Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 119.Surprise


__ADS_3

'Berarti dari tadi siang dia sudah menunggu kedatanganku pulang ke rumah? Aku merasa sangat bersalah, apa yang akan kukatakan padanya nanti? Tuhan, bantu aku dalam menghadapi masalah ini bersamaMu. Maaf, sayang. Aku melakukan ini agar kau selamat,' batinku menuangkan air putih ke dalam dua gelas besar.


"Azlan bawa makanan dulu ya, Bi."


Aku meninggalkan seporsi di atas meja yang belum kubuka karena rencananya itu adalah untuk pembantu rumah tanggaku.


Tok ... tok ... tok ....


Ceklek!


Aku membuka pintu kamar setelah mengetuknya terlebih dahulu. Tak ada Dara di sini, hanya suara shower yang mengalir di kamar mandi. Pasti dia tengah membersihkan tubuhnya di sana, pikirku.


Aku meletakkan nampan yang cukup berat itu di atas nakas lalu berjalan mendekati jendela.


Senja.


Langit tengah mengalami senja yang sangat cantik sore ini. Senyuman itu tertarik di sudut bibirku. Walaupun aku sejatinya bukan seorang penikmat senja, tapi aku cukup menikmati langit hari ini.


Ceklek!


Aku mendengar suara pintu kamar mandi tertutup rapat dan shower telah mati.


"Kak."


Aku membalikkan tubuhku menghadap ke arah Dara yang tengah memakai kimono maroon dan handuk yang ia lilitkan di atas kepalanya.


Aku berjalan mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Merasakan aroma tubuhnya setelah mandi dan rambutnya yang membuatku nyaman berada di dekatnya.


'Bisakah aku melakukan ini setiap hari? Aku benar-benar menginginkan wanita ini menjadi milikku selamanya tanpa ada orang yang memisahkan kami. Kenapa begitu banyak orang yang sangat tak suka dengan hubungan kami berdua? Aku tak melakukan hal lain, tapi kenapa banyak sekali tantangan lain dalam masa depanku? Aku ingin dia tersenyum, bahagia, ceria dan tertawa lepas di depanku. Bukan orang lain, aku hanya ingin aku yang selalu berada di sampingnya. Bukan pria lain selain diriku. Jikapun nanti kami berpisah, aku mau nyawa kami yang akan berpisah. Dipisahkan oleh Sang Pencipta, bukan makhluknya yang iri dengan kebahagiaan kami. Jujur saja, ini sungguh tidak adil menurutku,' batinku menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk mataku.


"Kenapa kak? Kok pulangnya telat? Rapat, ya?" tanyanya tanpa kulepas pelukanku dari tubuhnya.


"Tidak, chagia. Tadi hanya ada beberapa tugas yang harus diselesaikan," jawabku pelan.


"Sudah selesai?" tanyanya lagi.


"Sudah."


Sudah dan sekarang tengah dibawa ke kantor polisi oleh Alazka. Semoga saja tidak ada lagi gangguan diantara hubungan kita, sayang. Itu harapanku,' batinku lalu melepaskan pelukanku dan mengecup keningnya lama.


"Ayo kita makan, kamu pasti lapar karena nungguin kakak lama pulangnya, 'kan?"


Aku menuntunnya duduk di bibir ranjang, tapi lebih dulu Dara menahan pergerakannya.


"Ganti baju dulu."

__ADS_1


Ia melepaskan pergelangan dari tanganku dengan lembut dan aku membiarkannya untuk memakai bajunya ke kamar mandi.


Setelah itu, aku dan Dara memakan nasi Padang yang ia minta dengan lahap.


"Pelan-pelan sayang. Kamu makan kayak gak kakak kasih seminggu aja," celetukku lalu memberikan air putih padanya.


"Ini tuh makanan terlezat di Indonesia setelah cake sama makanan penutup. Kakak juga harus sering-sering bawain aku ini, ya."


"Iya, sayang."


***


Selesai salat isya' aku dan Dara turun dari kamar menuju televisi. Aku berjalan menuju dapur untuk mencari cutton candy yang kubeli tadi.


Dapat.


Aku membawa cuttok candy yang warna pink dan purple itu duduk di samping Dara.


"Ih, kakak kok gak bilang kalo beli ini juga. Bagi warna pink."


"Ya, ini 'kan biar jadi suprise. Suka?"


"Banget, makasih ya."


Aku tersenyum manis ke arahnya seraya mengelus kepalanya pelan. Dara lagi-lagi memilih drama Korea yang diperankan oleh Lee Jong Suk dengan judul No Breathing.


No Breathing mengisahkan tentang pemuda yang selalu memenangi kejuaraan berenang, Won-il (Seo In-guk). Namun, kematian ayahnya yang juga merupakan atlet renang dan tak lama disusul dengan kematian ibunya membuat Won-il terpukul dan meninggalkan dunia renang.


Ketika sang paman memindahkan Won-il ke sekolah khusus olahraga, Won-il bertemu dengan lawan lamanya, Woo-sang (Lee Jong-suk). Persaingan di antara mereka membangkitkan harapan baru bagi Won-il yang awalnya sudah ingin meninggalkan dunia renang.


"Ada baiknya kamu cari judul VIP. Itu seru," saranku.


"Enggak, itu pembunuhan. Gak suka, Lee Jong Suk gak ganteng kalo dibagian itu," tolaknya.


"Tampanan mana, suamimu atau Lee Jong Suk itu?"


Aku duduk menghadap ke arahnya sambil mengedipkan mata dan tersenyum manis ke arahnya.


"Lee Jong Suk."


Seketika senyumanku pudar. Dengan kesal, aku mencomot semua cutton candy itu hingga tak tersisa.


"Aku juga gak akan menyetujuimu menikah dengan aktor tampan itu.Walaupun dia lebih tampan dariku, tapi aku juga tak ingin menceraikan mu."


"Lee Jong Suk."

__ADS_1


Seketika senyumanku pudar. Dengan kesal, aku mencomot semua cutton candy itu hingga tak tersisa.


"Aku juga gak akan menyetujui mu menikah dengan aktor tampan itu,Walaupun dia lebih tampan dariku, tapi aku juga tak ingin menceraikan mu," gerutu ku.


"Ya ampun, Lee Jong Suk."


"Dia itu ganteng banget."


"Badannya kekar."


"Ototnya itu seksi sekali."


"Rambutnya bagus."


"Senyumnya manis."


"Ah, Lee Jong Suk. Kapan kita bertemu?"


"Tapi, aku gak bisa bahasa Korea. Gak apa-apa, bahasa Inggris pun jadi."


"Kak, liat Lee Jong Suk. Semenjak dia wamil, badannya bertambah sehat bugar."


"Bibirnya itu lho, merona."


"Apalagi matanya yang tajam bak elang itu. Pengen ..."


"Beruntung banget nantinya kalo ada perempuan Korea yang bisa memilikinya. Pasti dia menjadi orang yang sangat beruntung."


Itu lah ocehan Dara saat melihat aktor tampan Lee Jong Suk di televisi. Melihatnya berenang saja, aku terlihat biasa saja.


'Semua wanita selalu saja begitu. Lihat cowok ganteng kayak Oppa Korea, langsung keluar kata-kata lebaynya. Walaupun bahuku tak selebar bahu Lee Min Ho, tapi tubuhku tetap atletis bak model atau aktor Korea lainnya. Padahal mereka para wanita yang telah memiliki suami saja, tidak tahu bagaimana panasnya kami jika wanitanya memuji pria lain. Di depanku lagi. Jika saja kumatikan televisinya, nanti malah diancam tidak boleh tidur di kamar. Semua laki-laki serba salah dan yang benar itu hanyalah wanita. Dasar para wanita,' batinku melirik ke arah Dara yang tengah menatap layar televisi dengan mata yang berbinar-binar.


Setelah film selesai, kami berjalan memasuki kamar. Sebelum membaringkan tubuh di atas ranjang, aku mengajak Dara untuk menggosok gigi dan membersihkan wajah.


Salah satu rutinitas kami yang wajib kalian contoh.


Setelahnya, kami juga memakai perawatan wajah dan membaringkan tubuh di ranjang.


Aku menatap ke arah Dara yang berbaring menghadap dinding kamar, membelakangi ku.


"Jaga dia, Tuhan. Jika wanitaku benar-benar tidak dalam jangkauanku suatu hari nanti, aku ingin Engkau melindunginya setelah keluargaku. Kejadian tadi selalu saja berputar-putar di otakku. Sebenarnya siapa pelaku utama dari semua hal ini. Tempo lalu, wanita berpayung dan sekarang pesan teror. Jika saja aku tak kuat menghadapinya, kumohon hentikan. Aku tak ingin terjadi yang tidak-tidak padanya. Mengingat dia tengah mengandung buah cinta kami, aku tak ingin ceroboh untuk yang kedua kalinya dan kembali pergi meninggalkanku. Kebohongan ini tak selamanya akan bersembunyi. Pasti alan terendus jika bukan olehku, mungkin saja waktu nantinya yang menjawab semua ini." Aku berucap pelan saat menyadari bahwa Adnan benar-benar terlelap 1 jam ke depan.


Aku mematikan lampu utama dan menyisahkan lampu tidur membuatnya menggeliat menghadap ke arahku.


Tanganku terangkat menyentuh wajahnya yang polos dan lembut, membuatku mengeluarkan air mata. Entahlah, entah apa yang terjadi pada diriku.

__ADS_1


"Adnan, jangan pernah tinggalkan aku lagi. Sudah cukup 5 tahun silam dan itu membuatku gila dan hampir bunuh diri. Tapi, aku sadar. Jika aku melakukan hal itu dan nantinya kau akan memaafkan ku, kau kecewa dan aku merasa sangat bersalah karena kecerobohan ku. Jika pun nanti aku tiada, pasti kau akan merasa gila karena perbuatanmu yang terlah meninggalkan keluargamu, keluargaku dan juga diriku. Maka dari itu, dulu aku sangat-sangat berusaha untuk mendapatimu dan ini hasilnya. Tapi, ini adalah dunia. Gelombang pasti saja selalu datang. Jikapun ini adalah kerjaan mereka, aku juga tak segan-segan akan menghabisi mereka karena telah berani mengusik hubungan kita berdua yang ingin memisahkan kita. Aku tak akan pernah memaafkan mereka, bahkan jika kau melarangnya karena aku sadar bahwa mereka tak akan puas dengan apa yang mereka perbuat. Aku juga berharap nantinya kau akan terus mendukungku di setiap langkah yang kulalui," ungkapku menatap wajahnya yang damai.


__ADS_2