Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 122.Saran Jong Ru


__ADS_3

Setelah selesai, aku masuk ke dalam kamar dan mengambil buku diary yang telah lama kusimpan.


Belum ada kutulis satu pun dan aku akan menulisnya dengan bahasa Hangul.


[Matahari pagi yang hangat ini akan menjadi saksi bisu bahwa aku pernah dan bahkan sering meluangkan waktu bersama orang yang kusayang dan bahkan namanya kini sudah mengisi penuh hatiku. Setelah mama dan adikku, Cinta. Rumah mewah bak istana yang kami miliki ini terkadang bukanlah membuatku bahagia. Melainkan ketika canda tawa muncul di dalam rumah lah membuatku bahagia bersama wanita yang sudah resmi menjadi istriku. Bukan hanya di atas surat, melainkan aku mencintainya sepenuh hati. Hatiku yang dingin bak es langsung luluh lantah melihat wajahnya yang dulu ketakutan. Entah bagaimana rasa itu muncul akan memilikinya. Beruntung niat baikku diterima orang tuanya dan Tuhan. Aku sangat bersyukur sekali bisa memilikinya. Wanita yang sederhan, bahkan sudah menjadi istriku saja dia masih mengingatkanku untuk berhemat hingga aku harus membuat kartu debit lagi karena sudah mencapai batas maksimum. Tuhan, kuharap kau selalu menjaganya karena aku hanya manudia biasa dan terkadang seting melakukan kesalahan dan kekhilafan.]


"Ah, akhirnya aku bisa menyusun kata-kata lagi. Setelah sekian lamanya aku tidak menulis dan tulisanku sedikit berantakan karena jarang memegang pena. Hanya saja untuk tanda tangan dan itu cuma sebentar," ucapku melihat tulisan tanganku di buku putih yang telah berwarna hitam bertinta.


Tulisanku seperti tulisan yang berangkai dan berantakan. Hanya aku saja yang tahu. (Author enggak.)


[Mengenai takdir, aku tak bisa mencampuri urusan Tuhan. Terkadang, aku kecewa karena aku menganggap Tuhan itu tidak adil. Aku merasakan bahwa dulu saat aku berpisah karena emosi dan dia meninggalkanku, duniaku terhenti dan duniaku terasa seperti kiamat. Hal yang paling membuatku terkejut, ketakutan dan kehilangan yang teramat sangat. Bahkan, orang yang jarang sekali menghadapnya saja merasa baikan ketimbang diriku. Tapi, itulah hidup. Manusia juga tak bisa menyalakan takdir yang selalu naik-turun dan semakin melangkah jauh, semakin banyak duri menunggu kedatanganmu.]


Brak!


"Aah!"


Aku segera berlari ke bawah. Suara benda yang dilempar ke kaca dan suara teriakan Dara beserta Bi Ima di sana.


"Ada apa?" tanyaku pada Bi Ima.


"Ada yang melempar kaca dapur, tuan."


"Di mana Dara ?" tanyaku lagi.


Bi Ima menunjuk ke arah bawah meja seiring mataku mengikuti arah tunjuk Bi Ima. Dara tengah menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan duduk di bawah meja makan.


"Sini sayang, tak apa," ujarku pelan seraya menariknya keluar dari sana.


"Ta-tadi ada yang berusaha mecahin kaca itu. Aku gak tahu," ujar Dara dengan nada gemetaran. Bukan suaranya saja, melainkan tubuhnya juga dan keringat di pelipisnya.


"It's oke, gwaenchanh-a."


Aku berjalan mendekati kaca dapur dan melihat sebuah peluru melekat di kaca itu.


Untung saja kaca itu tidak masuk ke dalam rumah karena semua kaca di rumahku adalah kaca tebal anti peluru dan sangat sulit untuk dipecahkan dengan barang-barang berat.


Aku mengambil ponsel lalu membidik peluru nyasar itu dengan kamera ponselku dan mengirimnya ke Jong Ru.


Ping!


Jong Ru


[Apa itu? Kenapa bisa ada peluru di sana? Apa yang terjadi?]


"Ayo, kita ke kamar."

__ADS_1


Aku menarik tangan Dara menuju kamar lalu ia menceritakan kejadian itu.


"Tadi itu, aku sedang masak sama bibi. Terus waktu aku ambil teflon, tiba-tiba ada suara benda keras. Aku teriak dan langsung sembunyi ke bawah meja makan."


Aku menghela napas pelan lalu mengelus kepalanya dan membawanya ke dalam dekapanku.


"Kita akan selesaikan masalah ini. Kamu tenang aja, kakak akan selesaikan masalah ini dengan Jong Ru."


"Ha?" Dara mengangkat kepalanya menatapku. Wajahnya telah basah oleh air matanya.


"Kakak udah baikan sama dia?"


"Ya, terpaksa. Dia 'kan sepupu kakak."


Dara kembali menempelkan kepalamya di dada bidangku. Sementara aku mengelus kepalanya.


Aku mengambil ponselku lalu mengetik pesan pada Jong Ru.


To Jong Ru


[Ada sebuah peluru yang masuk ke rumah aku, tepatnya di bagian dapur. Waktu itu istriku dan asisten rumah tanggaku tengah memasak. Dara sedang ambil toflen dan tiba-tiba aja suara peluru masuk ke dalam rumah. Untung saja tidak lolos masuk ke dalam. Bisa tidak kau datang ke rumah dan ambil pelurunya untuk dilihat sidik jari. Bagaimana dengan orang kemaren? Apa sudah masuk ke dalam sel?]


Send!


Ping!


Jong Ru


[Bisakah kita datang ke sebuah restoran? Aku tak bisa mengetik pesan terlalu panjang sama seperti dirimu. Di mana lokasi restoran yang akan kita tuju?]


Aku melirik ke arah Dara yang masih di dadaku, tengah memeluk tubuhku.


To Jong Ru


[Baiklah, kita ke restoran. Tapi, aku tak bisa meninggalkannya. Aku akan membawanya dan kuharap dia juga mengerti dengan permasalahan kita nanti. Jangan berbahasa Indonesia agar dia tak mengetahui pembicaraan kita. Nanti aku akan memikirkan alasannya. Kau paham? Aku akan mengirim alamat restoran yang akan kita tuju nanti. Segera bersiaplah. Aku tak ingin kau datang telat walau 2 menit saja.]


Ping!


"Sayang, kita akan pergi ke restoran sekarang. Jong Ru ada yang akan dibicarakan pada kakak. Bersiaplah."


"Bicarain apa?"


Aku menggelengkan kepala, enggan memberitahunya. Dara yang mengerti lalu berjalan menuju kamar mandi, sementara aku memperbaiki penampilan dan mengganti bajuku karena tadi aku sudah membersihkan diri.


Setelah selesai, Dara menenteng tas selempangnya di bahu kiri lalu kami berjalan menuju garasi mobil.

__ADS_1


Aku mengirim alamar di pesan WhatsApp pada Jong Ru dan beberapa detik saja, centang dua abu-abu telah berubah menjadi centang dua biru. Itu berarti dia telah membaca pesanku.


Tak jauh dari perkantoran ku, kami telah sampai di restoran yang kami tuju lalu aku turun dari mobil menggandeng Dara masuk ke dalam.


"Reyndad!"


Kami menoleh ke arah seseorang yang memanggil namaku dari belakang.


Jong Ru.


Rupanya dia telah datang.


"Bagaimana? Aku tidak terlambat, 'kan?" tanyanya seraya tersenyum padaku.


Aku mengangkat tangan kiri di mana jam tangan mewah digital melekat manis di pergelangan tanganku.


"Kau telat dua detik."


Seketika senyuman di wajahnya memudar dan manik matanya menoleh ke arah Dara.


"Hai, Dara. Kau masih ingat denganku?"


"Aish, kau ini. Dia milikku, cari saja wanita lain yang akan kau ajak bicara," ujar ku menarik Dara lalu kami berjalan terlebih dahulu untuk mencari tempat yang startegis.


Aku memilih duduk di sudut ruangan agar tak ada orang yang mengetahui ataupun menguping pembicaraan kami.


"Kamu mau pesan apa, honey?" tanyaku membuka buku menu yang telah disiapkan di atas meja.


"Hm, alpukat, kentang goreng, cake."


Aku memanggil pelayan lalu memesankan menu yang Dara inginkan. Sementara aku dan Jong Ru hanya memesan Coffee Americano.


"Thanks," ucap Jong Ru saat pesanan telah tiba di atas meja kami.


"Bagaimana cerita mengenai tiga orang pria itu?" tanyaku seraya menyeduh Americano yang ada di dalam gelas plastik.


Jong Ru menatap Dara yang duduk di sampingku. Ia tengah menatap kami sambil menyuapi dirinya dengan kentang goreng ke mulutnya.


"Jadi, begini. Manager Mu Alazka menyuruhku untuk aku mengurusnya karena dia tak mengerti mengenai hukum. Aku membayar polisi sekitar tiga puluh juta rupiah untuk menyelidiki mereka. Aku meminta mereka untuk mengaku, tapi tidak mempan. Terpaksa mereka menyuntik bius dengan dosis tinggi ke tubuhnya agar mereka mengaku dan mereka tidak goyah. Polisi memilih memasukkan mereka ke dalam sel dengan penjara seumur hidup. Tapi, aku berharap mereka mengaku dan menyebutkan nama orang yang menyuruh mereka untuk mengirim pesan teror di ponselmu," terang Jong Ru padaku.


"Aku sempat berpikir bahwa, kenapa mereka sangat menutupi orang itu? Aku sangat penasaran dengan orang itu. Tapi, di sisi lain aku juga penasaran apakah ini ulah dari keluargaku ataukah dari mantan kekasihku? Entahlah, aku hampir saja tak bernapas ketika melihat pesan itu dan aku dulu merasa akan mati karena aku harus melawan 3 orang dalam 1 waktu. Bagaimana kerja samamu selanjutnya?" tanyaku.


Jong Ru memperbaiki posisi duduknya dengan menyandarkan punggungnya ke kepala kursi.


"Saat ini otakku butuh untuk berpikir bagaimana caranya. Tapi, saranku agar kamu tidak terlalu memikirkan hal ini. Kau 'kan tak memberitahu ini pada istrimu, 'kan? Jangan sampai dia melihatmu pusing karena masalah ini. Perempuan pasti akan sangat penasaran tak terkecuali istrimu. Yang penting, kau kabari saja aku saat pesan itu muncul. Maka, otakku akan kembali berjalan untuk memikirkannya," celotehnya seraya memijit pelipisnya lalu tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2