Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 58. Dara Terkejut


__ADS_3

Azlan hampir saja tersesat. Tapi, ia menghidupkan GPS di ponselnya lalu menggunakan peta dari ponselnya menuju cafe halal.


Lumayan jauh dan memakan waktu lebih kurang 2 jam.


"Akhirnya," gumamnya seraya masuk ke dalam cafe halal tersebut.


Azlan duduk di meja sebelumnya ketika ia pertama kali datang ke cafe ini. Azlan mengangkat tangannya ketika seorang wanita berpakaian seragam yang sama dengan karyawan lainnya menoleh ke arah Azlan, berjalan seraya membawa buku menu.


"What do you want, sir?" tanyanya.


Azlan melirik ke papan nama wanita itu, Mia.


(Mau pesan apa, tuan?)


"I'd like dessert, a sweet one and a cup of green tea."


(Saya mau makanan penutup, yang manis dan secangkir teh hijau.)


"Okay, please wait a few more minutes. We will carry your order."


Mia berjalan meninggalkan Azlan. Ia sedikit terpanah dengan pesona Azlan, tak biasanya ia bertemu dengan lelaki yang tampan sepertinya.


(Baik, silahkan menunggu beberapa menit lagi. Kami akan membawakan pesanan anda.)


"Tius, make 5 dessert menus and a cup of green tea," ucap Mia pada salah seorang chef laki-laki.


(Tius, buatkan 5 menu makanan penutup dan secangkir teh hijau.)


Dara yang baru keluar dari toilet pun terkejut dengan kedatangan Mia di depannya.


"There was a man who saw you this morning, want to see?" tanya Mia.


(Ada seorang pria yang tadi pagi melihatmu, mau lihat?)


"Is he really here?" tanya Dara memastikan, Mia menganggukkan kepalanya lalu membawanya ke luar dapur.


(Apa dia benar-benar ada di sini?)


Dara terkejut dengan kehadiran Azlan di California. Bagaimana bisa Azlan berada di sini? Apa Jong Ru memberitahukannya?


Dara segera masuk ke dalam dapur, membuat Mia bingung. Sementara Azlan tak tahu dengan kegiatan mereka tadi karena kebisingan orang-orang yang berada di cafe ini.


"What is wrong with you? Are you fascinated by it? Good looks? I also," ujar Mia sambil tersenyum.


Dara menatapnya heran.


(Kamu kenapa? Apa kau terpesona dengan ketampanannya? Aku juga)


"No, I'm just shocked. I thought he was my friend, apparently different people. Only similar in stature," tukas Dara.


(Bukan, aku hanya terkejut saja. kukira dia temanku, ternyata beda orang. hanya mirip dari perawakannya saja.)


"Ah, I see. but, he was very clear. His face was clean and well groomed, his jaw was also firm. Just adds to his handsome aura Ah, if only he was my soul," cerca Mia.


(Ah, begitu rupanya. tapi, dia sangat bening. wajahnya itu bersih terawat, rahangnya juga dangan tegas. menambah aura ketampanannya saja. Ah, andaikan saja dia adalah jodohku.)


"Hey, you are young. many men have a crush on me, but you have to wait for the right time," pungkas Dara seraya mencolek pipi Mia.


(Hei, kau masih muda. banyak lelaki yang naksir padaku, tapi kau harus menunggu waktu yang tepat)

__ADS_1


"Mia, your order is complete. Come on, drop off," sahut Tius menata makanan penutup di nampan tak lupa dengan secangkir teh hijaun


(Mia, pesananmu sudah selesai. Ayo, diantar.)


"I'm working first, yes."


Mia berjalan mendekati Tius lalu membawakan nampan tersebut pada Reyndad.


(Aku bekerja dulu, ya.)


Kenapa dia ada di sini? Pikir Dara. Dia langsung mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Yayuk yang tengah kuliah.


***


"Have you been waiting long, sir?" tanya Mia seraya meletakkan nampannya di meja yang di duduki oleh Azlan.


(Apa kau menunggunya lama, tuan?)


"No, thank you." Azlan berucap dingin setelah mebgucapkan itu, ia langsung menyantap makanan penutupnya.


Bukan, Azlan sangat ingin tahu dengan wanita yang tadi pagi ia lihat. Sangat mempesona, bahkan ia menyangka jika wanita itu adalah Dara.


Tapi, ia mulai berpikir, bagaimana bisa Dara ke luar negeri?


Mia meninggalkan Azlan dengan mengerucutkan bibirnya, padahal tadi ia sudah cukup sopan untuk mengajak Azlan berbicara, walaupun tak berlebihan.


"Bahkan sudah bertahun-tahun dia tak kembali ke Indonesia. Dia tak juga datang ke rumahnya. Apa kehidupannya di sana jauh lebih baik? Apa dia masih bernafas?" gumam Azlan.


Dara menatap keberadaan Azlan dari jauh.


Benar, itu suaminya.


Sekarang ia melihat pria itu di depan matanya.


'Dia terlihat sangat tampan, apa dia sudah memiliki kekasih di Indonesia? Atau dia sudah balikan dengan Kang Yuri?' batin Dara.


Dara melihat semua kegiatan Azlan. Wanita itu benar-benar merindukan sosok Azlan.


Ingin sekali ia datang, berlari dan memeluk punggung kekar itu dari belakang sambil menangis.


Tapi, tidak mungkin.


Dara cukup tahu diri. Dia yang meminta untuk berpisah. Hanya saja, Azlan tak membawakan surat perceraian untuk mereka berdua.


"Azlan, I miss you so much. Baik-baiklah jika tak ada aku di sisimu."


Dara menutup matanya saat air mata itu tumpah. Tangannya membekap mulutnya agar tak mendengar isak tangis dari orang lain.


***


Setelah selesai menghabiskan makanan penutup, Azlan berdiam diri seraya melipat tangannya di depan dada.


Laki-laki ini sangat ingin bertemu dengan wanita itu.


Hanya memastikan apakah dia benar-benar orang California atau itu adalah Dara.


"Sampai sekarang aku tak melihat wanita itu," ucap Azlan menatap pintu keluar yang tadi Dara lalui.


Dari belakang, Dara berjalan keluar cafe bertepatan di belakang Azlan tanpa diketahui oleh sang empu.

__ADS_1


Azlan selalu menatap pintu itu hingga 3 jam lamanya.


Tak ada, pikirnya.


Ia memutuskan membayar makan siangnya dan pulang.


***


Sampai di hotel, Azlan berjalan gontai seraya menenteng mantel dan syal di lengannya.


"Astaga, lo ke mana aja. Gue kira lo tersesat," umpat Jong Ru.


"Hampir, tapi tadi pake GPS ke cafe halal."


Jong Ru yang hendak ke kamar mandi terhenti mendengar nama cafe halal. Ia berbalik menatap Azlan yang duduk di bibir ranjang.


"Ngapain?" tanya Jong Ru penasaran.


"Sekedar memastikan apakah wanita yang tadi pagi gue pandangi itu Dara atu wanita lain."


"Mwo?"


"Aku merasa itu adalah Dara."


Jong Ru terdiam. Ia merasakan Azlan begitu merindukan wanitanya.


"Apa lo ke sini untuk bertemu dengan Dara? Apa Dara ada di sini, Jong? Tolong jawab pertanyaan gue," ucap Azlan menatapnya sendu.


"Gue ke sini untuk berliburan, gak lebih Azlan ."


Jong Ru berjalan ke kamar mandi.


Sampai di wastafel, ia mengepal tangannya di udara.


Jong Ru menghidupkan kran di wastafel.


Ia menatap dirinya di depan pantulan cermin.


"Azlanneun Dara-ui jonjaeleul eotteohge neukkil su iss-eossseubnikka? Geuneun Dara-eul jigjeob mannassgeona mannan jeog-i issseubnikka?" gumamnya.


(Bagaimana bisa Azlan merasakan kehadiran Dara. Apa dia pernah bertemu atau bertatapan langsung dengan Dara?)


Jong Ru menggelengkan kepala.


"bang-geum mannass-eoyo. Ama dwieseo adeu nan-eulbwass-eul geos-ibnida. O mai gas. Azlandga Dara-eul mannagehaji masibsio. Naneun imi geugeos-eul saranghanda."


(Tadi dia hanya ketemu. Mungkin saja dia melihat Dara dari belakang. Astaga, ya Tuhan. Jangan sampai Azlan bertemu dengan Dara. Aku sudah menyukainya)


Sementara Azlan masih memikirkan wanita yang tadi pagi ia lihat walau hanya punggungnya saja.


Wanita itu menggunakan helm dan masker serta hijab dan gamis berwarna army itu.


"Geuleohdamyeon geunyeoneun je anaeibnida-Dara. Ulileul hanalo mo-eusibsio, o Allah. Jigeumkkaji jeongmal geuliwoyo." Azlan bergumam.


(Jika benar dia adalah istriku--Dars. pertemukanlah kami ya Allah. Aku sangat merindukannya sampai sekarang.)


Azlan berjalan menuju balkon kamar. Ia termenung seraya menikmati hembusan angin yang dingin menusuk pori-pori kulitnya hingga ke tulang.


Azlan memejamkan mata ketika matanya terasa buram karena air matanya menggenang di pelupuk mata dark kninght-nya.

__ADS_1


__ADS_2