
(Kuharap, Bibi Dara dapat mengerti dengan keberadaanya sebagai seorang istri. Aku juga tahu bahwa Taeri sekarang lebih agresif ketimbang dulu karena Paman Azlan telah mendapatkan gadis yang ia taksir dan sekarang telah menjadi istrinya. Bahkan ia telah mengandung buah hati mereka. Azka sangat mengiginkan adik perempuan yang akan ia pacari. Cobaan Bibi Dara begitu berat, aku tak bisa menduganya. Tapi, aku percaya bahwa ia sekarang harus lebih kuat dan pantang menyerah menghadapi semuanya. Aku tak dapat melihat bagaimana kepahitan yang ia alami beberapa tahun lalu, tapi aku hanya bisa berdoa bahwa pelangi akan segera muncul setelah datangnya hujan badai. Aku percaya kata-kata Ibu. Walaupun aku tak mengerti dengan garis takdir manusia.)
"How did they get close to Azlan? Was it because Azlan had more wealth, throne and position than them?" tanya Dara memperbaiki posisi duduknya menyamping ke arah Ahyun.
"Right, aunt. They really want you to be in the family because they will spend and even take advantage of your uncle's wealth. But, uncle is a very generous person now. Auntie knew that my uncle was very quiet, lacked socialization and rarely smiled. At most he only smiled a little, because in the past he had fallen because he broke up with his lover. His girlfriend used to ask for about fifty million for shopping. In fact, his girlfriend didn't ask for that much, only twenty million, but honest uncle didn't mind. And in the end, his lover left him with the money he gave yesterday. He was devastated because he was going to buy his lover a ring for the money so they could get married. But, it didn't. Since then, my uncle has often been silent even though he did not leave his responsibilities as CEO or owner of his office. After that uncle was cheerful again after finding your aunt and wife, right?"
Ahyun tersenyum menatap Dara yang kini menundukkan kepalanya, malu.
(Bagaimana bisa mereka mendekati Azlan ? Apa karena Azlan mendapatkan harta, tahta dan kedudukan yang lebih daripada mereka?
Benar, bibi. Mereka sangat ingin paman berada di dalam keluarganya karena akan menghabiskan dan bahkan akan memanfaatkan kekayaan paman pastinya. Tapi, paman termasuk orang yang murah hati sekarang. Bibi tahu, bahwa dulu paman orangnya sangat pendiam, kurang sosialisasi dan jarang sekali tersenyum. Paling hanya tersenyum kecil, karwna dulu ia sempat terpuruk karena putus dengan kekasihnya. Kekasihnya dulu meminta uang sekitar lima puluh juta untuk belanja. Padahal, kekasihnya dulu tidak minta segitu, hanya dua puluh juta saja, tapi paman jujur tidak keberatan. Dan pada akhirnya, kekasihnya itu pergi meninggalkannya dengan uang yang ia beri kemarin. Dia sangat terpukul karena uang itu akan ia belikan kekasihnya cincin agar mereka segera menikah. Tapi, ternyata tidak. Semenjak itulah paman sering berdiam diri walaupun ia tak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai CEO atau pemilik kantornya. Setelahnya paman kembali ceria setelah menemukan bibi dan memperistrimu, bukan?)
"Aww you. By the way, do you have a boyfriend?" tanya Dara penasaran pada Ahyun.
(Kamu bisa aja. Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?)
Ahyun menggelengkan kepalanya.
"Why?"
"I don't know, aunt. I don't think I got the man I wanted."
"What kind of man do you want?" tanya Dara.
"I want a man who is already employed, even if he is not a CEO, director or well-known official. But, I really want a man who can understand my shortcomings. I'm anti-social, and mostly quiet. I prefer men who are honest, generous and what they are. What is certain is not as rude as father."
"What's wrong with your dad?"
"My father used to leave my mother, and God really loves me. He gave the man I now call father. She is very kind and I love her very much. Father used to always act harshly to mom and finally he left us with the young woman who used to be his girlfriend. I don't know how her life is now. Is he alive or dead."
(Entahlah, bibi. Kurasa aku belum mendapatkan pria yang kuinginkan.)
(Seperti apa pria yang kau inginkan?)
(Kenapa dengan ayahmu?)
(Ayahku dulu meninggalkan ibu, dan Tuhan sangat sanyang padaku. Dia memberikan lelaki yang kini kusebut ayah. Dia sangat baik dan aku sangat menyayanginya. Dulu ayah selalu bertindak kasar pada ibu dan akhirnya dia meninggalkan kami deni wanita muda yang dulu jadi pacarnya. Aku tak tahu bagaimana kehidupannya sekarang. Apakah dia masih hidup atau sudah mati.)
"But, if you may know, where did you go?"
"My father has died since I was in 4l. At that time he worked as a mason and the salary was decent. And finally, God took it #Gadis_Itu_Milikku
163
(Kuharap, Bibi Adnan dapat mengerti dengan keberadaanya sebagai seorang istri. Aku juga tahu bahwa Taeri sekarang lebih agresif ketimbang dulu karena Paman Reyndad telah mendapatkan gadis yang ia taksir dan sekarang telah menjadi istrinya. Bahkan ia telah mengandung buah hati mereka. Azka sangat mengiginkan adik perempuan yang akan ia pacari. Cobaan Bibi Adnan begitu berat, aku tak bisa menduganya. Tapi, aku percaya bahwa ia sekarang harus lebih kuat dan pantang menyerah menghadapi semuanya. Aku tak dapat melihat bagaimana kepahitan yang ia alami beberapa tahun lalu, tapi aku hanya bisa berdoa bahwa pelangi akan segera muncul setelah datangnya hujan badai. Aku percaya kata-kata Ibu. Walaupun aku tak mengerti dengan garis takdir manusia.)
"How did they get close to Rey? Was it because Rey had more wealth, throne and position than them?" tanya Adnan memperbaiki posisi duduknya menyamping ke arah Ahyun.
__ADS_1
"Right, aunt. They really want you to be in the family because they will spend and even take advantage of your uncle's wealth. But, uncle is a very generous person now. Auntie knew that my uncle was very quiet, lacked socialization and rarely smiled. At most he only smiled a little, because in the past he had fallen because he broke up with his lover. His girlfriend used to ask for about fifty million for shopping. In fact, his girlfriend didn't ask for that much, only twenty million, but honest uncle didn't mind. And in the end, his lover left him with the money he gave yesterday. He was devastated because he was going to buy his lover a ring for the money so they could get married. But, it didn't. Since then, my uncle has often been silent even though he did not leave his responsibilities as CEO or owner of his office. After that uncle was cheerful again after finding your aunt and wife, right?"
Ahyun tersenyum menatap Adnan yang kini menundukkan kepalanya, malu.
(Bagaimana bisa mereka mendekati Rey? Apa karena Rey mendapatkan harta, tahta dan kedudukan yang lebih daripada mereka?
Benar, bibi. Mereka sangat ingin paman berada di dalam keluarganya karena akan menghabiskan dan bahkan akan memanfaatkan kekayaan paman pastinya. Tapi, paman termasuk orang yang murah hati sekarang. Bibi tahu, bahwa dulu paman orangnya sangat pendiam, kurang sosialisasi dan jarang sekali tersenyum. Paling hanya tersenyum kecil, karwna dulu ia sempat terpuruk karena putus dengan kekasihnya. Kekasihnya dulu meminta uang sekitar lima puluh juta untuk belanja. Padahal, kekasihnya dulu tidak minta segitu, hanya dua puluh juta saja, tapi paman jujur tidak keberatan. Dan pada akhirnya, kekasihnya itu pergi meninggalkannya dengan uang yang ia beri kemarin. Dia sangat terpukul karena uang itu akan ia belikan kekasihnya cincin agar mereka segera menikah. Tapi, ternyata tidak. Semenjak itulah paman sering berdiam diri walaupun ia tak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai CEO atau pemilik kantornya. Setelahnya paman kembali ceria setelah menemukan bibi dan memperistrimu, bukan?)
"Aww you. By the way, do you have a boyfriend?" tanya Adnan penasaran pada Ahyun.
(Kamu bisa aja. Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?)
Ahyun menggelengkan kepalanya.
"Why?"
"I don't know, aunt. I don't think I got the man I wanted."
"What kind of man do you want?" tanya Adnan.
"I want a man who is already employed, even if he is not a CEO, director or well-known official. But, I really want a man who can understand my shortcomings. I'm anti-social, and mostly quiet. I prefer men who are honest, generous and what they are. What is certain is not as rude as father."
"What's wrong with your dad?"
"My father used to leave my mother, and God really loves me. He gave the man I now call father. She is very kind and I love her very much. Father used to always act harshly to mom and finally he left us with the young woman who used to be his girlfriend. I don't know how her life is now. Is he alive or dead."
(Entahlah, bibi. Kurasa aku belum mendapatkan pria yang kuinginkan.)
(Seperti apa pria yang kau inginkan?)
(Kenapa dengan ayahmu?)
(Ayahku dulu meninggalkan ibu, dan Tuhan sangat sanyang padaku. Dia memberikan lelaki yang kini kusebut ayah. Dia sangat baik dan aku sangat menyayanginya. Dulu ayah selalu bertindak kasar pada ibu dan akhirnya dia meninggalkan kami deni wanita muda yang dulu jadi pacarnya. Aku tak tahu bagaimana kehidupannya sekarang. Apakah dia masih hidup atau sudah mati.)
"But, if you may know, where did you go?"
"My father has died . At that time he worked as missionaris. And finally, God took , my mother had to work hard " jawab Dara.
(Tapi, kalau boleh tahu, ayah bibi ke mana?)
(Ayahku sudah meninggal. Waktu itu dia misionaris. Dan akhirnya, Tuhan mengambilnya lebih cepat , Ibuku harus banting tulang.
"Mian, I do not know. I'm sorry I made you grieve aunt. May he be calm there seeing the changed life of auntie."
"Thank you so much."
(Aku tidak tahu. Maafkan aku telah membuat bibi berduka. Semoga dia tenang di sana melihat kehidupan bibi yang sudah berubah.)
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Azlan menatap mereka dari kejauhan yang tengah berbicara entah apa. Azlan tersenyum melihat Ahyun dan Adnan kini sudah dekat, bahkan ini pertama kalinya Ahyun bertemu dengan istrinya.
Ahyun yang tinggal di Ilsan dan jarang untuk bisa berkunjung ke Indonesia di tempatnya karena jarak yang lumayan jauh dan kehidupan Ahyun yang terbilang sederhana.
Dulu waktu dijaman keluarga Ahyun kritis, Azlan hanya bisa mengirim uang senilai sepuluh juta won atau senilai seratus lima belas juta enam ratus lima puluh ribu rupiah.
Ya, menurutnya itu adalah gajinya selama 2 minggu bekerja. Jadi, Azlan harus mengorbankan demi keluarga ibunya.
"Paman, bawa aku ke sana. Aku ingin ke sana, paman!"
Lamunan Azlan buyar mendengar teriakan adik-adik perempuan Azka. Mereka menunjuk ke arah Azka yang telah duduk di atas pelampung angsa berwarna merah mudah yang ukurannya lebih jauh 5 kali lipat dari tubuhnya.
Azka telah jauh dari pandangan Azlan sehingga ia harus berlari ke arah pantai yang ukurannya lumayan dalam. Takut jika keponakannya khilaf dan dia masuk ke dalam air walaupun Azka pintar berenang.
KHei, jangan jauh-jauh mainnya. Kau bisa terjebak ombak nanti. Jika aku tak mendapatkan dirimu, ayahmu akan memberikanku hukuman."
"Ya, aku tahu. Tapi, aku bisa berenang paman. Aku sudah besar, kau tahu itu."
"Paman, kenapa Tante Dara tidak bermain bersama kita?" tanya Rara.
"Dia tidak bisa berenang. Mungkin saja dia takut ombak."
"Bawa saja paman," ajak mereka pada Azlan.
Azlan berlarian ke arah Dara tanpa Dara ketahui. Menarik tangan mungil itu dan Dara juga tidak tinggal diam, dia menarik tangan Ahyun juga dan mereka bermain air bersama Azka, Rara dan Sarah.
"Hei, jangan cipratin airnya terlalu banyak. Nanti bajuku basah," keluh Dara saat Azka mencipratkan air ke bajunya.
"Kemarilah sayang. Jangan di tepi situ, apa kamu tidak mau menikmati ombak pantainya."
Di saat itulah mereka tertawa lepas. Bahkan Azlan tak segan-segan menggendong tubuh mungilnya ala bridal style lalu membasahi punggung Dara dengan air.
Jarak Azlan dan keponakannya lumayan jauh karena ia ingin menikmati waktu berdua. Jadi, Ahyun yang mengawasi mereka.
"Kak, ini terlalu dalam. Kakak mau tenggelamin aku di pantai ini? Malu kak, banyak orang yang liatin kita," gerutu Adna seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kini Azlan melepaskan gendongan mereka dan Dara hampir saja tenggelam jika dia tak gesit menggantungkan diri ke tubuh Azlan tepatnya di leher pria itu.
Pandangan mereka bertemu.
"Aku tahu bahwa kamu pergi ke pantai ini hanya sekali ini. Aku tahu jika kamu menyukai pantai dan aku akan melakukan apapun yang membuatmu bisa merasakannya. Tapi, di sisi lain kamu juga harus bisa berenang agar tubuh kamu tumbuh. Tepatnya di bagian tinggi badan. Dan juga agar kehamilan kamu juga sehat, aku akan mengajarkannya untukmu. Jangan takut, aku akan menjagamu." Azlan berucap seraya menopang kedua kaki Dara yang tengah menggantung di pinggangnya. I graduated from elementary school. My mother had to work hard as a maid in a rich person's house even though the salary was not much," jawab Dara.
(Tapi, kalau boleh tahu, ayah bibi ke mana?)
"Mian, I do not know. I'm sorry I made you grieve aunt. May he be calm there seeing the changed life of auntie."
"Thank you so much."
__ADS_1
(Aku tidak tahu. Maafkan aku telah membuat bibi berduka. Semoga dia tenang di sana melihat kehidupan bibi yang sudah berubah.)
.