
Jong Ru menceritakan keadaan Azlan yang sangat tragis karena ditinggal oleh Dara . Dari lubuk hati Dara , ada rasa iba dan khawatir. Tapi, egoisnya melebihi rasa belas kasihan untuk Dara.
"Jangan ceritakan tentang dia," ucap Dara menatap Jong Ru.
****
Pagi ini, Azlan berangkat ke Korea sekedar liburan karena 1 bulan ini kantornya cuti menjelang pergantian tahun.
Azlan memesan tiket pesawat bagian bussines lalu menjadwalkan keberangkatannya jam 20.00 WIB.
Setelah mengemasi pakaian dan baju tebal di dalam dua buah koper miliknya, pukul 19.23 WIB ia berangkat menggunakan taksi online yang sudah Azlan pesan tiga puluh menit lalu.
'Aku akan ke Seoul tanpamu,' batin Azlan menatap tiket pesawat dengan nomor 2 milik Dara dulu.
Azlan naik ke pesawat dan mencari tempat duduknya di samping jendela. Azlan Duduk seraya menggunakan sabuknya lalu mengeluarkan ponsel milik Dara .
Banyak sekali foto milik Dara ketika ia sedang bosan. Wajahnya hanya bisa ia raba melalui layar pipih itu. Tapi, tidak ia rasakan kelembutan kulitnya, dan wangi dari tubuh mungil itu.
"Jigeum eodi gyeseyo? Nal geuliwohaji anhni? Gakkeum-eun dangsin-i nae yeop-e eobsgi ttaemun-e hwaldong-eulhago sipji anhseubnida. Naneun dangsin-ui mom-eul an-eul su eobs-seubnida," lirih Azlan.
*Di mana kau (perempuan) sekarang? Apa kau tidak merindukanku? Kadang aku tak berselera beraktivitas karena kau tak ada di sampingku. Aku tak bisa memeluk tubuhmu.*
"Excuse me, can you turn off your cellphone? Or use airplane mode because the pilot communication process will be interrupted later," ucap pramugari pada Azlan.
*Permisi, apakah Anda bisa mematikan ponsel anda? Atau gunakan mode pesawat karena nanti proses komunikasi pilot akan terganggu.*
"Sorry," ujar Azlan seraya mengalihkan ponselnya ke mode pesawat.
Kini wanita itu sangat jauh dari jangkauannya. Ia tak tahu keberadaannya, bahkan bunda Fisya mengusirnya ketika Azlan ke rumahnya. Bunda Fisya sempat membawa tas besarnya untuk pindah , tapi Azlan bersikeras agar mereka tinggal di sini dan Azlan tak akan menemuinya hingga Dara kembali ke pelukannya.
Terkadang, Azlan ingin bunuh diri betapa menyakitkan ketika ia melepaskan Dara begitu saja.
"Kau di mana? Aku akan ke Seoul sekarang. Apa kau di sana? Jika iya, berarti kita akan bertemu."
Azlan mengecup layar ponselnya yang tertera foto Dara tengah berpangku dagu dengan kedua tangannya. Sangat cantik dan menggemaskan ketika rambut ikal itu terurai.
Azlan Menutup matanya setelah puas memandangi wajah Dara yang menurutnya sangat cantik dan ia sangat merindukannya.
Pramugara memberikannya selimut tebal. Azlan menerimanya dengan senang hati lalu merendahkan punggung kursi itu agar tidurnya tak terganggu.
***
Pukul 10.34 KST (Korean South Time), Azlan sudah di tunggu oleh sang ayah, ibu dan Cinta di dalam mobil Ferrari 458 Italian.
"Beli mobil lagi, pa?" tanya Azlan masuk ke dalam mobil.
"Diganti yang lebih baru," jawab Seok. Mereka langsung pulang ke rumah.
Mama terlihat murung setelah Dara tidak bisa ditemukan.
"Kamu gak cari Dara , sayang?" tanya mama sambil memasukkan pakaian milik Azlan ke dalam almari.
"Sudah, ma. Gak ada, ponselnya gak dibawa. Mau cari ke mana lagi," sahut Azlan yang tengah memainkan ponselnya di ranjang.
"Udah hampir 4 tahun, mama rindu dia."
Silvia menyeka air matanya lalu meninggalkan Azlan di kamarnya. Azlan sempat melirik ke arah mama yang membekap mulutnya dengan satu tangan.
Tapi, dengan cepat Azlan mengalihkan pandangannya pada ponselnya agar ia tak ketahuan merilik mama yang tengah menahan isak tangisnya.
POV Azlan.
Pagi ini, aku pergi ke dealer mobil mewah yang terletak di kota Seoul.
"Annyeonghaseyo, Seogssiui adeul-i aningayo?" tanya seseorang padaku saat aku memasuki gedung yang menjulang tinggi.
__ADS_1
*Halo, apakah Anda anak Tuan Seok?*
"Eotteohge asibnikka?" tanyaku heran.
"Hahaha, budongsan bumun-eseo geuleohge manh-eun gyeongheom-eul gajin salam-eul eotteohge al su eobs-seubnikka? 2 ju jeon-e geuneun ije chaleul chalo bakkwossseubnida." Pria itu menepuk lenganku pelan.
*Hahaha, Bagaimana saya tidak tahu dengan orang yang sangat berpengalaman di bidang properti itu? 2 minggu lalu dia mengganti mobilnya dengan mobil sekarang.*
"A, geuge bangbeob-iya," ucapku pelan.
*Ah, begitu rupanya.*
"Geuleom dangsin-eun mueos ttaemun-e yeogie wassseubnikka? Dangsindo chaleul sago sip-eo?"
*Lalu, untuk apa kau datang kemari? Apa kau ingin membeli mobil juga?*
"Ne, dangsin-ui gogeubchaleul boyeojul su issseubnikka?" tanyaku spontan.
*Ya, bisakah Anda memperlihatkan padaku mobil mewah milikmu?*
"Geulae, eoseo nal ttalawa."
*Tentu, ayolah ikuti aku.*
Pria itu berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dari belakang. Kami menaiki lift karena letak mobil mewah itu berada di lantai 7.
Sampai di sana, aku sangat terpanah dengan deretan mobil mewah yang sangat elegan, warnanya sangat memukau dan pasti harganya tak tanggung-tanggung.
Pria itu menjelaskan kelebihan dan kekurangan mobil itu. Semuanya ada di gedung miliknya jika mobil itu rusak atau ada masalah, segera bawa ke gedungnya karena ia memiliki beberapa montir yang sangat handal.
Ia juga memberikan harga di setiap mobil yang kami lewati. Ia juga tak segan untuk memperlihatkan bagian dalam mobil itu.
"Wah, daebak!" gumamku.
*Silahkan kau pilih.*
Aku melirik puluhan mobil itu sambil berjalan pelan.
"Naneun igeos-eul seontaeghanda."
*Aku pilih ini.*
Aku menunjuk mobil Lamborghini Diablo VT 6.0 Special Edition warna ungu. Mobil berharga USD1 juta atau Rp14,7 miliar.
Sangat fantastis sebenarnya, tapi ini adalah salah satu kebutuhanku juga.
"Sasil-ingayo? Geuleom seolyuleul jeonglihabsida," serunya seraya memanggil dua karyawan yang tak jauh di tempat kami berdiri.
*Benarkah? Kalau begitu, ayo kita urus surat-suratnya.*
Setelah selesai, mobil itu resmi menjadi milikku. Aku berjabat tangan sambil tersenyum pada Gong Han Kwang--penjual mobil mewah itu.
Aku memasuki mobil itu lalu menuju restaurant Gaon terletak di 317 Dosan-daero, Sinsa-dong, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan.
"Annyeonghaseyo, mueos-eul jumun hasigessseubnikka?" tanya perempuan menghampiriku. Ia meletakkan buku menu itu tepat di atas mejaku.
*Halo, Anda mau pesan apa?*
"Eum, i sigdang-eseo sogalbi, bogsung-a, mein seutei menyuleul jumunhaessseubnida," jawabku memberikan buku menu padanya.
*Hm, saya pesan iga sapi, buah persik dan beberapa menu andalan di restoran ini.*
"Algessseubnida. Jamsiman gidalyeojuseyo. Dangsin-ui jumun-eul gajyeool geos-ibnida," ucapnya seraya pergi meninggalkanku.
*Baik, silahkan tunggu sebentar. Pesanan Anda akan segera kami bawakan.*
__ADS_1
Aku memainkan ponsel sambil menunggu makan siangku datang. Sesekali aku mengecek perusahaan papa dengan data statistik di layar ponsel.
"Jumun-i dochaghaessseubnida. jeulgiseyo."
Mereka datang membawakan pesananku. Beberapa dessert juga terpanjang di sini.
*Pesanan Anda sudah datang. Silahkan dinikmati.*
"Gomawo," ucapku seraya menundukkan kepala.
Aku mulai memakan makan siang ini sendirian walaupun restoran ini ramai, tapi ada sesuatu yang mrmbuatku tak nyaman. Entahlah, aku membuang perasaan itu jauh-jauh dan kembali menikmati makanku yang tertunda.
Setelah selesai, aku membayar pesanan ku menggunakan black card yang dulunya sempat Dara gunakan.
Aku pulang ke rumah membawa mobil itu. Cinta yang sedang duduk di teras rumah sambil mengetik di laptopnya terkejut dengan mobil yang baru saja kubeli.
"Kak, jangan boros," sahutnya.
"Yak, nae don-eulo sass-eo. dongsaeng-ii chaleul gajyeo wassdaneun geos-i jalang seuleowoyahabnida," ucapku.
*Hei, aku membelinya pakai uangku sendiri. Seharusnya kau bangga karena abangmu membawa mobil ini.*
"Ani, najung-e Indonesialo mueos-eulo dol-agal geongayo? Dobolo?" tanyanya.
*Bukan begitu, maksudku nanti kau pulang ke indonesia pakai apa? Jalan kaki?*
"Naneun don-iissda."
*Aku punya uang.*
Aku masuk ke dalam rumah.
***
Di kamar, aku membaringkan tubuhku lalu merongoh saku celana. Melihat wallpaper foto Dara yang dulu ku-setting.
"Apa kau sudah menemukan lelaki yang bisa menggantikan posisiku hingga kau belum pulang ke Indonesia?" gumamku.
"Tapi, aku belum menemukan seorang gadis yang bisa menggantikan posisimu."
"Apa makanmu enak? Apa tidurmu nyenyak?"
Ping!
Aku kembali merongoh saku celana, cukup sulit karena posisiku tengah berbaring.
"Jong Ru," gumamku menggeser ke atas tombol hijau karena Jong Ru melakukan panggilan video padaku.
"Hm?" sahutku ketika panggilan video itu terhubung.
"Omo, eodiss-eo? geugeon ne chimdaega aniji?" tanyanya.
*Astaga, kau sedang di mana? Itu bukan ranjangmu, 'kan?*
"A, naneun jigeum hangug-e issneunde eodiya?" tanyaku.
*Ah, aku di Korea sekarang, kau di mana?*
Terlihat Jong Ru berjalan di sebuah kota. Apa dia ke luar negeri? Pikirku.
"Gue di California. Cuman cuci mata karena pekerjaan kantor. Refreshing," sahutnya diselingi dengan senyuman manisnya.
"Terserah, kenapa lo di California? Emang lo punya saudara di sana?" tanyaku penasaran.
"Aku liburan."
__ADS_1