Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 32. Memilikiku Seutuhnya


__ADS_3

Pagi ini, aku mengajarkan Dara untuk bermain papan seluncur di taman. Tidak terlalu ekstrim, tapi menurutku ini cocok untuk seorang pemula seperti Dara .


Aku memperlihatkan berbagai gaya dalam meluncur di atas bukit bersalju dengan menggunakan papan seluncur.


"Bisa?" tanyaku.


Dara mengangukkan kepalanya dan berdiri dari duduknya di atas salju. Aku mempelajari caranya menggunakan tongkat sky dan gaya peluncuran nanti.


Dara hanya diam menatapku dan ia mulai dengan langsung meluncur, otomatis ia terjatuh tengkurap di atas salju. Aku tertawa dan berlari ke arahnya dan membantunya untuk berdiri.


"Hati-hati dong, sayang." Aku membersihkan pakaiannya dari butiran salju yang melekat lalu mengajarkannya menggunakan sepatu roda.


Dara memang tidak mahir dalam permainan ini, aku hanya bisa menuntunnya dan kadang aku juga melepaskan tanganku dari tangannya membuat ia merengek dan takut jatuh.


Setelah 3 jam kami di luar, kami memutuskan untuk pulang karena hidung Dara tersumbat karena cuaca.


Sampai di rumah, aku melihat papa sudah menyiapkan makan siang dengan semangkuk sup ayam. Wah, ini sangat enak.


Kami makan sambil menceritakan kejadian Dara yang belajar menggunakan papan seluncur dan sepatu roda.


Siangnya


Siangnya aku mengajak Dara untuk menikmati dessert es krim di beberapa restoran ternama di kota Seoul. Awalnya ia menolak karena harga yang fantasi, Dara mencarinya lewat internet.


Tapi, apa gunanya kita berada di Seoul tanpa jalan-jalan? Gak komplit pastinya.


Aku memesan beberapa dessert ice cream dan minuman soju untuk menghangatkan tubuh.


"Hm, lembut banget," ucapnya saat merasakan kelembutan es krim mochi. Dara lalu mengambil ponselnya dan membidik makanan yang tersaji di sana kecuali sebotol soju


Setelah dirasa cukup, kami berjalan ke taman di mana banyak sekali orang yang bermesraan dengan pasangannya. Dara melihat penjual cutton candy yang dikelilingi anak-anak di sana.


"Kamu mau itu?" tunjuk ku. Dara hanya diam tak berkutik. Aku menarik tangannya mendekati penjual tersebut dan membelinya untuk Dara .


Kami duduk di bangku taman seraya melihat Dara yang sangat menyukai kembang gula itu.


****


Malam ini, aku merasa Dara sedikit berubah dengan pakaiannya yang pendek. Untuk pertama kalinya Dara menggunakan baju hello kitty berlengan pendek membuat jantungku berdegup kencang melihat pemandangan tersebut.


'Tenang ,' batinku menghembuskan napas secara perlahan dan mulai menutup mata.


"Kak, apa laki-laki punya nafsu?"


Aku membuka mata karena terkejut dengan pertanyaan yang dia lontarkan.


"Iya, manusia punya nafsu. Hewan juga punya nafsu," jawabku seadanya.

__ADS_1


Grep.


Aku terkejut bukan main merasakan pelukan Dara yang membuat jantungku copot dari sarangnya. Dara tersenyum malu seraya menyembunyikan kepalanya di dada bidangku.


"Kak, aku udah rela kok."


Aku menaikkan satu alis tak mengerti dengan arah pembicaraannya atau otakku yang sudah konslet.


"Rela apa?" tanyaku menetralkan suara agar tidak terlihat gugup di depannya.


"Aku mau kakak memilikiku seutuhnya."


Mataku membola mendengar penuturannya. Bukan aku yang minta, tapi Dara sepertinya sangat ingin memiliki keturunan.


Aku menarik tanganku ke wajahnya sehingga wajahnya menghadap ke arahku dengan tatapan yang mengintimidasi.


Aku tersenyum seraya mengecup lama keningnya lalu beralih ke seluruh wajah dan terakhir bibir plum itu yang dari duku sudah kutahan.


***


Pukul 02.00 KST, mataku terbuka dan melihat wajah damai dan cantik Dara yang sedang terpejam. Ada rasa iba saat aku melihatnya menangis waktu kami melakukannya.


"Hm."


Suara deheman Dara membuatku kembali menutup mata dan berpura-pura tidur. Aku merasakan sebuah tangan mungil yang menyentuh suraiku yang semakin memanjang karena aku tak memotongnya selama aku menikahi Dara .


"Kenapa malu?" tanyaku menarik selimut tersebut.


"Ayo, mandi," ajakku.


"Duluan," jawabnya menggelengkan kepala. Aku menyibakkan selimut dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum datang waktu subuh.


Kami melaksanakan salat subuh berjamaah dan kembali tidur karena tubuhnya terasa remuk. Dara berbaring membelakangiku, dengan telaten aku mengelus punggung mungil itu sambil memijatnya perlahan agar rasa sakit itu reda.


****


Pagi ini, Dara tak berada di ranjang sebelahku. Mungkin dia sedang di dapur atau menjemur pakaian, pikirku. Aku melangkahkan kaki untuk ke kamar mandi dan menoleh ke arah Dara yang sedang menjemur pakaian.


Aku berdiri sambil mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk. Dara merasa diperhatikan menoleh ke arahku.


Aku memberikan handuk itu padanya dan ia mulai mengeringkan rambutku dengan beberapa pijatan halus di kepalaku.


"Sayang, kamu bisa kucirin rambut kakak?"


Aku mengadah menghadapnya yang tengah berdiri sementara aku duduk di sofa menikmati kegiatannya.


"Boleh, sebentar." Dara meninggalkan ku dan kembali membawa sekotak kecil ikat rambut berwarna-warni. Ia menyisir rambutku yang setengah kering lalu menguncir nya ke atas.

__ADS_1


"Hahah." Dara tertawa setelah rambutku terikat dengan rapi.


"Lucu, kak kalo dikuncir apel gini."


Aku menatap diri di pantulan cermin berbentuk lingkaran yang menempel di dinding ruang tamu. Astaga, benar-benar aneh.


Aku menutup mulutku dengan satu tangan membuat Dara kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku yang terkejut bak anak-anak.


"Kenapa gak di potong aja rambutnya?" tanya Dara menyentuh rambutku.


"Maunya sih, gitu. Tapi, kalo gayanya itu-itu aja 'kan gak mungkinlah. Harus di ganti, biar kelihatan manly," jawabku seraya menaikkan satu alis ke atas.


"Jelek tahu." Dara pergi meninggalkanku. Jelek? Yang benar? Aku kembali berdiri dan berjalan mendekati cermin itu. Tidak ada jerawat, kerutan, bintik hitam, flek hitam dan wajahku mulus terawat.


"Gadis itu," gumamku menggelengkan kepala.


Pagi 🌄🙋harinya


Esok harinya, kami berpamitan pada papa untuk pulang ke Indonesia karena rumah kami sudah lama di tinggal sekitar 3 minggu.


"Hati-hati," ucap papa saat kami berjalan menuju tiket pesawat. Dara melambaikan tangannya dengan tangisan haru dan kami menunggu kedatangan pesawat menuju lokasi.


Sampai dirumah


Pukul 22.00 WIB, aku dan Dara sampai di rumah dengan wajah lelah. Aku yang sangat lelah karena harus menahan kepala Dara yang berbaring di bahuku, kadang turun ke lenganku dan kadang juga kakinya bergerak ke mana-mana.


Untuk beberapa hari ini, aku belum masuk kerja karena mengambil cuti dua hari. Selama ini aku tidak pernah mengambil cuti, jadi untuk sekarang aku bisa meluangkan waktu untuk Dara.


***


Ping!


Aku menoleh ke arah ponsel yang berdering sekali menandakan ada pesan masuk. Aku meraihnya lalu membaca isi pesan tersebut.


(Kamu sudah nikah, ya?)


Aku mengerutkan kening mendapat pertanyaan seperti itu dari nomor baru.


Ping!


(Saya Amel.)


Aku terkejut mendapatkan pesan dari Tante Amel. Ya, dia adalah wanita yang dulunya menyukaiku. Tapi, aku tak menginginkannya karena umur kami terpaut cukup jauh. Aku lebih muda darinya.


(Oh, apa kabar Tan?) balasku.


(Kok panggil tante, sih? Amel aja.)

__ADS_1


Aku tak membalas pesannya dan memilih keluar dari kamar menyusul Dara yang tengah menikmati matahari pagi.


__ADS_2