Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 41. Angel Korupsi dan Ada Perusuh Kerumah


__ADS_3

POV Azlan


1 bulan kemudian, terjadi kesalahan mengenai pembagian gaji karyawanku. Alazka menjelaskan secara detail saat kami menaiki lift dari lantai 11 menuju lantai 2 di mana bagian keuangan berada di sana.


"Angel sudah 2 hari ini tidak masuk kantor."


Aku menatap ke arah Alazka dengan tajam. Tapi, aku juga tidak boleh berpikiran negatif tentangnya.


Sampainya di lantai 2, kami langsung memasuki pintu ruangan yang tertulis 'Badan Keuangan'


"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanyaku pada staff keuangan.


"Ti-tidak tahu, pak. Minggu lalu, Angel yang memegang komputer dan beberapa sahamnya." Altar berucap sambil menundukkan kepala.


"Kalian cek semua CCTV-nya!" perintahku berjalan keluar ruangan. Aku dan Alazka berjalan menuju lantai 5 di mana saham-sahamku disimpan oleh Alazka.


***


Aku menekan sandi lalu melihat sebagian uang disimpan sudah raib. Entah siapa pelakunya yang berani mengambil uang senilai 5 miliar itu.


"Dia mengambil uangnya 5 miliar," ucap Alazka. Aku menggertakkan rahangku,emosiku tersulut ketika pikiranku kembali berputar saat dia datang ke kantor untuk bekerja.


"Pak."


Kami menoleh ke arah sumber suara, Vito memberikan sebuah flashdisk padaku.


"Ternyata benar, Pak. Pelakunya itu Angel."


Aku mengambil laptop di salah satu meja lalu memutar video yang sudah ia salin melalui flashdisk.


"Si*l, cari dia sampai ketemu."


Vito menganggukkan kepala lalu pergi keluar ruanganku. Aku menelfon anak buahku untuk mencari keberadaan gadis yang bernama Michelle Angel, aku juga memberikan foto beserta data diri lainnya.


"Kalau begitu, saya akan lacak keberadaannya," ucap Alazka.


"Oke, saya tunggu kabarnya." Kami berjalan keluar ruangan lalu berpisah diantara lift.


Aku menuju ruanganku lalu duduk di meja kerja. Aku memasukkan nama dan data-data Angel ke black list, membuat pengumuman dan memberikan hadiah yang fantasi berupa uang bagi siapa yang dapat menemukan wanita itu.


"Ternyata dia sudah bermain api di belakangku," geramku sambil meremas mouse wireless di genggamanku.


Dirumah Azlan


Pukul 16.00 WIB, aku pulang ke rumah dengan wajah dan pakaian yang kusut. Dara yang melihatku hanya diam tanpa bersuara sampai aku selesai melakukan ritual mandi.


"Karyawan baru, perempuan. Dia kerja 1 bulan dan mengambil seonggok saham di ruangan privacy itu 5 miliar," ucapku menunduk lesu.


"Kok bisa?"


Aku menggelengkan kepala.


"Mungkin dia mengincar uang itu," jawabku asal.


"Lalu?"


"Aku sedang mengerahkan anak buahku untuk mencarinya."


Dara memilih untuk diam.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan malam sekarang," ajaknya seraya menarik tanganku untuk berdiri dari duduk di ranjang. Aku melangkahkan kaki gontai mengikutinya dari belakang.


Selesai makan malam, aku duduk di ruang televisi dan menyalakan televisi. Moodku sangat tidak nyaman, ingin rasanya aku membanting apa yang ada di rumah, tapi itu tidak mungkin. Bisa-bisa Dara malah takut melihatku dan menjauh dariku.


"Minum teh dulu."

__ADS_1


Ia menyuguhkanku teh hijau di cangkir. Aku menerimanya dan menyeruputnya dengan perlahan-lahan. Ada rasa lega di sana.


"Mungkin, ini ujian dari Tuhan, supaya kakak lebih berhati-hati lagi," ucapnya seraya mengelus pundakku.


"Iya, sepertinya begitu. Kamu doakan suapaya perempuan itu segera ditemukan."


"Iya, aamiin."


"Mau dibuatin apa?" tanya Dara


"Buatin kakak roti diolesi coklat," pintaku.


"Ya sudah, tapi jangan cemberut gitu. Jelek." Dara berjalan menuju dapur, kulihat perutnya semakin membesar walau sudah 3 bulan.


"Nih." Ia menyodorkan sepiring roti tawar yang sudah ia lipat dua. Aku mengambilnya dan kami menikmati malam ini dengan candaan. Emosiku yang tadinya terpendam, sekarang sudah disiram oleh Dara. Dia sangat pintar dalam hal ini, walaupun bukan dengan rayuan.


***


Saat aku duduk di ranjang sambil menatap layar ponsel, aku mendapatkan notifikasi dari Alazka bahwa ia lari ke Kalimantan.


[Cari perempuan itu ke Kalimantan. Saya akan transfer uangnya. berikan saya nomor rekening Anda.]


Send.


Aku mengirim pesan dari anak buahku.


Ping!


Ia mengirim nomor rekening tersebut. Aku mentransfer uang dua luluh lima juta pada mereka dan memberi pesan agar ia segera di bawa ke hadapanku segera dan secepat mungkin.


"Sudah dapat informasi?" tanya Dara sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.


"Dia lari ke Kalimantan, baru saja Alazka msmberitahunya. Dia melacaknya menggunakan nomor ponsel. Kakak udah kerahkan anak buah untuk mengejarnya," jawabku panjang lebar.


Aku meletakkan ponsel di nakas saat Adnan bersiap-siap berbaring di ranjang.


"Kamu suka sama boneka, ya?" tanyaku gemas.


"Enggak juga sih. Tapi, aku suka sama boneka satu ini aja."


"Karena dari kakak?"


"Iya," jawabnya sambil tertawa.


"Aigoo, kamu makin hari makin lucu aja," tuturku mencubit pipinya.


"Aduh, sakit," keluhnya membuat tanganku terlepas dari pipinya.


Aku melihat ke lehernya, ada 4 tanda kemerahan yang kemaren kubuat. Entah angin mana, mataku menatap lekat ke lehernya, otomatis wajahku bergerak.


"Kak."


Seakan-akan telingaku tuli.


"Kak."


Aku menatap wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku.


"Sekali saja."


Aku menempelkan bibirku pada bibirnya lalu beralih pada lehernya. Aku merasakan hasratku memuncak, 'Dara sedang hamil,' batinku seketika aku menjauhkan wajahku dari lehernya.


"Maaf," cicitku.


"Ih, yang lainnya belum hilang malam ditambah," gerutunya.

__ADS_1


"Ya, maaf sayang." Aku memeluk dirinya yang memanyunkan bibirnya.


Cup.


"Ih, kakak!"


Aku tertawa mendengar teriakannya yang memekakkan telingaku.


"Ayo, tidur." Aku menarik selimut sampai lehernya. Dara menatap ke arah jendela kamar yang diguyur hujan. Walaupun tidak berpetir. Tapi, hujannya sangat deras. Aku mematikan pendingin ruangan dan beralih memeluk Dara yang sudah memejamkan matanya.


Aku menyentuh lengannya yang berisi dibungkus dengan piyama tidurnya berlengan panjang. Terkadang aku memijitnya membuat mata indah itu terbuka dan menatapku tajam.


"Jangan ganggu deh."


"Lah, emangnya kenapa? Kakak gemas aja sama lengan kamu."


Tanganku turun ke bawah dan menyentuh jari mungilnya yang sedikit berisi, tapi lebih mendominasi itu telapak tangannya.


"Apa rasanya sakit?" tanyaku.


"Enggak," jawabnya.


"Kak."


Aku menatap mata Dara


"Besok anterin ke rumah ibu, ya. Rindu," ucapnya dengan nada manja.


"Iya." Aku kembali memeluk tubuhnya dengan erat dan memejamkan mata.


***


Pukul 02.00 malam, aku terbangun ketika mendengar jendela lantai bawah berbunyi. Aku menoleh ke arah Dara yang tengah tertidur pulas. Perlahan aku menarik lengan kiriku yang berada di bawah tengkuknya lalu membuka lemari kaca.


Aku mengambil pistol glock 17, di sana sudah tersedia dua puluh lima peluru, aku memompanya sebanyak 5 kali lalu kembali menatap ke arah Dara yang belum merubah posisi tidurnya sama sekali.


Aku berjalan pelan keluar kamar, di sana ruangannya gelap membuat mataku menjadi liar melihat dua bayangan yang sedang berusaha membuka jendela bagian ruang televisi. Terlebih dahulu aku menutup dan mengunci dari luar kamar itu agar Dara tidak keluar.


Langkahku membawa tubuhku menuju lantai tiga, aku menaiki beberapa anak tangga menuju rooftop. Perlahan-lahan, aku melihat semua sisi bawah, memastikan tidak ada orang selain mereka.


Aku berjalan mendekati balkon, benar mereka memakai topeng untuk menutup identitas. Aku menundukkan tubuhku ketika melihat mereka yang masih berusaha mengobrak-abrik jendela tersebut.


"Mau main-main ternyata," gumamku seraya mengarahkan pistol tersebut ke arah mereka. Aku takkan membidik punggungnya melainkan kaki dan tangan mereka.


Dor!


Satu peluru berhasil lolos, aku sama sekali tak mendengar suara jeritan kesakitan dari seseorang tersebut. Sementara temannya kalang kabut melihat sekitar. Aku sempat menarik kepalaku agar tidak ketahuan.


"Siapa yang menembakmu?" tanyanya yang dapat kudengar dari rooftop.


"Mungkin ada seseorang yang membuntuti kita," ucapnya dengan menahan sakit di kakinya.


"Pemilik rumah ini yang menembak kaki busukmu itu," gumamku lalu kembali mengarahkan pistol ke pada kawan yang satunya.


Dor!


Aku menembak tepat di tangan kanannya.


"Ah!" teriaknya menahan sakit.


Dor!


Aku menembakinya di bagian kaki kirinya. Sementara teman yang satunya sudah pingsan lebih dulu karena tidak bisa menahan rasa sakit.


Aku turun dari rooftop menuju kamar lalu membuka pintu kamar. Di sana Dara sudah duduk di ranjangnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"


__ADS_2