
Tak berselang lama, mereka datang dan Cinta duduk tepat di sampingku. Sementara Dara duduk di sebrang, sesekali aku melirik ke arahnya yang tengah fokus menatap layar televisi.
"Dara , ayo tidur," ajakku dan berjalan menuju kamar mendahuluinya.
"Aku tidur dulu ya, Cin."
Masih terdengar suaranya yang sedang berpamitan pada Cinta saat aku masuk ke dalam kamar dan membersihkan wajah ke kamar mandi.
Aku melihat Dara yang sudah berbaring di ranjang. Tapi, sebelum aku menyusulnya, terlebih dahulu aku mengeringkan wajah dengan handuk bersihkan dan duduk di punggung ranjang.
"Apa kamu tidak mau minta maaf?" tanyaku menatap punggungnya.
Seketika ia berbaling badan dan menatap langit-langit kamar.
"Kemaren itu, aku gak sengaja ketemu sama Fero dalam keadaan menangis. Ya udah, aku lampiasin ke dia. Langian ini juga salah kakak."
Aku hanya diam mencerna kata-katanya.
"Ya, tapi kakak gak sempat berpelukan," sindirku.
"Jadi, siapa yang minta maaf?" tanya Dara menatapku.
'Kamulah,' batinku.
"Ya udah, saya minta maaf," ucapku melirik ke arahnya yang sedang mengulum senyum.
"Tapi, kakak gak suka kamu dipeluk sama laki-laki baji**** itu," gertakku lalu menindih tubuhnya.
"Kak."
"Wae?" tanyaku lalu mencium bibirnya.
***
Aku melepaskan dan menatap wajah Dara yang menutup matanya kuat.
"Apa kakak semenakutkan itu?"
Dara membuka matanya lalu menatapku sebentar sebelum akhirnya ia memutuskan pandangan kami yang sempat bertemu 2 detik lalu.
"Kamu jaga Azlan junior ini." Aku menyentuh perut ratanya lalu meletakkan bantal guling ke dinding.
Aku merengkuh tubuh Dara sambil menghirup aroma tubuhnya yang sudah menjadi candu bagiku.
Drt ... drt ... drt ...
Aku meraih ponsel yang tergeletak di nakas dan melihat nama mama.
"Ngapain mama video call?" gumamku seraya memposisikan tubuh berbaring di ranjang dan menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, ma," sapaku.
"Udah tidur aja?" tanyanya yang sedang duduk di sofa. Di sana hanya dia sendiri.
"Mana si cantik?"
Aku mengarahkan layar ponsel ke Dara dan ia tersenyum sambil melambaikan tangannya ke udara.
"Halo, ma."
"Halo cantik, apa kabar?"
"Baik ma, mama gimana kabarnya di sana?"
"Baik sayang. Papa lagi lembur, jadi mama gak ada teman di sini."
Dara hanya ber oh ria lalu aku mengarahkan layar ponsel ke arahku.
"Ma, anak mama siapa, sih? Yang ditanyain cuman si cantik doang?" tanyaku menekan kata 'cantik'.
"Ya, anak mama itu Cinta sama Dara. Kamu belakangan."
Aku melirik ke arah Dara yang tersenyum sambil menutup bibirnya. Gemas.
"Ya udah, selamat bobo ya, cantik. Kalau Azlan tidurnya kurang aja, kamu tendang aja kakinya."
"Assalamualaiakum."
"Waalaikum salam," jawab kami bersamaan dan aku menutup panggilan sepihak dan menyimpan kembali ponsel di nakas.
"Kamu udah minum susu?"
"Sudah," jawabnya dibarengi dengan anggukan kepala.
Aku mememiringkan tubuhku menghadap ke arahnya lalu menatapnya lekat. Terlihat Dara sangat risih dengan tatapanku sehingga ia tidak berani menatapku lebih lama.
"Kenapa kamu gak mau tatap suami tampanmu ini, ha?" tanyaku kepedean.
"Gak apa-apa, risih aja."
Aku terkekeh mendengar jawabannya.
__ADS_1
"Kamu tahu, semua wanita saja selalu menatapku. Tapi, kamu enggak. Aneh," pungkasku.
"Ya, beda lah."
Aku kembali menatapnya dalam-dalam karena aku tak merasa puas menatapnya. Keadaan kamar hanya ada sebuah cahaya lampu tidur, dan itu hanya ada di sampingku sehingga pantulan cahaya lampu mengenai sebagian wajahnya.
"Apa?" tanyanya.
"Enggak." Aku menggelengkan kepala dan kembali menatapnya.
Cup.
Aku mengecup bibirnya kilat dan melihat ekspresi wajahnya.
"Astaga, ini muka apa tomat sih?" Aku menyentuh dagunya sambil mengelus ringan.
"Jangan merayu," kilahnya menepis tanganku.
"Saya gak bisa merayu, Dara"
"Terserah."
Ia membalikkan tubuhnya membelakangiku. Gemas melihat tingkahnya seperti itu.
"Kakak cuma bercanda." Aku meletakkan kepalaku di bahunya sambil membuang napas. Dara melirikku sehingga kepalaku mundur.
"Kakak pake pasta gigiku, ya?"
Dari mana dia tahu, pikirku.
"Iya, emang kenapa?" tanyaku balik.
"Ih, itu hampir habis." Dara memukul lenganku yang bertengger di pinggangnya.
"Ya, kakak juga mau merasakannya aja."
Ya, tadi aku sempat mencicipi pasta gigi Dara yang berperisa strawberry. Itu pasta gigi anak-anak, pantas saja bibirnya manis. Ternyata dia menggunakan pasta gigi itu. Aku sempat menggelengkan kepala dengan kebiasaan Dara.
(Author pakai itu, fakta.)
"Ya ampun, jangan ngambek lah. Kalau habis 'kan bisa beli lagi. Kalau perlu, borong semuanya," paparku.
Walaupun harganya murah, tapi jika diambil semua tidak akan membuat uangku krisis.
"Kak, besok siang temanku Yayuk mau ngajak reunian."
"Di mana?" tanyaku menatapnya.
"Gak perlu," tolakku.
"Ih, gak bisa lah. Udah 1 tahun gak ketemu mereka. Rasanya rindu tahu, apa lagi sama teman sekelas," ungkapnya.
Aku bisa saja mengizinkannya keluar rumah, tapi mengingat kelakuan Fero kemaren rasanya tidak mungkin melepas Dara begitu saja. Secara dia tengah mengandung buah hatiku.
"Boleh, ya?" pintanya yang sudah membalikkan tubuhnya menghadapku.
Aku hanya diam memikirkan hal tersebut.
"Pulangnya jam berapa?" tanyaku.
"Mungkin sore atau malam."
Haduh, kalau pulang malam, aku takkan memberinya ruang untuk keluar rumah, pikirku menggigit bibir bawah.
"Kakak masih mikir sampai besok pagi. Tanyakan sama Yayuk pulangnya jam berapa." Aku menutup mata.
"Ih, kok sampai pagi, sih? Bilang 'iya' apa susahnya," tukasnya seraya memukul lenganku.
"Ya, kamu tanyain dulu dong."
Dara melepaskan pelukanku lalu ia beranjak dari ranjang. Aku masih menutup mata sambil menunggu tubuhnya berbaring di sampingku.
"Halo, Yuk. Aku mau tanya, kita pulangnya jam berapa, ya untuk reunian itu?"
Aku membuka kelopak mata dan melihat Dara yang tengah berdiri di depan meja rias sambil berkacak pinggang dan tangan satunya memegang ponsel yang ia tempel di telinganya.
"Oh, oke. Makasih." Dara menutup teleponnya lalu meletakkan ponselnya di meja rias dan berbaring di sampingku.
"Pulangnya sorean, hampir malam katanya," sahutnya.
"Ya, sudah." Aku kembali memeluk tubuhnya dan menutup mata.
"Dibolehin?"
"Belum tahu," balasku dan mendengar ia berdecak kesal.
***
Pagi ini, aku merasakan ranjang di sampingku hampa. Aku membuka mata dan tak melihat Dara di sana. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 05.45 WIB.
"Astaga, telat subuh." Aku berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka, lalu mengambil air wudu untuk melaksanakan salat subuh.
__ADS_1
Setelah selesai, aku merapikan alat salat lalu turun ke bawah. Di sana, Dara sedang berperang bersama pisau dan kompor serta bahan-bahan dapur lainnya.
"Mau masak apa?"
"Astaga, kaget tahu gak."
Aku terkekeh lalu memeluknya dari belakang.
"Mandi gih, bauk tahu gak."
Aku melepaskan pelukanku lalu mencium aroma tubuhku.
"Sedikit, tapi kamu tahu, ini juga yang membuat kamu cinta," ungkapku.
"Iyain deh."
Aku tersenyum menang mendengar ucapan Dara.
Tubuhnya berjalan menuju wastafel untuk mencuci salad, aku hanya mengikutinya tanpa melepaskan pelukanku.
"Kak, aku susah bergerak."
Aku melepaskan pelukanku lalu mengecup kening dan pipinya lalu berjalan ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ke kantor.
****
Setelah selesai, aku kembali ke dapur dan melihat Cinta dan Dara tengah berbincang-bincang di meja makan.
"Ayo, sarapan," ajak ku duduk di samping Dara
Kami menikmati sarapan pagi ini dengan menu nasi goreng dan salad yang disuguhkan Dara.. Setelah selesai, Dara kembali menagih jawabanku semalam.
Aku mengeluarkan dompet lalu meletakkan black card di atas meja.
"Kamu gunain uang itu dengan baik dan benar." Aku kembali memasukkan dompet di saku celana.
"Kak, tapi kartu debit kemaren ..."
"Itu punya kakak, gak dipake, sih. Kakak khususkan untuk istri kakak," ungkapku sambil mencolek hidung mungilnya.
"Makasih, ya."
Aku menganggukkan kepala lalu Dara memberikan kotak bekal padaku. Aku menerimanya dengan senang hati dan mengantar Cinta ke kampusnya.
PoV Author
Setelah kepergian Azlan dan Cinta, Bi Ima datang dengan senyumannya saat Dara tengah mencuci piring.
"Maaf, non, saya telat."
"Gak apa-apa, bi. Kalau bibi lapar, makanan ada di lemari. Aku nanti mau pergi keluar, udah dapat izin kok dari kakak. Jaga rumah ya," terang Dara.
"Siap, non."
Dara berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap. Ia mengirim pesan pada Yayuk agar menjemputnya dengan alamat yang ia kirim.
Setelah mendapat persetujuan dari Yayuk, Dara meletakkan ponselnya di ranjang lalu ia mulai dengan membersihkan diri.
***
"Aduh, pilih yang mana, ya?"
Kini, Dara tengah dilanda kebingungan. Ia membidik dua gamis tersebut lalu mengirimnya pada Azlan.
***
Ping!
Azlan menatap ponselnya. Di sana tertera nama 'My Sweetheart My Wife My Idol'. Senyumannya mereka melihat pesan dari Dara. .
[Gamis hitam.]
Azlan mengirim pesan pada Dara.
Ping!
[Oke.]
Azlan kembali meletakkan ponselnya sambil menggelengkan kepala mengingat betapa polos dan lugunya Dara sampai ia bingung sendiri dalam memilah baju.
***
Dara keluar dengan gamis hitam dan jilbab berwarna merah muda yang menghiasi wajah cantiknya. Tak lupa tas kecil bermerek Gucci yang sempat Silvia beli untuknya.
Kakinya ia baluti dengan sepatu pansus yang membuat penampilannya semakin anggun. Berbeda dengan dulu, penampilan Dara seperti anak berandalan karena ia sering memakai celana jeans dan training.
"Astaga, ini rumah apa istana?" tanya Yayuk saat melihat Dara keluar dari gerbangnya.
"Kamu apa-apaan sih."
Yayuk mempersilahkan Dara untuk masuk ke dalam mobilnya dan mereka meluncur menuju tempat reuni yang sudah ditentukan.
__ADS_1