Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 71. Paulo Coelho


__ADS_3

Dara selesai memakai baju dengan dibanjiri tulisan 'Away'. Sungguh lucu dan menggemaskan, apa lagi baju tidur itu panjang.


Dara duduk di sebelahku lalu menghidupkan televisi LCD dengan remote yang tersimpan di rak bawah meja.


"Baca buku apa, kak?" tanyanya.


"Baca buku yang ilmunya lumayan berat untuk diserap otak dengan IQ minim," jawabku sekaligus menyindirnya.


"Is, orang tanya apa malah nyindir-nyindir lagi," umpatnya.


"Baca buku yang judulnya The Alchemist oleh Paulo Coelho sama Me Before You oleh Jojo Moyes."


Aku menunjukkan 2 buku yang lumayan tebal dan jika membacanya juga butuh berminggu-minggu.


"Kalo buku The Alchemist oleh Paulo Coelho mungkin kamu gak bisa baca. Karena kakak membelinya menggunakan bahasa Hangul. Tapi, kamu bisa baca buku ini karena menggunakan bahasa Inggris."


Aku memberikan buku yang berjudul Me Before You. Dara membuka cover buku tersebut sementara aku mengambil snack dan susu coklat di lemari pendingin untuk menemani membaca kami nanti.


Aku membuka lemari pendingin lalu membuka bungkus snack dan memasukkan ke dalam mangkuk kaca ukuran besar.


Lalu menyiapkan susu untuk Dara, sementara aku minuman dengan soda sedang.


Aku berjalan menghampiri Dara yang sudah fokus membaca sedari tadi.


"Ayo, di makan," ujarku meletakkan nampan di atas meja kaca bening.


Dara tersenyum lalu mengambil sedikit demi sedikit sambil memfokuskan matanya pada buku bacaan itu.

__ADS_1


Aku melakukan hal yang sama, sepertinya ia sangat menyukai buku itu.


"Coelho kecil dilahirkan di dalam sebuah keluarga kelas menengah di lingkungan perkotaan.


Ayahnya Pedro adalah seorang arsitek, dan ibunya Lygia adalah seorang ibu rumah tangga.


Pada umur tujuh tahun, Coelho dimasukkan ke sekolah Jesuit San Ignacio di Rio de Janeiro oleh kedua orangtuanya. Pada saat itu, dia sebenarnya tidak betah dengan kehidupan sekolah Jesuit yang mewajibkan semua siswanya untuk menjalani ibadah secara ketat.


Seorang Coelho kecil tidak betah sekolah di sekolah Jesuit ini. Meskipun Coelho kecil tidak terlalu betah belajar di sekolah Jesuit, namun ternyata di sekolah ini pula untuk pertama kalinya bakat menulisnya mulai terlihat.


Dia memenangkan sebuah kompetisi menulis puisi di sekolahnya, dan bahkan adiknya, Sonia,berhasil memenangkan lomba esai hanya dengan bermodalkan karya kakaknya yang telah dibuang ke keranjang sampah."


(Sehingga dalam buku ini dipersonifikasikan dalam diri seorang Santiago sebagai tokoh utama dalam buku ini, seorang penggembala domba. Hidupnya tak lepas dari perjalanan mencari padang rumput, tidur bersama domba-domba, dan menjual bulu domba di kota.


Hidupnya berubah ketika Santiago didatangi sebuah mimpi tentang piramida-piramida di Mesir, dan setelah berkomunikasi dengan sang Alkemis, akhirnya Santiago memutuskan untuk melakukan perjalannya ke Mesir.


Penokohan Santiago seorang penggembala domba, yang untuk mengejar mimpinya dia menjual dombanya, hal ini menceritakan bagaimana rasa keinginan masa kecil Coelho yang tidak betah sekolah disekolah jesuit. (Menggembala domba banyak dipersonifikasikan dengan urusan tentang agama).)


Meskipun Coelho sangat berbakat menjadi penulis, ternyata orang tuanya tak pernah berharap agar anaknya kelak menjadi sastrawan.


Mereka lebih suka jika kelak anaknya menjadi arsitek atau ahli hukum sebagai suatu pekerjaan yang dianggap bagus dan mempunyai masa depan dan terhormat.


Kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga agar anaknya tak semakin dekat dengan dunia tulis menulis.


Namun, tampaknya Coelho bukanlah tipe anak yang penurut.


Larangan orang tuanya dan perjumpaannya dengan buku Henry Miller berjudul "Tropic of Cancer" semakin mengobarkan semangat pemberontakannya."

__ADS_1


(Hal ini digambarkan dalam buku ini, saat Santiago jatuh cinta pada anak pemilik toko kelontong tempat dia menjual bulu dombanya, yang sangat cantik, yang rambutnya dan wajahnya sangat mempesona Santiago, dan membuat Santiago jatuh cinta dan ingin menetap didesa tersebut.)


"Namun di saat yang sama Santiago selalu dibayangi oleh mimpinya untuk mengunjungi piramida di mesir, sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menjual dombanya guna membiayai perjalanannya meraih impiannya mengunjungi piramida.


Bahwa kadang keberhasilan dan kebahagian dalam pencapaian hidup selalu diukur dengan melihat ukuran orang lain dan pandangan orang lain, bukan karena kebahagian yang sesuai dengan impian kita sendiri, sesuai dengan sesuatu hal yang membuat diri kita bahagia, yang sering kali kita menyadari pada saat telah lewat, dan sering kali kita melupakan bahwa hidup manusia telah digariskan oleh Tuhan melalui tanda-tanda dari DIA dan kita sering kali kita tidak peka atau tidak mau memahami dan membaca tanda-tanda yang berikan oleh Tuhan kepada kita.


Ayahnya melihat hal ini sebagai sebuah gejala gangguan kejiwaan dan akhirnya memasukkan Coelho kecil ke sebuah rumah sakit jiwa.


Di rumah sakit jiwa itu, Coelho harus menjalani terapi electroconvulsive, terapi dengan menyetrumkan aliran listrik ke tubuh penderita gangguan jiwa.


Terapi ini tentunya bisa berdampak buruk pada jaringan saraf manusia. Coelho sempat dua kali keluar masuk rumah sakit jiwa sebelum akhirnya dinyatakan sembuh.


Dan Coelho tetap dengan niat dan minatnya untuk menjadi Penulis."


(Hal ini digambarkan buku ini, pada perjalanan seorang Santiago dalam mengejar mimpinya mengalami banyak cobaan dan penderitaan bahkan dirampok dan dibohongi orang, namun dia tetap keukeuh mengejar impiannya, disepanjang perjalanannya dia menemukan berbagai macam karakter unik, dan semakin membuat dia yakin akan penting nya mewujudkan mimpi.)


"Dalam buku nya juga selalu menyebutkan istilah semesta mendukung, karena begitu kita berikrar akan muncul berbagai pertanda disepanjang jalan hidup kita sehingga membuat kita semakin dekat pada apa yang kita impikan.


Kalimat ini muncul berkali kali khususnya dari sang Alkemis, sosok yang akhirnya di jumpai 'si gembala dalam perjalanan nya'.


Bahwa dalam proses pencarian impian atau tujuan hidup kita, kadang akan diuji dengan kehilangan yang sangat berarti dalam hidup kita atau sesuatu yang awalnya menjadi sarana dan semangat untuk mencapai tujuan hidup kita, namun tiba tiba hilang, atau bahkan dianggap tidak sesuai dengan sekitar kita.


Alangkah baiknya kita tetap berjalan untuk mencari dan mencapai kebahagian kita.


Walau kadang hal tersebut harus menghentikan sementara, tetapi bukan berarti berhenti untuk selamanya apalagi menunda-nunda, yang seharusnya dengan tetap melanjutkan perjalanan mencapai impian atau tujuan hidup kita akan kita temukan apa yang selama ini kita cari dalam hidup kita.


Bahwa dalam proses pencarian impian atau tujuan hidup kita, kadang akan diuji dengan kehilangan yang sangat berarti dalam hidup kita atau sesuatu yang awalnya menjadi sarana dan semangat untuk mencapai tujuan hidup kita, namun tiba tiba hilang, atau bahkan dianggap tidak sesuai dengan sekitar kita, Alangkah Baiknya kita tetap berjalan untuk mencari dan mencapai kebahagian kita. Walau kadang hal tersebut harus menghentikan sementara, tetapi bukan berarti berhenti untuk selamanya apalagi menunda-nunda, yang seharusnya dengan tetap melanjutkan perjalanan mencapai impian atau tujuan hidup kita akan kita temukan apa yang selama ini kita cari dalam hidup kita."

__ADS_1


****


Seharian hanya mengetik untuk meresensi buku doang.


__ADS_2