
Keesokan harinya, devano bangun sedikit lebih siang,maklum hari libur xixixi, melihat jam dinding yang menunjukan pukul 10:00 pagi ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya kini devano bersiap dengan outfit ala kadarnya, hairstyle yang biasa-biasa saja dan segera mengambil tas ransel mini dan kunci motornya dan segera bergegas turun kebawah.
"mau kemana nak?gak sarapan dulu kah?" tanya ibu vano yang melihat anaknya seolah tengah di kejar deadline.
"gak dulu bu, vano ada janji,nanti vano pulang pas makan malam, assalamualaikum." ujar vano sambil berlari menuju garasi.
"Wa'alaikumsalam.." jawab ibu vano sambil melihat kepergian anaknya.
Di tengah perjalanan vano mampir menuju drive thru terdekat untuk membeli burger dan minuman untuk dirinya dan fuji nanti.
...****************...
"assalamualaikum..." salam vano sesampainya di depan rumah fuji, dengan segera fujian membukakan pintu pagarnya.
"Wa'alaikumsalam... ngapain?" tanya fuji sambil membukakan pagar rumahnya.
"belajar bareng lah" jawab vano sambil memarkirkan motornya di halaman rumah Fuji.
"ohh sekarang, kukira malam." ujar fuji sambil masuk kerumah sambil di ikuti oleh vano.
"eh ada vano, ada apa no?" tanya renata yang melihat keberadaan vano.
"iya ma,mau les ke bu guru fuji." jawab vano sambil menyalami tangan renata.
"bu guru dari Jonggol apa" sinis fuji yang membuat keduanya tertawa.
"yaudah sana,belajar lho ya jangan main doang" ujar renata yang di angguki oleh vano dan fuji,lalu mereka pun menuju ruang keluarga untuk belajar.
"tumben sepi?" tanya vano
"ayah sama kakak ke event, paman kerja." jelas fuji sambil melanjutkan lukisannya.
"ngelukis buat apa lu?" tanya vano.
"biar gak stres." jawab fuji singkat, yah.. jika sedang stres atau terbebani fuji selalu menuangkan perasaannya itu kepada sebuah lukisan.
"cantik gak?" tanya fuji seraya memamerkan lukisannya.
"cantik, kaya yang ngelukis." ujar vano sambil tersenyum yang berhasil membuat fuji tersipu malu.
"sa ae lu kodok" ujar fuji salah tingkah yang membuat devano terkekeh puas.
"ceilah gitu aja baper" ejek vano.
"mana ada! ge'er banget sih jadi orang." sinis fuji sambil membereskan alat lukisnya.
"ASSALAMUALAIKUM YA HAMBALLAH" salam dua remaja yang sangat mereka hafal suaranya, yap siapa lagi kalau bukan azka dan letta.
"Wa'alaikumsalam..." jawab vano dan Fuji,lalu fuji sambil berjalan membukakan pintu untuk mereka
/lah kok ada mereka?/ batin vano.
"widihh tumben kagak telat lu vani?" celetuk letta setelah bersalaman dengan lorenta.
"lu yang ngajak mereka ji?" tanya devano kepada fuji tanpa menggubris celetukan letta yang membuat letta sebal.
"iyalah,biar seru" jawab fuji enteng dengan wajah watadosnya.
"kenapa? gak seneng liat kita disini?" tanya azka bercanda.
"iyalah kan kalo ada kita dia ga bisa uwu uwu ama fuji" saut letta yang mendapat jitakan dari vano.
"pikirannya ya ampun.." ujar fuji yang membuat letta meringis menunjukkan gigir rapih nya.
__ADS_1
"tapi emang iya lho ji, vano itu sebenernya pengen berduaan sama kamu" jelas azka.
"emang iya van?" tanya fuji menggoda karena ia menganggap hal itu hanya candaan belaka.
"bodo" ujar vano seolah ngambek yang membuat mereka tertawa ringan lalu segera memulai kegiatan belajar bersama mereka.
...----------------...
30 menit kemudian...
"guys break dulu please otak gua udah mau meledak ini" jelas azka yang membuat mereka terkekeh.
"yaudah kita break 10 menit" jelas fuji.
"btw kalian tau gak,nasib si Celine gimana sekarang?" tanya letta.
no no no, itu bukan pertanyaan tapi itu adalah pancingan yang berujung ghibahan.
"kaga tau, kenapa emang?" azka dan fuji kompak. tuh kan..
"semenjak dia di keluarkan dari sekolah, dia jadi sugar baby tau." jelas letta yang membuat mereka kaget.
"pantes kemarin pas ke mall ketemu dia gandengan ama om-om" ujar vano.
"kok bisa?" tanya azka menelisik.
"jadii setelah dia di keluarkan dari sekolah, dia juga di keluarkan dari kk bokapnya dan semua fasilitas dari bokapnya di cabut, dan tololnya.." jelas letta menggantung.
"apa?" tanya mereka kompak.
"tololnya dia gak mau balik ke ibunya dengan alasan gamau hidup susah lagi kalau sama ibunya, jadi dia lebih milih hidup sendiri dari uang om om yang dia layani itu." sambung letta
"dia ngomong sendiri ke lu kalau dia gak mau idup ama nyokapnya kah?" tanya vano yang di jawab gelengan dari letta.
"oh iya lu kan masuk circle nya ya" ujar azka yang di angguki oleh letta.
"udah ah kok malah ghibahin orang, ga baik mending lanjutin belajarnya nanggung nih tinggal 3 bab" ujar fuji mengalihkan topik.
"iyaa bu guruuuu" ujar mereka dengan nada seperti anak SD yang tertekan.
lalu mereka melanjutkan kegiatan belajar bersamanya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 sore.
"AKHIRNYA SELESAI YA TUHANN" teriak azka lega seolah terbebas dari neraka dunia.
"kalian langsung pulang kah?" tanya fuji yang melihat para sahabatnya membereskan alat tulisnya dan beranjak berdiri.
"iya ji capek gua" jawab letta yang di angguki oleh fuji.
"sama, lagian biar si vano ada waktu berduaan ama lu." goda azka
"paansih dari tadi lho kamu itu ka" ujar fuji yang jengah karena sedari tadi selalu saja di ceng cengi / di jodoh-jodohkan dengan vano.
"hahaha bercyandyaaa atuh ji.. Yaudah duluan ya bye" pamit azka sambil berjalan menuju dapur untuk berpamitan dengan mama fuji,begitupula dengan letta.
"lu gak pulang?" tanya fuji kepada vano yang sedari tadi terduduk diam sambil melamun.
"ntaran gua mau ngajak lu ke suatu tempat" jelas vano.
"kemana? Gak lu kasih ke mafia kan?" tanya fuji yang mendapat toyoran dari vano.
"otak drama! Kaga lah, mau liat sunset gua,lu mau ikut kaga?" ujar vano yang mendapat anggukan antusias dari fuji.
"yaudah gua tunggu di depan, lu ganti baju biar gua yang izin ke mama" ujar vano sambil berdiri menuju dapur.
...****************...
__ADS_1
"yok!" ujar fuji yang mengagetkan lamunan vano.
"hah oh ayo" ujar vano sedikit terkejut.
"ngelamun terus,ngelamunin apa sih?" tanya fuji sambil membuka pagar.
"bukan apa-apa." jawab vano singkat, yang membuat fuji sebal karena devano tidak mau terbuka kepadanya.
Bukan karena apa tapi, sedari tadi vano melamun karena ia bingung harus confess dengan cara seperti apa ke fuji, san bagaimana cara mengatakannya, itulah yang sedari tadi mengganggu fikirannya.
...****************...
Sesampainya di pantai yang tak jauh dari rumah fuji, mereka langsung mencari tempat duduk yang pas untuk memandangi sunset.
"lu ada masalah?" tanya fuji setelah cukup lama mereka saling diam dan larut dalam fikirkan mereka masing-masing.
"gak ada" jawab vano singkat.
"trus?" tanya fuji sambil menoleh kearah vano
"apanya?" tanya vano gamblang
"ishh trus kenapa kamu dari tadi gak fokus, gelagat lu agak aneh, banyak ngelamunnya." jelas fuji
"iyakah?" tanya vano yang masih tak mengalihkan pandanganya pada sang senja.
"lu masih gak bisa terbuka ke gua kah van?" tanya fuji sambil menunduk, yang membuat suasana mereka hening beberapa saat.
"gapapa sih kalau ga terbuka,maaf aku yang terlalu mak-" jelas fuji yang terpotong oleh vano
"gua suka ama lu ji" potong vano yang membuat fuji reflek menoleh kearah vano yang sedang menatapnya, kini jarak di wajah mereka hanya tersisa 5 centi.
" a- hahaha iya-iya tau gua,makasih" jelas fuji setelah terdiam beberapa saat sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
"gua serius fuji, gua suka sama lu, gua ada rasa sama lu lebih dari rasa seorang sahabat, gua.. Gua cinta sama lu, Fujian Putri Anggraini." jelas vano yang membuat fuji mematung tak percaya,seolah ini mimpi.
"lu bercanda kan van?" tanya fuji tak percaya
"sejak kapan gua suka bercandaan yang kek gini?" jawab vano
"gak mungkin." gumam fuji yang masih bisa di dengar oleh vano.
"tatap mata gua ji, lu liat ada gak gua bohong ke lu?" ujar vano namun tak di iyakan oleh fuji, fuji lebih memilih menatap indahnya senja kala itu yang membuat susana mereka semakin romantis, bukan karena apa, ia tak sanggup berkata-kata, ia tak tahu akan ada hal seperti ini di hidupnya sahabatnya tiba-tiba menyatakan cinta kepadanya,dumb!.
"apa senja lebih indah dari aku ji?" tanya vano dengan nada kecewa.
"gak lah, eh bukan eughh anu" ujar fuji gelagapan, jujur saja ia sekalipun tidak pernah membayangkan ada di situasi seperti ini, ingin rasanya ia menangis, entah mengapa otaknya tidak bisa dibuat berfikir saat ini,hingga ia ingin menangis rasanya.
Seolah peka apa yang di rasakan oleh fuji, vano dengan cepat menarik fuji kedalam pelukannya.
"gua spechles,aku aku gak tau anu akhhtau ah" ujar fuji gelagapan, hal itu sangat lucu bagi vano.
"gak harus di jawab sekarang kok ji, lu pikirin dulu baik-baik okay" ujar vano seolah menenangkan Fuji.
"na nanti asing?" tanya fuji, sungguh mulutnya sangat payah jika ia sedang kalut.
"gak akan." jawab vano seolah paham apa yang di fikirkan fuji.
"lagian aku ngomongnya dadakan, maaf ya cantik" ujar vano.
"pulang" ujar fuji, kini muka nya sudah seperti kepiting rebus, ia tak tahu harus bagaimana, otaknya seakan ingin meledak, ini seribu kali lebih susah dari 1001 soal olympiade yang pernah ia kerjakan.
"okay.." jawab vano
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1