Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 90.Azlan yang Boros


__ADS_3

part mature๐Ÿšฎ๐Ÿ“ตโ›”โš 


Aku mengambil kalung berliontin hati yang ditaburi dua puluh berlian, mahkota yang dilapisi 10 berlian, dan tiga batu berlian.


"Kamu mau pilih yang mana, sayang?"


Aku meletakkan kalun tersebut di atas meja kaca yang berada di depan kami.


"Ini pasti mahal," bisiknya yang tengah duduk di sampingku.


"Harganya gak sampe 9 miliar, jadi kamu pilih aja," ujarku menatapnya.


Jikalau pun harganya sampai 10 miliar, demi istriku itu tidak akan menghabiskan bajetku. Aku selalu giat bekerja karenanya.


Dulu aku sempat melihat black card miliknya yang di dalam black card tersebut kumasukkan uang senilai 50 miliar dan yang habis hanya 5 juta saja.


Dara termasuk perempuan yang sangat hemat dalam berbagai hal.


"Hm, mendingan beli kalung emas yang biasa aja," usulnya.


"Ck, kamu pilih ini aja, sayang."


Matanya beralih pada kalung berliontin mahkota yang dilapisi 10 berlian itu. Aku mengambilnya lalu memberikan pada pemilik toko.


Terlrbih dahulu ia menulis label harga tersebut lalu memberikan padaku.


Aku mengeluarkan dompet lalu memberikan black gold milikku dan memberikan padanya.


Harganya hanya seratus dua puluh lima juta saya. Masih jauh dari perkiraanku yang seharga 9 miliar.


Beliau membungkuskan kalung ke dalam kotak berudu khusus berwarna glass gold. Lalu aku kembali melirik ke arah anting bergambar love emas yang di tengah-tengahnya terdapat permata berjumlah 3 buah.


"Pak, saya ambil anting ini."


Ia memberikan anting tersebut padaku untuk kulihat lebih dahulu sebelum membelinya.


"Udah dong, kak. Ini harganya udah ratusan juta kakak mau beli yang lain?"


"Lho, kok kamu ngomongnya gitu, sih? Terserah kakak dong. Ini juga uang kakak, kakak mau beliin kamu kenapa kamu yang marah-marah?" tanyaku menatapnya sekilas.


"Berapa, pak?"


"Sebentar, saya timbang dulu."


Beliau mengambil sebuah anting di tanganku untuk menimbangnya entah menggunakan alat apa, aku tak tahu.


"Ini harganya dua puluh lima juta enam ratus ribu rupiah."


"Kalau gitu saya ambil."


Aku kembali memberikan gold card milikku padanya.


Setelah selesai bertransaksi, aku dan Dara berjalan pulang ke rumah.


Di mobil, Dara hanya diam. Sesekali membicarakan keburukanku karena terlaku boros dalam menggunakan uang.

__ADS_1


Aku hanya diam sesekali menganggukkan kepala bahwa ia benar sekali dalam mengejek diriku. Di depanku pula.


Sampai di garasi, aku dan Dara turun. Kami masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar.


"Coba dulu ini barang-barang kamu."


Aku mengeluarkan dua berudu di dalam plastik khusus.


Sementara Dara hanya diam melihat aktivitasku. Aku berjalan menghampirinya lalu menyematkan kalung tersebut tepat di leher jenjangnya.


Lalu aku kembali ke ranjang di mana anting tersebut masih di dalam berudu merah.


Aku menanggalkan anting berbentuk lingkaran yang sudah lama hinggap di daun telinga milik Dara dan memasangkan anting baru tersebut untuknya.


"Nah, kalau kayak gini 'kan cantik. Kelihatan kalau kamu istri aku."


Aku tersenyum menatap wajahnya. Apalagi melihat kalung tersebut. Kalung yang menjadi incaran matanya.


"Makasih ya, kak. Tapi, besok-besok jangan beli perhiasan lagi. Sayang uangnya. Bagus di beli makan atau yang lain."


"Hm, tergantung sih, sayang. Kalau nafsu kakak mau beliin kamu perhiasan, jangan salahkan kakak dong."


Aku berdecak kagum melihatnya seraya mengelus bibir itu pelan.


"Kak, jangan aneh-aneh."


Aku menatap manik dark knight itu bertanya. Why? Pikirku.


Entah angin atau dorongan dari mana. Wajahku mendekati wajahnya, manik mataku menatap bibir plum itu.


Huft!


Aku meniup poninya, mata itu kembali terbuka lalu aku menempelkan biraiku pada birainya.


Sangat merindukan bagian dari tubuhnya ini. Apalagi aku bisa merasakan perisa strawberry dari birainya.


Tanganku menarik pinggangnya agar menempel di tubuhku lalu menahan kepalanya yang bergerak akibat pergerakanku.


2 menit kemudian, aku merasakan kedua tangannya memukul bahu dan dadaku lumayan keras sehingga aku menjauhkan biraiku lalu menatapnya.


Dara sangat terengah-engah dengan perlakuanku lalu aku menghapus bekasku dengan punggung tangan.


"Kak, kalau mau kayak gitu jangan kasar dong. Aku susah tahu bernapas."


"Kayak gitu, gimana?" tanyaku menaikkan satu alis menatapnya sambil menggodanya.


"Yang tadi!" pekiknya.


"Yang tadi?" tanyaku pura-pura lupa alias amnesia.


"Ah, tahu ah!"


Dara berjalan meninggalkanku.


Aku tersenyum puas menatap kepergiannya, lalu membaringkan tubuhku di atas ranjang sementara kakiku masih menapaki lantai kamar yang dilapisi kayu.

__ADS_1


"Apa dia udah selesai datang bulan?" gumamku.


Aku beranjak dari ranjang untuk menyusul Dara. Mungkin saja dia ke dapur.


"Sayang, kamu di mana? Kamu ngum--"


Ucapanku terhenti ketika melihat papa tengah menyeduh kopinya. Sementara Dara tengah mengaduk teflon dengan sendok kayu yang ada di tangannya.


"Eh, papa. Kapan ke sini? Kok gak denger?"


Aku mencium tangan papa lalu duduk di sampingnya.


"Baru aja. Papa rindu sama menantu papa. Makanya papa ke sini. Nah, langsung disuguhi kopi sama menantu papa."


Aku berdecak kesal. Tidak mama, papa pun sama.


"Ya ya ya."


Aku berjalan menghampiri Dara lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Aku tak menghiraukan kehadiran papa di rumah. Bagiku, tak masalah melakukan hal ini. Jika mama, aku cukup malu.


"Kak, ada papa."


Dara melepas tanganku yang memeluk pinggangnya hanya 2 detik saja.


"Kamu masak apa, sih?"


"Goreng terong."


Aku cukup heran dengan nama sayuran itu. Terong?


"Emang ada ya?" tanyaku membuat Dara menoleh ke arahku dan menatapku heran.


"Wajar saya menantu. Mama gak pernah masak terong di rumah. Paling hanya sayuran lain, pare, daging, telur," ujar papa dari belakang.


"Oh."


Dara kembali mengaduk telfonnya lalu mengangkat sayuran tersebut ke dalam piring dan memasukkan kembali terong matah yang basah itu ke dalam teflon sehingga percikan minyak panas menyembur ke atas dan menghasilkan suara yang membuat dirinya terkejut dan berakhir memeluk tubuhku.


Deg!


Mata kami bertemu, apalagi wajahku dan wajahnya sangat begitu dekat hanya berjarak satu kepalan tangan saja.


Aku memeluk pinggangnya dari belakang lalu tersenyum manis ke arahnya untuk menghilangkan kegugupanku atas apa yang ia perbuat.


Jujur saya itu membuatku terkejut dengan tingkahnya yang tiba-tiba. Sementara aku masak tidak begitu terkejut dengan percikan minyak dan suara itu.


Aku kembali mendekatkan wajahku ke wajahnya lalu dengan cepat Adnan melepaskan pergelangan tangannya yang melingkar di leher bagian belakangku.


"Reyn, jangan ganggu istrimu. Dia sedang masak," geram papa.


"Yah, pa. Dia duluan, aku 'kan cuma menggodanya saja," cicitku.


Sorry for typo๐Ÿ™


Terimakasih atas dukungan nya ๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


see you


__ADS_2