Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 46. Jangan Diamkan Aku


__ADS_3

Azlan membuka kulkasnya, mengambil makanan ringan dan beberapa minuman non alkohol. Ia menyuguhkan untuk Dara agar ia betah berlama-lama di sini.


"Kakak kerja dulu. Di sini ada jaringan WiFi, passwornya saranghae," ujar Azlan.


Dara membuka minuman kaleng dan membuka cemilan. Ia mulai menjelajahi dunia internet.


Pikirannya kembali pada kasus keguguran. Ia membaca artikel tersebut. Matanya sedikit membola ketika mendapat artikel bahwa 'Wanita yang mengalami keguguran, kemungkinan besar akan susah mendapatkan keturunan.'


Dara menatap Azlan yang tengah sibuk di depan layar komputer. Jari-jari panjangnya lihai menari-nari di atas keyboard. Matanya fokus memandang layar monitor dan berkas di depannya.


Ada perasaan haru, ketika ia mengingat bagaimana bahagianya Azlan hamil buah hati mereka.


Dulu, Azlan tak membiarkan dirinya kelaparan, karena ia sangat mengkhawatirkan kondisinya dan calon bayi di rahimnya.


Ia sangat merindukan pergerakan janin tersebit di dalam perutnya. Ada rasa tersendiri saat Azlan memperlakukannya dengan sangat baik.


Bukan, bukan di waktu hamil. Melainkan awal ia menikah dan sampai sekarang Azlan tak pernah berubah terhadap dirinya.


Dara melipat ponselnya lalu beralih memakan cemilan. Terkadang ia juga berdiri untuk merasakan sinar matahari pagi yang menerobos kaca jendela ruangan tersebut.


Azlan sedikit bahagia karena Dara mau menerima ajakannya untuk ke kantor.


"Apa kamu mau honeymoon ke Korea? Kita belum sempat ke Pulau Jeju untuk melihat susnset dan Gunung Achasan untuk melihat sunrise. Bagaimana?" tawar Azlan.


Dara hanya diam seraya memejamkan mata. Otaknya kembali teringat kata-kata Kang Yuri mengatai dirinya sebagai perebut.


Azlan menghela napas kasar dan kembali melakukan kegiatannya.


Pukul 12.00. WIB, Azlan keluar dari kantor untuk memesan nasi kotak dari kantinnya. Sementara Dara menghabiskan roti coklat yang dibuatkan Azlan untuknya.


Di kantin


Sesampai di kantin, Azlan memesan nasi kotak dan mengambil beberapa botol minuman isotonik, yogurt dan minuman kaleng bersoda.


Azlan membayarnya dan membawa makanan tersebut menuju ruangannya.


***


"Hai," sapanya memasuki ruangannya. Ia meletakkan kantong kresek tersebut di atas meja dan mengeluarkan semua yang ia beli tadi.


"Ayo, dimakan. Kamu mau pulang atau di sini aja?" tanya Azlan membuka nasi kotak lalu memberikan pada Dara.


"Di sini aja."


Seketika senyuman Azlan merekah. Ia mengusap kepala Dara yang dibaluti hijab dengan sayang serta mengecup pipinya.


"Jangan mendiami kakak terus."


Mereka mulai menikmati makan siang, Dara membuka sebotol yogurt rasa coklat itu. Meneguknya secara perlahan dan kembali menghabiskan nasi kotaknya.


***

__ADS_1


Setelah habis, Dar membuang sisa makanan dan beberapa botol kosong itu ke dalam tong sampah.


Dar memegang perutnya, ada sesuatu yang harus dikeluarkan dari tubuhnya.


"Toilet di mana, kak?" tanya Dara yang tengah berdiri sambil jalan di tempat.


"Mau apa?" tanya Azlan balik. Ia tak mengetahui apa yang dirasakan istrinya.


"Pipis."


Seketika atensinya teralihkan. Azlan menunjuk ke arah kiri. Dara yang melihat sebuah pintu di sudut ruangan tersebut langsung berlari.


Dara sedikit terperangah melihat sebuah ranjang dan nakas di sini. Ia melihat pintu lagi, ternyata ini toiletnya. Ada sebuah bilik yang dilapisi kaca buram dan sebuah shower.


Tapi, di sini tidak ada bath up. Melainkam toilet duduk saja.


***


Setelah selesai, Dara kembali keluar dari toiletnya.


"Kalau kamu kecapean, tidur saja."


Ia mengikuti kata-kata Azlan dan memilih membaringkan tubuhnya yang sudah lelah duduk seharian tanpa menutup pintu.


Dara menarik selimut yang bergambar Real Madrid itu. Terlihat lucu, karena kamar ini seperti kamar lelaki yang belum menikah saja.


***


Azlan melangkahkan kakinya melihat keadaan Dara.


Wanita itu tengah tertidur pulas, mulut dan hidungnya ditutupi oleh selimut tebalnya. Itu salah satu kebiasaan Dara. Ia hanya bisa tidur ketika kepalanya ditutupi oleh selimut. Tapi, ia takut gelap.


Azlan membiarkan Dara mengistirahatkan tubuhnya. Ia menutup pintu kamar lalu membaringkan tubuhnya di sofa.


Hari ini masih pukul 3 sore. Ada waktu beberapa jam untuk beristirahat sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah.


***


Dara terbangun dari tidur siangnya dan menatap pada jendela dan melihat langit yang sudah berwarna oranye.


Ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Azlan tengah berbaring di sofa dengan lengan kirinya menempel di keningnya.


Jas dan sepatunya belum terlepas dari tubuhnya. Apa dia sebegitu lelahnya sampai jas dan sepatu itu masih melekat? Pikir Dara.


Dara membuka kulkas yang berada di sampingnya dan membuka freezer. Ia mengambil semangkuk es krim tersebut dan mengambil sebuah sendok di atas kulkas.


Sambil mencicipi es krim tersebut, ia duduk bersebrangan dengan Azlan berbaring.


Perutnya sangat lapar, di dalam kulkas hanya ada cemilan ringan dan membuatnya tidak bisa kenyang.


Jadi, ia memutuskan untuk memakan es krim tersebut.

__ADS_1


***


Azlan terbangun ketika mendengar suara decapan seseorang yang sedang makan.


Kelopak matanya terbuka dan mendapati Dara yang tengah duduk membelakanginya.


Ia menatap layar ponselnya, sesekali menyuapi mulutnya dengan es krim tersebut.


"Kamu lapar?"


Dara terperanjat kaget mendengar suara husky milik Azlan yang baru saja bangun daru tidurnya.


"Ayo, kita pulang."


Azlan merapikan penampilannya.


"Bawa es krim kamu, habiskan di mobil saja."


Dara menurut. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil lalu berjalan sambil membawa semangkuk es krim tersebut.


Karyawan dan staff memberi mereka sebuah senyuman dan sapaan. Azlan menganggukkan kepalanya menanggapi mereka sementara Adnan tersenyum ramah.


Sampai di parkiran, aku membukakannya pintu mobil lalu ia masuk ke dalamnya.


Sampai dirumah


Sampai di rumah, kami bergegas membersihkan diri. Dara menggunakan kamar mandi lalu Azlan menunggunya selesai.


POV Azlan


Setelah selesai, aku membantunya untuk mengeringkan rambut menggunakan hairdriyer, awalnya ia menolak agar ia mengeringkannya sendiri.


Aku mengambil handuk dari tangannya, lalu memijat kepalanya dan sesekali aku mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Ganti bajumu, kakak mau mandi." Aku berjalan menuju kamar mandi setelah rambutnya kering.


Aku bisa merasakan wajah terkejut dan gugupnya Dara tadi.


Malam ini, aku mengajaknya dinner ke restoran bintang lima. Ini khusus untuk kami berdua.


"Silahkan turun," ucapku membukakannya pintu.


Dara keluar dari mobil dan mulutnya sedikit terbuka melihat betapa mewahnya restoran tersebut.


Aku menarik tangannya memasuki restoran tersebut dan kami berjalan menaiki tangga.


Aku sudah memesan tempat duduk di bagian balkon, sehingga terlihat sangat jelas jika bagian pesananku ini dihias dengan sangat cantik dan romantis.


"Kita akan makan di sini?" tanyanya.


"Iya."

__ADS_1


Tak lama, mereka membawakan menu andalan dari restoran ini ke meja kami hingga meja yang kami tempati penuh dengan makanan dan minuman.


__ADS_2