
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Aku menurunkan sedikit kaca mobil, walaupun kendaraan banyak berlalu lalang.
Jong Ru.
Berarti dia yang memilik mobil itu, astaga. Kenapa aku tidak tahu bahwa Jong Ru membeli mobil itu? Dia tak memberitahukam padaku.
Jong Ru keluar dari rumah Adnan, tapi Adnna tak keluar dari rumahnya. Apakah dia hanya mengunjungi Adnan tanpa membawanya keluar? Baguslah, jadi aku tak perlu letih untuk menguntit mereka.
Mobil mewah Pebble Beach Concours D’Elegance, California milik Jong Ru berlalu pergi.
Sementara aku memutar balik ke hotel Ritz-Carlton untuk beristirahat.
"Good Night, sir."
Aku tersenyum ramah lalu menghentikan pria yang memakai baju seragam.
"Ah, wait."
Pria itu berhenti lalu berbalik menatapku heran dan penuh dengan tanda tanya di kepalanya.
"Can you bring me dessert? To prop my stomach, because later I can't sleep on an empty stomach," lanjutku.
(Bisakah kau membawakanku makanan penutup? Aku tidak bisa tidur jika perutku kosong.)
"Fine, I'll bring it to you, sir." Pria kembali berjalan sementara aku masuk ke dalam kamar lalu mengganti dengan baju tidur.
****
Tok ... tok ... tok ...
"Come on in!" teriakku seraya menggilung piyama tidur milikku.
Ceklek!
Pria itu berjalan masuk ke kamar dan meletakkan nampan yang berisi makanan penutup di meja yang berada di tengah-tengah kamarku.
"This is your food sir."
(Ini makanan Anda, tuan.)
"Thanks."
__ADS_1
Pria itu menganggukkan kepala dan kembali keluar dari ruanganku sambil menutup pintu kamar dengan rapat.
Aku berjalan menuju sofa lalu menikmati makanan penutup Strawberries Arnaud, Macaroons Haute Couture, Beyond Gourmet Jelly Beans bentuknya mirip sekali dengan mutiara, dan permen, dan Ice Cream Sundae.
Semua makanan penutup ini sangat manis. Lalu memberitahukan pada pegawai hotel untuk mengambil beberapa piring kotor di depan pintu kamarku.
Aku berbaring di ranjang yang empuk nan mewah, pikiranku kembali melayang ketika aku melihat Dara menggendong gadis kecil itu, tertawa lepas di depan Jong Ru, dan tersenyum dengan manis.
Aku mengambil ponsel milik Dara, membuka aplikasi galeri dan melihat foto-fotonya yang manis, lucu dan menggemaskan.
"Nae meon sachon-eul jeongmal saranghani? Na hante jeongmal wonhae? Jeongmal nalang heeojigo sip-eo? Dara, dangsin-ui yocheong-eul bad-a deul-il su eobs-seubnida. Igeos-eun na-ege maeu gotongseuleobgo nae saeng-gag-eun hangsang dangsin-ege tteo issseubnida. Dangsin-e gwanhan modeun geos. Na-ege dol-awajuseyo. Yejeoncheoleom naleul an-ajugo, pil-yohal ttaemada usgo, nawa hamkke saneun salm-eul jeulgigi ttaemun-e nawa manh-eun salamdeul ap-eseo jayulobge us-eoboseyo," ucapku meraba layar pipih itu.
,(,Apa kau benar-benar mencintai sepupu jauhku? Kau benar-benar menginginkannya dariku? Kau benar-benar ingin berpisah denganku? Dara, aku tak bisa mengabulkan permintaanmu itu. Ini sangat menyakitkan untukku, pikiranku selalu melayang akan dirimu. Semua tentangmu. Kumohon kembali lah padaku, kembali lah padaku. Peluklah diriku seperti dulu, tersenyumlah padaku di setiap saat aku membutuhkannya, tertawa lah dengan lepas di depanku dan semua banyak orang karena kau begitu menikmati hidup bersamaku.)
Aku mengembuskan napas pelan seraya meletakkan ponselku dan ponsel Dara di nakas.
"Maeil bam pug jasibnikka? Naneun hangsang dangsin-e daehae saeng-gaghagi ttaemun-e. Ttaettaelo naneun dangsin-ui aleumdaun eolgul-eul boji moshaeseo jam-eul jal su eobs-seubnida. Ttaettaelo naui yeoljeong-eun naleul jeogpodojulo indohabnida. Geuleona naneun modeun geos-eul ssawossda. Uliga mannal ttae naelyeodabogo sipji anh-ayo." Aku berucap sambil memandang langit-langit kamar.
(Apa tidurmu selalu nyenyak tiap malam? Aku tidak, karena aku selalu mikirkan tentangmu. Kadang aku juga tak bisa tidur karena tak melihat wajah cantikmu itu. Kadang juga nafsuku membawaku pada anggur merah. Tapi, aku melawan semuanya. Aku tak mau terlihat terpuruk ketika kita bertemu nanti.)
Aku benar-benar merindukan Dara, sangat ingin merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangat ku.
Aku ingin merasakan kesedihan Dara yang selama ini dia pikul. Aku juga ingin berbagi kisahku dengannya bagaimana aku juga sangat terpuruk ketika dia tak ada di sisiku.
Aku berkata sambil terisak.
Aku sangat cemburu melihat Dara dengan Jong Ru. Ada perasaan marah yang kupendam agar Dara tidak menjauh dariku.
Aku benar-benar sangat menderita sekali. Aku ingin menghabisi nyawaku di Sungai Han, tapi aku kembali berpikir jika nanti Dara menyesal dan mencintai pria lain.
Aku tak mau hal itu terjadi. Bahkan, Jong Ru membawa Dara ke dalam mobilnya itu di luar dugaanku.
"Dara, jeongmalbogo sip-eo. Dangsin-ui kkum-eun hangsang aleumdawossseubnikka? Gido hal ttaemada nae ileum-i huimihabnikka? I il-eulhaneun salam-eun nappun-ibnikka?"
(Dara, aku sangat merindukanmu. Apa mimpimu selalu indah? Apa di setiap doamu ada secercah namaku di sana? Apa hanya aku saja yang melakukan ini?)
Aku memejamkan mata lalu meletakkan tangan kanan di atas pelipisku. Tak lama, aku terlelap di pukul 00.54 PT.
***
Pagi ini, setelah salat dan membersihkan diri. Aku makan di restoran di hotel The Ritz-Carlton Los Angeles, dengan menu hamburger daging sapi, pancake, Cappuccino (dilengkapi dengan taburan bubuk emas 24 karat dan dihias dengan latte art dari dark chocolate. Disajikan bersama sebutir kurma. Semuanya dihidangkan di atas nampan perak yang berkilauan), cupcakes bernama The Golden Phoenix Cupcake, (yang membuat harganya mahal karena cupcakes dibuat dari bahan-bahan premium termasuk cokelat terbaik dan termahal di dunia. Cupcakes juga dilengkapi dengan pembungkus lembaran emas 23 karat yang dapat dimakan).
__ADS_1
Setelah sarapan, aku mengemudi mobil tersebut ke Cafe Halal.
Sesampainya di sana, aku masih ragu untuk masuk ke dalam cafe tersebut. Jadi, aku memutuskan untuk mengintai di cafe yang berada di sebrangnya yaitu Klatch Coffee ketika aku menunggu kedatangan mobil Marx beberapa hari lalu.
"What do you want, sir?"
Seorang pria bertanya padaku ketika aku menduduki ruang khusus karena aku ingin mencicipi kopi terbaru.
Terlebih dahulu aku membeli paket gold.
"I ordered Luwak coffee."
Pria itu meninggalkanku setelah ia mencatat menu yang kuinginkan.
Lalu ia membawakan secangkir kopi luwak yang kuinginkan. Aku memberikan uang pada pria itu $350 (Rp 4.7 juta) lalu beberapa lembar uang tip untuknya.
"Thank you so much, sir."
Aku tersenyum tipis lalu memasukkan kembali dompetku ke dalam saku jaket yang kukenakan.
Informasi:
Kopi ini di musim panas lalu terjual seharga $601(Rp 8.111.000) per pound (453.5 gram).
Harga ini melebihi rekor sebelumnya yang menembus harga $350 (Rp 4.7 juta). Hanya 100 pound (45 kg ) kopi Geisha yang terjual di seluruh dunia.
Jika ingin mencicipi kopi ini kafe Klatch di California menyediakan paket silver dengan harga $55 (Rp 742 ribu), paket gold $70 (Rp 944 ribu) dan platinum $95 (Rp 1.282.000).
Selama ini kopi luwak terkenal sebagai kopi paling mahal di dunia. Namun kini ada kafe yang menjual secangkir kopi dengan harga fantastis!
Proses produksi dan keunikan citarasa biji kopi menjadi faktor yang menyebabkan biji kopi berharga mahal.
Apalagi jika hanya bisa didapatkan dari daerah tertentu dalam jumlah sedikit. Inilah yang terjadi dengan biji kopi Esmeralda Geisha Canas Verdes Natural. Kopi ini hanya ditanam di sebuah bukit di Panama.
Setelah selesai, aku memasang topi, masker dan sarung tangan lalu kelhar dari cafe menuju mobil karena aku melihat gerak-gerik Adnan keluar dari Cafe Halal.
Di dalam mobil, aku mengintai pergerakan Dara dengan membawa motornya. Aku teringat ketika ia bekerja di toko roti dulu.
Sampai di salah satu villa, ia berjalan mendekati lagar rumah itu dan memencet tombol.
Tak lama, seorang wanita parubmh baya membuka lagar rumah yang dilapisi kayu dan beberapa tanaman hias yang menghiasi pagar rumahnya.
__ADS_1
Dara menyerahkan 3 kotak yang ia bawa pada wanita itu dengan mengambil sejumlah uang dari wanita itu.