Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 121. Di Teror Lagi


__ADS_3

[Tidak apa-apa, pah. Selamat jalan, ya. Jangan lupa buat kirim pesan di room chat bahwa kau sudah sampai di Seoul. Jaga kesehatan dan jangan lupa berolahraga. Aku akan mengkhawatirkan dirimu jika kau sakit, maka janganlah sakit dan jangan memikirkan kami di sini. Kami akan baik-baik saja. Aku akan selalu mengabarimu di sini dan pergilah dengan selamat. Hati-hati di jalan ya, pa.]


Tak lupa aku menyelipkan emotikon hati, senyuman dan crying.


Ping!


Bibi Kim


[Hati-hati di jalan ya, Seok. Kami akan mendoakan keselamatanmu, jagalah dirimu terutama kesehatan. Azlan mungkin kami tidak bisa pergi ke sana. Mungkin sore nanti karena mereka masuk sekolah dan nanti sore aku akan mengabari mereka dan kami pergi ke rumahmu bersama-sama.]


Aku menepuk jidat, ternyata ini adalah hari Sabtu dan aku lupa jika mereka masih masuk sekolah. Huh, yang benar saja Azlan


To Bibi Kim


[Maaf, bi. Aku lupa, baiklah, aku akan menunggu kalian karena aku tidak masuk kerja hari ini. Selamat beraktivitas.]


Tak ada lagi chat di group WhatsApp. Aku memberitahu Dara bahwa mereka akan datang sore nanti kecuali Cinta.


"Ya udah, aku akan siapkan untuk Cinta."


Dara membuka seluruh kabinet dapur dan matanya terbelalak melihat gulali itu berserakan di lantai kayu.


"Kak, jadi kakak beli sebanyak ini?"


Aku menganggukkan kepala lalu melihat koran yang ada di pangkuanku. Ternyata banyak sekali berita di koran mengenai korupsi dan kriminalitas.


"Sungguh meresahkan aksi bejat mereka yang beraninya menyembunyikan uang yang tidak ada hak milik mereka sendiri. Jika dipenjara saja, itu tidak akan mempan. Bahkan jika dipenjara 10 tahun mereka akan mengulangi perbuatan itu kecuali jika dihukum mati. Mereka tidak bisa berkutik dan pastinya sangat takut akan melakukan perbuatan ini."


Aku berucap menatap koran yang berisi aksi korupsi dan kriminalitas di sana. Ada beberapa pejabat tinggi negara yang ditangkap karena melakukan suap dan korupsi lainnya.


"Kenapa, kak?" tanyanya seraya membuka salah satu gulali berperisa taro berwarna purple.


"Ini nih, banyak banget koruptor. Sebenarnya kalau kita ketemu koruptor di salah satu kantor, dan dihukum cuman dipenjara. Sekalian aja semuanya dihukum mati," jawabku membalikkan koran yang kubaca ke arahnya.


"Hm, biasa aja kak. Itu udah lumrah di mata masyarakat. Dipenjara 5 tahun atau 10 tahun, tapi 2 atau 3 tahun kemudian udah keluar karena dibayar."


"Iya, jika perlu di granat aja tuh rumahnya. Suruh TNI yang melakukannya," gerutuku membuat Adna menggelengkan kepalanya.


"Kita berjemur dulu yuk, di rooftop," ajakku seraya menarik tangan Dara menuju lantai atas.

__ADS_1


***


Sampainya di sana, kami menikmati sensasi hangatnya matahari pagi berdua. Dara duduk di kursi sementara aku berdiri di sampingnya.


Dara memejamkan matanya menikmati matahari yang menerpa wajahnya dan seluruh tubuhnya.


Setelah selesai, aku masuk ke dalam kamar dan mengambil buku diary yang telah lama kusimpan.


Belum ada kutulis satu pun dan aku akan menulisnya dengan bahasa Hangul.


˙Matahari pagi yang hangat ini akan menjadi saksi bisu bahwa aku pernah dan bahkan sering meluangkan waktu bersama orang yang kusayang dan bahkan namanya kini sudah mengisi penuh hatiku. Setelah mama dan adikku, Cinta. Rumah mewah bak istana yang kami miliki ini terkadang bukanlah membuatku bahagia. Melainkan ketika canda tawa muncul di dalam rumah lah membuatku bahagia bersama wanita yang sudah resmi menjadi istriku. Bukan hanya di atas surat, melainkan aku mencintainya sepenuh hati. Hatiku yang dingin bak es langsung luluh lantah melihat wajahnya yang dulu ketakutan. Entah bagaimana rasa itu muncul akan memilikinya. Beruntung niat baikku diterima orang tuanya dan Tuhan. Aku sangat bersyukur sekali bisa memilikinya. Wanita yang sederhan, bahkan sudah menjadi istriku saja dia masih mengingatkanku untuk berhemat hingga aku harus membuat kartu debit lagi karena sudah mencapai batas maksimum. Tuhan, kuharap kau selalu menjaganya karena aku hanya manudia biasa dan terkadang sering melakukan kesalahan dan kekhilafan.˙


"Ah, akhirnya aku bisa menyusun kata-kata lagi. Setelah sekian lamanya aku tidak menulis dan tulisanku sedikit berantakan karena jarang memegang pena. Hanya saja untuk tanda tangan dan itu cuma sebentar," ucapku melihat tulisan tanganku di buku putih yang telah berwarna hitam bertinta.


Setelah selesai, aku masuk ke dalam kamar dan mengambil buku diary yang telah lama kusimpan.


Belum ada kutulis satu pun dan aku akan menulisnya dengan bahasa Hangul.


[Matahari pagi yang hangat ini akan menjadi saksi bisu bahwa aku pernah dan bahkan sering meluangkan waktu bersama orang yang kusayang dan bahkan namanya kini sudah mengisi penuh hatiku. Setelah mama dan adikku, Cinta. Rumah mewah bak istana yang kami miliki ini terkadang bukanlah membuatku bahagia. Melainkan ketika canda tawa muncul di dalam rumah lah membuatku bahagia bersama wanita yang sudah resmi menjadi istriku. Bukan hanya di atas surat, melainkan aku mencintainya sepenuh hati. Hatiku yang dingin bak es langsung luluh lantah melihat wajahnya yang dulu ketakutan. Entah bagaimana rasa itu muncul akan memilikinya. Beruntung niat baikku diterima orang tuanya dan Tuhan. Aku sangat bersyukur sekali bisa memilikinya. Wanita yang sederhana, bahkan sudah menjadi istriku saja dia masih mengingatkanku untuk berhemat hingga aku harus membuat kartu debit lagi karena sudah mencapai batas maksimum. Tuhan, kuharap kau selalu menjaganya karena aku hanya manusia biasa dan terkadang seting melakukan kesalahan dan kekhilafan.]


"Ah, akhirnya aku bisa menyusun kata-kata lagi. Setelah sekian lamanya aku tidak menulis dan tulisanku sedikit berantakan karena jarang memegang pena. Hanya saja untuk tanda tangan dan itu cuma sebentar," ucapku melihat tulisan tanganku di buku putih yang telah berwarna hitam bertinta.


[Mengenai takdir, aku tak bisa mencampuri urusan Tuhan. Terkadang, aku kecewa karena aku menganggap Tuhan itu tidak adil. Aku merasakan bahwa dulu saat aku berpisah karena emosi dan dia meninggalkanku, duniaku terhenti dan duniaku terasa seperti kiamat. Hal yang paling membuatku terkejut, ketakutan dan kehilangan yang teramat sangat. Bahkan, orang yang jarang sekali menghadapnya saja merasa baikan ketimbang diriku. Tapi, itulah hidup. Manusia juga tak bisa menyalakan takdir yang selalu naik-turun dan semakin melangkah jauh, semakin banyak duri menunggu kedatangan mu.]


Brak!


"Aah!"


Aku segera berlari ke bawah. Suara benda yang dilempar ke kaca dan suara teriakan Dara beserta Bi Ima di sana.


"Ada apa?" tanyaku pada Bi Ima.


"Ada yang melempar kaca dapur, tuan."


"Di mana Dara?" tanyaku lagi.


Bi Ima menunjuk ke arah bawah meja seiring mataku mengikuti arah tunjuk Bi Ima. Dara tengah menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan duduk di bawah meja makan.


"Sini sayang, tak apa," ujar ku pelan seraya menariknya keluar dari sana.

__ADS_1


"Ta-tadi ada yang berusaha mecahin kaca itu. Aku gak tahu," ujar Dara dengan nada gemetaran. Bukan suaranya saja, melainkan tubuhnya juga dan keringat di pelipisnya.


"It's oke, gwaenchanh-a."


Aku berjalan mendekati kaca dapur dan melihat sebuah peluru melekat di kaca itu.


Untung saja kaca itu tidak masuk ke dalam rumah karena semua kaca di rumahku adalah kaca tebal anti peluru dan sangat sulit untuk dipecahkan dengan barang-barang berat.


Aku mengambil ponsel lalu membidik peluru nyasar itu dengan kamera ponselku dan mengirimnya ke Jong Ru.


Ping!


Jong Ru


[Apa itu? Kenapa bisa ada peluru di sana? Apa yang terjadi?]


"Ayo, kita ke kamar."


Aku menarik tangan Adnan menuju kamar lalu ia menceritakan kejadian itu.


"Tadi itu, aku sedang masak sama bibi. Terus waktu aku ambil toflen, tiba-tiba ada suara benda keras. Aku teriak dan langsung sembunyi ke bawah meja makan."


Aku menghela napas pelan lalu mengelus kepalanya dan membawanya ke dalam dekapanku.


"Kita akan selesaikan masalah ini. Kamu tenang aja, kakak akan selesaikan masalah ini dengan Jong Ru."


"Ha?" Adnan mengangkat kepalanya menatapku. Wajahnya telah basah oleh air matanya.


"Kakak udah baikan sama dia?"


"Ya, terpaksa. Dia 'kan sepupu kakak."


Adnan kembali menempelkan kepalamya di dada bidangku. Sementara aku mengelus kepalanya.


Aku mengambil ponselku lalu mengetik pesan pada Jong Ru.


To Jong Ru


[Ada sebuah peluru yang masuk ke rumah aku, tepatnya di bagian dapur. Waktu itu istriku dan asisten rumah tanggaku tengah memasak. Adnan sedang ambil toflen dan tiba-tiba aja suara peluru masuk ke dalam rumah. Untung saja tidak lolos masuk ke dalam. Bisa tidak kau datang ke rumah dan ambil pelurunya untuk dilihat sidik jari. Bagaimana dengan orang kemaren? Apa sudah masuk ke dalam sel?]

__ADS_1


Send!


__ADS_2