
POV Azlan
Di perjalanan, Dara mulai meregangkan genggaman tangannya di tanganku, ia mulai merasakan rileks saat melihat awan di atas. Matanya membesar dan tangan mungil itu menyentuh kaca pesawat.
"Boleh difoto gak?"
Aku menganggukkan kepala lalu mengeluarkan camera khusus dan Dara membidiknya. Dara juga mengarahkan kamera tersebut pada kami untuk melakukan pose yang lucu, kesal dan tersenyum bahagia.
"Berarti kakak sering dong bolak-balik Indonesia ke Korea?"
"Iya, tapi itu dulu. Sekitar 3 tahun yang lalu."
Aku mulai memesan makanan dan minuman agar Dara tidak merasa kelaparan dan sekaligus menikmati pemandangan di atas awan.
"Saya pesan nasi goreng, dessertnya lava cake chocolate, minumannya susu coklat."
Pramugari tersebut berjalan meninggalkanku untuk membuatkan pesanan, aku memanggil pramugari dari Indonesia agar Dara paham dengan apa yang kuminta.
****
10 jam berlalu, kami keluar dari pesan sambil membawa koper dan sudah di a oleh orang suruhan papa. Cuacanya sangat dingin, angin berhrmbus sangat kencang saat kami menginjakkan tangga pesawat.
Aku memeluk Dara agar ia tidak terjatuh, mereka memberi kami mantel dan syal lalu menuntun kami masuk ke dalam mobil Mercedes Benz class A 2019 berwarna merah maroon.
Dara melihat ke kaca mobil dengan tatapan yang mengangumkan. Aku menggenggam tangannya untuk memberi kehangatan karena cuaca saat ini di bawah 5 derajat celcius.
Dara pasti akan sakit, karena ini untuk pertama kalinya tubuh mungilnya merasakan hawa sedingin ini.
Sampainya di villa papa, kami turun dengan keadaan jalan menanjak. Walaupun begitu, papa sangat suka bercocok tanam.
Tok ... tok ... tok ....
Aku mengetuk pintu kayu tersebut dan papa membukakan pintu sambil tersenyum dan memeluk kami berdua.
"Gamsahamida," ucap papa pada kedua bodyguardnya. Mereka memberikan kunci mobil padanya dan berlalu pergi. Sementara kami masuk ke dalam dan papa sudah menyiapkan wedang jahe untuk menghangatkan tubuh.
POV Author
"Akhirnya kalian sudah sampai ke Seoul. Bagaimana sayang? Cantik bukan?" tanya papa pada Dara.
Dara tersenyum seraya menganggukkan kepala dan meminum sedikit demi sedikit wedang jahe yang di gelas berisi air panas kuku.
"Kalian akan tidur di kamar kamu ya, Azlan ?" Papa menepuk pundak Azlan.
"Iya, dong pa."
__ADS_1
Papa berpamitan sebentar untuk mengambil obat-obatan dan memberikan pada Azlan . Ada paracetamol, obat penurun panas dan obat batuk.
"Ya udah, pa. Kami istirahat dulu, sekarang udah jam 10 malam." Azlan menuntun Dara agar segera berdiri dan melepaskan mantel yang melekat di tubuh mungilnya dan kami berjalan ke tangga atas di mana itu adalah kamarku.
"Lantai rumahnya sama kayak lantai rumah kita." Dara menunjuk ke bawah di mana lantai rumah ini menggunakan kayu.
"Wajar sayang, di sini udaranya dingin. Makanya harus sedia banyak kaos kaki, sarung tangan, syal, mantel, penutup kepala sampai telinga biar gak kedinginan," ucap Azlan panjang lebar.
Azlan meletakkan koper di samping meja belajar, sementara Dara sudah membaringkan tubuhnya di ranjang double size.
POV Azlan
Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menggosok gigi dan menyusul Dara yang selalu lebih dulu terlelap dariku.
****
Pukul 08.00 KST (Korea Soult Time) aku dan papa melaksanakan sarapan pagi dibantu dengan Dara . Papa minta dibuatkan nasi goreng khusus dari tangan Dara sendiri, sementara aku membantunya untuk mengiris bawang merah, bawang bombay dan bawang hijau.
"Kami pergi dulu ya, sayang."
"Hati-hati, pa."
"Jaga rumah ya," pesan Azlan lalu mengecup kening Dara . Kami berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang kemaren menjemput kami di bandara.
****
"Eoseo osibsio," ucap seorang pria menyambut kedatangan kami berdua.
*Selamat datang.*
"Gamsahamida," ucapku membalas jabatan tangannya.
"Bu-in-eun eottaeyo?" tanyanya.
*Bagaimana kabar istrimu?*
"Alham dulli a, geonganghan samchon. Ije geuneun jib-e issseubnida. Yojeum gamgie geolligi ttaemun-e geuleul deligo nagagiga dulyeobseubnida. Geulaeseo eonjenga ulineun najung-e seoul-eul yeohaeng hal geos-ibnida."
*Alhamdulillah, sehat namun. Sekarang dia ada dirumah. Aku takut untuk membawanya keluar beberapa hari ini, karena dia sedang pilek. Jadi, kapan-kapan kami akan berkeliling ke kota Seoul nanti.*
Dia adalah paman Kim Jeehyoon, sekarang sudah resmi menjadi sekretaris papa di Korea. Aku duduk bersamaan dengan pejabat ternama lalu mereka memperlihatkan merosotnya properti yang sedang mereka kembangi.
Aku menyantat sebagian yang tak kumengerti setelah diskusi berakhir dari pembawa acar Paman Kim Jeehyoon, aku mulai mempertanyakan hal tersebut.
Di sini aku mulai paham, bahwa aku juga akan bekerja untuk minggu ke depan dan kami akan tinggal lebih lama dengan Dara agar perusahaan papa berkembang dengan baik.
__ADS_1
****
Setelah rapat selesai, aku membeli daging sapi di supermarket, sebotol wine untuk menghangatkan tubuh, 3 piring buah anggur, strawberry dan 2 kilogram buah apel merah. Aku juga membelikan yogurt dan susu sapi untuk Dara dan papa lalu membayarnya di kasir.
Hari ini, aku menunda makan siang di kantor karena mungkin Dara merasa kesepian di rumah.
Di rumah
Sampainya di rumah, aku berjalan menuju teras rumah dan menekan sandi agar pintu terbuka.
Aku melihat Dara yang tengah memanaskan air. Apa yang dia buat?
"Sedang apa?" tanyaku membuat tubuh mungil itu berbalik.
"Masak mi goreng." Dara memperlihatkan sebungkus mi goreng dari Indonesia, dia membawanya?
Aku tertawa pelan dan meletakkan barang belanjaan di atas meja pantry.
"Makan buah dulu, untuk mengganjal perutmu. Biar saya yang masak." Aku membuka kimono yang melekat di tubuhnya lalu memakaikan di tubuhku. Hari ini, aku akan berperang dengan pisau untuk meracik daging yang akan menggugah selera Dara .
Sesekali aku melirik ke arah Dara yang tengah memakan buah strawberry kesuakaannya.
1 jam kemudian, aku membawa daging tersebut ke meja makan dan kami mulai menikmati makan siang.
"Hm, enak," gumamnya.
"Manh-i meog-eo," ucap Azlan membuat Dara bingung.
"Artinya, makan yang banyak, ya," sambung ku.
🌿🌿🌿
Setelah makan siang selesai, aku dan Dara membaca buku cerita kesukaannya. Tapi, lagi-lagi pikiranku terhenti dan menatap Dara yang tengah serius membaca buku. Bagian kaki kamu ditutupi selimut.
Dara mengambil kentang goreng di mangkuk kaca bening yang sempat kubuatkan sebagai cemilan kami berdua.
"Apa?" tanyanya.
Aku hanya diam sambil menataonya dengan senyuman mautku lalu menarik tubuhnya hingga jatuh ke dalam pelukanku.
"Jangan aneh-aneh deh, kak." Dara memberontak ingin dilepaskan, tapi aku menahannya seraya menggodanya dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Manik brownies hazel itu tertutup rapat. Apa dia menginginkan ciuman dariku? Kurasa aku harus mempermainkannya, pikirku.
Huft.
__ADS_1
Aku menghembuskan napasku dengan kasar ke wajahnya yng tertutupi dengan beberapa helai rambutnya. Matanya terbuka sambil berkedip-kedip tak jelas.
Lalu aku tertawa sambil menggigit pipi kirinya. Dara merasa geli dengan tingkahku. Sesekali aku menggelitiki pinggang dan perutnya. Kadang juga aku mencubit pipi dan dagunya dengan gemas.