit dua orang melawan 20 serigala.

__ADS_1


Saking banyaknya Pangeran Hakim sempat terkena cakarannya pada lengan kirinya. Mereka menyerang bersamaan dari segala penjuru. Mereka sepertinya sangat haus darah dan daging manusia. Pertempuran sengit melawan sekawanan serigala itupun akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Hakim dan Ratu Mayang.


Pedang keduanya penuh dengan darah segar dan serigala tergeletak disekeliling mereka. Dan saat Pangeran Hakim akan mendekati salah satu serigala tiba-tiba mereka semua menghilang.


Tidak tampak satu ekorpun serigala, semua tempat itu bersih seakan-akan tidak terjadi pertempuran baru saja. Padahal nafas Ratu Mayang dan Pangeran Hakim masih tersengal-sengal akibat gerakan yang membabi buta.


Pangeran Hakim kemudian melihat pedangnya yang tadi berlumuran darah. Namun saat ini pedang itu bersih dari noda apapun. Dan bahkan bersinar seakan belum terpakai. Saking takjubnya Pangeran Hakim langsung memasukan pedangnya kedalam selongsong kembali.


Namun luka ditangan kirinya akibat kuku serigala itu masih terasa sakit dan ngilu. Kemudian Ratu Mayang mendekati Pangeran Hakim. Dan sangat terkejut saat melihat tangannya terluka.


"Mereka adalah ilusi." Kata Ratu Mayang. "Tapi bagaimana mungkin lukamu ini sungguhan?"


Ratu Mayang kemudian melihat lengan Pangeran Hakim dan menempelkan jarinya pada luka itu.


"Tanganmu berdarah akibat cakar serigala itu." Kata Ratu Mayang.


"Benar Ibunda. Hamba merasakanya." Kata Pangeran Hakim.


"Duduklah disana. Ibu akan mengobatinya."


Kemudian Pangeran Hakim dan Ratu Mayang berjalan disebuah kayu yang bisa digunakan untuk duduk.


"Duduklah Pangeran." Kata Ratu Mayang sambil duduk disamping Pangeran Hakim.


Ratu Mayang kemudian mengucapkan mantra dan keluar sinar keemasan dari setiap jarinya. Lalu mendekatkan sinar itu kepada Pangeran Hakim. Dan dalam waktu sekejap tanganya pulih seperti sediakala.


"Lihatlah sekarang Pangeran." Kata Ratu Mayang. "Lukamu sudah sembuh."


"Saya masih tidak mengerti ibunda. Bagaimana semua ini hanya ilusi. Serigala itu menyerang dengan kecepatan tinggi dan secara bersamaan." Kata Pangeran Hakim.


"Mungkin itu pengaruh dari ritual yang sedang kita jalani. Dan hewan itu hanyalah godaan dari setiap ritual." Kata Ratu Mayang.


"Tapi saya sangat sedih memikirkan Putri Tara. Bagaimana jika dia tidak kembali?" Kata Pangeran Hakim.


"Jika Putri Tara tidak kembali maka perang tidak bisa dihindarkan lagi." Kata Ratu Mayang.


"Bukankah harusnya api itu sudah padam? Kenapa begitu lama dan hingga berjam-jam?" Tanya Pangeran Hakim.


"Entahlah. Ini semua ide dari Guru Duma dia juga yang telah membuat api sebesar ini. Lihatlah dia sedang berusaha memadamkanya." Kata Ratu Mayang.


"Tapi api ini masih sama dan tidak berkurang sedikitpun." Kata Pangeran Hakim.


"Benar. Nyalanya masih sangat besar."


Sementara didalam api suci Putri Tara sangat terkejut saat menemukan sebuah goa dalam nyala api. Putri Tara kemudian berjalan kedalam karena api itu tidak membuatnya terbakar sedikitpun.


Putri Tara terus berjalan semakin dalam hingga ketengah Goa. Dan disana sudah ada seorang pertapa sakti yang menunggunya.

__ADS_1


"Kau sudah datang. Tugasku sudah selesai. Bertahun-tahun aku menunggu kedatanganmu."


"Kau menungguku? Siapa kau?" Kata Putri Tara terkejut saat melihat seorang pertapa yang sudah tua ada didalam kobaran api. Dan bahkan dia mengatakan jika sudah menunggu Putri Tara selama bertahun-tahun. Siapakah dia?


"Aku adalah seorang pertapa yang sudah mendekati kematianku. Namun aku tidak bisa mati jika belum bertemu denganmu." Kata pertapa itu.


"Tapi bagaimana mungkin bisa begitu?"


"Itu adalah permintaan terakhirku pada malaikat. Aku ingin menemuimu sebelum tiba ajalku."


"Untuk apakah kau menunggu kedatanganku?" Tanya Putri Tara.


"Untuk menyampaikan sebuah pesan."


"Pesan? Apakah pesan itu?"


"Aku berpesan kepadamu untuk tidak mendekati anak dari Ratu Mayang. Salah satu putranya bukanlah seorang manusia. Hanya itu saja pesanku."


Dan tiba-tiba pertapa itu menghilang setelah menyampaikan pesan pada Putri Tara.


Apa maksudnya? Ratu Mayang punya dua putra? Dan salah satunya bukanlah manusia? Siapakah dia? Aku benar-benar tidak mengerti.


Tapi apa yang dikatakannya pasti punya sebuah tujuan. Dan pasti berhubungan dengan halaman yang pernah aku baca dikitab Mayapada. Aku pernah membaca sebuah penyatuan antara manusia dan keturunan raksasa hingga membuat dunia dalam bahaya dan musibah besar melanda.


Aku harus cepat keluar dari sini? Mereka pasti sudah menungguku dan mengira aku sudah tiada.


Sementara diantara pepohonan didekat Ratu Mayang dan Pangeran Hakim sudah mengintai seekor ular besar yang siap memakan keduanya.


"Ada yang sedang mengintai kita." Kata Pangeran Hakim.


"Benar. Dia ada diatas kepala kita." Kata Ratu Mayang.


"Awas Pangeran!" Seru Ratu Mayang sambil menyerang seekor ular besar yang hampir saja menggigit Pangeran Hakim.


Ratu Mayang kemudian mengeluarkan pedang dan juga Pangeran Hakim. Mereka langsung memasang kuda-kuda dan siaga dengan setiap serangan dari ular besar itu.


"Awas ekornya!" Seru Pangeran Hakim sambil menyerang ekor ular itu.


"Ayo kita serang sama-sama!" Kata Ratu Mayang.


"Aku akan menyerang kepalanya. Dan kau ekornya." Kata Ratu Mayang.


Kemudian Ratu Mayang terbang dan mulai menyerang kepala dari ular itu. Sedangkan Pangeran Hakim juga terbang dan menyerang ekor dari ular itu yang terus menyerangnya dengan kibasan ekornya.


Akhirnya kepala ular itu terkena hunusan pedang Ratu Mayang dan ekornya mulai melemah. Dan saat ekornya melemah dengan cepat Pangeran Hakim langsung melukai ekornya dengan pedangnya.


"Ayo kita angkat dan kita lemparkan kedalam api!" Seru Ratu Mayang.

__ADS_1


"Mari ibunda."


Mereka berdua kemudian mengangkat ular raksasa itu dan melemparkanya kedalam api. Keanehan terjadi, api itu langsung padam saat ular raksasa itu masuk kedalam nyala api yang masih besar. Dan mereka sangat terkejut saat melihat sesuatu didalam kobaran api yang sudah padam.


__ADS_2