Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 42. Tertangkapnya Angel dan Aksi Kang Yuri


__ADS_3

POV Azlan


"Ada pencuri yang mau membobol jendela di ruang televisi," jawabku seraya membuka lemari dan menyimpan benda tersebut di laci.


"Kakak, sejak kapan kakak simpan pistol itu?"


"Hanya sekedar berjaga-jaga saja."


Aku mengambil ponsel di nakas untuk menelfon Jong Ru.


Dia tidak mengangkat panggilanku, aku memilih untuk mengirim pesan padanya bahwa ada dua orang pencuri di rumahku.


[10 menit yang lalu, aku melihat dua orang pencuri yang mau membobol jendela di ruang televisi, tapi aku sudah menuntaskan mereka dan sekarang tengah sekarat di samping halaman.]


Send.


Aku meletakkan ponsel di nakas dan kembali berbaring di ranjang.


"Biar itu menjadi urusan Jong Ru, sepupu laki-laki jauh," ucapku. Aku menarik Dar agar segera berbaring dan melupakan kejadian ini.


Keesokan Harinya


Pagi hari, Bi Ima sangat terkejut dan berteriak histeris ketika ia melihat dua orang yang sudah sekarat di sana.


"Biarkan saja bi, itu saya yang menembaki mereka. Nanti ada seorang pria yang menuntaskannya," jawabku.


Ping!


Aku merongoh saku celana dan melihat pesan dari Jong Ru.


[Aku sudah sampai.]


Aku berjalan menuju pintu utama dan melihat Jong Ru beserta 5 orang polisi yang berada di belakang mereka.


"Ayo, ikuti saya." Aku berjalan keluar rumah menuju bagian samping rumah.


"Pak, saya minta hukum mati mereka. Jangan biarkan mereka hidup," ucapku. Mereka membuka topeng yang membungkus wajah itu. Ternyata dia adalah buronan dari para polisi itu.


"Kami menerima permintaan Anda, Tuan Azlan"


Mereka membopong kedua pria tersebut yang sudah bersimba darah. Aku juga mencium bau amis di sini.


"Bisa ceritakan kejadiannya seperti apa?" pinta Ru. Aku mulai menceritakan kejadian awal aku terbangun pukul dua dan insiden aku menembaki mereka.


"Apa istrimu tahu tentang pistol itu?"


Aku menganggukkan kepala.


"Kamu mau sarapan di sini?" ajakku.


"Tidak perlu, aku masih banyak urusan." Jong Ru berjalan menuju mobilnya.


"Jong Ru," panggilku membuat langkah terhenti. Aku berlari menghampirinya dan meminta bantuan mengenai Angel. Ia siap membantuku dan memberikan info beberapa hari kedepan.


***


Selesai sarapan, aku berpamitan pada Bi Ima dan Dara agar mereka mengunci pintu rumah dengan rapat.


***


Di Kantor


Sampai di kantor, aku menyuruh seluruh karyawan untuk segera datang ke lantai 7 di mana itu adalah ruangan khusus untuk staff dan karyawan.


"Jika kalian berani melakukan seperti Michelle Angel, saya tidak sungkan memasukkan nama dan data diri kalian ke daftar hitam. Kalian tidak bisa di mencari pekerjaan di kantor mana pun. Gaji kalian terpotong 45%," terangku.


"Baik, pak."


"Ya sudah, kembali bekerja." Aku berjalan keluar ruangan menuju lantai 11 menggunakan lift.

__ADS_1


***


Di rumah


Pukul 20.00, aku kembali ke rumah dengan wajah lesu dan letih.


"Aku siapin air hangat dulu." Dara berlalu meninggalkanku sambil membawa jasku.


5 menit kemudian, ia kembali dan menyuruhku lekas mandi.


Setelah selesai, aku meminta Dara untuk memijat lengan dan bahuku karena terasa sangat pegal. Walaupun Dara memang tak lihai dalam memijat, tapi setidaknya bisa membuat otot-ototku pulih.


"Selesai," serunya lalu menutup minyak angin dan meletakkannya kembali ke meja rias.


"Ayo, makan malam. Hari ini aku buat donat kentang," ajak Dara dengan senyumannya.


Aku menahan pergelangan tangannya yang hendak menarik tanganku. Ia menatapku dengan tanda tanya.


Grep.


Aku merengkuh tubuh mungilnya ke dalam dekapanku. Menghirup aroma rambut dan tubuhnya yang membuatku tenang.


"Hari ini banyak banget kendala di kantor. Tetaplah seperti ini," bisikku seraya memejamkan mata.


"Aku lapar, kak," desisnya, aku segera melepaskan pelukanku dan membawanya keluar dari kamar.


Dara meletakkan hidangan makan malam di atas meja, ia menuangkan segelas air putih di gelasku.


"Kamu duduk aja, biar kakak yang ambil lauk pauknya." Aku menahan tangannya yang hendak berjalan mendekatiku.


Kami menikmati makan malam ini. Aku tak banyak mengambil nasi karena nantinya aku akan mencicipi donat kentang buatan istri mungilku.


"Hm, kamu ternyata jago juga ya." Aku berkata saat menikmati donat kentang yang ditaburi tepung gula.


"Heheh, gimana enak?" tanyanya.


"Manis, kayak kamu."


Dara membawa donat yang ada di piring tersebut ke meja televisi. Sambil menonton acara reality show, mulutku juga ikut bergerak mengunyah kue buatan Adnan.


***


Setelahnya kami berisitirahat untuk mengumpulkan tenaga esok hari.


***


Pagi Harinya


Paginya, aku mengantar Dara menuju rumah ibunya karena ia sangat merindukan wanita itu. Kami sempat berbelanja makanan ringat untuk Chaca dan aku mengantarkannya berangkat sekolah.


"Sekolah yang benar, ya. Jangan nakal," ucapku saat dia mencium tanganku dan keluar dari mobil.


Aku menancap gas menuju kantor.


***


Di kantor


Sesampainya di kantor, Alazka menyuruhku segera ke ruangannya. Karena ada seseorang yang tengah menungguku.


Ceklek.


"Wah, ternyata kalian sudah mendapatkannya dengan sangat cepat," ujarku ketika melihat Angel yang diikat ke kursi yang ia duduki.


Mata dan mulutnya tertutup dengan kain, sementara kaki dan tangannya diikat dengan tali dan kain.


Srek!


Salah satu anak buahku menyentak kasar kain yang menutupi mulutnya.

__ADS_1


"Katakan pada saya, apa maksud kamu mengambil saham-saham itu?" tanya Alazka.


"Untuk kehidupanku, apa lagi?!" jawabnya sinis.


"Kembalikan uang itu," pintaku.


"Uang itu sudah habis."


Prang!


Aku membanting gelas yang berisi air mineral ke tubuhnya sehingga beberapa pecahan beling itu menancap di pergelangan kakinya.


"Ah ... sakit!" teriaknya.


"Itu baru permulaan, kau tak tahu bagaimana susahnya kami mendapatkan uang miliaran itu!" gertak Alazka.


"Apa yang kau belikan dengan uang itu?" tanyanya lagi.


"Foya-foya, beli apartemen, banyak lagi," jawabnya seraya menahan perih.


Ingin rasanya aku membunuh gadis itu, tapi ada rasa iba di hatiku. Bagaimana pun dia manusia.


"Bawa dia ke kantor polisi. Pastikan dia mendapatkan hukuman yang lebih berat, jika perlu hukum gantung."


Aku keluar dari ruangan Alazka menuju ruanganku. Pikiranku berkecamuk.


***


PoV Author


Saat ini, Dara dan bunda Fisya tengah membuat kue pie melalui ponsel milik Dara . Mereka membuatnya sambil menceritakan bagaimana kehidupan Dara dan calon cucu untuk bunda Fisya


"Yang penting, kamu jaga kesehatan kamu. Jangan ditahan nafsu makan kamu, banyakin minum susu. Lebih dari dua kali sehari juga gak apa-apa," terang bunda Fisya saat mereka mulai memasukkan adonan ke dalam microwave.


"Kamu tahu, semenjak kita sudah punya kulkas, Chaca sering banget minta dibuatin es krim. Dia juga kasih tutorialnya sama bunda Jadi, bunda bisa jajahin es krimnya walau di rumah."


"Malah bagus dong, bu. Jadi, ibu ada kesibukan lain," jawab Dara.


"Yah, tepungnya habis. Mentega sama gula tinggal sedikit. Rencananya ibu mau buat bolu pandan."


"Ya udah, biar Dara beli ke Indomaret aja."


"Jangan sayang."


"Gak apa-apa, bu. Mana kunci motornya?"


Bunda Fisya memberikan kunci motor matic yang sering Dara bawa dulu di kamarnya. Dara melenggang keluar rumah sambil memasukkan dompetnya ke dalam jok motornya.


"Pergi dulu, bu."


Ia menancap gas keluar dari kompleks perumahan menuju jalan raya. Karena di permukiman rumahnya tidak ada swalayan kecil seperti Indomaret, Alfamart atau Alfamidi.


Sesampainya di sana, ia berjalan masuk sambil menggenggam dompetnya. Ia berjalan membawa troli untuk memudahkannya membawa barang-barang itu nanti.


Ia tak sengaja bertemu dengan Kang Yuri saat ia memilih sabun cuci piring dan sabun mandi di rak khusus.


Kang Yuri yang menatap keberadaan seorang perempuan yang pernah bertemu di arena bermain mall tersebut terkejut.


Apa lagi melihat perut Dara yang sedikit membesar, bentuk tubuhnya juga ada perubahan 10 persen dari awal ia bertemu.


"Apa kau sangat senang sekarang? Merampas Azlan dariku."


Langkah Dara terhenti saat ia berusaha menghindari dan menjauh dari Kang Yuri. Tapi, dengan ucapannya tadi membuat ia sedikit emosi


"Apa? Merampas? Aku tidak merampasnya. Kau saja yang kegeeran," ucap Dara lalu mendorong trolinya ke rak di mana ada makanan ringan.


Kang Yuri segera menghampirinya dan menatap Dara sinis.


"Ternyata kau dari keluarga miskin juga. Apa kau sadar diri dengan level mu? Azlan itu CEO, sementara kau hanya perempuan lulusan S1."

__ADS_1


Kang Yuri sempat mencari-cari info mengenai Dara . Ia sedikit terkejut, bagaimana bisa Reyndad jatuh hati pada gadis yang memiliki pendidikan yang rendah dari dirinya,Dara hanya S1 ? Sementara dirinya adalah seorang modeling dan sudah bergelar sarjana 2 di California.


__ADS_2