
Pagi hari, Azlan kembali berjalan menuju cafe halal. Ia melihat wanita berhijab dan bergamis warna navy sambil menggendong seorang anak kecil kira-kira usianya 2 tahun.
Wanita itu membuka cafe halal seraya mencium pipi gadis kecil itu yang berada di gendongannya.
"Apa dia sudah menikah?" gumam Azlan seraya duduk di bangku panjang dan memegang ponselnya.
Pintu itu kembali tertutup rapat. Tak berselang lama, datanglah para pegawai dan beberapa orang chef memasuki cafe tersebut.
"Sekarang masih pukul 6 pagi."
Azlan menatap layar ponselnya. Walaupun masih pagi, banyak orang berlalu lalang berjalan di sini.
Azlan tetap duduk di bangku itu seraya menatap ponselnya. Bukan, itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya agar mereka tak merasa terusik ketika Azlan diam-diam mematai cafe tersebut.
Tak lama, wanita itu keluar seraya menenteng dua kotak di tangannya dengan helm yang melekat di kepalanya.
Dara.
Azlan tak salah melihat?
PoV Azlan
Aku mengucek mata dan mengedipkan beberapa kali ketika melihat wanita yang sangat kurindukan.
Benarkah dia? Pikirku.
Saat aku hendak menyusulnya, sebuah klakson mobil menghentikan langkahku. Hampir saja nyawaku melayang.
"Tunggu, dia ke mana?" gumamku ketika tak melihat Dara dan motornya di sebrang sana.
"Naneun geugeos-eul ilh-eo beolyeossda. A jenjang," umpatku meremas poni.
(Aku kehilangan jejaknya. Ah, sial.)
Aku berjalan di zebra cross ketika lampu merah menyala. Kali ini, aku harus menunggunya di dalam cafe itu.
"What message, sir?"
Seorang pria datang ke mejaku seraya menyerahkan buku menu. Aku menerimanya lalu membacakan makanan dan minuman di dalam menu tersebut.
"I'll just order the moccacino, a dessert that has one sweet tooth."
(Saya pesan moccacino aja, dessert yang manisnya satu.)
Pria itu mencatat menu yang kuinginkan ke dalam catatan kecil di tangannya.
"All right, please wait a moment, sir."
Aku menganggukkan kepala lalu kembali menunggu Dara. Benar, aku masih terbayang ketika melihat wajahnya dari sebrang beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Tapi, apakah dia bekerja di cafe ini? Dengan siapa dia pergi? Dari mana dia mendapatkan uang untuk bekerja paruh waktu di negeri orang?
Ting!
Aku menatap wanita berambut lurus pirang itu. Tersenyum melihat seluruh penjuru cafe ini lalu berjalan ke kasir.
Aku tak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Dia terlihat seperti orang Indonesia bukan campuran.
Tak lama, perempuan itu menatapku lekat yang berada di dekat meja resepsionis. Ya, aku duduk dekat dengan meja ini karena nanti ketika Dara datang, aku tak perlu berteriak memanggil namanya.
"Has the man ordered a menu?" tanyanya pada seorang wanita di sampingnya.
(Apakah pria itu sudah memesan menu?)
"Yes, Steven ordered it," jawab wanita yang berpakaian seragam.
(Sudah, tadi Steven yang memesankannya.)
Wanita itu tersenyum tipis menyapaku lalu berjalan terburu-buru keluar dari cafe ini.
Aku mengangkat tangan kiri untuk melihat jam tangan mewah yang melrkat di pergelangan tanganku.
08.21 PT.
"Excuse me sir, this is your order."
Pria itu meletakkan secangkir moccacino dan sepiring makanan penutup bergambar beruang di mejaku.
***
2 jam sudah aku menunggu kehadiran Dara datang ke cafe ini. Tak ada tanda-tanda di pintu Cafe Halal ini.
"Jeez, where's that woman? Did he see me earlier? But, there's no way he doesn't know where I am across the street. Come on, come faster. I miss you once."
Aku menggerakkan kedua kakiku tak karuan karena Dara belum juga menampakkan dirinya.
(Astaga, ke mana wanita itu? Apa dia tadi melihatku? Tapi, tidak mungkin dia tidak tahu dengan keberadaanku di sebrang jalan. Ayolah, datang lebih cepat. Aku merindukanmu sekali.)
***
Ting!
Aku melihat perempuan itu.
"Hai," sapaku berjalan mendekatinya.
Wanita itu terkejut bukan main. Kedua mata brownies hazel yang sangat kurindukan ini membola.
Dara hanya diam, lalu menghindar dariku dengan berjalan ke belakang. Tapi, lebih dahulu kucekal tangannya sehingga langkahnya terhenti tepat di belakangku.
__ADS_1
"Why are you avoiding me?" tanyaku nyaris berbisik.
(Kenapa kamu menghindar dariku?)
"Sorry, I have to work."
Dara berusaha memberontak, tapi aku lebih dulu menggenggam erat tangannya sehingga ia hanya bisa pasrah.
(Maaf, aku harus kembali bekerja.)
Aku menarik tangannya keluar dari cafe lalu menghempaskan tubuhnya ke dinding.
"Jebal na-egeseo meol-eojiji masibsio. Nae gyeot-e, nae gyeot-eiss-eo la. Naega munjee budij hil ttae naleul gyeoglyeohala. Ani, dasin gajima. Naega eolmana dangsin-eul geuliwohaneunji asibnikka? Naneun naega sum-eul swil ttaemada hangsang dangsin-eul saeng-gaghabnida. Gancheonghabnida. na-egeseo meol-eojiji masibsio."
Aku menatapnya dalam.
(Tolong, jangan pergi dariku. Tetaplah berada di sisiku, di sampingku, menyemangatiku bila aku dilanda kesusahan. Jangan, jangan pergi lagi. Apa kamu tahu bagaimana rindunya aku pada dirimu? Aku selalu memikirkanmu di setiap waktu, di setiap helaan napasku. Aku mohon, jangan pergi jauh dariku.)
Dara memutar bola matanya.
"Sorry Mister. Maybe you are wrong person," ujar Dara membuatku terkejut.
Bagaimana bisa aku salah orang? Aku menatapnya, dia benar-benar nerada di depan mataku sekarang.
Dara mendorong tubuhku pelan karena tak ada ruang untuknya pergi menjauh dariku.
"Is it because you fell in love with Jong Ru? Do you love each other? Have you opened your heart to him so that you closed your heart to me? Are you guys doing all this secretly behind my back?" lirihku.
Aku melihat punggung Dara di sisiku. Langkahnya terhenti ketika mendengar pertanyaanku yang menuntunnya.
(Apa karena kau sudah jatuh hati pada Jong Ru? Apa kalian saling mencintai? Apa kau sudah membuka hati untuknya sehingga kau menutup hatimu untukku? Apa kalian diam-diam melakukan semua ini di belakangku? )
"Wae?" tanyaku.
"It's not entirely from Jong Ru. Don't bring him into this problem. You do not know. so stay out of it and be ignorant. Isn't this clear enough? Why are you here? Isn't Kang Yuri better than me? Go with him, live with him and make new stories and pages with him. I can't be by your side. Didn't I invite you a few years ago to separate?" ucapnya panjang lebar.
Semua ini di luar dugaanku, bukan ini yang kuinginkan. Tapi, aku ingin melihat ekspresi Dara saat melihatku, rindu dan memeluk kembali tubuhku dengan erat.
(Ini bukan sepenuhnya dari Jong Ru. Jangan bawa-bawa dia ke dalam masalah ini. Anda tidak tahu. jadi jangan ikut campur dan sok tahu. Apa ini tak cukup jelas? Kenapa kau kemari? Bukankah Kang Yuri lebih baik dariku? Pergilah bersamanya, hidup bersamanya dan buat cerita dan lembar baru dengannya. Aku tak bisa berada di sisimu. Bukankah beberapa tahun lalu aku mengajakmu untuk berpisah?)
"That's right, Kang Yuri is my ex-lover. Remember Dara, he's just an ex. My past. Why are you bothering him? He who chased me, I never accepted. In fact, I ignored it. I love you very much," ujarku penuh penekanan.
Dara terkekeh pelan lalu menatap mataku tajam. Tatapan ini, bukan ini yang kuinginkan.
(Benar, Kang Yuri itu mantan kekasihku. Ingat Dara, dia cuman mantan. Masa laluku. Kenapa kamu mempermasalahkan dia? Dia yang mengejarku, aku tidak pernah menerimanya. Bahkan, aku mengabaikannya. Aku mencintaimu, sangat. )
"Is it true? Are you ignoring it? Then what about at the mall at that time? He came in our midst and you didn't catch up? You said you ignored it? Are you kidding?"
(Benarkah? Apakah kau mengabaikannya? Lalu bagaimana di mall waktu itu? Dia datang di tengah-tengah kita dan kamu gak mengejarkan? Kamu bilang kamu mengabaikannya? Apa kamu bercanda?)
__ADS_1
"Am I kidding right now? I don't want to debate another matter, Dara. all I want please come back to me. Don't you miss mama, Cinta, your mom and Chaca? They miss you so much now. Please understand," sanggahku.
(Apa aku terlihat bercanda sekarang? Aku tidak ingin memperdebatkan masalah lain, Dara yang kuinginkan mohonlah kembali padaku. Apa kau tidak merindukan mama, Cinta, ibumu dan Chaca? Mereka sangat kehilanganmu sekarang. Kumohon mengertilah.)