Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 85.Canduku


__ADS_3

Aku memeluk erat pinggang Dara seolah tak ada hari esok untuk aku bisa seperti ini lagi bersamanya.


Menghirup aroma rambut dan tubuhnya membuatku candu. Lambat laun jendela mulai dibasahi oleh tetesan air hujan yang dalam hitungan detik menjadi sangat deras.


Aku menarik selimut sampai leher untuk menutupi tubuh kami agar tidak kedinginan.


Gorden kamar berkibar-kibar karena tiupan angin malam yang menerobos fentilasi kamarku.


Tap!


Lampu seketika mati total, membuat Dara terkejut bukan main. Aku melepaskan kedua tanganku yang berada di pinggangnya lalu mengambil emergancy yang kuletakkan di laci nakas.


Tap!


Aku menekan tombol yang berada di belakang emergancy berukuran dua buah telapak tanganku berwarna kuning, lalu kuletakkan di samping tubuh Dara.


"Sudah, ayo tidur."


Aku kembali merebahkan tubuhku di sampingnya lalu kembali memeluk erat tubuh mungil itu.


Cup!


Cup!


Cup!


Cup!


Cup!


Aku mengecup keningnya, kedua matanya, pipinya, hidungnya, bibirnya dan mengecup bahunya yang dibaluti piyama tidur yang ia kenakan.


Tangan kiriku menggenggam tangan kirinya yang sedikit bergetar, mungkin karena lampu mati membuatnya sedikit ketakutan.


Aku mengelus jemarinya lembut sampai ia terlelap dan aku bisa mendengar dengkuran halus.


Aku mulai menutup mata untuk menyapa bunga tidur kami.


****


Pagi ini, aku melihat Dara keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah. Apa dia sudah suci? Pikirku.


Aku mendudukkan diri di atas ranjang sambil mengucek mataku lalu Dara tersenyum padaku sebelum akhirnya ia membuka almari pakaian dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai bajunya.


"Ayo, salat subuh," ajakku yang diangguki olehnya sebagai jawaban ia menerima ajakanku.


Aku berjalan menuju kamar mandi dengan keadaan wajah, dan mataku yang sembab lalu mengambil air wudu dan menunaikan kewajiban kami.


Sarapan pagi ini, Dara sedikit terburu-buru membuatku sedikit tidak fokus pada layar komputer.


"Apa yang dia lakukan jam 5 ini?"


Aku beranjak dari kamar menuju dapur. Kulihat Dara tengah mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.


Aroma sedap membuat perutku keroncongan dan menimbulkan suara aneh.


"Kamu masak apa, honey?"


Aku melihatnya sambil duduk di meja makan.


"Sup daging. Biar kakak semangat kerjanya."

__ADS_1


Aku tersenyum gemas melihatnya yang memakai celemek Hello Kitty melekat di tubuhnya.


Apalagi dengan postur tubuhnya yang kecil, rambut yang ia ikat sembarangan dan memakai baju santai bergambar One Piece.


Benar-benar menggemaskan.


"Kakak selesaikan aja dulu kerjanya, nanti kalo udah siap aku teriakin."


"Panggil aja sayang, gak usah teriak-teriak gitu. Apa nanti kata tetangga?"


Aku kembali meninggalkannya di dapur. Kebetulan Bi Ima belum datang karena hari masih gelap. Beliau juga pasti melakukan hal yang sama dengan Dara.


Sampai di kamar, aku melihat ponselku menyala. Aku berjalan cepat menuju meja kerja lalu meraih benda pipih itu.


Manager Alazka


[Bos, saya sarapan di rumah lo, ya? Malas masak soalnya.]


Aku mengembuskan napas kasar lalu membalas pesan dari Alaska yang katanya mau sarapan di rumahku. Bukannya dia ada pembantu di rumah? Inilah sebabnya kelamaan melajang.


[Hm.]


Send!


Aku mengirim pesan padanya lalu mengganti mode ponselku yang tadinya bergetar menjadi airplane mode.


Aku kembali mempacari komputerku tiga puluh dua menit untuk melihat kekurangan yang harus kuperbaiki nantinya.


"Kak! Ayo, sarapan."


Aku mendengar suara teriakan Dara dari bawah. Segera kumatikan komputer 'Shut down' dan berjalan ke arah ranjang dan meja rias untuk mengambil jas ku yang telah disiapkan Dara dan melihat penampilanku di cermin.


Tap!


Tok ... tok ... tok ....


Saat aku ingin menginjakkan kakiku di tangga terakhir, suara ketukan pintu membuat niatku yang tadinya menyusul Darake dapur. Sekarang harus berjalan menuju pintu utama.


Ceklek!


Alazka.


"Hai, boss."


"Masuk."


Aku membuka pintu lebar-lebar lalu menyuruhnya duduk di ruang tamu.


Aku berjalan dengan tergesa-gesa ke dapur untuk menemui Dara yang tengah menata piring di meja makan.


"Alazka sudah di sini, sayang. Kamu pake jilbab biar kakak yang urus ini semua."


Aku menarik tangannya menuju tangga dan kembali menghampiri Alazka untuk segera ke dapur.


"Mana bidadari lu?" tanyanya.


"Di kamar," jawabku seraya meletakkan jas dan lainnya di meja makan dan mengambil piring dan gelas.


"Wah, sarapan pagi lo rendang? Pantut lah kerjaannya mau pulang mulu."


Aku memutar bola mata malas ketika Alazka kembali mengejekku.

__ADS_1


"Eh."


Kami menoleh ke arah Dara yang mungkin saja terkejut dengan kehadiran Alazka.


"Selamat pagi," sapa Dara pada Alazka.


"Pagi juga, Bu Boss."


"Ayo, kita sarapan."


Aku mendudukkan diri di kursi lalu Dara berjalan ke arah kami dan duduk di sampingku.


"Reyn, nanti kita ada rapat dengan pejabat luar negeri. Katanya dia mau kerja sama dengan kita dan gimana pendapat lo?"


Aku melirik ke arah Alazka yang tengah menyampaikan sesuatu saat aku mengunyah daging sapi buatan Dara.


"Baguslah, ternyata ada ya pejabat luar negeri yang mau kerja sama dengan kita. Jam berapa kita ketemu?" tanyaku.


"Sekitar jam 10 nanti."


Aku menganggukkan kepala mengerti lalu menyeduh air hangat yang sudah disediakan Dara di gelas.


Setelah selesai, aku dan Alazka berpamitan untuk pergi ke kantor.


"Hati-hati di rumah, ya. Kalo ada apa-apa telfon kakak. Jangan selesaikan masalahnya sendiri aja. Pintu sama jendela jangan dibuka, kunci aja walaupun nanti Bi Ima ada. Jangan sampe keluar dari kawasan rumah," oceh ku.


"Siap Pak Azlan."


Dara meletakkan tangan kanannya di pelipisnya memberi hormat padaku.


"Dengarkan apa kata komandan, tuan putri."


Aku mengelus kepalanya yang dibaluti hijab berwarna tuxedo, mengecup kening dan bibirnya lalu mengucapkan salam sebelum aku meninggalkannya.


"Assalamualaikum."


Aku melambaikan tangan ke arah Adnan.


"Wa alaikum salam. Hati-hati."


Aku tersenyum lalu berjalan menuju pintu utama. Kulihat dari luar Alazka sudah menungguku di mobilnya.


Aku membuka garasi mobil lalu mengeluarkan mobil baru yang dibelikan papa sebagai hadiah untuk kami.


Sebenarnya aku ingin mobil ini untuk Dara. Tapi, karena dia tidak bisa menyetir, aku yang harus menggunakan mobil ini dan jika ada waktu, aku akan mengajarinya memakai mobil biasa.


Aku menancap gas ketika Alazka lebih dulu keluar dan membuak gerbang.


"Biar bibi aja, tuan."


Aku tersenyum dan kembali masuk ke dalam mobil dan kami benar-benar meninggalkan pekarangan rumah.


Tesla yang dipakai oleh Azlan itu Tesla Roadster.


***


Sampai di parkiran, aku memarkirkan mobil ini di tempan bisa.


****


Mohon yang baca jika kalian sudah memiliki KTP ya

__ADS_1


Sorry for typo 🙏


__ADS_2