
Tumben Jong Ru pergi liburan ke luar negeri. Tak biasanya dia seperti ini, pikirku.
Tak lama, Jong Ru mematikan ponselnya ketika seorang wanita memanggil namanya. Seperti suara yang tak asing bagiku.
"Mungkin Jong Ru mencari gadis di California untuk ia jadikan istri," gumamku seraya meletakkan ponsel di nakas lalu keluar dari kamar.
Terlihat mama sedang duduk sendirian di meja makan sambil meneguk teh hijau di cangkirnya.
"Bissan mulgeon-eul saji ma, wae susib-eog dalleoga deuneun chaleul sa gess-eo?!" bentak mama padaku.
*Jangan beli barang yang mahal, untuk apa kamu beli mobil yang harganya miliaran itu?!*
Aku cukup terkejut dengan ucapan mama.
"Eomma, beolsseo ilhago iss-eoyo. beolsseo seuseulo don-eul beol su issseubnida," ucapku berjalan menuju kulkas.
*Ma, aku udah kerja. Udah bisa menghasilkan uang sendiri, itu hakku, ma.*
"Dara -eul dasi gajyeool su eobsdamyeon geugeos-eun dangsin-ege dallyeo issseubnida. Dangsin-eun bulangjaga doel junbileulhasibsio."
Mama berlalu meninggalkanku.
*Terserahmu, kalau kau tak bisa membawa Dara pulanng. Siap-siap kau akan menjadi gelandangan*
Aku mendengus kesal seraya meneguk air dingin yang membasahi tenggorokanku.
***
Keesokan harinya, aku ke kantor bersama papa. Kami satu mobil yang baru saja kubeli. Papa tak seperti mama yang selalu saja protes tentang apa yang kubeli atau kulakukan.
"Hwan-yeonghabnida, Mr. Azlan" sapa mereka padaku sambil menundukkan badan.
Aku menganggukkan kepala seraya mengikuti papa dari belakang.
"Joh-eun achim Seok ssi, oneul-eun hoesa jusig-e daehan hoeuiga issseubnida," ucap seorang wanita yang memasuki ruangan papa.
Aku meliriknya sekilas, wanita memang seperti ini ketika melihat lelaki tampan.
"Annyeonghaseyo seonsaengnim," sapanya padaku.
Aku tersenyum tipis menanggapi sapaannya lalu berjalan menuju jendela.
Terdengar suara sepatu hak tinggi itu berjalan keluar dari ruangan tanpa kupandangi.
"Pa, kalo bisa. Pekerja wanita jangan menggunakan rok yang terlalu mini," ucapku.
"Kamu bisa aja," ujar papa yang diselingi dengan kekehannya.
"Neomu yeoggyeowo," umpatku.
*Sangat menjijikkan.*
"Oh, iya. Hari ini kami akan rapat di restoran. Kamu ikut dengan papa."
"Aku mau tidur saja."
"Jangan membantah, Azlan."
Aku memicingkan mata ketika papa tak memberiku ruang untuk sendiri. Aku ke sini untuk liburan, tapi kenapa mereka belum cuti juga.
"Ye."
Aku menyetujui ajakannya.
Pukul 11.00 KST, kami berjalan memasuki restoran berbintang yang ada di kota Seoul. Di sana, sudah ada beberapa wanita dan pria yang menunggu kedatangan kami.
"Mian haeyo olae gidalyeoss-eoyo," ucap papa seraya duduk di kursi.
*Maaf, sudah menunggu lama.*
"Gwaenchanh-a, jeongsang-iya. Jung-yohan salamdeul-eun jasin-ui illo bappeugo igeos-eul hal sigan-i eobs-seubnida," ucap wanita itu.
*Tak apa, itu biasa. Orang penting selaku sibuk dengan pekerjaannya dan tak ada waktu untuk melakukan hal ini.*
Wanita paruh baya itu melirik ke arahku.
"Omo, ige nuguya?" tanyanya.
*Astaga, ini siapa?*
"Sogaehabnida, Azlan. Seok-ibnida. Geuneun cheos beonjjae ai," ucap papa memperkenalkanku pada mereka.
__ADS_1
*Perkenalkan, ini Azlan. Seok. Dia anak pertama.*
"Annyeonghaseyo," sapaku pada mereka.
"Geuneun jal saeng-gin-ibnida. neocheoleom."
*Dia tampan, sepertimu.*
"Ah, gomawo."
*Ah, terima kasih."
"Geuleom hoeuileul sijaghabsida," sambung papa.
*Kalo begitu, ayo kita mulai rapatnya.*
Selama mereka menceritakan mengenai kerja sama antaragensi, aku hanya diam seraya meneguk minuman yang ada di depanku.
Perempuan di samping wanita paruh baya itu selalu saja menatapku hingga aku risih sendiri.
"Appa, jega meonjeo hwajangsil-e gal geyo," pamitku berjalan ke belakang restoran untuk mencari kamar mandi.
"Dasar perempuan. Papa lama banget sih rapatnya," cercaku seraya membersihkan wajah di wastafel.
***
3 jam kemudian, rapat telah selesai. Aku dan papa berdiri hendak berpamitan.
"Eonjenga nae jib-eulo aileul deligo gasibsio."
*Kapan-kapan bawalah anakmu main ke rumahku.*
Papa tersenyum menanggapi ucapan wanita paruh baya itu.
"A, jigeum jeongmal bappayo. Nol sigan-i eobsda," kata papa dengan ramahnya.
*Ah, dia sangat sibuk sekarang. Tak ada waktu untuk bermain.*
Kami segera pamit keluar dati restoran.
***
Di mobil, aku mengendarai mobil dengan tenang. Tapi, di kepalaku selalu terpikir tentang Dara.
"Ani," jawabku.
*Belum.*
"Jangan mudah menyerah, nak. Kalo kalian berjodoh, pasti akan kembali lagi."
"Iya, pa."
Aku memasukkan mobil ke dalam garasi rumah. Kami berjalan memasuki rumah.
"Sudah pulang?" sahut mama yang menyiapkan makan malam.
"Iya, tadi direktur J Entertaiment mengajak kami rapat di restoran mahal. Dia selalu melirik ke arah Azlan dan terakhir dia mengajak Azlan untuk berkunjung ke rumahnya," ucap papa saat aku menaiki anak tangga.
Ceklek!
Aku menutup pintu kamar tak lupa menguncinya dari dalam.
"Meog-eoss-eo, jagi?"
"Nal geuliwohaji anhni?"
*Apa kau sudah makan, sayang?*
*Apa kau tak merindukanku?*
Aku mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi yang sudah disiapkan mama air hangat di dalam bathup.
Dulu Dara selalu menyiapkan ini untukku.
"Aku juga memakai pasta gigimu, sayang."
Aku mengambil pasta gigi milik Dara yang dulu ia beli 5 buah.
Setelah selesai membersihkan tubuh, aku mengacak Cinta untuk makan malam ke restoran.
"Kajja," sahutnya.
__ADS_1
Kami masuk ke dalam mobil lalu menancap gas menuju restoran 'Coffeebay'.
"Oppa, mueos-eul jumun hasigessseubnikka?" tanya Cinta seraya melihat menu makanan di depannya.
*Kak, mau pesan apa?*
"Gyesoghae."
*Samain aja.*
"Samchon, ulineun amelikano, ge ballado, chikin seupeu, sogalbi, chokollisgwa banillaui dalkomhan dijeoteuleul jumunhaessseubnida."
Cinta membaca menu yang ia minta lalu lelaki itu menulis pesanan Cinta.
*Paman, kami pesan americano, kepiting balado, sup ayam, iga sapi dan dessert manis rasa coklat dan vanila.*
"Algessseubnida. Jamsiman gidalyeojuseyo."
*Oke, mohon tunggu sebentar, ya.*
Lelaki itu pergi meninggalkan kami.
"Wah, ternyata ada WiFi gratis juga," seru Cinta.
Aku menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang kelewatan lebay.
Tak lama, makanan kami datang.
"Gomawo."
"Ayo, di makan. Kakak yang bayar, ya?" pinta Cinta.
Aku hanya berdehem pelan menikmati iga sapi sebelum menikmati semua makanan yang dipesan Cinta.
Setelah selesai, aku membayarnya dan kami kembali berjalan-jalan menuju mall kata Cinta, perawatan wajahnya habis jadi ia harus membelinya ke mall.
Sesampainya di sana, bukannya ia mencari skincare malah masuk ke toko make up.
Cinta mengambil beberapa merek lip gloss, lib blam dan eyeliner.
"Ayo."
Cinta berjalan mendahuluiku menuju kasir. Dia membayarnya sendiri lalu kami masuk ke toko skincare.
"Wah, ada yang baru!" serunya saat melihat rentetan sheet mask yang lucu.
"Pilih sesuai wajahmu," ucapku ketika ia melihat macam-macam varian.
Sementara aku mencari facial wash, parfum dan sleep mask.
"Sudah?" tanyaku ketika aku selesai membayar belanjaanku.
"Sebentar."
Kulihat Cinta banyak mengambil produk di sana. Apa dia memborongnya? Pikirku.
'Tak apalah, kalo pake uang dia. Asal jangan dengan uangku,' batinku.
Di rumah, aku menghidupkan musik sambil menancapkan headset ke telingaku.
Setiap helaan napas, aku selalu memikirkan tentang Dara . Bagaimanapun, dia adalah istriku dan dulu ia tengah mengandung buah hati kami.
Aku tak tahu keberadaannya.
Aku mengetik pesan ke Jong Ru bahwa aku akan mengunjunginya ke California untuk menghilangkan suntuk.
3 menit yang lalu ia online di Line.
"Ah, telat lagi. Pasti lama dilihatnya," gumamku seraya membanting ponsel ke ranjang.
Apa dia sudah tidur sekarang? Apa dia sudah makan malam? Apa dia sedang berkencan dengan pria lain selain diriku? Apa pria itu lebih kaya dariku?
Pertanyaan itu selalu memenuhi pikiranku.
***
Ada kata-kata pedas buat Dara ?
Ada kata-kata pedas buat Azlan ?
Ada kata-kata pedas buat Jong Ru?
__ADS_1
Atau sebaliknya?
Ada kata-kata pedas buat saya?