
Aku sampainya di depan Kafebay, Dara dan Yayuk turun dari mobil. Mereka berjalan masuk menuju lantai 1 karena tempat itu sudah dikhususkan untuk mereka semua.
Mereka melihat kedatangan Yayuk dan Dara . Saling berpelukan dan saling bertegur sama.
Dara sangat merindukan teman sekelasnya terutama Yayuk, gadis itu sekarang sudah bekerja menjadi manager di salah satu perusahaan yang ia geluti.
"Hei, Dara . Kamu itu istrinya Pak Azlan yang punya perusahaan Adipratama Corp?" tanya gadis berambut pirang.
"Iya," jawab Dara sambil tersenyum ramah.
"Wah, ternyata takdirmu manis juga, ya?"
"Dara sangat beruntung bisa memiliki suami yang tampan, mapan dan dia itu dulu direbut oleh beberapa wanita."
"Sangat beruntung sekali kamu."
"Kapan aku bisa mendapatkan suami bergelar CEO atau Presdir atau direktur utama?"
Dara menanggapinya dengan tersenyum.
"Mana makanannya?" tanya Yayuk, ia menarik tangan Dara menuju meja di mana makanan, yogurt, pudding buah dan dessert lainnya berada di sana.
Dara hanya mengambil yogurt dan pudding buah lalu mereka duduk di meja dekat dengan balkon untuk merasakan terpaan angin di siang hari walaupun matahari saat ini tidak terlalu terik.
"Hai."
Mereka menoleh ke arah sumber suara yang ternyata itu adalah Fero. Ada beberapa luka lebab di wajah tampannya.
"Maaf atas kejadian kemaren," ucap Dara menatap sang sahabat dengan khawatir.
"Tak apa, aku boleh duduk?"
Yayuk menganggukkan kepalanya lalu Fero mengambil posisi duduk di tengah-tengah mereka. Tak berselang lama, anak-anak yang lainnya berkumpul.
"Eh, gimana kalo sebagian dari party kita kamu yang bayar?" tunjuk laki-laki tersebut pada Dara.
"Hanya sebagian 'kan?" tanya Dara memastikan.
Mereka menganggukkan kepala.
"Kita di sini juga iuran kali," timpal Hanafiah, laki-laki yang mengenakan kemeja hitam sambil mengaduk jus alpukat di gelasnya.
"Baiklah," putus Dara. Mereka menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang. Mulai dari sekolah sampai sekarang.
Ada sebagian dari mereka yang belum mendapatkan pekerjaan, ada pula yang mendapatkan kursi kebesaran plus ruangan pribadi di kantor karena sudah memiliki kedudukan yang lebih dari karyawan.
Fero menatap lekat ke arah Dara karena ia dulu pernah menyimpan rasa pada gadis yang sekarang dihiasi dengan dua buah cincin permata dan motif mahkota di jari manis dan jari tengahnya.
'Kau sudah milik orang lain, apa aku harus merelakanmu? Jika memang begitu, jika memang dia membuatmu bahagia. Aku akan membuang rasa ini jauh-jauh. Tapi, tidak denganmu. Jangan pergi, tetaplah seperti ini sampai aku mendapatkan gadis yang sepertimu juga,' batin Fero.
Dirumah Dara
Pukul 19.38 WIB, Yayuk mengantar Dara sampai depan gerbang rumahnya.
"Makasih, Yayuk. Sampai ketemu lagi. hati-hati." Dara melambaikan tangannya lalu ia membuka gerbang dan menutupnya kembali.
Hari ini, ia menghabiskan uang sekitar 10 juta untuk membayar tempat dan makanan mereka yang berjumlah lebih dari 55 orang. Ini di luar dugaannya.
"Apa aku akan mendapatkan hukuman?" gumamnya saat dirinya sudah menginjak teras rumah.
Ceklek.
Terlihat Azlan membuka pintu rumah sambil memandang Dara dengan datar.
"Ngapain di luar? Masuk." Azlan membuka pinrunya sedikit lebar, lalu Dara berjalan masuk ke rumah.
__ADS_1
Ia sempat lari menuju kamar karena takut berlama-lama dilihat sang suami.
"Gak perlu mandi, gak usah mandi malam-malam," sahut Azlan saat Dara melepas hijab berwarna merah mudanya. Mau tidak mau ia harus mengikuti perintah Azlan.
"Kamu habisin 10 juta?"
Deg!
Seketika jantungnya berhenti berpacu. Di mana dia tahu? Pikir Dara. .
"Kenapa bayarnya sebanyak itu? Apa mereka gak bayar reunian nya?"
Dara hanya diam seraya memikirkan kata-kata yang tepat untuk pertanyaan Azlan yang beruntut dan menuntut.
"Hm, semuanya bayar kok. Cuman, aku bayar sebagian karena kakak CEO." Dara menjawab pertanyaan Azlan sambil menundukkan kepalanya.
Takut menatap wajah Azlan.
Azlan mengembuskan napasnya kasar lalu mengusap kasar wajahnya.
"Ya sudah." Azlan duduk di pinggir ranjang membelakangi Dara.
"Maaf, ya." Dara duduk di samping Azlan lalu menyentuh pundak lebar Azlan yang dibalik itu kaos hitam pendek lengan.
Sangat maskulin dan manly walaupun ia berada di rumah. Azlan selalu menjaga penampilannya walau ia berada di rumah.
"Kamu sudah makan? Ayo, makan."
Dara tidak bisa menolak karena Azlan tidak menginginkan Dara kelaparan.
Selesai makan malam yang sudah disiapkan Bi Ima, Azlan menyajikan potongan buah apel dan segelas susu coklat untuk Dara.
"Makasih." Dara menerima segelas susu dan Azlan duduk di samping Dara
"Saya mau sisa kamu aja."
"Kenapa gitu?"
"Karena saya suka."
Azlanmengulum senyumnya.
Saat ia ingin memasukkan potongan buah apel yang ada di tangannya, Azlan Mengambil sisa gigitannya dan memakannya.
"Kan kakak bilang, kakak mau sisa kamu."
"Jorok ih."
"Jorok apa sih?"
Dara tak menjawab pertanyaan Azlan , ia memilih untuk menatap layar televisi.
Azlan kembali memakan buah apel bekas gigitannya.
Setelah habis, Azlan memberikan segelas susu padanya lalu Dara menghabiskan tanpa sisa.
Mereka masih menikmati malam yang dingin dengan menonton serial reality show channel nasional.
***
Azlan melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 21.32 WIB. Ia mematikan televisi dan menuntun Dara menuju kamar untuk tidur.
Sementara Cinta berada di dalam kamar sejak makan malam selesai, katanya tugas kuliah menumpuk jadi ia tidak bisa santai malam ini.
***
__ADS_1
Sampai di kamar, Azlan dan Dara membersihkan gigi dan wajah di wastafel dalam kamar mandi.
Terkadang Azlan usil pada Dara dengan cara mengganggu kegiatan Dara dengan menjauhkan tangan Dara yang sedang menggosok giginya.
Setelah selesai, mereka memakai perawatan wajah dan berbaring di ranjang.
"Gimana kantor kakak sekarang?"
"Gitu-gitu aja. Dua hari lagi, kantor ada pelelangan properti."
Dara menoleh ke arah Azlan yang sedang sibuk dengan rambut hitamnya.
"Mau dijual berapa?" tanya Dara menghadap ke arahnya.
"Lebih dari 100 juta."
Mata Dara terbelalak mendengarnya.
"Kenapa gak diturunin aja? Kemahalan itu."
"Sayang, pelelangan harus seperti itu. Emang gak harus 100 juta terbayar, tapi lebih. Bagaimana perusahaan lain mendapatkan properti keluaran terbaru. Apalagi Alazka yang mendesainnya," terang Azlan.
"Alazka?"
"Desainer rumah kita."
Dara hanya ber oh ria lalu ia menaikkan sedikit selimutnya sampai bahu.
"Terus, perusahaan papa gimana?"
"Sudah berjalan dengan baik sampai sekarang. Oh, iya. Kamu tahu tidak, waktu kita ke Korea. Kaka selalu ditatap sama perempuan sana."
Dara menaikkan satu alisnya menatap Azlan.
"Lalu?"
"Apa kamu gak cemburu?" tanya Azlan.
"Enggak."
"Astaga, kamu lupa kalau kakak tampan?"
"Tahu."
Azlan tak melanjutkan ucapannya dan memilih menutup matanya.
Grep.
Matanya kembali terbuka ketika sebuah tangan memeluk tubuhnya. Manik mata dark knight-nya bergerak ke bawah di mana Dara sedang menatapnya.
"Aku tahu kalau kakak pasti jaga hati kakak untukku."
Sudut bibirnya terangkat melengkung indah membuat sebuah senyuman di wajahnya.
"Kamu juga harus jaga hati buat suamimu yang tampan dan mapan ini." Azlan mengusap kepala Adnan dengan sayang.
"Iya." Dara menganggukkan kepalanya lalu meletakkan kepalanya di dada bidang Azlan.
"Kak, pasta gigi strawberry-nya mau habis. Besok beliin, ya," pinta Dara.
Azlan menjawil hidungnya dan berakhir dengan mengecup bibir plum milik Dara..
"Iya, pokoknya besok SMS atau chat WhatsApp aja ke kakak."
Azlan menghirup kepala Dara yang beraroma mawar putih. Ada perasaan tersendiri untuknya.
__ADS_1