
Setelah kami sarapan, aku menunggu Dara yang tengah bersiap-siap ke rumah ibunya. Sementara aku menunggu di ruang tamu sambil memainkan ponsel.
"Assalamualaikum, tuan. Di depan ada beberapa tukang sama teman tuan katanya Alazka."
Bi Ima yang baru saja datang di pukul 7 pagi memberi informasi padaku bahwa Alazka dan orang yang ia panggil telah sampai dan tengah menunggu kedatanganku di pekarangan rumah.
"Waalaikum salam, bi. Makasih ya, atas informasinya."
Aku bergegas menyusul mereka. Kulihat Alazka tengah berdiri di samping mobilnya. Kebetulan pagi ini cuacanya sangat cerah.
"Astaga boss, kami udah nunggu 5 menit lalu. Untung aja gue udah pake tabir surya. Jadi, wajah gue yang tampan ini gak gosong gara-gara nungguin lo," cerocos Alazka.
"Ya."
"Baiklah, untuk kalian semua ayo masuk. Saya akan memberikan pekerjaan untuk kalian," sambungku seraya membawa mereka menuju pagar bagian belakang rumahku.
"Saya kalian minta untuk membeli beling, paku, sama kabel telanjang. Karena tadi rumah saya kemalingan. Saya minta kalian untuk meninggikan sedikit sekitar dua puluh senti lagi ke atas. Tapi, bagian atas pagarnya kalian harus buat sedikit runcing. Nah, di sanalah kalian tanam paku, beling bersamaan deengan kabel telanjang itu. Gue juga minta sama lu, Ka untuk setting kabel itu dengan remote control. Gue bakal bayar lu dengan orang ini dengan gaji besar. Tapi, setelah selesai tugas lu. Hari ini gue liburin elu buat pantau mereka."
"Wah, oke. Laksanakan!"
Alazka memberi hormat padaku. Sementara aku memberikan pada Alazka uang yang ada di dalam amplop coklat yang telah kusediakan.
"Beli semen, batu, benda tajam itu sama kabel."
Aku memberikan segempok uang itu pada Alazka dan berpamitan untuk ke rumah karena hari ini aku akan ke kantor. Namun, sebelum itu aku harus mengantar Dara dulu ke rumah ibunya.
"Dari mana aja, kak?" Dara yang baru saja selesai, mengangetkanku saat aku berjalan menuju dapur.
"Sayang, Alazka sama tukangnya sekarang udah ada di sini. Tapi, sebentar dulu, ya. Kakak ada perlu sama bibi."
Aku meninggalkan Dara yang tengah berdiri di anak tangga terakhir. Aku melihat bibi yang tengah membersihkan dapur dengan penyedot debu.
"Bi," panggilku membuat beliau mematikan penyedot debu tersebut.
"Bi, ini uang untuk bibi karena Alazka sama beberapa tukang yang bibi liat tadi. Mereka sedang memperbaiki pagar rumah, jadi bibi tolong belikan mereka makanan, ya. Terserah bibi makanan apa, yang penting kenyang."
"Baik, tuan."
Bi Ima menerima uang dariku lalu aku kembali menyusul Dara. Kulihat Dara tengah memperbaiki jilbabnya dibantu dengan layar ponselnya.
"Ayo."
__ADS_1
Kami berjalan bergandengan tangan menuju garasi mobil. Sebelum kami menuju rumah ibu, terlebih dahulu kami membeli buah tangan di swalayan.
Dara mengambil perlengkapan rumah seperti sabun cucian, lalu mengambil beberapa buah. Setelah dirasaa cukup, kami kembali ke mobil dan menancap gas menuju tujuan.
"Assalamualaikum, bunda !" teriak Dara saat ia membuka pintu mobil lalu Dara membawa buah tangan itu.
"Waalaikum salam. Eh, kalian."
Aku tersenyum menatap mama mertuaku yang terlihat ceria menyambut kedatangan kami.
"Chaca mana, bunda ?" tanyaku pada Bunda Fisya..
"Udah berangkat tadi, ada teman-temannya yang jemput dia," jawab bunda Fisya.
"Ayo, masuk," ajak bunda seraya menggandeng tangan kami berdua.
Aku menahan langkahku membuat wanita paruh baya yang mengenakan pakaian baju tidur panjang lengan menatapku heran.
"Bunda ,Azlan cuman mau ngantar Dara karena tadi ada insiden di rumah kami jadi Azlan manggil teman buat panggil beberapa tukang untuk memperbaiki pagar rumahnya."
"Insiden apa?" tanya bunda.
"Ceritain sama Dara ya, bunda. Soalnya ini udah jam 9 lewat. Jadi, Azlan pamit ya, bu."
"Ulu ulu."
Kudengar suara bunda yang tengah menggoda Dara. Sementara aku tersenyum dengan tingkahku tadi karena sangat berani mencium Dara di depan ibunya sendiri.
***
Setelah sampai di kantor, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam lobi kantor sambil tersenyum simpul menanggapi sapaan para karyawan.
Sampai di lift, aku membuka jas merah yang kukenakan lalu menentengnya saat pintu lift terbuka.
Ceklek!
Aku membuka pintu ruanganku lalu berjalan di sofa. Aku harus memberitahukan masalah ini pada papa.
Tut ... tut ...
Terdengar bahwa panggilan terhubung.
__ADS_1
"여보세요," sapa papa saat panggilanku terhubung.
(Yeoboseyo \= halo)
"Annyeonghaseyo, appa. Mwohaneungeoya? Bappeuni?" tanyaku padanya yang berada di seberang sana.
(Halo, pa. Sedang apa? Sibuk kah?)
"조금, 아들. 뭐가 잘못 되었 니?" tanya papa lagi.
(Jogeum, adeul. Mwoga jalmos doeeoss ni?)
(Sedikit, nak. Ada apa?)
"Azlan-in-i malhago sip-eo haeyo, appa. Oneul achim uli jib-eul seutokinghaneun gamyeon-eul sseun yeojaga iss-eossda. Geuneun bueok changmun balo ap-e seo iss-eossda--"
Aku mengetuk jari telunjukku di atas meja kaca.
(Azlan mau cerita, pa. Tadi pagi ada seorang wanita bertopeng mengintai rumah kami. Dia berdiri tepat di depan jendela dapur.)
"특징은 무엇입니까?" potong papa.
(Teugjing-eun mueos-ibnikka?)
(Bagaimana ciri-cirinya?)
"Geuneun geom-eun saeg syeocheuwa koteuleul ibgo geom-eun usan-eul deulgoissda. Hajiman yeojaga baeg-in in geos gatseubnida. Heolie god-eun eunsaeg meolikalag-i issjiman geuneun maseukeuleul sseugo iss-eossda. Azlan -eun geuui eolgul-eul *** su eobs-eossseubnida. Azlan -i geuege soli chyeoss-eul ttae geuneun gogaeleul deul-eossda. Azlan-eun geuga maseukeuleul sseugo issdaneun geos-eul alge doen gos-ibnida," kataku.
(Dia memakai baju dan jas hitam, memegang payung hitam. Tapi, sepertinya perempuan itu berkulit putih. Berambut silver lurus sepinggang, tapi dia mengenakan topeng. Azlan gak bisa lihat wajahnya. Waktu Azlan teriaki dia, dia mendongak. Di situlah Azlan tahu kalau dia mengenakan topeng.)
"당신의 사위는 괜찮아요?" tanya papa lagi.
(Dangsin-ui sawineun gwaenchanh-ayo?)
(Apa menantu papa gak apa-apa, nak?)
"Dara-eun mollayo, appa. Ijeon-e Azlan-eun imi geuege malhaessgo Alazkala-godo bulleossseubnida. Ije geudeul-eun Azlan-ui jib ultalieseo ilhago issseubnida. Azlan-eun ultalileul yaggan ppyojoghage mandeulgo nalkaloun mulgeongwa naseon-eul gyesogdugileul wonhaessseubnida. Najung-e Alazka-neun modeun geos-eul dijain hal geos-ibnida," terangku.
(Dara gak tahu, pa. Tadi Azlan udah kasih tahu dia dan juga panggil Alazka. Sekarang mereka tengah mengerjakan pagar di rumah Azlan. Azlan mau buat pagar sedikit runcing terus beri benda tajam dan beberapa kabel telanjang. Nanti Alazka bakal rancang semuanya)
Terdengar suara helaan napas papa bahwa ia kini kembali tenang. Aku pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"아빠는 이제 침착 해요, 레이 네 아내를 돌봐주세요. 그는 우리를 위해 가족을 떠나기 위해 기꺼이 희생했습니다. 당신을 위해, 당신과 함께 살기 위해. 그를 웃고, 행복하고, 웃고, 편안하게 만드십시오. 아빠와 엄마처럼. 아버지의 사위에게 뭔가 잘못한 경우. 당신의 시설, 아빠가 압수당했습니다. 다시는 모든 것을 희망하지 마십시오."