Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 49.Siapa Pria Itu??


__ADS_3

Setelah selesai, pria itu memangil Dara agar segera duduk di sana.


"Ada apa?" tanya Dara.


"Aku Kywon Jong Gi Ru, kamu bisa memanggilku Jong Ru."


Jong Ru mengangkat tangannya, Dara yang mengetahui segera menjabat tangannya lalu tersenyum tipis.


"Apa kau punya masalah dengan CEO itu?" tanya Jong Ru yang sudah penasaran.


"Ceritalah, setidaknya dengan kamu sharing padaku bisa membuat bebanmu ringan walau tidak sepenuhnya," ucap Jong Ru dengan tatapan lembutnya.


Dara mulai menceritakan kejadian di mana ia bertemu dengan Kang Yuri---mantan kekasih Azlan , lalu wanita itu mendorongnya hingga menyebabkan ia keguguran dan mengucapkan kata berpisah pada Azlan


Jong Ru sangat terkejut mendengarnya.


"Kenapa kamu ingin berpisah dengannya?" tanyanya.


"Aku sudah keguguran, mana mungkin aku bisa memberinya keturunan."


"Kenapa tidak? Kalian harus berusaha," jawab Jong Ru.


"Apa Azlan memperlakukanmu dengan kasar?" tanya Jong Ru lagi.


"Tidak, dia sangat baik. Aku hanya tidak nyaman berada di dekatnya setelah aku keguguran," jawab Dara.


"Ya sudah, istirahatlah suapaya pikiranmu tenang."


Jong Ru berjalan menuju lantai atas di mana kamarnya terletak di sana. Sementara Dara masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai bawah, tepatnya di kamar tamu.


Ia berbaring di ranjang dengan air mata yang berlinang. Ia sangat menyesal mengatakan hal itu pada suaminya. Ia menangis sampai matanya tertutup karena lelah menagis semalaman.


Di tempat Azlan


Pagi ini, Azlan bangun kesiangan. Ia menoleh ke samping dan tak menemukan Dara. Tubuh kekar itu bangkit dan duduk di ranjang.


Azlan memijat pelipisnya, ia teringat semalam Dara sudah memintanya untuk berpisah.


Jujur, Azlan sangat menyesal memperlakukannya sangat kasar kemaren. Hingga ia membiarkan Dara pergi dari rumahnya dengan keadaan hujan yang turun sangat deras.


Ia mengambil kunci mobil untuk mencari keberadaan Dara. Tanpa sarapan dan membersihkan tubuhnya dahulu.


Nihil.


Ia tak menemukan Dara di kompleks perumahannya.


"Argh!" teriaknya memukul stir mobil.


"Seharusnya gue gak biarin dia pergi dari rumah," gumamnya. Azlan memutar balikkan mobilnya menuju rumah.


"Dari mana tuan?" tanya Bi Ima yang baru saja memasuki rumah majikannya.


Azlan hanya diam tak menjawab, ia memasuki rumahnya. Bi Ima merasakan ada kejanggalan dari majikannya.


Bi Ima memulai kegiatan membersihkan rumah dan membuatkan majikannya sarapan.


Lalu menyiram tanaman di belakang rumahnya.


"Kamu di mana, sayang?"


Azlan memeluk baju tidur Doraemon milik Dara. Ia kembali menangis mengingat momen romantis di rumah ini.


Tok ... tok ... tok ....


Azlan menghentikan tangisannya.


"Sarapannya tuan," ucap Bi Ima.


"Iya, bi." Azlan bersahut lalu membuka pintu kamarnya. Bi Ima tertegun dengan wajah Azlan yang sembab.


"Ada apa tuan?" tanya Bi Ima khawatir.


"Kami berpisah, bi."


"Astaga, kenapa bisa?" tanyanya.


"Dia yang minta, bi. Saya kemaren terlanjur emosi dan membiarkan dia pergi dari rumah."


"Sabar tuan, kalo jodoh mah gak ke mana."


Azlan menganggukkan kepala dan berjalan menuju dapur.

__ADS_1


'Pantas saja kemaren aku gak bisa tidur,' batin Bi Ima dan melanjutkan kegiatannya mengepel lantai rumah Azlan.


Ingatannya kembali berputar ketika melihat bayang-bayang dirinya memeluk Dara , ketika Dara mencuci piring dan memakaikannya dasi.


Ia tak peduli dengan sarapannya yang terasa asin karena air mata.


Di tempat Dara


Dara merasa sedikit kram pada perutnya akibat haid pagi ini.


Jong Ru yang terus saja menatap pintu kamar yang ditempati Dara heran.


Kenapa perempuan itu tidak membuka kamarnya? Apa dia sudah bangun? Pikirnya.


Jong Ru mengolesi selai coklat di atas roti bakar buatannya lalu menyiapkan susu UHT cair di dua gelas ukuran 250 mili.


"Dars , apa kau sudah bangun?! Sarapannya sudah siap!" teriak Jong Ru dari dapur.


Dara yang mendengarnya tak menjawab, ia meringis kesakitan sambil menekan perut bagian bawah agar rasa sakitnya hilang.


Tok ... tok ... tok ...


"Gwenchana?" tanya Jong Ru yang berdiri di depan pintu kamar Dara.


"Sakit," ringis Dara. Ia memutar knop pintu dan untung saja Dara tak menguncinya dari dalam.


"Astaga, kamu kenapa?" tanya Jong Ru panik.


"Perutku sakit, aku baru saja datang bulan. Baru jalan dua hari," jawan Dara.


"Tunggu sebentar."


Jong Ru berlari menuju dapur lalu mengambil botol air minum, mengisinya dengan air hangat dan kembali ke kamar.


"Tempelkan botol ini ke perutmu."


Dara melakukan yang dikatakan Jong Ru. Tak lama, ia merasakan rasa nyeri itu reda walau tak sepenuhnya.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Dara yang duduk di ranjang.


"Dulu istriku mengalami hal ini. Jadi, aku tahu."


Jong Ru menganggukkan kepalanya.


"Tapi, sekarang dia sudah tenang. Dia pergi untuk selama-lamanya."


Dara sedikit tertegun, pasalnya ia tak mengetahui latar belakang Jong Ru.


"Maaf, aku tidak tahu."


"Tak apa, aku sudah mengikhlaskannya," potong Jong Ru.


Bip ... Bip ....


Jong Ru merongoh saku celananya ketika mendengar suara ponselnya.


(Azlans kunyuk is calling)


Jong Ru mematikan panggilan tersebut membuat Dara bingung.


"Ini hanya panggilan kantor. Tak apa jika aku tinggal?"


"Iya, terima kasih sudah memberiku kamar dan makanan."


"Sama-sama."


Jong Ru keluar dari kamar dan menuju kamarnya untuk ke kantor.


Tak berselang lama, Dara berjalan keluar rumah dan melihat lima perempuan paruh baya sedang membersihkan rumah Jong Ru.


"Maaf, Anda siapa?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa kau pacar Tuan Jong?"


"Bukan, saya temannya," jawab Dara.


"Oh, begitu rupanyan. Ayo, sarapan."


Dara mengangguk kemudian mulai menyantap roti bakar yang dibuat Jong Ru untuknya.


Di kantor Azlan

__ADS_1


Sampai di kantor, ponselnya kembali berdering yang menandakan panggilan masuk dari Azlan.


Ia menutup pintu ruangannya dan mengangkat telepon dari Azlan.


"Ne," sapa Jong Ru ketika panggilan tersambung.


*Ya*


"Dara pergi dari rumah."


"Lalu? Apa urusanku? Itu masalahmu, bukan masalahku," jawab Jong Ru sinis.


"Bantu aku mencarinya."


Jong Ru terdiam sejenak. Bagaimana jika Azlan tahu jika Dara berada di rumahnya?


"Ah, mian. Aku banyak kerjaan."


Jong Ru menutup panggilan teleponnya dan mengalihkan ke mode pesawat.


Ia mulai fokus pada pekerjaan kantornya.


Setelah selesai dengan pekerjaan kantor, Azlan pulang dengan wajah yang sangat lelah. Ia sangat merindukan kehadiran Adnan--istrinya yang telah pergi meninggalkan rumah ini.


Rumah yang memenuhi kenangannya bersama Dara .


Kini, rumah itu berubah sebagai penyesalan.


Ceklek!


Ia terbayang akan sosok Dara yang tengah menyisir rambutnya. Manik hazel brownies itu sangat ia rindukan.


"Kamu di mana sekarang? Apa kamu sudah makan? Tidurmu nyenyak malam tadi?" gumamnya.


Di tempat Dara


Dara kini tengah duduk di bibir ranjang. Ia termenung ketika bentakan Azlan pada dirinya membuat hati itu terasa sangat perih.


Setelah makan malam, Dara meminjam ponsel milik Jong Ru untuk menelfon Yayuk.


[Halo,] sapa seseorang ketika panggilan itu terhubung.


"Yuk, ini aku Dars . Bagaimana kuliahmu di California?" tanya Dara dengan antusias.


[Baik, tidak ada kendala sama sekali. Bagaimana keadaanmu sekarang?]


Seketika wajah Dara berubah menjadi murung.


"Aku ... aku berpisah."


[Why?]


"Aku yang memintanya. Beberapa minghu kemaren, aku mengalami keguguran. Aku merasa tak layak menjadi istrinya dan meminta berpisah," jawab Dara.


[Astaga, itu salahmu.]


"Iya, itu salahku."


Dara menyeka air mata yang membasahi pipinya. Ia tersenyum seakan dirinya baik-baik saja.


[Lalu, bagaimana? Kau tinggal di mana sekarang?]


"Aku tinggal bersama pria yang baik hati, namanya Jong Ru."


[Apa kau mau ikut bersamaku di California?]


Mata Dara membola. Ini di luar nalarnya.


"Tak perlu, kalau aku ke sana. Malah nanti merepotkan."


[Tak apa, aku sekarang buka bisnis kue. Nanti aku akan pesan tiket pesawat. Aku akan mengabarimu melalui nomor ini.]


"Makasih, Yuk. Kamu memang sahabatku yang sangat baik."


[Sama-sama. Oh, iya gak bisa lama-lama nih, soalnya aku ada kelas. Aku tutup dulu, ya.]


Yayuk mematikan sambungan telefonnya, Dars memberikan ponsel itu pada pemiliknya--Jong Ru.


"Dia mengajakku menetap di California. Katanya dalam waktu dekat akan menjemputku, dan mengabariku melalui nomormu," terang Dara.


"Benarkah? Bagaimana dengan Azlan " tanya Jong Ru.

__ADS_1


__ADS_2