
Aku berada di ruang tamu, sementara Dara berada di kamar. Beberapa wanita sedang merias wajahku dan merapikan rambutku.
"Don't put make up on my face. Give facial moisturizer, enough serum and cover the inflamed pimple on my forehead," pintaku pada mereka yang hendak memberikanku foundation.
(Jangan berikan ke wajah saya make up. Berikan pelembab wajah, serum secukupnya dan penutup jerawat yang sedang meradang di kening saya.)
Mereka mulai mengaplikasikan toner lalu essence, pelembab dan serum ke wajahku.
Jujur saja, wajahku sangat sensitif dengan produk make up yang menutupi pori-pori wajah karena aku orang yang tipe mengeluarkan banyak keringat.
Setelah selesai, mereka mulai merangkai alisku menggunakan brush dan aku meminta agar mereka membuat alisku senatural mungkin.
Setelahnya, aku berjalan ke kamar untuk mengambil lip blam milik Dara.
"Geu sonyeoneun nugu-ibnikka?" gumamku melihat seorang wanita yang tengah duduk di ranjang menghadap jendela kamar.
(Siapa perempuan itu?)
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju meja rias lalu menggeser ke depan laci meja untuk mencari benda kecil keramat itu.
"Mr. Azlan, look at your wife. Is our makeup too hot or bad?"
(Tuan Azlan, lihat istri Anda. Apakah riasan kami terlalu menor atau buruk?)
Aku menoleh ke arah mereka dan salah satu dari mereka menggeser tubuhnya yang menutupi wanita yang berbalut gaun tosca dengan hijab senada.
Dara.
Apakah ini benar-benar dia?
Aku sangat terperangah melihat kejadian ini.
Dia sangat cantik bak peri, ratu, putri, atau yang lain.
Aku tak bisa berkata-kata melihat ciptaan Tuhan yang Dia berikan untuk menjadi milikku.
"Kak."
Seketika lamunanku buyar mendengar panggilannya.
Tapi, aku bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Tanpa menggaruk tengkuk atau memalingkan pandangan ke arah lain.
"Apa ini jelek ya?"
Aku melihat wajah Dara yang tiba-tiba saja berubah menjadi murung.
'Ani, dangsin-eun salang-gwa eommaboda hwolssin deo aleumdabseubnida. Dangsin-eun naui yeojaibnida. Anpakk-eulo aleumdaun yeoja. Sasil geunyeoga meikeueob-eul jeonhyeo sayonghaji anh-eul ttae geunyeoneun nae nun-e bichnabnida. Geunyeoui eolgul-i ileohge uahae boineunde waei ma-eum-i tteollineun geolkka? Jeez Azlan, deoleoun saeng-gag-eun hajima. Naneun jigeum dangjang geugeos-e daehae doul su eobs-seubnida,' batinku.
(Tidak, kau bahkan sangat cantik sekali melebihi Cinta dan mama. Kau wanitaku, aku sangat beruntung bisa memilikimu. Wanita yang cantik luar dalam. Bahkan, saat ia tak pernah menggunakan make up pun, dia terlihat bersinar di mataku. Hati ini kenapa begitu bergetar hebat ketika melihat wajahnya yang seanggun itu? Astaga Azlan, jangan berpikir yang kotor. Aku tak bisa menahan untuk menerkamnya sekarang juga.)
"Tidak, cantik kok."
"I asked for her hijab to be covered over her chest. I don't want it exposed. That is mine. Change!" bentakku lalu keluar dari kamar tak lupa menutup pintu kembali.
(Saya minta hijabnya agar ditutupi ke dadanya. Saya tidak mau itu ter-ekspose. Itu milikku. Ganti!)
__ADS_1
"Heo, Azlan. Geoui jabhyeossseubnida. A, Dara-eun jeongmal daedanhabnida. Maeu aleumdabseubnida. Ijeon-e bon yeoseongboda hwolssin deo. I ma-eum-eun maeu tahyeobhaji anhseubnida. Gabjagi jug-eumyeon eotteoghae? Dara-eun gwabuga doel geos-igo naboda deo mos-saeng-gin daleun namjaleul chaj-eul geos-ibnida. A, geugeos-eul wihaeseo hananim-eun yeojeonhi jege yeol beonjjaelo sum-eul swi syeossseubnida. A, jinjja. Naneun nae nun-ap-eseo geuleul gakkaiseo *** su issgileul gidalil su eobsda."
Aku berjalan dan mendudukkan diri di sofa. Tak ada siapa-siapa lagi di sini. Mereka sudah pergi saat aku meninggalkan mereka menuju kamar.
(Huh, Azlan. Hampir saja kau ketahuan. Ah, Dara benar-benar mengagumkan. Sangat cantik. Bahkan melebihi wanita-wanita yang pernah kulihat sebelumnya. Jantung ini sangat tidak bisa diajak kompromi. Bisa-bisnaya berdetak tak karuan, jika aku mati mendadak bagaimana? Dara akan menjanda dan mencari pria lain yang bahkan lebih jelek dariku. Ah, untuk saja Tuhan masih memberiku napas untuk kesekian kalinya. Ah, benar-benar. Aku sangat tak sabar melihatnya dari dekat, di depan mataku.)
Aku mengambil remote pendingin ruangan untuk menaikkan suhu ruangan. Aku berkeringat sekarang.
Padahal hari sudah gelap. Untung saja aku sudah beribadah. Jadi, mereka tak bekerja dua kali karena aku harus membersihkan produk mereka yang melekat di wajah tampanku ini.
Ping!
Aku mengeluarkan ponsel dari jas dan melihat pesan dari Alazka.
Manager Alazka
[Beberapa orang penting sudah datang. Kalian mau berapa lama lagi di dalam kamar?]
To Manager Alazka
[Gue udah selesai, barang berhargaku belum. Tunggu lah sebentar. Ini memakan waktu sangat lama.]
Aku membalas pesan dari Alazka.
Ping!
Manager Alazka
[Ah, benar-benar.Aku sendirian di sini. Setidaknya kalian lah temanku mengobrol di kursi bar dengan 'barang berhargamu' itu.]
"Ck."
To Manager Alazka
[Ya ampun, jangan salahkan kami. Salahkan dirimu yang belum mendapatkan wanita.]
Alazka tak membalas pesanku.
Offline.
Sepertinya dia marah. Tapi, aku tak berniat untuk membujuknya melalui ponsel atau pesan.
Nanti jika Dara membaca pesanku seperti itu, dia malah ilfiel padaku.
Ceklek!
Aku menoleh ke arah suara pinru yang terbuka.
Mereka berjalan keluar kamar seraya berpamitan padaku.
Tak lama, Dara keluar kamar dengan wajah yang tertunduk.
"Hei, kenapa murung?"
Aku berdiri dari dudukku lalu ia berhenti tepat di depan tubuhku.
__ADS_1
"Wae?"
"Sendalnya terlalu tinggi."
Netraku bergerak ke bawah dan melihat ke arah kakinya. Pasalnya ia sudah setinggi daguku.
"Itu cuma 5 senti," ujarku terkekeh pelan melihat tingkahnya.
"Aku gak terbiasa, ini sangat menyakitkan."
"Benarkah?"
Dara menganggukkan kepalanya.
Kali ini, wajahnya menatap wajahku. Dia sangat cantik, tak bisa kupungkiri kecantikannya.
Tapi, matanya sedikit memerah. Apa dia baru selesai menangis? Apa dia merindukan Bunda Fisya ? Pikirku.
"Kenapa matanya merah?" tanyaku seraya menangkupkan wajahnya dengan kedua tanganku.
"Iya, tadi itu mereka mau make softlens, aku gak mau. Gak pernah dan rasanya perih banget."
Dara yang hendak mengucek matanya segera kuhentikan dan menurunkan sebelah tangannya menjauh dari wajahnya.
"Jangan dikucek, nanti mata kamu iritasi. Sekarang udah gak ngerasain apa-apa 'kan?"
"Kamu benar-benar cantik, Chagi," sambungku.
"Tapi, hells ini sangat sakit."
Dara menjauhkan tubuhnya dariku lalu ia melepaskan high hells itu yang melekat di kaki mungilnya yang dibaluti kaos berwarna hitam pendek.
Aku segera menelpon Mr. Kyen agar beberapa pelayan membawakan hells tanpa hak.
"Kakak udah telpon Mr. Kyen. Kamu duduk dulu. Apa kamu haus?"
Dara menganggukkan kepalanya. Aku segera menuju kulkas kecil lalu memberikan minuman soda dingin untuk menghilangkan dahaganya.
Tak lama, mereka datang membawakan sesuai permintaanku. Dara tersenyum melihat yang mereka bawakan lalu memakainya.
"Apa ini nyaman?" tanyaku menatapnya.
"Iya."
"I don't wear it. You can take it back."
Aku memberikan high heels itu pada mereka dan kembali pergi dari kamar.
"Ayo, kita ke alamat Mr. Kyen. Sudah banyak tamu penting yang hadir."
Aku menarik tangan Dara keluar kamar dan mengunci kamar menggunakan kartu khusus dari hotel ini.
Di luar hotel, sudah ada sebuah mobil menunggu kedatangan kami.
Aku dan Dara masuk ke dalam mobil dan kami melesat menuju alamat yang dituju.
__ADS_1
****
Wow, mau ke mana, nih? Aku sama yang lain gak di bawa, ya?