Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 48. Ayo kita Berpisah


__ADS_3

Azlan melihat ke arah Dara yang tengah fokus dengan makan malamnya. Setelah selesai, Dara mencuci piringnya di wastafel dan berjalan menuju kamar.


"Dia kenapa, sih?" gumam Azlan mempercepat menghabiskan makanannya.


Azlan menyusul Dara ke kamar tanpa mencuci piring kotornya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Azlan yang mulai jengah dengan tingkah Dara akhir-akhir ini.


"Ada yang mau aku bicarain."


Azlan melongo melihat wajah Dara yang memerah dan jejak air mata di pipi mulusnya.


Ia berjalan mendekati Dara yang duduk di bibir ranjang dan mengusap kepalanya.


Dara menepisnya dengan lembut lalu menatap manik dark kninght Azlan dengan sendu.


"Ayo berpisah."


Dua kata itu membuat jantung Azlan berhenti berdetak. Napasnya memburu menandakan ia emosi dengan kata-kata yang keluar dari bibir istrinya.


"Wae?" tanyanya dengan suara rendah.


"Aku gak bisa kasih kamu keturunan, aku wanita bodoh, aku belum dewasa, ak--"


"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?!"


Kali ini, Azlan tak bisa menahan emosinya. Ia mencengkram kedua bahu kecil Dara dengan erat membuat sang empu meringis kesakitan akibat perbuatannya.


"Pergilah bersama Kang Yuri, dia menginginkanmu."


Mata Azlan memanas mendengar nama itu.


"Aku mencintaimu, bukan Kang Yuri," desis Azlan tak terima.


"Lepaskan aku, biarkan aku pergi dati kehidupanmu. Aku hanya parasit untuk kalian berdua. Kang Yuri selalu mengawasiku, aku takut."


Air mata Dara tumpah setelah ia mengucapkan hal itu. Perlahan, Azlan meregangkan cengkraman nya dan melepaskan tangannya dari bahu Dara.


"Apa itu yang kau mau? Jadi, selama ini kau mendiamiku untuk mengatakan hal itu? Kau tahu, bagaimana susahnya aku mendapatkanmu? Aku rela berkorban demi apapun agar kau bahagia. Aku tak pernah membuatku repot dalam hal apapun. Dalam keuangan, aku selalu memberimu lebih, aku tak ingin kau lelah, penat dalam mengurus rumah. Kau tahu, ini rumah yang kita tinggali untuk kamu, untuk anak kita."


"Apa kau termakan omongan jal**g itu?" tanya Azlan.


"Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama," jawab Dara sambil menahan isak tangisnya.


Azlan mengacak rambutnya frustasi. Ia bangkit dari ranjang lalu berjalan mendekati jendela yang basah akibat hujan.


Bahkan langit menangis, sepertinya tak menyetujui permintaan Dara.


Yang terdengar hanyalah suara tangisan Dara sementara Azlan hanya diam. Ia menahan suara tangisannya. Tapi, air matanya tetap keluar dalam diam.


"Biarkan aku pergi," pinta Dara.


"Apa kau tahu, banyak wanita di luar sana yang menginginkan diriku, sementara kau mengajakku untuk berpisah? Apa yang ada di otakmu itu, Dara?!" geram Azlan.


Azlan berbalik menatap Dara yang membungkam bibirnya dengan satu tangan.


"Apa kau tidak menikmati kehidupanmu yang sekarang?!" teriak Azlan membuat Dara gemetaran takut dengan amarah Azlan yang baru kali ini ia marah akibat dirinya.


Dars tak menjawab. Ia memilih menangis dan menangis. Azlan yang mulai jengah lalu mengambil koper di dalam lemari lalu memasukkan pakaian milik istrinya ke dalam.

__ADS_1


"Pergilah jika itu maumu. Saya tidak akan melarang, itu yang kamu mau, 'kan? Jangan kembali lagi."


Azlan menarik tubuh Dara keluar rumah bersaman dengan koper yang sudah ia isi dengan pakaian milik Dara.


Azlan menghempaskan tubuh Dara ke teras rumahnya yang dingin. Ia juga membanting koper milik Dara ke samping tubuhnya lalu menutup pintu dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang sangat keras.


'Apa ini sebenarnya sifat dia?' batin Dara seraya bangkit dan melihat kondisi langit sekarang yang tidak bersahabat.


Azlan melihat dari jendela gerak-gerik Dara. Ia benar-benar menerobos hujan yang sangat deras malam ini hingga punggung kecil itu tak terlihat di pandangannya.


"Dasar wanita tidak tahu diri," ucapnya berjalan menuju kamar.


Azlan menghempaskan tubuhnya di ranjang sembari meredam emosinya yang sudah di ujung tanduk.


***


Dara berhenti di bawah pohon besar sambil menghangatkan tubuhnya dengan mengusap telapak tangannya dan menghembuskannya.


Apa dia menyesal? Pasti, ia merasakannya sekarang. Tapi, tidak mungkin ia kembali ke rumah mewah itu.


Dara tak tahan dengan dinginnya dan memilih duduk di trotoar.


Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Ia mulai takut dan memilih untuk bangkit dan berjalan menjauhi mobil tersebut.


Ia tidak tahu itu mobil siapa.


"Hei!" teriak seseorang dari belakang.


Pria itu mengejar Dara yang semakin mempercepat langkahnya.


Tiba-tiba, sebuah tangan menghentikan langkahnya. Ia merasakan tangan kekar itu menyentuh pergelangan tangan mungilnya.


"Masuklah ke mobil saya," ucapnya yang nyaris tak terdengar akibat hujan deras itu.


"Tidak perlu," tolak Dara


"Tak apa, saya bukan pria jahat."


Dara menatap intens pria itu lalu mengikuti pria dari belakang. Pria itu membukakan pintu mobil untuknya lalu memasukkan koper milik Dara di bagasi mobil.


Pria itu membawanya ke sebuah rumah mewah berwarna silver berlantai dua.


Ia membawa Dar untuk memasuki rumahnya.


Sangat mewah.


Banyak guci di setiap sudut rumahnya dan sebuah rak di sudut ruangan yang berisi minuman keras.


Apa dia pemabuk? Pikir Dara menatap pria itu yang berjalan di sampingnya.


"Bersihkan tubuhmu dulu, di sana kamar tamu. Kamu bisa gunakan untuk beberapa hari," tunjuknya. Dara mengambil koper miliknya dari tangan pria tersebut lalu berjalan gontai menuju kamar yang ditunjuknya.


Ceklek.


Dara membuka pintu kamar tersebut lalu menutupnya dan menguncinya dari dalam.


Sebuah ranjang berukuran single dan kamar mandi yang sudah tersedia dalam 1 kamar ini.


Ia membuka lemari pakaian yang hanya memiliki dua pasang baju kaos panjang lengan dan pendek lengan dan sebuah celana training.

__ADS_1


Tidak terlalu buruk. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk menguyur tubuhnya di bawah air hangat.


Setelah selesai, Dara keluar dari kamar. Pria itu sudah menunggunya di ruang tengah.


"Maaf, jika saya merepotkan," ucap Dara seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.


Pria itu menatap Dara dengan mata yang bengkak dan wajah yang sembab.


"Kamu ada masalah?"


Dara menggelengkan kepalanya.


"Kamu istrinya Azlan?" tanyanya lagi.


Kepala yang tadi menunduk kini bergerak menatap pria tersebut. 'Dia tahu dari mana?' batin Dara. .


"Bagaimana aku tidak tahu, Azlan itu pebisnis terkenal," jawabnya yang seakan tahu dengan tatapan Dara.


"Kamu pasti lapar, akan kubuatkan makan malam dulu."


Pria itu beranjak menuju dapur yang tidak dihalangan oleh bilik. Ia teringat ketika Azlan membuatkannya makanan.


Air mata itu kembali luruh keluar dari matanya. Pikiran mengenai Azlan kembali terbayang.


Tak lama, pria tersebut membawakan sebuah daging yang ia panggang yang ia sediakan garpu dan pisau.


Pria itu menyuguhkan untuknya dan untuk Dara. .


Lagi dan lagi Dara teringat ketika mereka dinner di sebuah restoran mewah berbintang.


"Apa kamu tidak menyukai stik itu?" tanyanya yang melihat Dara hanya diam menatap makanan yang ia buat.


"Tidak, ini terlalu berlebihan," ucap Dara.


"Tak apa, setidaknya daging itu bisa membuatmu kenyang lebih lama dan tidur dengan nyenyak."


"Maksudnya?" tanya Dara yang tak mengerti.


"Apa kamu akan pergi? Hujan malam ini tidak akan berhenti sampai pagi," ujarnya.


Dara tak menjawab pertanyaan pria itu dan memilih mengiris daging itu dengan pisaunya.


Sedikit kesusahan sehingga pria itu menatapnya dengan gemas.


Bagaimana bisa istri Azlan tidak bisa memotong daging itu? Apa Azlan tidak memberinya makanan yang bergizi? Tapi. tubuhnya sedikit berisi, pikir pria itu.


"Sini biar kupotongkan."


Pria itu mengambil piring milik Dara dan ia memotong dadu daging itu dengan cekatan.


"Ini."


Ia menyodorkan ke Dara dan mulai menikmati makanannya yang sempat tertunda.


Setelah selesai, Dara membawa piringnya dan piring pria tersebut ke wastafel dapurnya untuk dicuci.


***


Well, siapa pria itu?

__ADS_1


__ADS_2