
Pov Azlan
Pukul 20.00 WIB, aku masuk ke dalam kamar mendapati Dara yang sudah berbaring di ranjang membelakangiku. Aku meletakkan jas kantor di kepala kursi, membuka dasi dan kancing kemeja lalu membersihkan diri menggunakan air panas.
Selesai mandi, aku menatap wajah baby facenya saat tertidur serta bibir plum yang belum pernah kusentuh hingga saat ini.
Saat aku menarik selimut, tiba-tiba tubuhnya berbalik menghadapku seraya meletakkan lengan kiriku sebagai bantalan untuk kepalanya. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang seenak jidat, tapi aku menyukainya.
"Selamat tidur gadis kelinci," gumamku seraya menyatukan keningku pada keningnya dan menghirup aroma dari tubuhnya.
'Apa dia memakai skincare? Harum sekali wajahnya,' monologku sambil merapatkan tubuhnya pada tubuhku dan aku menyusul gadis ini ke alam mimpi setelah membaca ayat sebelum menutup mata.
🐤🐤🐤
Pagi hari, aku merasakan lenganku sangat ringan lalu meraba-raba ranjang di sebelah kiriku.
Datar.
Mataku terbuka membuat kepalaku terasa pening. Ke mana gadis itu?
Tiba-tiba indra penciumanku merasakan bau sedap daru dapur. Aku menyibakkan selimut, keluar dari kamar dan mendapati seorang gadis yang sedang berkutat di dapur menggunakan kemeja berwarna putih.
'Itu 'kan kemejaku,' monologku sambil menggeser kursi tanpa mengeluarkan suara dan duduk memperhatikannya dengan berpangku dagu. Melihat lekuk tubuhnya di balik kemeja yang terlihat kebesaran untuk tubuhnya yang kini memperlihatkan siluet tubuhnya.
Da**.
Aku bisa gila membayangkannya. Dara seperti nikotin bagiku. Ah, gadis ini terlalu indah untuk diimajinasikan, yang pasti aku ingin memiliki gadis itu seutuhnya.
Dara berbalik dengan roti isi di piringnya yang sudah tertata dengan rapi dan dikagetkan oleh kedatanganku dan melihatku seperti makhluk astral.
Kami makan dengan keheningan dan dentingan antara piring dan sendok saja. Dara memperhatikan makanannya sementara aku malah memperhatikan gadisku.
"Tumben sekali pagi-pagi udah masak," ucapku, dia makan dengan sangat lahap padahal kami baru saja duduk dan makananku lebih cepat habis.
"Aku lapar dan melihat isi lemari es dan kabinetnya penuh dengan masakan dan sayuran, jadi aku putuskan untuk memasak."
Sangat mudah, lapar kata itu yang membuatku terkekeh geli. Gadis di depanku ini apa adanya, sederhana yang membuatnya semakin menarik.
"Saya nanti ke kantor."
"Mau kubawakan bekal?" tawarnya.
__ADS_1
"Boleh," jawabku mengiyakan. Dara sudah menata roti isi ke dalam bekal dan juga masakan lainnya, menatanya dengan rapi dan menaruhnya ke dalam tas bekal.
Aku memakai dasi dengan asal-asalan membuatku kesal sendiri karena terburu-buru, waktu sudah menunjukkan pukul 9.
"Sini kubantu." Dara mengambil dasi dari tanganku dan memasangkannya secara perlahan. Gadis ini berjinjit karena tubuhku yang cukup tinggi baginya. Refleks tanganku dengan cepat membekap pinggang Dara menggkatnya dan meletakkan tubuhnya di meja pantry.
"Begini 'kan bisa," ucapku dengan sabar menunggu jari lentik mungilnya melipat dan membentuk dasi yang diinginkan selesai.
Aku menatapnya di depan manik mata kami bertemu. Brownies hazel dan dark knight itu saling melengkapi.
"Selesai."
Aku menatap dasi itu, sangat rapi dan aku menghadiahinya sebuah kecupan di kening dan kedua pipinya.
"Terima kasih, saya berangkat." Aku berjalan ke meja makan untuk mengambil tas bekal dan meninggalkannya di rumah dengan keadaan kaku.
Aku tersenyum mengingat wajahnya dan matanya yang membesar akibat perlakuanku yang tiba-tiba. Sampai di ruanganku, aku mengambil kunci ruangan di saku celana.
"Apa pintunya sudah dibuka sama OB, ya?" tanyaku sendiri lalu mendorong pintu kaca tersebut.
Mataku membola melihat keberadaan Kang Yuri di dalam ruanganku.
"Cagiya," serunya sambil berdiri dari sofa. Aku terkejut bukan main, bukannya duku aku sudah menyuruhnya agar tidak mengganggu hidupku lagi? Tapi, kenapa dia ada di sini? Pikirku.
Cup.
Tubuhku kaku mendapat serangannya tiba-tiba, dengan beraninya Yuri menempelkan bibirnya pada bibirku membuatku diam. Aku sangat merindukan kecupan ini sewaktu aku berada di Korea dan sebelum aku mengenal agama.
Pikiranku teringat pada Dara . Tanganku melepaskan tubuhkua yang bergelayut manja pada bahuku membuat tumbuh ramping itu jatuh di lantai keramik yang sangat dingin.
"Aku dengar kamu sudah menikah, apa dia orang Korea?" tanyanya seraya berdiri kembali.
"Untuk apa kau mencari informasi itu?" tanyaku balik menatapnya dingin.
"Reyn, dulu kamu gak pernah menatapku seperti itu?"
"Dulu 'kan? Kamu pergi sekarang, keluar!" teriakku membuat urat yang ada di pelipisiku keluar.
Dia terkejut sambil memengang dadanya dan berjalan keluar dari ruanganku diiringi dengan suara high heelsnya yang bergesekan dengan lantai.
Aku meremas rambutku dan mengacak-acaknya frustasi. Aku marah dengan takdir yang mempertemukanku dengan wanita itu, aku sudah memiliki istri.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ...
Ceklek.
"Selamat pagi, pak. Hari ini ada rapat ..."
"Batalkan semuanya!" bentakku membuat karyawati itu menundukkan kepalanya dan menutup pintu ruangan dengan pelan.
Aku melempar gelas yang ada di meja kerja, dan menendang komputer dan CPU. Aku sangat frustasi dengan keadaanku. Langkah kakiku keluar dari ruangan menuju lobi. Mereka menatapku dengan ketakutan dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Aku masuk ke dalam mobil menuju rumah Park Jong Ru--sepupu jauhku dari Korea dan sekarang menetap di Indonesia untuk mencari istri. Dulu dia sangat menginginkan wanita Indonesia karena ingin memiliki keturunan blasteran.
Sampainya di depan gerbang, seorang satpam membuka pintu gerbang untukku dan aku memasuki pekarangan rumahnya dan memencet tombol.
"Wah, ada apa datang ke mari?" tanya seorang pria dengan mengenakan baju kaos dan celana tidurnya berwarna hitam.
"Gue frustasi sekarang."
Dia mempersilahkanku masuk ke dalam rumahnya dan aku menceritakan kejadian Kang Yuri datang di kantorku hingga melakukan hal yang sangat keci terhadapku.
"Kenapa bisa?"
Aku menggelengkan kepala sambil bergumam tak jelas.
"Lalu?"
"Aku butuh wine," jawabku menatap kosong.
"Jangan, lo jangan kayak dulu lagi. Kita beda sekarang."
"Cepat!" potongku sambil berteriak. Jong Ru beranjak dari sofa untuk mengambil sebotol wine untukku.
Ia meletakkan botol wine itu dengan gelas kaca mini, aku menuangkan cairan tersebut lalu meneguknya hingga lima gelas sekaligus.
POV Author
"Kau tahu, aku sudah melupakan Kang Yuri, dan aku mencintai istriku walau dia masih malu dan tak menanggapinya. Aku sangat mencintai gadisku bahkan aku belum menyentuhnya saat ini. Aku sangat mencemaskan perasaan istriku jika dia tahu kejadian Kang Yuri dan aku di kantor." Azlan berucap dengan pandangan sendu dan kembali meneguk cairan wine itu di tangannya. Semenatara Park Jong Ru hanya diam mendengar ucapan sepupunya yang sudah berkaca-kaca.
Azlan sangat terpukul dengan kejadian tadi, ia meracau tak jelas membuat Park Jong Ru pening melihatnya. Ia datang ke rumah hanya ingin sebotol wine dengan harga yang fantasi.
"Kau tahu, aku bahkan sudah menghamburkan uang untukmu," ujar Park Jong Ru, Azlan hanya tertawa. Ia mabuk sekarang, wajahnya memerah dan bau tubuhnya juga menusuk indra penciuman Park Jong Ru.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan." Tangisan Azt pecah membuat Park Jong Ru menatap sepupunya iba. Ia menuntun Azlan Menuju kamar tamu yang tak jauh dari ruang keluarga dan meninggalkan Azlandi sana untuk menetralkan tubuhnya yang mabuk dan menyuruhnya untuk pulang setelah keadaan membaik.