
Dua Hari Kemudian
Setelah selesai menyantap makanan, Dara berpamitan untuk ke toilet guna menggosok giginya.
Lalu ia kembali duduk di sampingku, Mr. Kyen dan Nyonya Dewi meninggalkan kami berdua.
"Kamu mikirin apa?"
"Enggak mikirin apa-apa," jawabnya.
Dari air mukanya terlihat bahwa Dara memikirkan sesuatu. Tapi, otakku tak dapat menerka-nerka apa yang ia pikirkan.
"Ya sudah, baca buku aja ilangin suntuk. Pasti kamu capek, perjalanan kita memakan waktu dua puluh tiga jam lebih."
Aku menyetel tempat duduk Dara agar sedikit berbaring.
Sementara aku menyetel mp3 di earphone lalu menatap buku yang berjudul Almost Transparent Blue by Ryu Murakami. (Buku favorit RM-BTS)
***
3 jam kemudian, aku memijat pelipis ku karena mataku sangat lelah dan kering. Aku mengambil obat tetes mata agar mataku kembali segar dan menoleh menatap Dara yang sudah tertidur.
Jangan lupakan dengan buku yang ia baca tadi sudah berada di wajahnya.
"Wanita ini benar-benar. Setidaknya letakkan buku dulu baru tutup mata," gerutu ku seraya mengambil buku tersebut dari genggamannya secara perlahan-lahan.
Takut jika ia terbangun.
Aku mengambil koper yang di sana tersedia selimut berbulu milik Dara yang bergambar kucing lucu.
Sewaktu di hotel, Dara maupun aku hanya menggunakan selimut kesayangannya.
Karena katanya selimut di hotel itu terlalu tebal membuatnya kesulitan bergerak, bernapas dan gerah.
Ya, aku hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui permintaannya karena cuaca di kota Paris sedikit dingin.
Apalagi kami tidur tidak menyalakan pendingin ruangan. Hanya kipas angin kecil plus emergancy.
****
Tengah malam, jet ini masih berada di udara. Aku terbangun karena ada yang harus ku keluarkan.
Aku berjalan menuju toilet, tapi terlebih dahulu aku meletakkan tangan Dara yang bertengger di leherku ke dekatnya.
Aku kembali ke tempat duduk dan tempatku kembali dikuasai oleh kaki mungilnya.
"Astaga, apa dia merasa tidur di ranjang?" gerutu ku seraya memperbaiki posisi tidurnya yang mengadah ke atas, kaki yang satunya berada di kursi ku dan kedua tangannya terbuka.
Seperti anak kecil saja.
Aku mengangkat tubuhnya agar posisinya baik sembari menaikkan selimutnya hingga menutupi bibirnya.
Aku kembali berbaring di kursi menghadap Dara yang terlihat kelelahan.
Terlihat dari wajahnya bahwa ia sedikit kesusahan dan tidak puas dengan tempatnya yang seperti ini.
Apalagi ia tengah datang bulan. Tapi, waktu di Paris dia tak mengeluh apapun padaku. Mungkin saking bahagianya ia lupa bahwa tubuhnya sakit, pikirku.
***
Sampainya di Bandara International Soekarno Hatta, aku mengangkat tubuh Dara keluar dari jet.
Awalnya aku sedikit kesusahan karena tangga di jet milik Mr. Kyen sedikit condong ke bawah.
Untung saja para bodyguardnya membantuku.
Banyak pasang mata yang melirik ke arahku yang mengenakan kemeja, jeans dan topi hitam.
__ADS_1
Ditambah dengan perempuan berhijab di gendonganku. Menurut kalian bagaimana?
Kami mengurus di bandara sebelum aku harus meletakkan Dara di kursi tunggu.
Aku merenggangkan otot tangan dan leherku yang terasa kaku. Aku mengambil ponselku dari dalam tas cantik milik Dara untuk menelpon Cinta bahwa kami telah sampai.
"Cepat!"
Aku menutup panggilan sebelum akhirnya menyimpan ponsel itu di balik kemejaku.
Dara menggerakkan tangannya lalu membuka mulutnya, menguap. Dengan cepat aku menutup mulutnya yang terbuka lebar itu dengan tanganku.
Matanya terbuka menatap penjuru bandara ini yang ramai oleh pengunjung.
"Kita udah sampai. Tadi Mr. Kyen mau mengantar kita, tapi kakak menolak karena pengorbanannya sangat besar untuk kita dan kakak udah telepon Cinta tadi."
Dara mendudukkan dirinya sambil mengucek matanya seraya merapikan jilbabnya.
"Hai."
Aku menoleh ke arah sumber suara. Cinta.
Dia datang sambil menenteng ponsel dan kunci mobil. Sepertinya mereka sudah membeli mobil baru, pikirku.
"Ayo, kita pulang. Kalian pasti lelah, ceritanya di rumah aja."
Cinta mendorong koper milik Dara yang berwarna purple sementara aku mendorong dua buah koper hitam dan silver.
Di koper warna silver tidak terlalu berat, di dalamnya ada oleh-oleh yang kami beli untuk keluarga.
Sementara Dara berjalan di depanku dengan gontai. Pasalnya, nyawanya belum terkumpul sempurna.
Mobil baru.
Aku terperangah melihat mobil yang belum kukenal. Siapa yang membelinya? Papa? Mama atau Cinta?
Dara dan aku masuk ke dalam mobil di belakang. Sementara Cinta menjalankan mobil tersebut sambil memainkan ponselnya.
Bahkan, aku tak tahu mobil ini. Sangat mewah dengan bermerek Tesla.
Informasi:
Tesla, Inc. (ditulis sebagai T☰SLA, sebelumnya dinamai Tesla Motors) adalah sebuah perusahaan otomotif dan penyimpanan energi asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Elon Musk, Martin Eberhard, Marc Tarpenning, JB Straubel dan Ian Wright, serta berbasis di Palo Alto, California.
Lumayan juga, pikirku.
Mobil yang kami tumpangi adalah mobil Tesla Model S berwarna merah.
Sampai di rumahku, kami turun tepat di depan gerbang. Bi Ima sudah menunggu kedatangan kami di depan gerbang. Beliaulah yang membukan pintu gerbang untuk kami.
"Astaga, banyak sekali mobil mewah di sini," gumam ku.
Pasalnya, pekarangan rumahku telah dipenuhi dengan berbagai macam jejeran mobil sport dan mewah.
Kami turun dari mobil dan mereka menyambut kedatangan kami. Wajah Dara yang tadinya terlihat lelah langsung berseri melihat Ibu berada di rumah kami bersama Chaca--adik iparku.
"Bagaimana perjalanan kalian?"
"Lumayan melelahkan, pah," jawabku.
Aku membuka koper berwarna silver dan mengeluarkan oleh-oleh yang sempat kami beli.
Banyak anak kecil di rumahku, anak Bibi Kim, Chaca, keluarga papa, mama dan ibu. Semuanya berkumpul, termasuk seorang wanita yang mengejar ku dulu beserta anaknya.
"Wah, kalian yang membelinya?" tanya mama pada Dara.
"Iya, aku yang minta, ma."
__ADS_1
"Owalah, kalian. Kalo uangnya habis gimana?" tanya Bunda Fisya padaku.
"Ya, kerja lagi, bu." Aku menjawab pertanyaannya dengan kekehan ringan.
"Oh, iya. Papa punya mobil baru untuk kalian berdua. Tipe X, kalian bisa liat mobilnya nanti."
Lagi dan lagi papa memberikan kejutan untuk kami. Yaitu sebuah mobil yang ia beli.
Tak apa, itu bukan permintaan kami berdua. Sepertinya perusahaan beliau tengah berada di atas sekarang.
Kami menikmati makanan yang kami bawakan dari Paris, beberapa buah dan kue coklat yang mereka suguhkan untuk kami.
"Om Azlan, kapan-kapan bawa kami ke luar negeri juga," ucap Zahra seraya menghampiriku.
"Iya, sayang. Besok ada waktunya dan doakan om dan Tante Dara sehat terus ya."
Mereka bertiga menganggukkan kepala antusias sambil menguyah makanan yang ada di mulutnya.
Sementara Dara dan mama tengah berada di dapur. Mungkin tengah sarapan. Aku berjalan menuju dapur.
***
"Ya, yang penting kalian berdua bahagai. Papa akan melakukan apapun, kalo Azlan jahat sama kamu, tinggal jewer aja telinganya."
"Ya ampun, ternyata ada yang gibah," gerutu ku seraya membuka kulkas untuk mengeluarkan air putih dingin lalu menuangkan ke dalam gelas.
Aku mendengar suara tertawa Dara dan mama dan kembali berbisik.
"Sayang, buatin steak," pintaku pada Dara.
"Kesayangan kamu belum sarapan, nanti saja." Mama menghidupkan kompor, sementara Dara menyiapkan piring dan mengeluarkan buah-buahan, crema dan susu.
"Kita makan salad buah aja. Bi Ima gak masak kayaknya."
Aku hanya menganggukkan kepala mengerti. Mungkin saja Bi Ima tak berani untuk makan di rumah tanpa adanya kami.
Aku dan Daramemotong buah anggur, apel, kiwi, lemon. Sementara ibu dan mama memarut keju dan menuangkan susu ke dalam mangkuk besar.
Setelahnya mereka membawa ke ruang televisi di mana mereka tengah berkumpul bersama.
Sementara Cinta, Zahra, Dara dan Azka bermain di kolam berenang.
"Bagaimana liburan kalian di kota Paris?" tanya Bibi Kim.
"Kami benar-benar menikmatinya, Bi. Tapi, sayang tak ada musim salju di sana. Tak apa, yang penting Dara menyukainya, aku bahagia," ujar ku seraya menyentuh kepala Dara dan berakhir merangkul tubuhnya.
Sebagian dari mereka ada yang menatap iri, tersenyum paksa dan seorang gadis seperti menatap tak suka ke arah Dara.
Aku tak mengetahui siapa gadis itu, seperti lebih muda dari Dara.
'Akan kutanyakan nanti,' batinku.
Kami mulai menikmati makan buah sambil mengobrol dan tertawa renyah. Apalagi keluargaku lebih menyukai Adnan, hanya 2 orang yang tak menyukainya bersama ibunya. Kalian pasti tahu siapa.
"Umur Dara sudah dua puluh empat tahun, Azlan udah menginjak kepala tiga lebih. Kapan kalian melakukan program hamil?"
Uhuk ... uhuk ...
Dara yang tengah menikmati jus jeruknya langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan Bunda Ira, adik bunda Fisya.
Krik ... krik ...
"Semua ada waktunya, Bun," tukas ku memecahkan keheningan.
"Uluh, semuanya harus pake waktu, ya? Astaga, kalian ini sudah hidup mewah, tak ada salahnya jika kalian memiliki anak banyak. Bila perlu sepuluh," celetuknya lagi.
Aku tertegun mendengar 'memiliki anak sepuluh' dari Bunda Ira. Aku teringat ketika mama kesakitan saat melahirkan Cinta, mengingat kejadian itu aku juga teringat akan Dara nanti ketika melahirkan buah cinta kami.
__ADS_1
*****