Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 112.Ngidam


__ADS_3

"Pasti kalian bertanya-tanya kenapa saya menyuruh kalian untuk datang kemari. Saya mendapat laporan dari Manager Alazka bahwa khusus untuk kalian, kantor kita akan mendapatkan banyak tugas dari rekan-rekan yang telah bekerja sama dengan kita untuk membuat properti elektronik. Jika barang nantinya telah teruji dan laku, saya akan memberikan hadiah untuk kalian. Intinya, kalian harus bekerja keras beberapa minggu ini."


Mereka memandang satu sama lain lalu menganggukkan kepalanya. Sementara Alazka menghembuskan napas lega karena bukan hanya dia yang akan merancang gambarnya, tapi juga aku akan menolong.


Setelah aku memberikan pengarahan pada mereka, lalu mereka keluar dari ruanganku dan melakukan tugas mereka masing-masing.


Aku kembali duduk di sofa lalu menghidupan mode data seluler di ponselku.


Ping!


1 pesan WhatsApp dari papa.


[축하해, Azlan. 나중에 나 같은 아버지가 될거야. 중요한 것은 아내가 지치지 않도록 보살 피는 것입니다. 필요하다면 옷을 자주 씻고, 다림질하고, 접어서 옷을 세탁하는 등 집안일을 맡게됩니다. 그는 지쳤 나봐]


(chughahae, Azlan. najung-e na gat-eun abeojiga doelgeoya. jung-yohan geos-eun anaega jichiji anhdolog bosal pineun geos-ibnida. pil-yohadamyeon os-eul jaju ssisgo, dalimjilhago, jeob-eoseo os-eul setaghaneun deung jib-an-il-eul matgedoebnida. geuneun jichyeoss nabwa)


(Selamat ya, Azlan. Kamu akan menjadi seorang ayah sepertiku nanti. Yang penting, kamu jaga istri kamu jangan sampai dia kelelahan bila perlu kamu yang mengambil alih urusan rumah seperti mencuci baju karena dia sudah sering mencuci, menyetrika dan melipat bajumu. Dia pasti kelelahan)


Aku tersenyum membaca pesab dari papa.


To Appa


(네, 아빠. 이제 잘 생긴 아들이 사무실에 있습니다. Dara 나는 Bi Ima를 떠났고, 당신의 아름다운 며느리는 망고를 요구했습니다. 운 좋게도 그것은 날것이 아니기 때문에 여기저기서 그것을 찾는 것에 압도되지 않습니다. 그런 다음 그는 냉장고에서 레몬을 먹고 싶었고 나중에 징징 대는 대신주었습니다. Pa, 이것이 우리의 마음이 하나님에 의해 우리에게 주어 졌을 때의 느낌입니다. 나는 매우 행복하고 열정이 있습니다. 나는 그것을 두 번 경험했고 엄청난 시간을 잃고 싶지 않습니다. 아빠, 엄마와 여동생에게 인사를 보내세요.)


Send!


(Ne, appa. Ije jal saeng-gin adeul-i samusil-e issseubnida. Dara naneun Bi Imaleul tteonassgo, dangsin-ui aleumdaun myeoneulineun mang-goleul yoguhaessseubnida. Un johgedo geugeos-eun nalgeos-i anigi ttaemun-e yeogijeogiseo geugeos-eul chajneun geos-e abdodoeji anhseubnida. Geuleon da-eum geuneun naengjang-go-eseo lemon-eul meoggo sip-eossgo najung-e jingjing daeneun daesinjueossseubnida. Pa, igeos-i uliui ma-eum-i hananim-e uihae uliege jueo jyeoss-eul ttaeui neukkim-ibnida. Naneun maeu haengboghago yeoljeong-i issseubnida. Naneun geugeos-eul du beon gyeongheomhaessgo eomcheongnan sigan-eul ilhgo sipji anhseubnida. Appa, eommawa yeodongsaeng-ege insaleul bonaeseyo.)


(Iya, pa. Sekarang anakmu yang tampan ini sedang di kantor. Dara kutitip pada Bi Ima, tadi menantu cantikmu itu meminta buah mangga. Untung yang tidak mentah, jadi aku tidak kewalahan mencarinya ke sana kemari. Terus dia mau makan buah lemon yang ada di kulkas dan kuberi daripada nanti dia merengek. Pa, begini ya rasanya ketika bauh hati kita telah dihadirkan Tuhan untuk kita. Rasanya sangat bahagia dan ada rasa semangat tersendiri. Aku sudah dua kali mengalaminya dan aku tidak mau kehilangan yang kesekian kalinya. Pa, titip salam sama mama dan adik, ya.)


Ping!


Appa


[확실합니다. 오늘 밤 아빠는 일이 많이 쌓여서 서울에 간다. 좋아요, 당신의 일을 처리하세요. 방치하지 말고 아버지와 어머니의 아름다운 며느리에게 인사하십시오. 그를 먹이는 것을 잊지 말고 아직 너무 많이 행동하지 마십시오.]


(Hwagsilhabnida. Oneul bam appaneun il-i manh-i ssah-yeoseo seoul-e ganda. Joh-ayo, dangsin-ui il-eul cheolihaseyo. Bangchihaji malgo abeojiwa eomeoniui aleumdaun myeoneuliege insahasibsio. Geuleul meog-ineun geos-eul ij-ji malgo ajig neomu manh-i haengdonghaji masibsio.)


(Iya, pasti. Malam ini papa akan ke Seoul karena banyak pekerjaan yang menumpuk. Ya sudah, urus saja pekerjaanmu. Jangan sampai terbengkalai dan titip salam juga buah menantu cantik papa dan mamamu. Jangan lupa beri dia makan dan jangan banyak tingkah dulu.)


Aku tak membalas pesan dari papa dan mencari kontak Adnan dan memulai Video Call dengannya.


Berdering.


Berarti dia tengah online sekarang.


"Apa?"


Terdengar suaranya dari sebrang sana. Dara mengarahkan ponselnya ke atas langit-langit kamar.


"Astaga, sayang. Kamu sedang ngapain?" tanyaku heran.


"Aku sedang ganti baju. Baru selesai mandi."


Kulirik jam tangan mewah di pergelangan tangan kiriku. Sekarang sudah pukul 11 siang dan Dara baru membersihkan dirinya?


"Astaga, kenapa gak dari tadi, sih? Mandi kok siang-siang," gerutuku.


"Ya, tadi malas. Pagi tadi masih dingin."


"Kamu lagi ngapain?" tanyaku lagi.


"Aish, sedang ganti baju!"


Terdengar suaranya sedikit tinggi karena ponsel itu masih tergeletak dengan arah yang sama.


"Kakak suamimu, ya gak apa-apa kali kalo kakak lihat. 'Kan kita sudah sah," alibiku.


"Tidak!"


Aku menutup bibirku lalu tertawa pelan. Moodnya sedang tidak baik sekarang.

__ADS_1


Puk!


Aku mendengar suara seperti benda jatuh lalu Dara mengambil ponselnya dan mengarahkan layar ponsel itu ke arah depan tepat di wajahnya.


Kukihat rambutnya basah, bibirnya terlihat merah cerah. Mungkin saja ia mengolesi lip balm di sana, alisnya yang telah rapi tanpa bedak di wajahnya.


"Kakak gak kerja?" tanyanya seraya menata poninya.


"Tidak, kakak sedang santai-santai menjelang jam makan siang. Kamu makan apa tadi?" tanyaku penasaran seraya melonggarkan dasiku lalu berjalan di meja kerja seraya menyandarkan ponselku ke komputer.


Terlihat wajahnya yang ia buat kesal karena jawabanku.


"Nanti beliin aku yogurt, ya. Pengen."


Dara memasang wajah puppy eyesnya membuatku menjetujui permintaannya.


Tok ... tok ... tok ....


Terdengar suara pintu ruangan ku diketuk oleh seseorang.


"Bentar ya, sayang," ujar ku pada Dara dan mengalihkan atensi ku pada pintu ruangan ku.


"Masuk!" teriakku seraya membenarkan posisi dasi ku yang sedikit longgar.


Perempuan cantik dengan rambut lurusnya yang panjang hingga punggung itu tergerai, perempuan itu berjalan dengan tersenyum ke arahku sambil membawa berkas di tangannya.


"Maaf, pak saya mau mengajukan pertanyaan mengenai berkas yang diberikan oleh Liza pada saya. Ada bagian yang saya tak mengerti," tuturnya.


Aku melirik ke arah layar ponselku, terlihat Dara tengah menopah dagunya dengan lutut itu sembari mendengar percakapan kami.


"Siapa nama kamu?" tanyaku menerima berkas darinya.


"Venus, pak."


Aku mengambil berkasnya lalu membaca berkas tersebut.


"Sebentar ya, sayang."


Aku mengambil pena, menggaris bawahi apa yang harus Venus ganti nantinya menggunakan komputer.


"Bagian yang saya garis bawahi, kamu nanti harus ubah semuanya," tutur ku seraya memberikan berkasnya.


Venus membungkukkan tubuhnya padaku sebelum ia keluar dari ruangan ku. Aku tersenyum menatap layar sambil mengedipkan mataku.


"Itu siapa? Kok suara perempuan?" tanyanya yang mulai curiga.


"Venus, dia sekretaris di kantorku. Tenang saja, sayang," tutur ku.


Aku tersenyum seraya mengedipkan kedua mataku pada Dara. Sementara ia hanya mengerlingkan matanya. Aku tahu dia pasti sangat terpesona dengan ketampanan ku. Tapi, dia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.


"Nanti kamu mau aku bawain apa, sayangku?" tanyaku mengibaskan poni yang menutupi hampir jidatku.


Dara menggelengkan kepalanya. Ia memasukkan buah apel ke dalam mulutnya menggunakan garpu.


"Aigoo, kamu makan apa? Bagi-bagi dong."


"Makan buah apel. Kalo kakak mau, ke sinilah."


"Really?" tanyaku sambil memposisikan dudukku.


"Hahahah, tidak-tidak."


Dara menggerakkan tangan kirinya ke arah samping kiri dan samping kanan dengan gerakan cepat.


"If your husband doesn't work, what will you eat later? Your body will gradually become emaciated like it hasn't been fed for a century," pungkasku.


(Kalo suamimu ini gak kerja, nanti kamu mau makan apa? Tubuh kamu lama-lama bakalan kurus kering kayak gak dikasih makan selama 1 abad.)


Dara terkekeh pelan membuatku tersenyum bisa melihatnya tertawa kecil seperti ini. Menggemaskan.


"Yes, I will accept my husband as he is. You're handsome."

__ADS_1


"Handsome doesn't fill a woman's stomach, honey. Even if he is handsome, there is no capital, just selling his looks. It's useless," kelakarku.


(Ya, aku 'kan akan menerima suamiku apa adanya. Kamu 'kan tampan.)


(Tampan tidak membuat perut perempuan kenyang, sayang. Kalaupun tampan, tapi gak ada modal cuma jual tampang. Percuma.)


Tak lama, aku merasakan perutku bergejolak. Aku berlari ke kamar mandi yang berada di dalam ruangan ku lalu memuntahkan isi dalam perutku.


Astaga, apakah pagi ini aku salah makan? Kurasa tidak. Tapi, kenapa aku bisa mual seperti ini, ya? Pikirku lalu membasuh mulutku dengan air kran.


Kepalaku sedikit pening dan hilang semangat. Aku kembali duduk di meja kerja sementara video call-ku dengan istriku masih menyala.


"Ada apa?" tanyanya menatapku.


"Entahlah, sayang. Tadi perut kakak rasanya bergejolak dan muntah. Kayaknya kakak salah makan, deh," jawabku memijit pelipis ku.


"Ha? Kok bisa?"


Aku menggelengkan kepala sebagai tertanda aku tidak tahu.


"Ya udah, kakak kasih dulu perut sama kepala kakak minyak angin. Biar anginnya keluar," perintah Dara yang kuangguki.


Ia mematikan video call kami sepihak lalu aku mengirim pesan ke karyawan ku untuk membelikan ku minyak angin di apotek terdekat.


"이런, 왜 이렇게 구역질이 나고 토하는 거죠? Dara은 나에게 낡은 음식이나 다른 것을주지 않았지만. 음식이 썩지 않거나 좋지 않다고 느낄 수 있습니다. 내 혀에서 모든 것이 맛있고 맛있습니다. 내 몸에 무슨 일이 일어 났습니까? 아, 머리가 너무 어지러워 요."


(Ileon, wae ileohge guyeogjil-i nago tohaneun geojyo? Dara-eun na-ege nalg-eun eumsig-ina daleun geos-euljuji anh-assjiman. Eumsig-i sseogji anhgeona johji anhdago neukkil su issseubnida. Nae hyeoeseo modeun geos-i mas-issgo mas-issseubnida. Nae mom-e museun il-i il-eo nassseubnikka? A, meoliga neomu eojileowo yo.)


(Astaga, kenapa aku bisa mual dan muntah kayak gini, ya? Padahal Adnan tak pernah memberiku makanan basi atau yang lain. Aku bisa merasakan makanan itu tidak basi atau tidak enak. Semuanya terasa enak dan nikmat di lidahku. Apa yang terjadi pada tubuhku ini? Ah, kepalaku rasaanya pusing sekali.)


Ceklek!


Alazka masuk ke dalam ruangan ku lalu kulihat kresek di tangannya. Kulihat Alazka membawa minyak angin di sana.


Aku merampasnya lalu mengolesi minyak angin itu ke pelipis, leher dan perutku. Perutku kembali diremas agar isi perutku kembali dikeluarkan dari mulutku.


Aku berlari ke dalam kamar mandi seraya menutup mulutku dengan tanganku.


"Bos, kok lo muntah-muntah, sih?!" tanya Alazka sediki berteriak.


"I don't know," jawabku kembali ke ruangan ku. Aku terduduk di sofa dan kembali mengolesi minyak angin ke pelipis ku. Terasa hangat dan baunya sangat menenangkan.


"Berapa harganya?" tanyaku menatap sayu Alazka.


"Gak perlu bayar, bos. Gue ikhlas," pungkasnya. Aku hanya menganggukkan kepala kecil dan menutup mataku.


"Tumben, istri boss hamil kah?"


"Iya."


"What?! Why can? The boss's wife who is pregnant, how come the boss is nauseous and vomits? Hahaha, really ridiculous."


Alazka menertawai ku dan langsung aku hadiahi lemparan tissue ke wajahnya itu.


(Apa?! Kenapa bisa? Istri bos yang hamil, kok bos yang mual muntah? Hahaha, benar-benar menggelikan.)


"아이 쉬, 가자. 나중에 점심에 대한 식욕을 잃게 만드는군요. 당신은 정말 짜증이납니다. 나를 돕고 놀리는 대신."


(Aish, gaja. Najung-e jeomsim-e daehan sig-yog-eul ilhge mandeuneungun-yo. Dangsin-eun jeongmal jjajeung-inabnida. Naleul dobgo nollineun daesin.)


(Aish, pergilah sana. Kau membuatku hilang selera untuk makan siang nanti. Kau benar-benar menyebalkan. Bukannya membantuku, malah meledekku.)


Alazka memeletkan lidahnya ke arahku, lalu aku mengambil ancang-ancang untuk melempar toples kaca berisi cemilan di atas meja ke arahnya membuat Alaxka berlari lalu menutup pintu ruangan ku dengan kasar.


Brak!


"이봐, 세게 치지 마. 내 주식에서 수백만 달러를 잃었거나 이번 달에 급여를 잃었습니다!" teriakku.


(Yak, sege chiji ma. Nae jusig-eseo subaegman dalleoleul ilh-eossgeona ibeon dal-e geub-yeoleul ilh-eossseubnida!)


***

__ADS_1


__ADS_2