Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 31.Pahitnya Patah Hati


__ADS_3

Azlan POV


Aku merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku seraya melihat ke dalam ponselnya yang sedang menayangkan video membuat dessert.


"Kamu mau buat itu?" tanyaku.


"Rencananya. Tapi, belum ada waktu," jawabnya.


"Ya udah, bobok. Udah malam, besok saya mau kerja." Aku membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya bersamaan dengan diriku. Hari ini, salju masih turun, mungkin sekitar 2 minggu kedepannya.


Aku menatap ke arah Dara yang belum juga menutup matanya.


"Mikirin apa?" tanyaku membuat ia menoleh.


"Gak, andai aja aku bisa main salju di luar. Tapi, kondisi badan gak memungkinkan."


Aku terkekeh pelan mendengar penuturannya. Aku mendekapkan tubuh mungilnye ke pelukan hangatku dan mengecup pelipisnya.


"Bisa kok, kalo suhu tubuhmu normal kamu bisa melakukannya," jawabku membuat Dara tersenyum bahagia.


Kami menutup mata mengabaikan salju yang masih enggan untuk berhenti turun menyapa bumi.


Pagi ๐ŸŒ„๐Ÿ™‹Harinya


Pagi ini, Dara lebih dulu bangun pagi dariku. Setelah salat subuh, aku kembali berbaring di ranjang karena suhu yang dingin sehingga ranjang menyapaku agar aku segera memeluknya.


"Pagi." Dara menyapa ku dan papa saat kami keluar dari kamar.


"Pagi," jawabku bersamaan dengan papa.


Kami menikmati nasi goreng buatannya yang dicampuri dengan beberapa potong keju. Dara tak menyukainya, tapi aku menyukai keju. Entahlah, gadis itu sangat aneh.


Aku dan papa keluar dari rumah dan menaiki mobil menuju kantor. Tak ada kendala sesikitpun di kota ini, walau ramai tapi tetap lancar.


Di kantor Papa


Kami turun dari mobil dan berjalan menuju lobi kantor. Sekretaris papa memberikan beberapa map yang harus ia tanda tangani beberapa berkas yang aku siapkan untuk rapat nanti.


Pukul 12.00 KST, aku dan papa makan di kantin. Banyak mata wanita yang menatapku. Aku hanya diam dan memberikan tatapan tajam pada mereka. Bukannya takut, malah mereka senyum-senyum tak jelas.


"Mungkin mereka mengira kamu masih bujangan," timpal papa membuat kunyahanku terhenti.


"Kau tampan sepertiku dulu, ketampananku turun padamu."


Aku menggelengkan kepala sambil terkekeh mendengar ocehan papa. Benar juga.


Selesai makan siang, aku mengirim pesan Line pada Adnan agar ia mengisi perutnya dan minum vitamin.


Ping.

__ADS_1


(Iya.)


Aku tersenyum dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana untuk kembali kantor.


Malam ๐ŸŒ›๐ŸŒŸHari


Pukul 20.00 KST, aku dan papa sampai ke rumah. Aku tak melihat keberadaan gadis itu di dapur dan tengah-tengah rumah. Kakiku membawaku menuju kamar.


Ceklek.


Aku mendorong pintu pelan dan mengendap-ngendap layaknya maling.


"Dia tidur," gumam ku membuka jas dan langsung mandi.


Selesai mandi, Adnan mengucek matanya dan menatapku yang tengah menyisir rambut di depan meja rias.


"Tidurlah," ucapku mengecup pipinya.


"Kok pulang malam?" tanyanya.


"Hm, rapat kali ini banyak. Besok saya gak ke kantor lagi."


"Kenapa?"


"Kantor papa udah kembali stabil. Papa juga suruh kita keliling kota Seoul atau Busan sambil honeymoon."


Adnan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, malu. Pasti dia sekarang sedang blushing.


"Enggak, cuaca hari ini dingin banget." Dara menarik selimut sampai kepalanya. Aku tertawa melihat tingkahnya dan membuka selimut karena aku merasakan napasnya sesak.


Di ๐ŸŒ„๐Ÿ™‹Pagi Harinya


Hari ini, Dara tidak lagi demam ataupun bersin-bersin. Tubuhnya bisa menyesuaikan cuaca dingin di Seoul, aku membawanya menuju Lotte World untuk melepas suntuk saat dia di rumah.


"Wah, kayak di dunia cinderella!" teriak Dara melihat jembatan yang sangat cantik.


Ia berdiri di bibir jembatan Lotte World dan menghirup udara yang dingin. Banyak pasang mata yang melihat tingkahnya yang imut dan menggemaskan apa lagi dengan pakaiannya yang tebal membuat ia seperti anak kecil saja.


Aku berdiri di sampingnya seraya menghembuskan napas kasar sehingga keluar embun dari deru napasku.


"Pantesan kulit orang Korea putih-putih."


Aku menatapnya lalu mengusap kepalanya yang diselimuti dengan penutup kepala berbulu sampai bahunya.


"Tergantung keturunan juga, sayang." Aku memeluknya erat sambil menikmati pemandangan di sini.


"Ayo, kita isi perut." Aku menarik tangannya menuju sebuah restoran yang terletak agar jauh dari Lotte World. Restoran yang sering kukunjungi saat aku sendiri tanpa Kang Yuri.


"Pilleo." Aku mengacungkan satu tangan ke udara lalu seorang pelayan wanita datang menghampiri meja kami.

__ADS_1


*Permisi*


"Ye," ucapnya ramah.


*Iya*


"Soju 1 byeong, ramyeon 2 inbun, bibimbab, bulgogi, yogeoteu 2 inbun-eul jumunhago han seupun-eul jegonghabnida." Aku membaca satu per satu menu yang ada di dalam buku tersebut dalam bahasa hangul.


*Saya pesan sebotol soju, dua porsi ramyeon, bibimbap, bulgogi, dua porsi yogurt dan sediakan sendok satu.*


"Joh-ayo, jamsiman gidalyeojuseyo." Dia menundukkan tubuhnya sebelum ia pergi meninggalkan kami.


*Baik, mohon ditunggu tuan, nyonya.*


Lalu beberapa menit kemudian, orang datang membawa pesanan kami. Mereka menghidangkan di atas meja dan aku melirik Dara yang termenung melihat isi meja yang sudah penuh. Mereka juga memberikan beberapa dessert dan beberapa potong buah segar untuk pencuci mulut setelah makan.


"Jangan seperti itu, di sini kalo mau pesan makanan harus banyak," timpalku memberikannya sendok.


Aku menyisihkan potongan wortel yang ada di dalam bibimbap karena Dara tidak menyukai jenis sayuran ini termasuk kismis.


"Buka mulutmu." Aku memasukkan sepotong bibimbap ke dalam mulutnya.


Dara mengacungkan jempol lalu meminum sedikit yogurt di sampingnya.


"Kak, kenapa pesan minuman ini."


Aku mengikuti arah tunjuknya menuju sebotol soju.


"Untuk menghangatkan tubuh. Gak apa-apa karena cuacanya dingin, jangan berlebihan nanti mabuk. Di dalamnya terkandung 25% alkohol," jelasku seraya menuangkan cairan soju ke gelas bening mungil di depan Dara.


Dia meneguk cairan tersebut dengan raut wajah yang unik, seperti menelan pil.


"Aneh."


Kata itu yang keluar dari mulutnya saat merasakan minuman tersebut.


Seleai makan, aku membawanya mengelilingi mall sekaligus membelikannya boneka beruang putih yang ia suka, beberapa perawatan wajah dan banyak lagi.


Setelah jam 22.00 KST, kami pulang dengan kedua tanganku yang penuh dan Dara memeluk boneka beruangnya. Sampai di garasi mobil, aku turun membawa barang belanjaan lalu menggendong Dara ala bridal style karena dia sudah terlelap.


Lelah, itu pasti. Aku juga merasakan dan aku bahagia bisa membuatnya tersenyun tulus untukku. Aku bisa membahagiakan dirinya dan keluarga kecilnya yang sudah menjadi bagian dari keluargaku.


Aku meletakkan tubuh mungilnya di ranjang dengan hati-hati lalu menarik selimut sampai bahunya dan menyalakan penghangat ruangan.


"Saya akan lakukan agar kamu bahagia," ucapku mengelus surai hitam itu dan mengecupnya dengan penuh cinta.


Ada kehangatan dari dalam saat Dara menatap mataku, menyentuh tanganku, berbicara denganku dengan senyumannya dan aku memeluk tubuhnya tanpa ada perlawanan.


Dia berubah karena ini adalah usaha dan tekadku dulu untuk mendapatkan wanita sederhana. Bukan karena aku takut kekayaanku habis, tapi aku takut untuk jatuh yang kedua kalinya dan merasakan pahitnya patah hati.

__ADS_1


Silahkan review


__ADS_2