Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 83.Ratu Tidur


__ADS_3

Aku menghapus jejak air mata di pipinya lalu menanggalkan peniti di bawah dagu dan di kepalanya.


Aku membuka jilbab Dara lalu merapikan rambutnya yang basah oleh keringat.


Aku mengambil pergelangan kakinya dan meletakkan dipangkuanku.


Jujur, aku dulu pernah merasakan kecelakaan seperti ini. Aku menekan sedikit bagian dalam mata kakinya.


"Aa! Sakit, kak. Jangan digituin."


Dara kembali menangis. Padahal aku hanya menekan kulitnya sedikit saja.


"Diam."


Aku kembali menatap Dara yang meringis kesakitan saat aku kembali memijit kakinya.


Dara juga menggigit bibir bawahnya agar tak mendengar suara tangisannya.


"Kakak mulai, ya. Kamu tahan sakitnya. Cuman beberapa detik aja."


Aku mulai menyentuh telapak kaki Dara lalu menggerakkan dengan cara memutar perlahan.


"Jangan gitu."


Dara meremas bahuku yang dibaluti kemeja berwarna hitam.


"Gak sakit, sakitnya kayak digigit ular. Tapi, langsung ilang," ujar ku sambil tersenyum.


Dara mengerucutkan bibirnya mendengar ocehan ku.


Aku menarik tengkuk Dara , menempelkan biraiku pada birainya lalu menggerakkan pergelangan kakinya dengan kasar.


Suaranya tertahan akibat biariku yang menempel di birainya. Untuk meredamkan suara dan teriakannya.


Aku melepaskan biraiku lalu menatapnya yang menatapku sambil membelalakkan matanya.


Aku kembali menggerakkan kaki Dara dan ia tersadar akan lamunannya yang tadi menatapku dan beralih pada kakinya yang tak merasakan sakit lagi.


"Sekarang naikkan rokmu," pintaku.


Dara kembali menggelengkan kepala.


"Kamu mau lukanya infeksi? Mau lutut kamu diamputasi?" tanyaku menatapnya.


"Enggak."


"Ya udah, turuti kemauan kakak," ujarku.


Dara menaikkan rok navy-nya. Sementara aku kembali membilas handuk itu dengan air biasa dan menatap lutut Dara yang terbuka dan melihat lukanya yang menganga.


Aku mulai menyentuh lutut yang berdarah itu dengan handuk basah dan sedikit menggeser handuk tersebut untuk mengeluarkan beberapa butir tanah di sana.


"Sa--kit."


Aku menulikan telingaku ketika mendengar suara Dara yang mendesis, meringis kesakitan dan mencengkram pergelangan tanganku yang tengah sibuk dengan membersihkan lututnya.


Bukan Dara saja yang keringat dingin, aku juga. Sebagai pria normal, jika kalian melihat kaki bersih seorang wanita. Pasti akan tergoda.


Apalagi aku tengah menahan gelojak dari dadaku.

__ADS_1


Setelahnya aku menuangkan obat merah dan betadine ke kapas tersebut. Alkohol, aku lupa membeli cairan itu.


"Ah! Perih."


Dara menepuk bahuku kasar ketika cairan berwarna coklat itu menyentuh kulitnya yang mengeluarkan darah.


Padahal obat merah itu sudah menyerap di tengah-tengah lukanya.


Dara kembali memukul bahuku lagi ketika aku meneteskan betadine itu ke lututnya.


Dan berakhir dengan menutup luka itu dengan kapas diikat dengan kain. Persediaan di mobilku sangat minim, aku juga tak membeli kain kasa.


"Sudah," seruku seraya meniup lukanya yang sudah dibaluti kapas.


Dara membuka matanya lalu menyenderkan kepala dan punggungnya di ranjang.


Sementara aku memasukkan betadine, kapas dan obat merah ke dalam kotak kecil.


"Kakak beli paracetamol sama obat pereda nyeri lain."


Aku mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar. Baru beberapa langkah, ibu menghentikanku.


"Mau ke mana?"


"Keluar sebentar, bu. Mau beli obat pereda nyeri."


"Pake motor bunda aja."


Bunda Fisya berjalan ke dalam kamarnya dan memberikan kunci motor maticnya padaku.


"Makasih, bu."


****


Aku keluar dari apotek sambil menenteng plastik kecin yang berisi obat-obatan lalu melihat tangki bensin motor tersebut.


"Astaga, untung aja gak mati di tengah jalan," gumamku kembali menutup tangki bensin itu dan kembali pulang.


Sebelum pulang, aku mengisi bensin motor full, lalu menyelipkan beberapa uang lembar di dalam jok.


****


"Assalamualaikum."


Aku masuk ke dalam rumah sambil menenteng plastik itu dan berjalan memasuki kamar.


Aku melihat Dara tengah berbaring dan menutup matanya di pojok ranjang.


'Tidur?' batinku meletakkan plastik tersebut dan berjalan ke dapur.


"Sedang apa, bu?" tanyaku menatap bunda Fisya yang tengah berkutat di kompornya.


"Mau buat sup ayam buat Dara . Kamu mau?"


Aku menganggukkan kepala seraya mengambil sendok kayu panjang di dalam mangkuk kaca tersebut.


Sementara ibu mencuci beras di wastafel.


"Apa ada kendala dengan airnya, bu?" tanyaku seraya basa basi.

__ADS_1


"Ada, nak. Sumur di kamar mandi sekarang, airnya udah hampir habis."


"Kalau gitu, buat sumur bor aja, bu. 'Kan di belakang atau samping rumah masih ada lahan."


"Biar Azlan yang bantu bayarnya," sambungku.


"Makasih ya, nak."


Aku menganggukkan kepala seraya menampilkan senyum termanisku padanya.


"Bentar lagi supnya matang. Kamu ambil mangkuk."


Aku menuruti apa yang dia perintahkan padaku. Chaca datang membantu kami dengan mengupas jus alpukat lalu ia masukkan daging alpukat itu ke dalam blender.


Setelah tersaji, aku membawa semangkuk sup ayam, segelas jus alpukat dan ada sendok dan garpu di sana ke kamar Dara.


"Selamat sore, ratu tidur. Ayo, bangun. Makan sup ayam dulu," sahutku saat masuk ke dalam kamar Adnan dan meletakkan nampan itu di nakas yang sedikit jauh dengan ranjang.


Dara sama sekali tak bergerak bahkan tak terganggu dengan kehadiranku yang duduk di ranjang.


"Ratu tidur, ayo bangun." Aku menepuk bahunya pelan lalu memainkan rambutnya.


Kelopak mata dark knight itu bergerak lalu menoleh ke arahku. Aku menghentikan tanganku yang bermain-main di rambutnya.


"Duduk, kamu harus isi perutmu dengan masakan ibu ini. Kakak kurang mahir kalo masak sup, tapi kalo masak steak daging, rameyon, bubur sumsum, kentang goreng sama roti bakar rasa coklat kesukaan kamu, kakak bisa."


Aku mengoceh saat Dara menuruti permintaanku. Aku meraih segelas jus alpukat itu lalu memberikan padanya.


Dara kembali memberikan gelas itu padaku saat ia merasa cukup membasahi kerongkongannya dan aku menyuapi sup ayam tersebut padanya.


"Nasinya mana?"


Mataku bergerak ke mangkuk yang berada di genggamanku.


Iya, nasinya gak ada.


"Hehehe, gak apa-apa kalo gak pake nasi. Malahan lebih bagus," tukasku.


"Ih, gak kenyang!" timpal Dara seraya meninggikan suaranya kesal.


"Astaga, kakak ambil dulu nasinya."


Aku meletakkan mangkuk sup itu di nakas lalu keluar dari kamar untuk mengambil nasi yang ada di dalam rice coocker.


Aku menuangkan nasi tersebut ke dalam mangkuk kecil kaca berwarna putih lalu kembali menutup rice coocker itu dan kembali berjalan ke kamar dengan kepulan asap yang menyapa wajah tampanku.


"Ini nasinya, ayo makan lagi."


Aku kembali menyuapi nasi panas itu ke sendok lalu memberinya dengan air sup.


Aku meniup pelan nasi tersebut lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


"Eh, ayamnya lupa."


Aku terkekeh ketika sadar dengan kebodohanku yang lupa memberikan daging ayam pada Dara.


"Hm."


Aku tersenyum menatap Dara lalu memisahkan daging ayam dari rulangnya menggunakan garpu dan sendok dan kembali menyuapi daging ayam itu untuknya.

__ADS_1


__ADS_2