
"Ulineun jib-e galgeoya."
Aku menarik tangan Dara untuk keluar dari rumah mereka. Berjalan cepat menuju mobil lalu masuk ke dalam mobil.
"Ada apa, kak? Kenapa mereka tadi nunjuk ke aku, ya? Terus kenapa muka kakak kusut kayak gitu?"
Aku mengembuskan napas kasar mendengar pertanyaannya yang sangat menuntutku untuk menjawab.
Aku menghentikan mobil di sebelah kiri lalu menatap tajam ke arah Dara.
"Hanseol mau masuk lamaran pekerjaan di tempatku. Mana mungkin aku menerimanya, dia bagian perawat, sementara kantorku hanya memasukkan sarjana 2 di bagian yang sangat berbeda dengan kejurusan Hanseol," terangku.
"Lalu?" tanya Dara seraya memposisikan tubuhnya menghadap ke arahku.
"Mereka memaksaku, dan aku masih memikirkannya sampai esok."
"Hm, jangan dipikirin lagi. Nanti jadi beban sendiri untuk kakak."
Aku menganggukkan kepala tersenyum menatapnya lalu mengecup keningnya dan kembali menjalankan mobil menuju pasar tradisional.
"Mau ngapain?" tanya Dara saat mobil berhenti tepat di parkiran.
Aku tersenyum kecil lalu melepaskan seatbelt lalu keluar dari mobil menggunakan masker dan membiarkan rambutku yang kembali panjang.
Aku mengambil jaket kulit yang saku-sakunya ditutupi dengan resleting. Jadi, ini sangat aman untuk menyimpan kunci mobil, ponsel dan dompetku dan Dara.
Kami berjalan menyusuri pasar tradisonal yang sangat ramai oleh pengunjung dan penjual di sini.
Kebisingan.
Bau yang menyengat.
Panas.
Sangat kurasakan saat ini. Tangan kiriku menggenggam sebuah pergelangan tangan Dara agar ia tak hilang.
Ini bukan pertama kalinya aku ke sini, tapi sudah berkali-kali. Karena aku suka dengan penawaran di pasar ini. Berbeda antara kita membeli di mall atau swalayan.
"Kita mau beli apa?" tanya Dara yang berada di belakangku.
"Kita beli buah, kamu makan buah terlalu banyak."
Terdengar suara tertawa lucu Dara yang membuatku tersenyum di balik masker hitam yang kukenakan.
"Berapa mas?" tanyaku pada seorang laki-laki paruh baya yang menjual buah alpukat, dia hanya menggunakan singlet.
"Sekilo tiga puluh lima, pak."
Aku dan Dara mulai memilih buah tersebut lalu memasukkan ke dalam kantong plastik bening yang ia berikan padaku.
"Saya ambil 3 kilo, pak."
Aku memberikan plastik yang berisi buah alpukat itu padanya untuk ditimbang. Ada beberapa yang ia keluarkan karena mungkin saja lebih dari yang kuminta.
"Bisa nego, pak?" tanyaku seraya mengeluarkan dompet dari saku jaket.
__ADS_1
"Berapa?" tanyanya balik.
"Delapan puluh lima, gimana?" tawarku.
Dia tertawa kecil.
"100 ribu aja."
"Ya sudah."
Aku memberikan uang selembar warna merah padanya lalu mengambil buah alpukat tersebut dan kembali menarik tangan Dara
"Ih. kenapa kakak ambil, sih? Itu kemahalan," gerutu Dara.
"Mahalan kalo ambil dari mall, sayang."
Tak lagi terdengar suara Dara dari balik punggungku.
Aku kembali berhenti tepat di depan orang yang menjual jagung yang ditemani dengan susu dan keju.
"Kamu mau ini?" tanyaku menoleh pada Dara.
Anggukan antusias dan sebuah senyuman lebar itu menjadi jawaban dari pertanyaanku.
"Beli dua, bang."
Aku menarik tangannya menuju tempat teduh lalu mengelus kepala yang dibaluti jilbab sarung berwarna coklat muda itu yang terasa panas.
Dara memukul dadaku membuat aktivitasku terhenti dan menatapnya heran.
Aku kembali tersenyum mendengar suaranya yang terlihat lucu dan wajahnya yang ia tekuk, malu.
"Lebih malu lagi kalo kakak cium kamu di tengah-tengah pasar gini. Bisa-bisa kita jadi tontonan gratis dan reputasi kakak hilang karena hal konyol itu," bisikku.
"Bang!"
Aku menoleh ke arah sumber suara laki-laki yang seumuran dengan Dara. Terlihat ia tengah memberikan dua botol jagung yang panas.
Aku berjalan mendekatinya lalu memberikan uang dua puluh ribu rupiah lalu ia mengembalikan uang senilah 10 ribu rupiah padaku.
"Terima kasih."
Aku berjalan mendekati Dara yang berdiri di tempat teduh lalu duduk di bangku kosong untuk menikmati jangung hangat ini.
"Enak?" tanyaku menatap Dara yang tengah menikmati jagung tersebut.
Anggukkan kepala lagi menjadi jawabannya.
***
2 menit kemudian, kami kembali berjalan mentusuri pasar tradisional. Langkah kami memasuki bagian bau yang sangat amis.
Aku melihat beberapa ayam yang sudah dipotong dan diletakkan di atas meja khusus yang dialasi dengan tarpal lalu sebagian masih hidup.
"Kita beli daging atau ayam?" tanyaku menoleh ke arah Dara yang terlihat menutup mulut dan hidungnya dengan satu tangan.
__ADS_1
"Kakak maunya apa?"
"Kok kamu malah balik nanya sih, sayang?"
"Ayam aja."
"Oke, tunggu di sini."
Aku berjalan mendekati salah satu dari 5 orang penjual ayam lalu meminta beliau untuk mengambil ayam yang kutunjuk untuk ia timbang dan memberikan harga padaku
"Semuanya ada 5 kilo, masing-masing harganya adalah tiga puluh lima ribu, jadi total semuanya senilai seratus tujuh puluh lima ribu."
Aku mengeluarkan dompet lalu memberikan uang seniali dua ratus ribu rupiah padanya.
"Ini kembaliannya."
Aku mengambil kembalian tersebut seraya menjenjeng plastik hitam yang berisi 5 potong ayam yang lumayan gemuk dan berisi.
Aku berjalan mendekati Dara lalu memberikan plastik bening yang berisi buah alpukat padanya untuk ia bawa.
"Oh iya, bawang di rumah habis," ujar Dara padaku.
"Ya sudah, beli bawang di sini aja. Kita cari yang besar-besar."
Kami kembali berjalan dengan aku yang menggenggam tangannya. Kami selalu memutar balik karena melihat bawangnya yang terlanjur kecil menurutku.
"Nah, di sana bawang merahnya besar," tunjuk Dara.
Aku mengikuti arah tunjuknya lalu menarik tangannya menuju penjual cabe, bawang dan daun seledri itu.
Dara memilih bawang merah, sementara aku mencari bumbu dapur lainnya yang terletak sangat dengan dengan penjual cabe itu.
Setelah dirasa cukup, aku membayarnya dan kembali mendekati Dara yang tengah mrmilih bawang dan memasukkan ke dalam kantong plastik.
"Semuanya ada 2 kilo," ucap lelaki padanya.
"Berapa?" tanya Dara.
"Empat pulh lima ribu."
"Beli aja."
Aku membungkukkan tubuh lalu membisikkan padanya.
Aku mengeluarkan uang lalu memberikan padanya karena Dara belum menarik tunai uangnya dari black card miliknya.
Setalah membayar bawang merah dan putih yang ia pilih, kami berjalan menuju parkiran mobil.
Aku memasukkan barang belanjaan ku ke dalam kursi penumpang dan melihat Dara yang tengah berjongkok sembari mengipasi dirinya dengan kedua tangan.
"Kamu masuk ke mobil, kakak beli sesuatu dulu."
Aku menekan remote control lalu memasukkan Dara ke dalam mobil sambil menghidupkan AC mobil dan menutup pintu mobil.
Aku berjalan kembali memasuki pasar untuk membeli minuman segar yang dingin untuknya.
__ADS_1
"Terima kasih," ujarku seraya memberikan uang dua puluh ribu lalu memerintahkan pada gadis kecil untuk mengambil kembaliannya.