
Makan malam
Selesai makan malam, Azlan kembali menyuguhkan Dara beberapa potong buah. Ia teringat akan satu hal.
"Sayang, hari ini ada pasar malam di desa RW sebelah. Pergi yuk," ajak Dara
"Kamu tahu dari mana?" tanya Azlan tanpa mengalihkan atensinya ke layar televisi.
"Tadi aku beli sayur di gerobak Mang Ujang, ya dapat cerita dari ibu-ibu," jawab Dara. Azlan sempat berpikir, tak ada salahnya jika mereka pergi ke acara tersebut, toh Dara juga perlu refreshing.
"Boleh."
Dara bertepuk tangan saking gembiranya lalu mereka bersiap-siap menghadiri acara tersebut.
Dara menenteng tas mungil cantik di bahunya, ia sekarang mengenakan gamis hijau muda senada dengan hijabnya, tak lupa dengan rompi sampai pahanya.
Sementara Azlan mengenakan baju kaos putih dipadukan dengan jaket kulitnya. Ia seperti anak ABG umur 18 tahun sekarang.
"Yuk." Azlan menggandengan tangan Adnan saat mereka berjalan memasuki mobil.
Pasar Malam
Sampainya di sana, mata Dara sangat berbinar-binar menatap keindahan lapangan yang luas dipenuhi dengan permainan pasar malam. Tak hanya di situ, mereka juga melihat banyak orang yang berjualan.
"Kita duduk di sana," tunjuk Azlan saat melihat bangku kosong. Mereka berjalan mendekati bangku panjang tersebut.
"Mau itu."
Dara menunjuk ke arah penjual cutton candy atau harum manis. Azlan tersenyum simpul melihat sifat Dara.
"Ya udah, ayo." Azlan menggenggam erat tangan Dara, seperti tidak mau dilepas saja.
"Harum manisnya, satu pak."
Mereka menunggu pesanan itu sambil menatap kembang api yang pecah di langit. Membuat suasana malam semakin indah dan romantis.
"Ini pak."
Azlan menoleh ke arah penjual cutton candy tersebut lalu memberikan selembar uang biru pada beliau.
"Kembaliannya ambil saja, pak."
"Wah, terima kasih banyak ya, pak, bu. Semoga kalian langgeng sampai akhir hayat dan cepat-cepat diberi momongan."
"Aamiin," ucap Azlan dan Data bersamaan. Mereka kembali duduk di bangku tersebut dan menikmati cutton candy.
"Kakak mau?" tanya Dara seraya mencomot cutton candy yang sudah ia buka dari bungkusnya.
"Kakak udah manis di atas rata-rata. Mana mungkin kakak makan cutton candy-nya. Buat kamu aja," ucap Azlan menatap sayang Dara.
"Kepedean," timpal Dara, ia kembali menikmati makanannya hingga habis, lalu mengajak Azlan berkeliling. Sekedar melihat-lihat jajanan dan membeli jika ia tergiur.
"Mau itu."
Dara menghentikan langkah Reyndad ketika ia melihat kentang goreng yang ditusuk dengan bambu kecil ukuran bulat memanjang.
"Cari yang lain saja." Azlan Yang hendak melangkahkan kakinya kemudian berhenti karena Dara menahan lengannya.
"Apa salahnya, sih kalau beli cemilan itu?"
"Gak baik, sayang."
"Mau yang itu."
Lagi, lagi, dan lagi Azlan dibuat pusing karena Dara yang keras kepala, ditambah lagi karena ngidamnya.
"Ya sudah." Azlan mengeluarkan dompetnya lalu Adnan memesan 1 buah kentang goreng tersebut.
"Berapa mas?" tanya Dara.
"Lima belas ribu saja, kak."
Azlan memberikan uang pas padanya lalu melihat ke arah Dara yang tengah senyum sumringah. Mereka kembali berjalan sambil bergandengan tangan.
Dara memakan sedikit demi sedikit jajanan yang ia beli, terkadang ia juga menyuapi Azlan membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
"Kok mereka pada ngeliat kita, ya?" tanya Dara.
__ADS_1
"Iri kali," sahut Azlan seraya tersenyum manis pada Dara.
"Aish." Dara menepuk pelan pipi Azlan lalu mereka menuju lapangan, sekedar melihat wahana pasar malam ini.
"Minumannya dua, bang."
Azlan memberikan uang padanya setelah ia menerima minuman tersebut. Ia membukakan untuk Dara dan dirinya.
"Mau naik wahana?" tanya Azlan.
Dara sempat terdiam sejenak, ia belum pernah menaiki wahana di pasar malam. Ya, walaupun ia sering berkunjung ke sini, tapi yang ia cari hanya makanan dan kembang api.
"Kora-kora!" teriak Dara histeris sambil menarik tangan Azlan dengan wajahnya yang kaku.
"Pak, tiketnya berapa?!" teriak Dara
"Sembilang puluh lima ribu," jawabnya.
"Boleh, ya?" tanya Dara pada Azlan.
"Nih." Azlan memberikan uang senilai dua ratus ribu rupiah pada Dara lalu Dara menerima kembaliannya.
Mereka menunggu giliran, karena waktu mereka datang, kora-kora tersebut berputar. Sementara Azlan mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara jeritan histeris para pengunjung yang menaiki wahana tersebut.
Ia gugup.
"Silahkan naik."
Kini, tibalah giliran mereka. Dara menarik tangan Azlan untuk memasuki wahan tersebut sebagai pengunjung pertama.
Wahana tersebut bergerak sedikit demi sedikit karena banyaknya orang yang sangat ingin menaiki wahana ini.
Azlan menggenggam erat tangan Dara sehingga atensi perempuan itu yang tadinya melihat suasana pasar malam lalu beralih ke sisi kanannya yang terdapat Azlan sedang duduk di sampingnya.
"Kok tangannya keringetan gitu? Kakak takut, ya?" goda Dara.
"Enggak, cuman ini pertama kalinya," elak Azlan.
Perlahan-lahan, wahana tersebut berputar. Dara tersenyum bahagia bisa menaiki wahana ini bersama sang suami, tapi tidak dengan Azlan. Lelaki itu hanya bisa memejamkan matanya dan merasakan wahana tersebut berputar-putar diiringi dengan suara jeritan orang-orang yang berada di belakang, bawah dan atas ayuanan yang mereka naiki.
Semakin lama, wahana itu berputar semakin laju hingga kembali dengan perlahan dan berhenti tepat di bagian Dara dan Azlan.
Azlan mual.
Kakinya bergetar.
Jantungnya berpacu.
"Astaga, kok kakak gak bilang kalau kakak mabuk naik kora-kora?" tanya Dara sambil menepuk punggung Azlan dengan lembut.
"Air."
Dara memberikan air mineral miliknya, lalu Azlan mengambilnya untuk membersihkan sisa-sisa bekas muntahnya.
Azlan menghela napasnya lalu membersihkan wajahnya dengan air tersebut.
"Ya udah, kalau ada pasar malam lagi. Gak perlu kita naik wahana itu." Dara membersihkan wajah Azlan yang basah dengan tissue yang ia bawa di dalam tas kecilnya.
Azlan hanya diam menerima perlakuan Dara padanya. Mereka berjalan lagi mengelilingi pasar malam tersebut.
"Mau main karet gelang itu?" ajak Azlan. Mata Dara tertuju pada permainan tersebut kemudia ia menggelengkan kepala tanda menolaknya.
"Itu judi."
Mau tak mau Azlan mengalah demi kebaikan masing-masing. Manik brownies hazel milik Dara tertuju pada selimut berbulu bermotif hati.
Azlan mengikuti arah pandang Dara
"Kamu mau beli selimut itu?" tanya Azlan . Dara menganggukkan kepalanya antusias.
"Kamu ada-ada aja deh," ujar Azlan mengelus kepala Dara yang dibaluti hijab hijau muda. Ia menarik tangan Dara menuju penjual selimut tersebut.
"Mau beli, pak, bu?" tanya wanita penjual selimut tersebut dengan ramahnya.
"Boleh liat, bu motif ini?" Dara mengangkat selimut yang menjadi daya tariknya.
"Sebentar." Wanita tersebut mengambil beberapa selimut dengan motif yang berbeda-beda dan warna yang beragam. Ia memberikan setumpuk selimut tebal yang dibungkus plastik bening pada mereka.
__ADS_1
Dara melihat selimut tersebut seraya merasakan dan melihat motifnya.
"Mau yang mana, kak?" tanya Dara untuk meminta pendapat dari Dara
"Kalo kakak sih, maunya selimut yang motif Barcelona, Real Madrid atau AON itu."
"Ih, jangan dong. Kakak itu udah punya istri," sungut Dara.
"Kan kamu tanya, ya kakak jawab yang itulah," kata Azlan sambil menggaruk kepalanya.
"Pilih aja mana yang kamu suka," bisik Azlan ketika Dara merasa bingung sendiri.
"Boleh?"
"Boleh dong, sayang. Uang kakak itu uang kamu juga."
"Makasih, ya."
"Sama-sama."
Dara memilah selimut yang ia inginkan, ia mengambil berbagai motif dan warna yang ia pilih lalu memberikan pada wabita tersebut untuk dihitung harganya.
"Semuanya Rp 980.000."
"Bisa pake kartu debit?" tanya Azlan sembari mengeluarkan dompetnya.
"Bisa."
Azlan memberikan kartu ATM-nya lalu wanita tersebut menggesek dengan mesin yang ada di tangannya. Wanita itu mengembalikan kartu debit milik Azlan dan lelaki tersebut menenteng belanjaannya Dara .
"Mau apa lagi?" tanya Azlan.
"Beli es krim, ya?"
"Kita letakkan dulu barang-barang ini di mobil, ya."
Mereka berjalan menuju mobil yang tak jauh dari lapangan tersebut. Setelah barang-barang itu disimpan di mobil, Azlan dan Dara berjalan kembali menuju penjual es krim.
"Beli Cornetto rasa coklat, pak."
Penjual tersebut memberikan es krim yang Dara inginkan bersamaan dengan uang yang diberikan oleh Dara . Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah karena suhu malam terasa semakin dingin.
Saat sampai di mobil, Dara membuang sisa es krimnya karena sudah habis. Azlan yang melihat bibir dan sudut bibir Dara tersisa es krim tersebut tertawa membuat sang empu bingung sendiri.
"Kenapa?" tanya Dara menatapnya.
"Hahaha, gak apa-apa. Masuk mobil," titah Azlan.
Sampai di dalam mobil, tertawa Azlan belum juga reda.
"Apa sih, kak?" tanya Dara yang mulai habis kesabarannya.
"Ada coklat di bibir kamu."
Dara yang mendengarnya segera menghapus dengan tangannya. Tapi, lebih dulu ditahan oleh Azlan.
"Why?"
Cup.
Mata Dara seketika membola karena Azlan mencium bibirnya. 1 menit kemudian, ia melepaskan bibirnya dan merasakan coklat tersebut menempel di bibirnya.
"Kak-"
"Ayo, pulang." Azlan menghidupkan mesin mobilnya lalu meluncur menuju rumah.
Dirumahnya
Sampai di rumah, Azlan dan Dara membawa barang-barang mereka ke dalam rumah menuju kamar.
"Kamu kok beli selimutnya banyak banget?" tanya Azlan sembari merengangkan otot-otot di pinggangnya.
"Untuk bunda, mama, Cinta, Bibi Kim, sama Bi Ima."
Azlan tertegun mendengarnya. Dara sangat baik dan dermawan.
"Cepat cuci muka, gosok giginya. Terus kita tidur." Azlan berjalan menuju kamar mandi, tapi sebelum itu ia membuka lemari untuk mengambil piyama tidurnya.
__ADS_1
Setelah selesai, Dara melakukan hal yang sama dan mereka berbaring di ranjang.
Sorry for typo 🙏🙏