
Azlan langsung menelfon pemilik nomor +62 itu.
Tut ... tut ... tut ....
Panggilan terhubung.
"Yeoboseyo."
Azlan menyapa ketika panggilan terhubung.
"Annyeong, geu mesijileul nae hyudaepon-eulo bonaendaneun ge museun tteus-iya. Dangsin-eun hangug-in-ibnikka? eodiya? Dangsin-ui beomjoega uli gajog-egeiss-eul ttae dangsin-eun naege bij-euljige doel geos-ibnida."
Tak ada sahutan dari seberang sana.
"Speak up, son of a bit*h!" bentak Reyndad ketika ia merasa didiamkan.
"Yes, can't you read the short message? Are you stupid? You're a director in your own company, but you don't even understand the message? You have to be careful. Since I will break your relationship, even I can kill all of your family without remaining a bit. I really want to see you disappointed both physically and mentally, I really want to see that your handsome face is not as cheerful as it is now. How will that be, your expression? I'm so impatient, hahaha."
Netra Azlan membola. Ia berjalan untuk menutup pintu kamar, tak lupa menguncinya.
Ia tak ingin Dara mendengar.
Bahkan amarah sangat memuncak ketika suara seorang pria di sebrang sana membalas ucapannya dengan berbahasa Inggris, bukan hangul.
(Ya, apa kau tak bisa membaca pesan singkat itu? Apa kau bodoh? Kau seorang direktur di perusahaanmu sendiri, tapi kau malah tak mengerti dengan pesan itu? Kau harus berhati-hati. Karena aku akan meretakkan hubungan kalian, bahkan aku bisa membunuh semua keluargamu tanpa tersisa sedikit pun. Aku sangat ingin melihat kau kecewa dalam lahir maupun batin, aku sangat ingin melihat wajah tampanmu itu tak seceria sekarang. Bagaimana ya, ekspresimu nantinya? Aku sangat tidak sabaran, hahaha.)
'Oh, so there are other people who want to tease my family. How could he threaten me by killing everyone without remaining. This can't be tolerated,' batinnya seraya meremas ponsel yang berada di dekat telinganya.
(Oh, jadi ada orang lain yang ingin mengusik keluargaku. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan membunuh semuanya tanpa tersisa. Ini tak bisa dibiarkan.)
"Don't mess with me. I can torture you with my own hands. What's your right to interfere in my business, ha?!"
Azlan sudah hilang akal menghadapi masalah baru sekarang.
"Hey, don't scream. My eardrums can break hearing your scream from across there. I mean, you have to accept what happened to you. Don't let me be the one who will come to you and mess up all the companies and turn the facts about you in front of your own family."
__ADS_1
Tut!
Azlan mematikan ponselnya lalu memberikan ponsel itu pada karyawannya dalam jurusan teknik komputer untuk melacak keberadaan dari pemilik nomor itu.
[Saya butuh cepat!]
Send!
Ping!
[Baik, pak.]
Tangannya meremas poninya, sangat frustasi dengan kejadian sekarang. Bukan hanya Taeri Hanseol, melainkan masalha baru lagi.
Apalagi itu adalah suara seorang pria.
Tok ... tok ... tok ....
Dirinya dikejutkan dengan ketokan pintu.
Suara Dara membuatnya terkejut. Ia menghapus keringat yang ada di pelipis, hidung dan di bawah matanya laku berjalan untuk membuka pintu.
Wajah Dara terlihat kesal dengan tingkah sang suami yang tak biasanya mengunci pintu kecuali saat mereka tidur atau tengah berdua di dalam kamar.
"Kakak sembunyiin apa dari aku?"
Deg!
'Apakah dia mengetahui semuanya?' batinnya.
"Ha?"
"Kenapa pintunya pake dikunci segala? Takut ketahuan kalau kakak selingkuh di belakang aku?"
Azlan menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang ia kerjakan sekarang.
__ADS_1
"Enggak, kamu jangan fitnah suami kamu sendiri seenaknya dong."
PoV Azlan
Aku berjalan masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu toilet dan kembali melihat pesan teror itu.
Delete!
Aku menghapus pesan dan panggilan di ponselku agar Dara tak tahu dengan semuanya. Biarkan aku yang menyelesaikan ini sendiri.
Bila perlu, aku akan membawa Alazka dan membayar orang suruhan untuk mengatasi semuanya.
Ia tak mau jika keluargaku tahu, apalagi Dara Bisa-bisa ia juga ikutan dalam hal ini. Nyawanya bisa terancam.
Aku menghela napasnya, meletakkan ponselku menjauh dari wastafel lalu membasuh wajahku dengan air kran yang dingin.
Aku mengangkat kepala menghadapkan wajah ke depan cermin. Melihat wajahku yang sangat lelah, pesan teror dan permintaan Taeri.
Kalimat ini tengah berputar di kepalaku.
Apakah ini ulah Taeri? Ataukah orang yang menyuruhnya untuk menelfonku? Ah, aku sangat lelah.
Tapi, Taeri tak punya nomor ponselku. Bahkan di group WhatsApp tak ada nomornya di sana. Karena aku adalah Admin di group tersebut bersama papa, Paman Kim, Paman Richard dan pamanku yang lainnya.
"O, Ileon. I munjeleul geugboghadolog dowajuseyo. Honjaseo modeun geos-eul haegyeolhaneun geos-eun maeu eolyeobseubnida. Modeun geos-eul junim kke matgigessseubnida. Dangsin-ui doumgwa choeseon-ui bangbeob-euljusibsio. I munjeleul jeugsi haegyeolhago gajog-eul jeongsang-eulo doe dollisibsio. munjeneun-eobsgo aleumdaumgwa us-eum man issseubnida. honjaseo dalul sueobsneun munjeneunjuji maseyo. Anaeleul poham hae moduga naleul miwohamyeon dulyeobda. Na jinjja pigonhae. Je anaeneun simjieo jeoga anila yeodongsaeng pyeon-ieossseubnida. Geuneun geuga malhan geos-e imi sobi doen geos gat-assda. Igeos-eun yongnab doel su eobs-seubnida. Nae him-eulo nolyeoghagessseubnida. Naega hal su-issneun han ganeunghan han, geuga han il-eul midgo huhoehal su issdolog nae salm-i witaelowojyeossseubnida."
"Jigeum jeongmal dabdab haeyo. a, geudeul-i igeos-e daehae alge nwaduji maseyo. Kkeutnael geyo. Nae haengbog-eul eojileob hin neohuideul-eul bwa. Naneun yeoleobun-ui haengdong-eulo yeoleobun moduleul gotongseuleobge mandeul geos-ibnida. Kallo dangsin-ui teumsaeleul pahechil geyo. Geulaeseo neohuideul-eun naega eolmana gotong-eul gyeokk-eossneunji al su issseubnida. Geuleona geugeos-eun eolmaga anibnida. Nuga igigo nuga jabileul guhago nae bal alae muleup-eul kkulh-eul ji ulineun boge doel geos-ibnida," gumamku seraya membasahi poniku.
(Oh, tuhan. Bantu aku dalam mengatasi masalah ini. Sangat sulit bagiku untuk menyelesaikan semuanya sendiri, aku akan serahkan semuanya pada-Mu, tuhan. Berikan aku pertolongan dan jalan terbaik dari-Mu. Biarkan masalah ini segera selesai dan buat kembali keluargaku seperti sedia kala. Tak ada masalah, hanya ada keindahan dan tawa di dalamnya. Jangan memberiku masalah yang tak dapat kuhadapi sendiri. Aku takut jika semuanya membenciku termasuk istriku sendiri. Aku benar-benar lelah sekali. Istriku saja bahkan berpihak pada adikku, bukan diriku. Sepettinya dia sudah termakan oleh ucapannya. Ini tak bisa dibiarkan. Aku akan berusaha dengan kekuatanku sendiri. Semampuku, bila mungkin nyawaku menjadi taruhannya agar ia bisa percaya dan menyesali apa yang telah ia lakukan.)
(Aku benar-benar frustasi sekarang. Ah, jangan sampai mereka tahu dengan hal ini. Aku akan menyelesaikannya. Lihat saja kalian yang telah mengganggu kebahagiaanku. Akan kubuat kalian semua menderita dengan perbuatan kalian. Aku akan mengerok kerongkoangan kalian dengan pisau. Agar kalian tahu bagaimana rasa sakit yang selama ini kualami. Tapi, itu bukan seberapa. Kita lihat, siapa yang menang dan siapa yang akan memohon ampun dan bersujud di bawah kakiku.)
(Hangul:오, 이런. 이 문제를 극복하도록 도와주세요. 혼자서 모든 것을 해결하는 것은 매우 어렵습니다. 모든 것을 주님 께 맡기겠습니다. 당신의 도움과 최선의 방법을주십시오. 이 문제를 즉시 해결하고 가족을 정상으로 되 돌리십시오. 문제는없고 아름다움과 웃음 만 있습니다. 혼자서 다룰 수없는 문제는주지 마세요. 아내를 포함 해 모두가 나를 미워하면 두렵다. 나 진짜 피곤해. 제 아내는 심지어 저가 아니라 여동생 편이었습니다. 그는 그가 말한 것에 이미 소비 된 것 같았다. 이것은 용납 될 수 없습니다. 내 힘으로 노력하겠습니다. 내가 할 수있는 한 가능한 한, 그가 한 일을 믿고 후회할 수 있도록 내 삶이 위태로워졌습니다.)
(지금 정말 답답 해요. 아, 그들이 이것에 대해 알게 놔두지 마세요. 끝낼 게요. 내 행복을 어지럽 힌 너희들을 봐. 나는 여러분의 행동으로 여러분 모두를 고통스럽게 만들 것입니다. 칼로 당신의 틈새를 파헤칠 게요. 그래서 너희들은 내가 얼마나 고통을 겪었는지 알 수 있습니다. 그러나 그것은 얼마가 아닙니다. 누가 이기고 누가 자비를 구하고 내 발 아래 무릎을 꿇을 지 우리는 보게 될 것입니다.)
__ADS_1
Memberinya shampoo dan conditioner. Lalu keluar dari kamar mandi.