Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 98.Gimana kalo buat Debay 10??


__ADS_3

"Ya, kamu makannya milih-milih. Secara gak langsung kamu cuman kasih kakak rasa vanilanya, gitu?"


Aku menatap wajahnya yang tengah mengulum bibirnya.


Entah bagaimana jadinya, kami kembali melanjutkan memakan es krim sambil menatap layar televisi.


Pada adegan kissing, netranya beralih menatap hal lain. Apa dia malu? Padahal dia yang memilih film ini.


"Kenapa natapnya ke arah lain?" tanyaku sambil menggodanya.


"Gak suka aja ngeliatnya."


"Alah, paling aja kamu malu. Padahal kakak 'kan sering kayak gitu ke kamu."


Dapat kudengar Dara menelan ludahnya karena posisi kamu sangat berdekatan. Bahkan bahu kami tak berjarak 1 senti pun.


Aku tersenyum gemas melihat ekspresinya yang sangat gugup, grogi dan tengah menahan rasa malu.


Toh, aku berkata dengan benar.


Entah berapa episode yang telah kami tonton, tiba di scane kissing kembali. Aku mulai melakukan aksiku untuk mengecup birainya.


Aku bisa merasakan deru napas Dara yang beraturan, tapi aku lebih dominan menikmati aksiku dan merasakan kepalanya berat.


Pipinya membentur pipiku sehingga aku menahan dagunya.


Matanya tertutup.


Apa dia tidur? Pikirku.


"Sayang," panggilku pelan.


Tak ada sahutan.


Hanya dengkuran halus yang menjadi jawaban dari panggilanku.


Astaga.


Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal lalu meletakkan kepalanya di kepala sofa untuk mematikan televisi dan melihat es krim telah habis.


Padahal dia belum menggosok giginya.


Aku mengambil tissue yang berada di atas meja untuk menghapus sisa-sisa es krim yang menempel di pipinya.


"Huh, Dara... Dara."


Aku mengangkat tubuhnya lalu berjalan memasuki kamar dan meletakkannya di atas ranjang.


Sementara itu, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah, menggosok gigi dan melakukan beberapa perawatan wajah sebelum akhirnya aku berbaring di samping Dara.


****


Pagi hari Senin ini, aku menyuruh staff dan karyawan untuk rehat selama 2 hari, karena hari Sabtu dan hari Minggu kemaren kami tak mengadakan cuti.


Perihal acara pembuka lowongan untuk mencari sekretaris baru.


Pagi ini, aku mengajak Dara untuk lari pagi. Awalnya ia menolak.


"Kakak aja larinya, aku naik sepeda."


Aku menyanggupi permintaannya daripada aku yang lari pagi sendirian.


Nanti malah aku yang digodain wanita centil.


Aku dan Dara keluar dari rumah dengan berjalan kaki sementara Dara mendorong sepedanya.


1 putaran mengelilingi kompleks perumahan, Dara menghentikan dan memilih untuk kembali ke rumah.


"Kamu tahu, berat badanmu naik. Nanti yang ada kamu menggelinding bukannya jalan."


Aku menarik jaket bagian belakangnya dan kami kembali olahraga mengelilingi 1 kompleks perumahan yang sebesar 5 kilometer.

__ADS_1


Di sini bukan Dara yang kecapean, tapi aku. Dara hanya menggoes sepedanya sementara aku lari di depannya.


Aku menyudahi olahraga pagi ini lalu memilih pulang ke rumah. Semenjak lari pagi tadi, aku sarapan hingga 3 piring.


Capek dan sangat lelah.


***


"Kapan kita ke Korea?" tanyaku di saat kami tengah bersantai di rooftoop.


"Hm, jauh kali. Di rumah aja," tolaknya yang tengah menatap layar ponsel.


"Hm, itu juga tempat keluarga kakak, sayang. Tapi, enaknya waktu musim salju. Kakak ingat waktu kamu excited lihat salju."


Aku tersenyum ketika membayangkan Dara dulu sangat ceria melihat salju, tapi sayang dia terserang flu dan mengharuskan untuk istirahat di rumah hingga flunya hilang.


"Iya, banget malah."


Aku tersenyum melihatnya yang juga tersenyum mengingat tingkahnya dulu.


"Kamu ada kepengen lain gak?" tanyaku penasaran.


Mana tahu hari ini Dara ngidam yang aneh-aneh.


"Enggak, kenapa?"


"Gak apa-apa."


"Oh, iya kamu ingat gak waktu dulu kita pulang dari Itali. Bu Ira nyuruh kita buat debay 10."


Aku berucap seraya menunjukkan kesepuluh jariku di depan wajahnya.


"Aku yang mati duluan ngelahirin anak sebanyak itu. Lagian, Bu Ira ada-ada aja deh. Gak tahu apa, kalau melahirkan itu nyawa taruhannya."


"Ya, 'kan ngebuatnya enak," celetukku.


Puk!


Bukan di pipi.


Melainkan di dadaku. Sakit tidak, perih pasti.


Aku mengelus dada kananku bekas tamparannya dan terlihat wajahnya sangat kesal. Cute.


"Gimana kalau kita buat anak dua belas aja," usulku.


"Ya udah, kalau gitu kakak aja yang lahirin."


"Mana bisa, sayang. Gak ada sejarah laki-laki lahirin anak."


"Ya, aku tinggal susuin."


Seketika aku tertawa mendengar ucapan Dara. Bagaimana bisa laki-laki mengandung dan melahirkan seorang bayi.


"Ya udah, kalau gitu kakak aja yang buat sendiri," sambungnya.


Aku menoleh dan menatap wajahnya yang serius tengah menatap layar ponselnya.


Terlihat bibir itu maju ke depan dengan wajah yang ditekuk lucu dan menggemaskan.


Aku menggigit pipinya membuat sang empu terkejut dan menyentuh pipinya yang bekas gigitanku.


"Ih, apa-apaan sih, kak."


"Kamu itu lucu tahu, gak. Kayak bakpao."


Aku mencubit pipinya gemas sehingga Dara risih dan melepaskan paksa tanganku.


"Ulu, uluh. Marah ya?" Aku menjawil bibirnya dan mendapatkan kembali tatapan tajamnya.


"Mau gak tidur di luar sampai 6 bulan?"

__ADS_1


Itu bukan pertanyaan, melainkan ancaman.


Bagaimana bisa aku tak tidur seranjang dengannya selama 6 bulan. 6 bulan? Itu sangat lama apalagi kalau 1 hari.


Tak ada energi dan semangat jika aku pergi ke kantor nanti.


Aku menggelengkan kepala sambil cengegesan menolak ancamannya. Melihat Dara mendiamiku saja, rasanya langit dan hariku sudah runtuh.


Apalagi diancam seperti ini.


Kami berdua beranjak dari kursi untuk melihat ke bawah. Siapa yang bertamu ke rumah.


Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Netraku menatap manik dark knight itu lalu tertutup rapat.


Aku tersenyum leihat reaksi Dara yang menutup matanya. Apakah ia sangat ingin kucium?


Huft!


Aku meniup keningnya sehingga poni itu bergerak dan kembali pada bentuk semula. Rapi.


Netranya terbuka melihatku yang tekah menahan tawa.


"Ih, kakak!"


Dara memukuk bahuku dengan agresif, laku aku menahan kedua tangannya dan menyimpan tangan itu di balik punggung kursi.


"Kamu mau banget ya, kakak cium?" tanyaku seraya memiringkan kepala meledeknya.


"Ih, kakak. Jangan ngerjain orang."


Aku tertawa lepas ketika melihat eskpresi Dara yang sangat menggemaskan. Apalagi wajahnya memerah menahan malu.


Ting! Tong!


tawaku terhenti ketika mendengar suara bell rumah berbunyi. Siapa yang datang? Aku tak menyuruh orang lain datang ke rumahku.


"Kamu ada bawa teman ke rumah?" tanyaku menatap Dara.


"Enggak, kakak kali."


"Tuan."


Bi Ima datang saat kami telah menginjakkan kaki di tangga terakhir.


"Ada apa, bi? Siapa yang datang?" tanyaku beruntun.


"Non Hansul atau Honsel?"


"Hanseol?" desisku lalu berjalan menuju depan rumah untuk melihat Hanseol. Untuk apa dia datang kemari? Pikirku.


Deg!


Kulihat Hanseol datang seorang diri tanpa sang ibunya. Apalagi dengan pakaiannya. Baju kaos biru dan celana jeans birunya.


"Ada apa?" tanyaku seraya melirik Dara yang berdiri di belakangku.


"Halo, oppa. Aku mau mengunjungi kalian."


Alis mataku terangkat, heran dengan kedatangannnya.


Oh, shit! Ada apa lagi ini?!


"Kalau begitu, silahkan duduk, kak."


Dara mempersilahkannya untuk masuk dan duduk di sofa.


Saat ia ingin meninggalkan kami berdua, aku menarik tangannya untuk tetap berada di sisiku.


"Saya gak tahu dengan kedatangan kamu apa. Sekarang kamu jelasin."


Aku berucap untuk memaksakan ia mengaku dengan kedatangan dan tujuan ia kemari.

__ADS_1


__ADS_2