Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Caphter 26. Azlan Demam


__ADS_3

Pukul 21.00 WIB, Park Jong Ru membuka pintu kamar melihat keadaan Azlan yang masih berbaring di ranjang single dengan kedua matanya yang sudah terbuka.


"Pulanglah, istrimu sudah menunggu kedatanganmu," ucap Park Jong Ru. Azlan menoleh ke arah Park Jong Ru membuat air matanya jatuh tanpa permisi.


"Aku takut bertemu dengannya. Pasti dia marah dan kecewa menatap keadaanku yang seperti ini," ujar Azlan.


"Kalau kamu gak pulang, istrimu tambah kesal dibuatnya."


Akhirnya Azlan mengalah dan pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, ia mengendari mobil dengan lambat dengan air mata yang terus menetes.


Ia membuka kunci pintu rumah dan masuk tak lupa ia menguncinya kembali. Baru tadi pagi ia bermesraan dengan istrinya dan kini datang sebuah gelombang di mana membuat ia sangat marah.


Ceklek.


Azlan menatap seorang gadis yang tengah menunggu kehadirannya di atas ranjang dengan memainkan ponselnya.


Dars terkejut bukan main melihat keadaan Azlan dengan mata yang sembab, memerah dan penampilan yang acak-acakkan.


Azlanmembuang jasnya ke lantai lalu berjalan cepat ke arah Dara yang masih shock melihat keadaannya.


Cup.


Dars membulatkan matanya mendapati sebuah kecupan hangat dari sang suami. Bukan nafsu, melainkan Azlan ingin menghapus jejak Kang Yuri di bibirnya. Azlan melakukannya dengan kasar dan brutal. Ia menyudahi dengan memeluk Dara dan menangis di bahu sang istri.


"Kenapa kak?"


Tangisan Azlan malah menjadi-jadi. Dia tidak perduli dikatangan lelaki cengeng, atau apalah. Karena hatinya rusak oleh Kang Yuri.


"Tidak. Saya rindu ayah." Azlan menjawab pertanyaan Dara dengan segukan. Sementara Dara masih bingung dengan jawab Azlan.


"Jangan bohong."


"Saya mandi dulu." Azlan berjalan menuju kamar mandi. Ia menatap dirinya di pantulan cermin, perlahan ingatannya hilang setelah menghapus jejak Kang Yuri pada Dars . Ia membasuh wajahnya dengan air di wastafel lalu mulai membersihkan diri.


Setelah selesai, Azlan keluar dari kamar mandi membuat Dara langsung masuk ke dalam selimut. Azlan tersenyum melihat tingkahnya. Ia memakai pakaiannya di kamar lalu menyusul Dara di ranjang.

__ADS_1


Dara menyentuh rahang Azlan sambil menatapnya.


"Tidurlah, besok saya akan bekerja." Azlan menuntun Dara untuk berbaring dan menenggelamkan kepala gadis itu di dada bidangnya.


🐦🐦🐦


Pukul 02.00 dini hari, mata Azlan tidak bisa dipejamkan, Dara sudah tertidur dengan nyenyak di dada bidangnya. Azlan menatap gadis itu dan mulai melakukannya dengan lembut. Setelahnya mata Azlan mulai kantuk dan ia tertidur di bahu sang istri.


🐣🐣🐣


Pukul 5 pagi, Dara merasakan bahunya berat seperti menopang sesuatu.


"Argh." Dars membuka matanya dan mendapati kepala Azlan dan beberapa helai rambutnya menyentuh pipi Dara.


Dara meletakkan kepala Azlan di bantal, ia merasakan bahunya nyeri dan kesemutan dalam waktu bersamaan. Ia beranjak dari ranjang untuk menunaikan salat subuh karena Azlan tidak bisa di bangunkan. Mungkin karena matanya terlalu berat untuk digerakkan.


🦋🦋🦋🦋


Pagi ini, Dara melihat kulkas, ia mendapati sebuah daging sapi bagian paha, ia teringat waktu pertama kalinya ia sarapan di rumah mama mertua.


Dara mencium wangi masakannya dan meletakkan di mangkuk kaca.


"Wah, akhirnya jadi. Semoga rasanya memuaskan," gumamnya. Ia menatap pintu kamar, sepertinya Azlan belum juga bangun.Dara memutuskan untuk membangunkannya.


🐳🐳🐳


"Tidak bisanya dia seperti ini," monolognya melihat Azlan.


"Kak, kenapa gak bangun, sih? Ini udah pagi, tahu. Kakak ada meeting 'kan sekarang? Ayo. bangun," ucap Dara sedikit berteriak ketika melihat Azlan yang masih berbaring di dalam selimutnya dengan nyaman.


"Eugh." Hanya lenguhan kecil yang Dara terima sebagai sahutan membuat gadis itu gemas sendiri dan menarik begitu saja selimut yang membungkus tubuh sang suami.


"Jangan salahkan aku ya, kalau kakak terlambat. Aku ..."


Perkataan Dara terhenti ketika kedua mata gadis itu melihat ketingat sebiji jagung yang mulai membasahi kening paripurna Azlan

__ADS_1


Spontan Dara menyentuh dahinya membuatnya lebih terkejut lagi karena suhu tubuh Azlan meninggi.


"Astaga, kamu deman, Kak."


Tanpa menunggu jawaban sang empu, Dara meninggalkan kamarnya sebelum akhirnya kembali dengan sebuah baskom berisi air dan kain bersih di tangannya.


Dengan telaten, Dars mencelupkan kain tersebut ke dalam baskom yang berisi air memeraskan dan menempelkan kain tersebut di kening sang suami. Napasnya memburu sambil memanggil nama Dara.


Setelah Azlan diam dan napasnya teratur, Dara segera mengeringkan pakaiannya dan pakaian Azlan di belakang rumah. Sementara Bi Ima membereskan rumah. Setelahnya Dara kembali ke kamar dan melihat Azlan sedang memijat pelipisnya.


"Gimana badan kakak sekarang?" tanyanya seraya duduk di bibir ranjang.


"Cahaya matahari ini menyilaukan saya," jawab Azlan menatap jendela kamarnya. Dara membuka dengan sengaja tirai jendela kamar agar ia segera pulih. Punggung tangannya ia tempelkan di kening Azlan suhu tubuhnya masih sama.


Dara berjalan keluar kamar berpapasan dengan Bi Ima memberinya semangkuk bubur dan segelas susu putih di atas nampan.


"Makasih, bi." Dara berucap sambil tersenyum sementara Bi Ima menganggukkan kepala dan kembali bekerja. Dara masuk ke dalam kamar lalu menyuapi Azlan dengan bubur ayam yang dibuatkan Bi Ima untuknya.


Awalnya Azlan menolak, tapi Dara memberinya tatapan tajam sehingga Azlan luluh dan akhirnya ia menerima suapan demi suapan dari tangan mungil Dara hingga suapan terakhir dan ditutupi dengan segelas susu.


Dara juga membersihkan tubuh Azlan menggunakan kain basah karena Azlan yang menyuruhnya. Azlan merasakan tangan itu bergetar saat kain basah itu menyentuh permukaan kulit punggungnya.


"Bukannya kamu udah melakukannya, kenapa masih gemetaran gitu?" Azlan melirik ke arah Dara . Dara hanya diam lalu menarik napasnya dalam-dalam dan mulai membersihkan tubuh bagian atas, leher, wajah dan tangan Azlan.


Azlan menatap wajah Dara yang sedang membersihkan lengannya sambil memegang pergelangan tangan Azlan . Dingin,itulah yang Azlan rasakan.


"Finish." Dars memberikan baju kaos oblong pada Azlan lalu ia meletakkan baskom ke dapur dan kembali ke kamar.


"Hari ini saya gak akan ke kantor."


"Iya, gak apa-apa. Kakak pulihkan dulu demamnya."


Azlan menganggukkan kepala menyetujui saran dari sang istri. Ia menepuk ranjang di sebelah kanannya dan menarik tangan Dara membuat gadis itu bersandar di punggung ranjang. Sementara Azlan Memeluk pinggang ramping Dara lalu kembali terlelap di dalam pelukan Dara.


Tubuh Adnan menegang mendapat perlakuan seperti itu dari Reyndad dan lama kelamaan ia kembali santai dan mengelus surai hitam Reyndad yang hampir menutupi matanya.

__ADS_1


Azlan tak memotong rambutnya semenjak ia menikahi gadis pujaannya itu, entah apa yang ada di pikiran pria tersebut. yang jelas ia ingin terlihat manly dan berkharisma di depan Dara agar gadis itu tak berpaling padanya.


__ADS_2