
Aku mematikan lampu utama dan menyisahkan lampu tidur membuatnya menggeliat menghadap ke arahku.
Tanganku terangkat menyentuh wajahnya yang polos dan lembut, membuatku mengeluarkan air mata. Entahlah, entah apa yang terjadi pada diriku.
"Dara, jangan pernah tinggalkan aku lagi. Sudah cukup 5 tahun silam dan itu membuatku gila dan hampir bunuh diri. Tapi, aku sadar. Jika aku melakukan hal itu dan nantinya kau akan memaafkanku, kau kecewa dan aku merasa sangat bersalah karena kecerobohanku. Jika pun nanti aku tiada, pasti kau akan merasa gila karena perbuatanmu yang trlah meninggalkan keluargamu, keluargaku dan juga diriku. Maka dari itu, dulu aku sangat-sangat berusaha untuk mendapatimu dan ini hasilnya. Tapi, ini adalah dunia. Gelombang pasti saja selalu datang. Jikapun ini adalah kerjaan mereka, aku juga tak segan-segan akan menghabisi mereka karena telah berani mengusik hubungan kita berdua yang ingin memisahkan kita. Aku tak akan pernah memaafkan mereka, bahkan jika kau melarangnya karena aku sadar bahwa mereka tak akan puas dengan apa yang mereka perbuat. Aku juga berharap nantinya kau akan terus mendukungku di setiap langkah yang kulalui," ungkapku menatap eajahnya yang damai.
Aku mendekatkan diriku padanya lalu memeluknya dari belakang walaupun Dara tak membalas pelukanku dikarenakan dia telah lebih dahulu terlelap.
****
Pagi ini, aku sedikit telat bangun. Selepas salat subuh, aku kembali berbaring di ranjang sementara Dara menyiapkan sarapan pagi untukku nanti.
"Kak."
Aku mendengar suara lembutnya, tapi mataku enggan terbuka walaupun ia telah membuka tirai jendela.
"Kakak gak ke kantor?"
Aku membuka mata dan hal yang pertama kulihat adalah Dara tengah menatapku sambil duduk di bibir ranjang.
"Hm, hari ini kakak mau libur dulu sehari. Kakak mau di rumah aja," ujarku seraya memeluknya.
"Ya udah, terserah kakak aja. Emang kakak ada masalah di kantor?" tanya Dara.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak.
"Kak, aku udah masak roti bakar selai buah naga, potato salad, strawberry doy smoothies, sama bubur ayam oatmeal."
*Bahan : Roti Tawar, Selai buah naga dengan waktu : 10-14 menit.
*Bahan : Kentang kukus, Telur rebus, Timun, Minyak zaitun, Mayones. Dengan rentang waktu : 7-10 menit.
*Bahan : Susu kedelai, Strawberry beku, Madu, Oatmeal. Waktu : 5 menit.
*Bahan : Oatmeal instan, Susu, Potongan daging ayam, Wortel, Jagung manis, Buncis. Waktu : 10 menit.
"Tumben kamu masak banyak, sayang." Aku berucap sambil bangun dati ranjang dengan suara serak.
"Gak apa-apa, pengen aja. Aku juga cari di internet menunya. Kebetulan di kulkas dengan kabinet ada bahan-bahannya."
__ADS_1
Aku dan Dara turun menuju dapur dan Dara telah menyiapkan berbagai menu sarapan pagi untukku.
Aku mulai membidik seluruhnya lalu mengirim ke roomchat group WhatsApp keluargaku.
[Selamat pagi, semuanya. Boleh sharing dong menu sarapan pagi kalian. Sekalian pamer gitu. Nyonya Azlan buatkan ini untukku. Kalian apa?]
Send!
Setelah pesan itu terkirim, aku meletakkan ponsel di atas meja makam tepat di sampingku.
Ping!
Appa
[Wah, menantu sudah pintar masak, ya? Hebat sekali, kenapa kalian baru sarapan? Ini sudah jam 8 pagi.]
Bibi Kim
[Wah, itu sangat lezat. Dara suka sekali jus strawberry itu. Selamat menikmati sarapan kalian, ya. Sarapan kami kali ini ada kimchi, nasi goreng sama salad buah untuk bekal mereka bertiga.]
Tak lupa mereka mengirim pict sarapan mereka tanpa ada pesan. Mungkin saja mereka tengah sibuk sekali dan tak bisa mengetik pesan di room chat group.
Aku memberikan ponselku pada Dara yang tengah menikmati susu coklatnya.
"Ini kakak yang duluan. Kakak biangnya, makanya mereka kayak gitu. Kakak sih, kayak gak ada kerjaan aja," celetuknya seraya meletakkan ponselku kembali.
Kami menikmati sarapan sesekali bercanda ria. Aku meminta izin pada Dara untuk membawa keluargaku ke rumah terutama Dara, Zahra dan Azka.
"Boleh, sekalian bagi-bagiin gulali itu sama mereka. Gak habis kalo aku makan sendiri."
Aku mengambil ponsel lalu mengabari mereka melalui pesan group WhatsApp.
[Hai, semuanya. Ada pesan untuk para keponakanku, kalian boleh datang ke rumahku karena kemaren malam aku baru saja memborong gulali. Pasti kalian suka. Dara juga tak apa, karena dia bilang sulit untuk menghabiskan gulali yang begitu banyaknya. Datanglah secepatnya.]
Send!
Ping!
Cinta Bobrok
__ADS_1
[Astaga, itu sangat enak untuk dibawa ngemil. Aku akan ke sana bersama dengan adik ipar. Aku akan membawa gulali itu ke universitas dan memakannya di sana. Aku ke sana segera !!!]
Ping!
Appa
[Papa gak bisa ke sana sayang karena beberapa menit lagi papa akan berangkat ke Seoul dan diantar oleh mamamu ke bandara. Selamat bersenang-senang dan jaga calon cucu kami, ya. Kabari selalu kesehatannya di sini dan maaf sekali lagi. Aku tak bisa mengunjungi kalian.]
Aku mengembuskan napas lalu membalas pesan dari papa dengan menggeser pesannya ke arah samping kanan.
[Tidak apa-apa, pah. Selamat jalan, ya. Jangan lupa buat kirim pesan di room chat bahwa kau sudah sampai di Seoul. Jaga kesehatan dan jangan lupa berolahraga. Aku akan mengkhawatirkan dirimu jika kau sakit, maka janganlah sakit dan jangan memikirkan kami di sini. Kami akan baik-baik saja. Aku akan selalu mengabari mu di sini dan pergilah.]
Tak lupa aku menyelipkan emotikon hati, senyuman dan crying.
Ping!
Bibi Kim
[Hati-hati di jalan ya, Seok. Kami akan mendoakan keselamatanmu, jagalah dirimu terutama kesehatan. Azlan, mungkin kami tidak bisa pergi ke sana. Mungkin sore nanti karena mereka masuk sekolah dan nanti sore aku akan mengabari mereka dan kami pergi ke rumahmu bersama-sama.]
Aku menepuk jidat, ternyata ini adalah hari Sabtu dan aku lupa jika mereka masih masuk sekolah. Huh, yang benar saja Azlan.
To Bibi Kim
[Maaf, bi. Aku lupa, baiklah, aku akan menunggu kalian karena aku tidak masuk kerja hari ini. Selamat beraktivitas.]
Tak ada lagi chat di group WhatsApp. Aku memberitahu Dar bahwa mereka akan datang sore nanti kecuali Cinta.
"Ya udah, aku akan siapkan untuk Cinta."
Dara membuka seluruh kabinet dapur dan matanya terbelalak melihat gulali itu berserakan di lantai kayu.
"Kak, jadi kakak beli sebanyak ini?"
Aku menganggukkan kepala lalu melihat koran yang ada di pangkuanku. Ternyata banyak sekali berita di koran mengenai korupsi dan kriminalitas.
"Sungguh meresahkan aksi bejat mereka yang beraninya menyembunyikan uang yang tidak ada hak milik mereka sendiri. Jika dipenjara saja, itu tidak akan mempan. Bahkan jika dipenjara 10 tahun mereka akan mengulangi perbuatan itu kecuali jika dihukum mati. Mereka tidak bisa berkutik dan pastinya sangat takut akan melakukan perbuatan ini."
Aku berucap menatap koran yang berisi aksi korupsi dan kriminalitas di sana. Ada beberapa pejabat tinggi negara yang ditangkap karena melakukan suap dan korupsi lainnya.
__ADS_1