
Aku yang meminta mama agar kami pindah ke luar negeri dan kebetulan mama orang Indonesia. Jadi, kami berpisah dengan papa yang berjuang sendiri di Seoul.
"Now Rara is a big girl and she has also received her second degree. She is currently working in a well-known advertising model in South Korea. But, unfortunately she wasn't looking for a man who filled her heart. He is very persistent in pursuing his current career, even forgetting his rest time. I, as a present, also cannot prohibit him because this is the world and its time to enjoy his youth and let him pursue his career which is increasingly soaring," timpal Tuan Jonathan seraya meneguk wine-nya.
(Sekarang Rara sudah besar dan dia juga sudah mendapat sarjana duanya. Dia tengah berkarir dalam model iklan ternama di Korea Selatan. Tapi, sayangnya dia tidak mencari seorang pria yang mengisi hatinya. Dia sangat gigih dalam mengejar karirnya yang sekarang, bahkan lupa dengan waktu istirahatnya. Saya sebagai ayajnya juga tak bisa melarangnya karena ini adalah dunia dan masanya untuk menikmati masa mudanya dan membiarkannya mengejar karirnya yang semakin hari semakin melambung saja.)
Aku tersenyum simpul menanggapi ucapannya. Aku tahu bahwa ia tengah menyindir Cinta maupun istriku.
Aku mengambil sebotol wine lalu menuangkan ke dalam gelasku dan meneguknya hingga tandas.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekati meja kami. Dia adalah Rara, anak dari Tuan Jonathan.
Rara tersenyum ramah ke arah papa, mama, Cinta dan ke arahku. Kecuali Dara karena aku tengah menggenggam tangannya sekarang.
Aku melihat Rara yang dulu sangat berbeda dengan sekarang. Dia memakai dress putih yang membaluti tubuhnya dan sangat terpampang jelas lekuk tubuhnya.
"Samchon, naneun jigeum nae insaeng-eul eod-eossda. Naneun imi anaega issseubnida. Hajiman anaega jigjangdo-eobs-i jib-e meo muleugeona hagsa hag-wileulbadji moshaedo sang-gwan eobs-eoyo. Modeun yeoseong-eun ttoggatseubnida. Danji geudeul-eul gubyeolhaneun geos-eun 'jal saeng-gyeossseubnida'ga anilaneun geos-ibnida. Geugeos-eun 'joh-eun taedo'ibnida. Yeojaga na-ege 'joh-eun taedo'ga eobsdamyeon daleun yeojawa ttoggatda. Geuui gyeonglyeog-eun singyeong sseuji maseyo. Jasin-i ttam-eul heulligeona cheos gyeonglyeog-eul ssahgi jeon-e yeoseong-i moham-eul bad-assneunji yeobu."
Aku berucap panjang lebar sambil melihat ke arah Rara dengan tatapan sedih yang kubuat.
(Hangul:삼촌, 나는 지금 내 인생을 얻었다. 나는 이미 아내가 있습니다. 하지만 아내가 직장도없이 집에 머 무르거나 학사 학위를받지 못해도 상관 없어요. 모든 여성은 똑같습니다. 단지 그들을 구별하는 것은 '잘 생겼습니다'가 아니라는 것입니다. 그것은 '좋은 태도'입니다. 여자가 나에게 '좋은 태도'가 없다면 다른 여자와 똑같다. 그의 경력은 신경 쓰지 마세요. 자신이 땀을 흘리거나 첫 경력을 쌓기 전에 여성이 모함을 받았는지 여부.)
(Paman, aku sudah mendapatkan kehidupanku yang sekarang. Aku sudah mempunyai istri. Tapi, bagiku tak masalah jika istriku hanya berdiam diri di rumah tanpa memliki pekerjaan atau jika ia tak mendapatkan gelar sarjana pun bagiku tak masalah. Semua wanita sama saja, hanya saja yang membedakannya bukanlah 'good looking'. Melainkan 'good attitude'. Jika seorang wanita tak memiliki 'Good Attitide' bagiku sama saja dengan wanita lainnya. Tak peduli dengan karirnya. Entahlah itu hasil keringatnya sendiri atau kah seorang wanita itu dijebak sebelum ia mendapatkan karirnya dahulu.)
Rara mengangkat segelas wine-nya dengan sangat gemetaran dan kembali menurunkan gelas itu. Terlihat wajahnya sangat gugup ketika aku melontarkan kata-kata yang menohok.
"Sillyehabnida, Jonathan ssi amado geuneun pigonhaeseo yeogie odolog jasin-eul bang-eohaess-eul geos-ibnida."
Mama mulai angkat suara. Sementara aku merasakan keringat diantara kedua tangan kami mulai bersatu.
"Oppa, wae geuleohge gwajangdoen mal-ibnikka. Bang-geum wassjiman. Ann-ajugo sip-eun gyehoeg, jeongmalbogo sipda. Olaenman-iya. Uliga seolo ssaun ji olaedoeeossseubnida. Naneun dangsin-ui mugwansim-i bakkwi eossdago saeng-gaghaessseubnida. Naneun dangsin-ui hyeonjae bonseong-eul jeongmallo salanghabnida. Dangsin-ui mal-eun salamdeul-eul apeugehaessseubnida. dangsin-eun Reyndad Adipratamaleul bakkwossseubnida. Dangsin-eun naega jeon-e al-assdeon Reyndadga anibnida. Gyeonglyeog-i geubjeunghago modeun gos-eseo yumyeonghagi ttaemun-e dangsin-eun maeu daleubnida. Dangsin-eun neomu jalang seuleobseubnida!" tukas Rara.
(Hangul: 오빠, 왜 그렇게 과장된 말입니까. 방금 왔지만. 안아주고 싶은 계획, 정말보고 싶다. 오랜만이야. 우리가 서로 싸운 지 오래되었습니다. 나는 당신의 무관심이 바뀌 었다고 생각했습니다. 나는 당신의 현재 본성을 정말로 사랑합니다. 당신의 말은 사람들을 아프게했습니다. 당신은 Reyndad Adipratama를 바꿨습니다. 당신은 내가 전에 알았던 Reyndad가 아닙니다. 경력이 급증하고 모든 곳에서 유명하기 때문에 당신은 매우 다릅니다. 당신은 너무 자랑 스럽습니다!)
(Kak, kenapa kata-katamu sangat berlebihan sekali. Padahal aku baru saja datang. Rencananya aku ingin memelukmu dan mengatakan bahwa aku sangat-sangat merindukanmu. Sudah lama kita tidak bertemu. Sudah lama kita tak saling bertegur sama. Kukira sifat cuekmu sudah berubah, ternyata tidak. Aku sangat menyayangi sifatmu yang sekarang. Perkataanmu membuat orang-orang merasa sakit hati. Kau sudah berubah Reyndad Adipratama, kau bukanlah Reyndad yang kukenal dulu. Kau sangat jauh berbeda semenjak karirmu sudah melejit tinggi dan kau terkenal di mana-mana. Kau sangat angkuh!)
Terlihat wajahnya memerah karena menahan amarah. Sementara aku tetap tenang sambil meneguk wine walaupun Dara berkali-kali melarang ku.
"Kak Azlan!" hardik Dara setengah berbisik. Aku menatap matanya dengan sayu, walaupun kepalaku separuh pusing akibat meminum 2 teguk wine itu.
Tapi, kesadaranku belum sepenuhnya hilang karena aku sangat emosi mendengar kata-kata Paman Jonathan yang menurutku sangat tidak masuk akal dan berani sekali berkata di depan banyak orang.
"Naega geoman hae? Naega geoman hae? nuga oman hae? Dangsin ttoneun dangsin? Fangsin-ina dangsin-ui abeoji? Ibwa yo, ileon gunjung ap-eseo nuga gul-yog-eul danghago sip-eo hal geos gatnayo? Aldasipi, naneun cheonsacheoleom gamyeon-eul sseun salamdeul-eul mannaneun geos-e jeongmal jil lyeossjiman geuneun jiog-eseo on agmalaneun geos-i balghyeojyeossseubnida. Soljighi dangsin abeojiui iyagileul deudgo nollassseubnida. Naneun geuga ulileul aju jal hwan-yeong hal geos-ilago saeng-gaghaessjiman geuneun geuleohji anh-assda. i haengsa-e ogedoeeo jeongmal silmang seuleobseubnida."
Aku mengerutkan keningku sehingga kedua alis mataku menyatu. Pandanganku sedikit mengabur karena cahaya lampu yang sangat terang.
"Naega geoman hae? Naega geoman hae? nuga oman hae? Dangsin ttoneun dangsin? Fangsin-ina dangsin-ui abeoji? Ibwa yo, ileon gunjung ap-eseo nuga gul-yog-eul danghago sip-eo hal geos gatnayo? Aldasipi, naneun cheonsacheoleom gamyeon-eul sseun salamdeul-eul mannaneun geos-e jeongmal jil lyeossjiman geuneun jiog-eseo on agmalaneun geos-i balghyeojyeossseubnida. Soljighi dangsin abeojiui iyagileul deudgo nollassseubnida. Naneun geuga ulileul aju jal hwan-yeong hal geos-ilago saeng-gaghaessjiman geuneun geuleohji anh-assda. i haengsa-e ogedoeeo jeongmal silmang seuleobseubnida."
__ADS_1
Aku mengerutkan keningku sehingga kedua alis mataku menyatu. Pandanganku sedikit mengabur karena cahaya lampu yang sangat terang.
(Hangul: 내가 거만 해? 내가 거만 해? 누가 오만 해? 당신 또는 당신? 당신이나 당신의 아버지? 이봐 요, 이런 군중 앞에서 누가 굴욕을 당하고 싶어 할 것 같나요? 알다시피, 나는 천사처럼 가면을 쓴 사람들을 만나는 것에 정말 질 렸지만 그는 지옥에서 온 악마라는 것이 밝혀졌습니다. 솔직히 당신 아버지의 이야기를 듣고 놀랐습니다. 나는 그가 우리를 아주 잘 환영 할 것이라고 생각했지만 그는 그렇지 않았다. 이 행사에 오게되어 정말 실망 스럽습니다.)
(Aku angkuh? Aku sombong? Siapa yang angkuh sekarang? Kau atau dirimu? Kau atau ayahmu ini? Hei, kau pikir saja mana ada orang yang mau dipermalukan di depan orang banyak seperti ini bahkan ia menyindir adik dan istriku yang cantik ini. Kau tahu, aku sangat muak jika bertemu orang yang memakai topengnya bak malaikat, tapi ternyata dia adalah iblis dari neraka. Jujur saja, aku tadi terkejut mendengar penuturan ayahmu ini. Kukira dia akan menyambut kami dengan sangat baik, ternyata tidak. Aku benar-benar kecewa bisa datang ke acara ini.)
"Watch your mouth, it come back around
Once upon a time, we learnt how to fly
Go look at your mirror, same damn clothes."
(jaga mulutmu, itu kembali
Dahulu kala, kami belajar cara terbang
Pergi lihat cermin mu, pakaian sialan yang sama)
Aku bangkit dari dudukku lalu Adnan memapah ku berjalan keluar dari restoran itu. Bukan aku saja, melainkan yang lain juga. Mereka dan para tamu undangan juga keluar dari restoran iti setelah menyaksikan perdebatan kami.
"Biar aku saja yang nyetir."
Aku mengambil kunci mobil dari tangan Dara lalu Cinta merebutnya. Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing.
"Biar aku saja. Kakak jaga dia di belakang."
Padahal aku hanya meminum dua teguk saja dan mengapa aku sangat mabuk.
***
Di perjalanan Dara menekan tombol Off untuk pagar rumah kami. Sampai di rumah, terlihat mobil papa berada di belakang. Sementara Cinta berlari menuju mobil papa dan aku terduduk di teras rumah untuk menunggu Dara menutup pintu pagar rumah seraya mrngingatkan untuk menghidupkan mode kembali ke awal pada pagar rumahku.
Di kamar, aku membuka pakaianku yang menyisahkan hanya baju kaos putih berlengan pendek dan celana pendek berwarna hitam.
Tubuhku sangat basah oleh keringat. Untung saja aku bisa menahan diri agar tak meninju wajah dan tubuh Tuan Jonathan di sana. Bisa-bisa aku diliput media dan reputasi ku lenyap begitu saja jika menuruti emosi.
"Minum dulu."
Aku membuka mata ketika Dara memberikanku secangkir air jahe hangat. Aku meneguknya perlahan dan kembali membaringkan tubuhku di ranjang.
"Tolong sayang, ambilkan obat aspirin atau ibuprofen."
Aku menunjuk ke arah bawah ranjang di mana kotak P3K ukuran kecil dan besar ada di sana.
"Ini ada dua, kak."
"Yang kecil, sayang. Cepat!"
__ADS_1
Aku meringis kesakitan ketika merasakan kepalaku mau meledak dengan seperti ditusuk-tusuk dalam waktu bersamaan.
Dara membacanya lalu memberikan aspirin padaku. Aku meneguk obat itu tanpa meminum air dan itu adalah kebiasaan ku ketika merasa sudah semakin parah.
"Ayo. tidurlah. Jangan begadang."
Aku menepuk ranjang di sebelahku agar Dara membaringkan tubuhnya di sisiku.
"Sebentar, aku mau hapus make up dulu sama cuci muka."
Ia berjalan menuju meja rias lalu mengambil seonggok kapas dan berjalan memasuki kamar mandi.
Ceklek!
Setelah mendengar suara pintu toilet tertutup rapat, aku meringis kesakitan di bagian kepalaku.
Rasanya benar-benar sakit.
Aku jarang meminum wine. Hanya saja aku pernah meminum soju, tapi tidak separah ini.
Bahkan ini sangat menyakitkan daripada sakit kepala akibat melihat layar komputer.
"Ah!"
Aku memukul kepalaku agar sakitnya mereda lalu meneguk perlahan air jahe yang dibuatkan Dara untukku.
Ini juga salahku, entah pikiran dari mana aku harus meneguk wine itu, dan aku merasa ini adalah akibatnya.
"Chagi-ah, seodulleo. Jigeum meoliga jeongmal apayo. Meomus geoliji ma, Adnan. aA neomu apayo," ringis ku sambil memijat pelipis ku.
(Hangul: 여보, 서둘러. 지금 머리가 정말 아파요. 머뭇 거리지 마, 아드 난. 아, 너무 아파요.)
(Sayang, cepatlah kemari. Kepalaku benar-benar sakit sekarang. Jangan berlama-lama, Dara. Ah, sakit sekali rasanya.)
Aku meringkuk di atas ranjang dan selimut yang tadi Dara kenakan untukku entah ke mana perginya.
"Ya ampun, kak!"
Aku mendengar suara teriakan Dara langsung berhamburan memeluknya yang setengah terduduk di atas ranjang.
Aku menangis kejer karena rasa sakit di kepala dan rasa tak ingin kehilangan dirinya benar-benar menghantuiku.
Tak peduli dengan wajah tampanku yang terlihat jelek lagi.
"Kepalaku sakit, tolong pijatkan," pintaku seraya meletakkan tangannya di atas kepalaku.
Kedua tangan mungil itu bergerak di atas kepalaku. Memijatnya dengan pelan dan lembut sementara kedua tanganku masih setia memeluk pinggangnya.
__ADS_1
"Honey, do you want to leave me after I said harshly to Rara and Mr. Jonathan? I said that because you and my little sister were being teased. I don't want you to be told nothing about your career or anything else. That is tantamount to demeaning me with your equipment. Please, don't ever try to leave me. There will be no more enthusiasm for my life if you leave this house. No more smiles when I open my eyes in the morning and come home from work because of fatigue. Don't, don't do it, Dara."