Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 107.Mr . Jonathan


__ADS_3

"Di bagian pagar itu sudah gue kabel yang lo minta. Tapi, kabel itu lima belas persen jika orang itu menggunakan sepatu untuk melindungi kakinya tidak akan tersentum. Tapi, jika dia makai sarung tangan tipis. Dia akan merasakan tersentrum, tapi gak terlalu parah. Kecuali dengan kulit tangannya saja. Di bagian knop pintu itu akan merasakan panas dan juga jendela kamar di bagian luar saja. Dan lo sekarang bisa gunain kalo lo pencet tombol ON-nya dan OFF untuk mati," jelas Alazka.


"Jadi, totalnya berapa?" tanyaku seraya mengangkat ponselku lalu memberikan padanya.


Alazka mengetik di ponselku dengan wajahnya yang ceria, sementara aku masih menunggu ponselku kembali padanya.


Grep!


Setelah ponselku berada di tanganku, aku melihat nilai rupiah yang ia minta Rp. 500.000.000.00,-


"Boss, gue bakalan bagi ke tukangnya sekitar 10 juta lebih dan sisanya untuk gue dan orang yang merakit remote controlnya. Terima kasih banyak."


Setelah mengatakan hal yang demikian, Alazka melenggang berjalan keluar dari rumahku. Ah, benar-benar sekali dia.


Aku berjalan memasuki kamar dan mendapati Adnan yang tengah duduk di depan cermin sambil menatap nanar ke arah jendela.


"Ada apa?" tanyaku mendudukkan diri di bibir ranjang.


"Enggak, kepikiran aja sama perempuan berpayung itu dan tadi waktu aku mandi kelopak mata kiri aku terus berkedut-kedut" timpal Dara


"Itu hanya mitos, jangan terlalu percaya dengan hal yang seperti itu."


Aku mengambil ponsel Dara yang tergeletak di nakas lalu men-searching mengenai mata yang berkedut.


"Dalam dunia medis, kondisi mata kedutan disebut miokimia atau miokimia orbikularis. Ini adalah kondisi di mana kelopak mata bergerak sendiri, secara berulang dan tanpa disadari. Bagi sebagian orang, gejala mata berkedut hanya sebatas gerakan kelopak mata biasa. Namun pada beberapa kasus, gejala kedutan bisa berat hingga membuat mata menutup sendiri. Untuk durasinya, miokimia bisa dialami selama beberapa detik atau menit dan berlangsung sesekali saja. Meski durasinya sebentar per kejadian, itu bisa terulang selama beberapa minggu."


Aku membaca artikel yang tertera di sana.


"Ya sudah, nanti malam kita mau ke mana?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.


"Eh, gimana kalo kita ke tempat pameran. Kayaknya banyak barang-barang murah di sana," usulku dengan antusias.


"Ya udah, nanti kita pergi."


Aku tersenyum senang ketika Dara menerima ajakanku.


Selesai salat isya, aku memberikan setumpuk uang pada Bi Ima karena hari ini dia gajian. Aku memberinya 7 juta rupiah, karena kudengar dari Dara bahwa anaknya tengah demam. Jadi, aku memberikan 2 juta untuk bonusnya.


Malam ini, aku mengenakan kemeja hitam, celana jeans hitam, topi putih dan jas putih karena malam ini lumayan dingin.


Sementara Dara memakai baju kaos berwarna coklat lalu memakai celana kulot hitam dipadukan dengan jaket SUGA-BTS.


Bukan Dara yang membelinya, melainkan ini adalah ulah Cinta. Dia juga membelikan untuk Dara dengan bentuk yang sama.


Menurutku sih, tak apa. Tapi, malam ini gaya Dara terlihat tomboy. Bagiku tak masalah, kecuali dia memakai celana jeans. Memang tak kusarankan.


Dara memakaikan tas hitamnya bermerek GUCCI. Aku sudah lama membelikannya, menjadikan beberapa barang-barang mewah itu sebagian dari mahar kami dulu.


Tapi, Dara sangat jarang menggunakannya. Aku meletakkan dompetku, dompetnya, ponselku dan ponselnya ke dalam tas ranselnya yang ukuran kecil.


Dara tengah sibuk di depan cermin untuk merias alisnya menggunakan eyebrow. Walaupun hanya natural, tapi itu terlihat sangat cantik di mataku.


"Oh, iya kak. Nanti pulang dari sana kita ke swalayan. Ada yang harus dibeli."


Aku ber oh ria menanggapi usulannya. Aku terus memperhatikan gerak-geriknya. yang terlihat kesusahan menggunakan eyebrow itu. Terlalu sering ia hapus menggunakan tissue yang ia basahkan dengan baby oil.


Aku berjalan mendekatinya, mengambil alih kuas kecil yang ada di tangannya lalu mulai merangkai alis itu dengan sedemikian rupa.


"Jangan tanyakan bagaimana suamimu ini pintar dalam bidang bisnis dan masak. Suami tampanmu ini juga jago dalam make up wajah. Walaupun gak semuanyam Tapi, kalau dalam hal yang dasar-dasarnya, jadilah," cerocosku lalu membrush alisnya agar terlihat rapi.


Setelahnya aku memperlihatkan karyaku di depan cermin pada Dara. Wajahnya sangat antusias ketika alisnya terlukis dengan rapi.


"Lain kali, kalau kamu gak bisa gunain pensil alis. Kamu bisa pake eyebrow mascara punya kak."


"Ha?"


Aku menarik laci meja rias lalu memperlihatkan eyebrow mascara yang sering kugunakan saat pergi ke kantor.


Kalian boleh mengatai aku seorang banci yang bisa berdandan. Tapi, jaman sekarang penampilan adalah nomor satu.


*Jika kalian menggunakan eyebrow mascara, bulu alis kalian akan terlihat cetar. Bukan seperti pensil alis yang terlalu mengisi. Tapi, di bagian eyebrow mascara ini lebih menata bulu alis mata kalian rapi. Boleh menggunakan mascara biasa.*


"Sudah?" tanyaku menatap Dara yang memakai highlighter ke wajahnya.

__ADS_1


"Sebentar, mau ke toilet dulu."


Dara berjalan masuk ke dalam toilet, sementara aku keluar dari kamar sambil membawa tas milik Dara dan kunci mobilku.


Selalu saja begitu, kalau kami mau ke mana-mana toilet tak pernah lupa untuk diabsen. 'Kan bisa buang air di tempat lain. Di sana juga ada toilet umum.


"Ayo."


Aku menggandeng tangan Dara keluar dari rumah. Sebelumnya aku sudah mengirim pesan ke WhatsApp familiy group agar tak berkunjung ke rumahku karena kami tengah pergi.


"Sayang, tolong remote controlnya di ON, 'kan," pintaku saat kami telah keluar dari pekarangan rumah. Bi Ima juga tak ada di rumah, jadi rumah sekarang tidak ada orang.


Dara yang mengerti lalu melakukan hal yang kuperintahkan dan ia kembali memasukkan remote control tersebut ke dalam tasnya.


Kami pergi ke acara pameran festival makanan. Banyak sekali aneka makanan di sana, mulai dari khas Indonesia, Mandarin, Filiphina, Korea Selatan dan masih banyak lagi.


Kebetulan aku mendapatkan kabar dari Alazka. Papa, mama dan Cinta juga pergi ke acara tersebut.


***


"Ayo, turun."


Aku dan Dara keluar dari mobil lalu meminta pada Dara untuk memberikan ponselku dari dalam tasnya.


Ping!


Baru saja aku mengalihkan mode airplane ke mode biasa dan otomatis data seluler kuhidup.


Cinta Bobrok


[누나, 어디야? 도착 했니? 우리는 방금 걷기 시작했습니다.]


(Oppa, eodiya? Sochag haessni? Ulineun bang-geum geodgi sijaghaessseubnida.)


(Kak, kalian di mana? Sudah sampai kah? Kami baru mau jalan.)


"Siapa, kak?" tanya Dara yang berada di sampingku.


"Cinta, katanya mama sama papa mau pergi ke sini. Bareng sama kita," ujarku sambil merangkul bahunya.


Ping!


Cinta Bobrok


(Oppa, akka sinu-i Chaca-egedo sosig-eul jeonhaessseubnida. Geuneun ol su eobsdago malhaessgo naeil siheom-eulhaessdago malhaessda.)


(Kak, tadi aku juga kasih kabar ke adik ipar, Chaca. Katanya dia gak bisa ikut, besok ujian katanya.)


"Katanya dia udah kirim pesan ke Chaca untuk ikut juga sama mereka. Tapi, dia bilang gak bisa karena besok ada ujian sekolah," jelasku membaca pesan dari Cinta.


Grep!


Entah kenapa Dara tiba-tiba menarik tubuhku mendekat ke tubuhnya. Mataku terbelalak ketika kedua tangannya berada di pinggangku.


Cahaya remang-remang festival itu memantul ke wajahnya yang terlihat berkilau. Mata dark knight itu membuat jantungku berdegup sangat kencang.


Apalagi angin malam yang menerpa hijabnya sehingga membuatnya terlihat sangat lembut.


"Ah, itu tadi ada gerobak yang lewat."


Dapat kurasakan tangan itu ia lepas dengan perlahan di pinggangku. Tapi, jujur saja aku enggan beranjak di dekatnya. Dara sangat cantik malam ini.


Kelopak matanya berkedip menandakan ia sangat gugup dan salah tingkah padaku. Manik matanya bergerak tak tentu arah, aku pun bisa merasakan bahwa jantungnya juga berdengup dengan kencang.


"Jantung kamu baik-baik aja, 'kan?" tanyaku menggodanya sambil meletakkan kedua tanganku di sisi tubuhnya yang menempel di mobil Mercedes-Benz S-Class berwarna silver yang dulunya kubeli seharga 7,55 miliar.


"Kak, banyak orang. Ini di tempat umum."


Aku tersenyum smirk menatapnya yang sangat ketakutan. Bahkan, aku tak akan berbuat lebih apalagi jika di luar rumah. Aku juga tidak mau mereka mendapatkan tontonan gratis dari kami.


"Hei, di rumah saja bermesraannya!"


Aku menjauhkan diriku ketika mendengar suara teriakan mama. Aku menoleh ke arah mereka yang berjalan mendekati kami.

__ADS_1


"Kak, kalo lo gak tahan. Mending pulang aja deh," gertak Cinta.


Aku menjewer telinganya membuat ia kesakitan dan bahkan kakinya juga ikut benjinjit agar telinga mungilnya tidak terlepas dari kepalanya.


Pluk!


Aku melepaskan tanganku yang menjewernya ketika mendapat pukulan dari Dara di pergelangan tanganku.


Sementara Cinta mengadu kesakitan pada papa.


"Sudah-sudah, ayo kita nikmati festival ini. Beruntung kita mendapat undangan dari beliau. Pasti mereka menunggu kita di dalam."


Papa lebih dulu berjalan melenggang masuk ke dalam sebuah restoran yang mewah dan sangat besar.


Sementara aku dan Dara mengekori mereka dari belakang. Beberapa orang menawarkan minuman pada kami, tapi aku menolak karena minuman yang mereka pajangkan adalah minuman beralkohol dua puluh tiga persen.


"Haus," gumam Dara. Kami duduk di meja lalu aku mencari minuman yang tidak berbau alkohol untukku dan Dara.


"Minumlah," ujarku memberikan segelas sirup berwarna hijau padanya. Dara meneguk perlahan lalu ia letakkan gelas kaca gold padanya.


Mereka membuat acara tepat di tengah-tengah restoran ini, out door. Sehingga para tamu dapat menikmati dinginnya angin malam dan melihat betapa cerahnya malam ini dihiasi dengan lampu tumbler dengan berbagai motif.


"Eh, di sana ada spot foto. Mau foto-foto gak?" tawarku pada Dara.


"Gak ah, malu."


"Ngapain malu, sih. Semua orang juga tahu kali kalo kamu istri aku. Ayo, Cinta tolong fotokan kami di sana," tunjukku di mana ada spot foto menarik.


Cinta menganggukkan kepala setuju lalu kami membelakangi bunga berwarna merah muda yang dipajang ditambah dengan berbagai lampu di sana. Terlihat sangat romantis.


Aku membuka masker yang menutupi wajahku lalu kami mengambil pose tersenyum ke arah kamera ponsel milikku yang dipegang oleh Cinta.


Cekrek!


"Lagi."


Aku merengkuh pinggang Dara agar mendekat ke tubuhku sehingga mengikis jarak diantara kami. Dara mengambil pose tetap tersenyum ke arah kamera sementara tangan kirinya ia angkat dan jari telunjuk dan ibu jari mungilnya membentuk lambang love atau saranghae.


Sementara aku menatap wajahnya yang sangat cantik dan glowing.


Cekrek!


Aku mengambil posisi berdiri di belakang tubuh Dara memeluk pinggangnya posesif dan tersenyum ke arah kamera ponsel.


Di bagian ini, tidak terlalu banyak pengunjung yang berada di tempat kami. Tiba-tiba Cinta memberikan ponselku pada seorang pria yang membawa nampan.


"Tolong fotokan kami, ya," pinta Cinta yang diangguki pria itu.


Cinta berdiri di samping Dara dan kami mengambil pose tertawa dengan ceria sebagaimana kami sangat menikmati acara ini dengan sangat baik.


Cekrek!


Setelah dirasa cukup, kami menyudahi acara sesi foto dan kembali ke meja yang diduduki mama dan papa. Di sana sudah ditemani oleh seorang pria paruh baya yang memiliki perut buncit dengan tubuhnya yang gempal.


"Azlan kenalin ini teman papa namanya Jonathan. Jonathan, perkenalkan ini anakku dan ini menantuku."


Papa memperkenalkan aku, Cinta dan juga Adnan. Aku tersenyum padanya dan saat Pak Jonathan memberikan tangannya pada Dara, aku langsung menyambut tangannya.


"She is my wife," ujarku lalu mempersilahkannya duduk di kursinya begitu juga dengan Dara.


"Thank you Mr. Seok, Mrs. Silvia and family are pleased to come here. I am very happy, especially to be able to meet your child. He is completely different now, I was very surprised to see Azlan who is already tall and has a fit body. In the past, when I visited Seoul, he was a cute little boy," tutur Pak Jonathan melihatku sambil tertawa renyah.


Ya, dia salah satu teman papa. Tapi, dia adalah CEO operasi plastik dan sekarang ia membuka restoran ini untuk sang istri.


(Terima kasih Tuan Seok, Nyonya Silvia dan keluarga sudah berkenan hadir untuk datang kemari. Aku sangat bahagia, apalagi bisa berjumpa dengan anak Anda. Dia benar-benar berbeda sekarang, aku sangat terkejut melihat Azlan yang sudah tinggi dan memiliki tubuh yang bugar. Dulu, waktu aku berkunjung ke Seoul, dia masih kecil yang menggemaskan.)


"Everyone needs a change for the better than the past, Mr. Jonathan. In the past, I didn't know a woman and now I'm finding her and marrying her in the near future," jawabku seraya menggenggam tangan Dara dan meletakkan di atas pahaku.


(Semua orang pasti butuh perubahan untuk menjadi yang lebih baik dari yang lalu, Tuan Jonathan. Dulu, aku yang belum mengenal wanita dan sekarang aku menemukannya dan menikahinya dalam waktu dekat.)


Dulu, waktu aku masih kecil. Aku sudah dijodohkan oleh anak perempuan tunggalnya. Tapi, aku hanya diam dan tak mengindahkan ucapannya.


Tak lama, aku dipindahkan mama ke Indonesia dan hidup di sini. Tuan Jonathan tidak lagi berkunjung ke rumah kami kedua.

__ADS_1


Aku yang meminta mama agar kami pindah ke laur negeri dan kebetulan mama orang Indonesia. Jadi, kami berpisah dengan papa yang berjuang sendiri di Seoul.


"Now Rara is a big girl and she has also received her second degree. She is currently working in a well-known advertising model in South Korea. But, unfortunately she wasn't looking for a man who filled her heart. He is very persistent in pursuing his current career, even forgetting his rest time. I, as a present, also cannot prohibit him because this is the world and its time to enjoy his youth and let him pursue his career which is increasingly soaring."


__ADS_2