Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 99.Tamu Tak Diundang


__ADS_3

PoV Author


Taeri Hanseol itu terlihat gugup. Jemari panjangnya meremas ujung baju yang ia gunakan di bawah ***********. Memamerkan kulit putih mulusnya di depan Azlan.


Sehingga terlihat kulit perut dan pinggangnya. Ditambah dengan celana jeans biru itu.


Bibir merah itu ia gigit pelan, matanya melihat ke arah manik mata Reyndad yang terlihat memohon untuk mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Pelipisnya sudah mengeluarkan keringat kecil-kecil. Jantungnya berdebar tak karuan ketika netra elang itu terus saja menyelidikinya.


Sementara Dara hanya bisa diam, pasrah menerima apa yang dikatakan Taeri Hanseol itu pada Azlan.


Toh, keputusan Azlan nanti itu hanya ada di tangannya. Dara tidak bisa membantah. Itu bukan urusannya.


"Joesonghabnida. Yo jeon-e je jean-eul sulag haedallago yeogie wassseubnida. Jeoneun geugos-eseo ilhago sip-eossseubnida. Jebal-i gihoeleuljuseyo. Jebal."


Taeri mengantupkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan matanya.


"Andwae, Taeri. Eotteohge jinaeseyo? Dangsin-i boyuhaneun geos-eun dangsin-ui gisulgwa jeongong-i anibnida. Igeos-eun maeu eolyeobgo jeonmunjeog-in gisul-i pil-yohabnida. Hanpyeon dangsin-eun ganhohag jeongong man issseubnida. Jeoneun taiping, hoegye gisul-eul gajchun 2 myeong-ui hagsa jol-eobsaeng-i jeongmal pil-yohabnida. Ganhosaga anibnida!" bentak Azlan.


Terlihat urat-urat di pelipis dan keningnya keluar dan telinganya memerah menandakan ia marah dengan sikap sang adik.


(Maaf, aku datang kemari untuk meminta agar kakak menerima tawaranku tempo lalu. Aku sangat ingin vekerja di sana. Kumohon, beri aku kesempatan kali ini saja. Tolong.)


(Tak bisa, Taeri. Kamu ini bagaimana? Itu bukan skill dan jurusanmu selama ini yang kamu pegang. Ini sangat susah dan membutuhkan skill yang ahli. Sementara kau hanya mempunyai jurusan dalam bidang perawat. Aku sangat membutuhkan lulusan sarjana 2 dengan skill mengetik, akunting. Bukan perawat!)


Sementara Dara mencoba menenangkan sang suami dengan menyentuh pergelangan tangannya di atas pahanya.


Deru napas Azlan memburu, sementara Taeri Hanseol terlihat sangat terkejut dan ketakutan dengan sikap Azlan.


Dulu, ia sangat sering melakukan hal ini. Marah-marah tak jelas, karena Azlan kelelahan dan tak ada waktu untuk menikahi seorang gadis kecuali Taeri.


Mama hanya mengikuti saja, tapi ia tak mau memaksakan Azlan. Hanya memberi masukan karena Azlan sudah bekerja dan ia tak mau ikut campur masalah Azlan


Bisa-bisa Azlan menjual atau menghentikan perusahan properti Seok di tengah jalan dan Azlan akan menjadi apa di Indonesia?


"Jega issdeon byeong-won-eun oppa-ah pasanhaessseubnida. Jeoneun 3 nyeon dong-an ilhaji anh-assgo byeong-won jeonchega ganho jig-won-eul bad-adeul-igo sipji anhseubnida. Naneun neomu gotongseuleowoseo daleun gos-eseo ilhal gos-eul saeng-gaghaji moshaessseubnida. Eommaneun naleul dangsin-ui samusil-eseo ilhadolog bad-adeul-idolog seoldeug haedallago butaghasyeossseubnida. Jeongmal pil-yohabnida."


Taeri Hanseol berucap dengan nada yang sedih. Terlihat dari wajahnya yang masam dan itu hanya tingkahnya saja.

__ADS_1


(Rumah sakit yang kujalani saat ini mengalami kebangkrutan. Aku sudah 3 tahun tidak bekerja dan seluruh rumah sakit tak mau menerima anggota perawat. Aku sangat tersiksa dan hilang akal untuk memikirkan bekerja di mana lagi. Mama meminta agar aku membujuk kakak untuk menerimaku bekerja di kantor kakak. Aku sangat membutuhkannya.)


"Byeong-won-i eotteohge geuleohge pasan hal su issseubnikka? Eotteohge geojeol danghal su issseubnikka?" tanya Azlan penasaran.


(Bagaimana bisa rumah sakit kalian bisa bangkrut seperti itu? Bagaimana bisa kalian ditolak?)


"Geulaeseo yeogie iyagiga issseubnida. Byeong-won ju-in-eun byeong-won samulham-eissneun modeun don-eul gajyeo wassseubnida. Gwageoeneun haeoeeseo hyuhag hal sigan-i iss-eossgo 1 gaewol dong-an-eun chulgeunhaji anh-assda. Geuleon da-eum jiyeog gyeongchal-i byeong-won-e waseo byeong-won ju-in-ui ileum-eul mul-eossseubnida. Geudeul-eun jungnyeon namseong-i han dal dong-an haeoe hyugaleul gagi wihae hyga jung-ilago jinsil-eul balghyeossda. I mal-eul deudgo geudeul-eun jeugsi uliege ilhaleo oji mallago malhaessgo gyeongchal lain-eul ollyeossseubnida. Myeochil hu 3 il man-e daleun byeong-won-e ibsa jiwonseoleul jechulhagilo gyeoljeonghaessseubnida. Naega geobudoeeossdaneunbogo man issseubnida. Nappunman anila daleun donglyodeul. Jigeumkkajineun jig-eob-i eobs-seubnida. Abeojiga dol-aga syeossgo ulineun Indonesia-e meomulgilo gyeoljeonghaessseubnida. Hangug-eseoneun mueos-eul meoggo sip-eoyo? Saengmyeong-i maeu nopgo yeogiwa daleubnida," jelas Taeri Hanseol panjang lebar.


(Jadi begini ceritanya. Pemilik rumah sakit itu membawa semua uang yang ada di dalam loker rumah sakit itu. Dulu, ia sempat libur karena cuti ke luar negeri dan selama 1 bulan dia tidak masuk untuk bekerja. Lalu polisi setempat datang ke rumah sakit untuk menanyakan nama pemilik rumah sakit kami. Mereka mengatakan hal yang sebenarnya bahwa lelaki paruh baya tersebut cuti untuk berlibur ke luar negeri 1 bulan lamanya. Mendengar hal itu, mereka lamgsung menyuruh kami agar tidak masuk kerja lalu mereka memasang garis polisi. Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk memasukkan lamaran pekerjaan di rumah sakit berbeda dalam 3 hari. Hanya laporan bahwa aku ditolak. Bukan aku saja, melainkan rekanku yang lainnya. Hingga saat ini aku tak memiliki pekerjaan. Kakak tahu, 'kan bahwa ayah sudah tiada dan kami memutuskan tinggal dan menetap di Indonesia. Kalau di Korea, kami mau makan apa? Di sana kehidupan sangat tinggi, berbeda dengan di sini.)


"Samusil-eul soyuhago issjiman yeojeonhi hal su eobs-seubnida. Naneun hwaggobudonghago jeonmunjeog-ieoyahabnida. Igeos-eun jig-won, samusil mich modeun geos-e gwanhan geos-ibnida. Geudeul-i boyuhan modeun jeongong-eul moleundago saeng-gaghasibnikka? Geudeul-eun jasin-ui yaglyeog-i myeonghwaghage pyosidoendaneun geos-eul algo issseubnida. Geogilo delyeoda deulilkkayo? Enjinieoling ttoneun hoegye bun-ya-e pohamdoejineun anhjiman. Ganhosaibnida. Daleun jig-wondeul-ege usgo sipseubnikka?" tanya Reyndad beruntun sambil menatap sang adik nyalang dan tajam.


(Aku tetap tak bisa, walaupun aku pemilik kantor itu. Aku akan tetap teguh pendirian dan profesionalitas. Ini menyangkut karyawan, kantor dan semuanya. Kamu pikir mereka tidak tahu dengan jurusan yang mereka pegang? Mereka tahu, di bio sudah terpampang dengan jelas. Apa aku harus memasukkanmu di sana? Sementara kamu bukanlah termasuk dalam bidang teknik atau akunting. Melainkan perawat. Kau mau ditertawai mereka?)


"Geuleom naega dangsin-ui gajog-ilago malhal su issseubnida. Geuleomyeon geudeul-eun deo isang naleul biusji anh-eul geos-ibnida. Jeongmal swibjyo?"


"Modeun geos-i nae gajoggwa gwanlyeon-i issdago saeng-gaghasibnikka? Geuleohdamyeon jeoboda jeogiissneun salam-i doel geos-ibnida."


Sepertinya Azlan tahu apa yang dipikirkan Taeri Hanseol.


(Ya sudah, kalau begitu kakak bisa bilang kalau aku adalah keluargamu. Maka mereka tak akan menertawai ku lagi. Itu sangat mudah, bukan?)


Taeri Hanseol terlihat sangat terkejut. Pupil matanya membesar ketika mendengar ucapan Azlan yang sangat mengena.


Bagaimana dia bisa tahu? Padahal Taeri Hanseol itu tidak pernah berpikir hingga ke sana.


"Pulanglah, aku tak akan menerima tamu seperti dirimu lagi."


Azlan mengangkat tangannya, telunjuknya menunjuk pintu rumah yang terbuka lebar.


Perlahan, Taeri bangkit dari duduknya lalu menundukkan tubuhnya untuk berpamitan sementara Dara hanya diam melihat aktivtas nya berjalan keluar dari rumahnya lalu beralih menatap Azlan yang tengah menahan amarahnya.


"Dia memintaku untuk menerima tawarannya bekerja di perusahaan ku. Rumah sakit yang dia tempuh dulu mengalami kebangkrutan. Dia sudah 3 tahun tidak bekerja dan seluruh rumah sakit tak mau menerima anggota perawat. Dia tersiksa dan hilang akal untuk memikirkan bekerja di mana lagi. Mamanya meminta agar membujuk aku untuk menerimanya bekerja di kantor kakak. Karena dia angat membutuhkannya," terang Azlan.


Dara terpaku mendengar ucapan Azlan.


"Katanya 'Jadi begini ceritanya. Pemilik rumah sakit itu membawa semua uang yang ada di dalam loker rumah sakit itu. Dulu, ia sempat libur karena cuti ke luar negeri dan selama 1 bulan dia tidak masuk untuk bekerja. Lalu polisi setempat datang ke rumah sakit untuk menanyakan nama pemilik rumah sakit kami. Mereka mengatakan hal yang sebenarnya bahwa lelaki paruh baya tersebut cuti untuk berlibur ke luar negeri 1 bulan lamanya. Mendengar hal itu, mereka langsung menyuruh kami agar tidak masuk kerja lalu mereka memasang garis polisi. Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk memasukkan lamaran pekerjaan di rumah sakit berbeda dalam 3 hari. Hanya laporan bahwa aku ditolak. Bukan aku saja, melainkan rekanku yang lainnya. Hingga saat ini aku tak memiliki pekerjaan. Kakak tahu, 'kan bahwa ayah sudah tiada dan kami memutuskan tinggal dan menetap di Indonesia. Kalau di Korea, kami mau makan apa? Di sana kehidupan sangat tinggi, berbeda dengan di sini.' Begitu."


Dara menutup mulutnya dengan satu tangan, terkejut. Berarti Hanseol tak bisa makan enak selama ini, pikirnya.

__ADS_1


"Ya, bagaimana pun kakak 'kan kakaknya dia. Kakak harus terima. Setidaknya beri dia pekerjaan walau di bawah. Dia pasti sangat tersiksa kalau harus diam di rumah," ujar Dara khawatir.


Sementara Azlan mengembuskan napasnya kasar, melepaskan tangan Dara yang sedari tadi menempel padanya lalu meninggalkan Dara.


'Dangsin-eun naegadoeneun beob-eul moleubnida, Dara. Igeos-eun maeu eolyeobseubnida. Naega manh-eun salamdeul-ege gajang jongyeong badneundaneun geos-eul algo issseubnida. Naneun jeonmunjeog-ieoyahago modeun geos-idoeeoyahabnida. Taeri-ga jauijeog ilkka dulyeobda. Sasil geuneun dangsin-i moleuneun saie dangsin dwie swibge jeobgeunhaessseubnida. Deo isang geuliwohago sipji anh-a gang-yulilo chungbunhada. Nae silsuga du beonjjaelo banbogdoeneun geos-eul wonhaji anhseubnida. Sasil, dangsin-eun nae hyeonjae sanghwang-eul ihaehal su eobs-seubnida. Naneun maeu pigonhabnida. Bang-geum naneun geuwa hamkke haengboghaessgo ije anaewaui haengbog-eul pagoehaneun gisaengchung-i natanassseubnida.'


Azlan membatin seraya menidurkan tubuh kekarnya di atas ranjang dengan posisi terlentang.


Kedua tangannya ia rentangkan seperti tak ada tempat untuk yang lain. Tak ingin diganggu.


(Kau tak tahu bagaimana menjadi aku, Dara. Ini sangat berat, kau tahu aku ini paling disegani oleh banyak orang. Aku harus profesional, semuanya harus. Aku takut jika Taeri nanti akan semena-mena di sana. Bahkan dia dengan mudahnya mendekati diriku tampa sepengetahuan mu, di belakangmu. Aku tak mau kecolongan lagi, cukup dengan Kang Yuri saja. Aku tak mau kesalahanku terulang lagi yang kedua kalinya. Bahkan, kau saja tak bisa mengerti dengan keadaanku sekarang. Aku sangat lelah, baru saja tadi aku bahagia dengannya dan sekarang sudah muncul parasit yang menghancurkan kebahagiaanku dengan istriku.)


Saat ini pikiran dan hatinya sangat kalut.


Dara tak berpihak padanya, malah kepada Taeri Hanseol. Sementara Azlan tak mau menerimanya sebagai karyawan walaupun hanya Office Girl di kantornya.


Bukan apa-apa, Taeri Hanseol sangat mahir dalam memainkan skenario, bersandiwara.


Dia sangat tersiksa sekarang. Bagaimana bisa? Huh, sangat melelahkan.


"Appaleul pohamhaeseo gajog-ege malhaeyahanayo? Heo, amado. Geuneun jigeum swigo issseubnida. Naneun geuleul banghaehago sipji nhseubnida. Geu deogbun-e geuui son-i oegug-e samusil-eul yeol su issdolog dowa jueossgo ije deo isang geuleul goelob higo sipji anhseubnida. Naneun jigeumkkaji geuege gip-eun bij-euljyeossda. Dara-i nun-ap-eiss-eul ttaeleul je-oehagoneun geunyeoege haengbog-eul jul su eobs-seubnida. Nan jeongmal appaga geuliwoyo. Jeongmal geuui pum-e ango ulgo sip-eoyo. Hajiman jeoneun da jalassseubnida. Yeolsimhi ilhago salanghaneun yeojawa nampyeon-idoeneun namja. Jeongmal salanghabnida. Nae ma-eum-e geuui ileum-eul bakkul su-issneun daleun yeojaneun eobs-seubnida. Du aniga meomchun geoscheoleom adeu nan-i sala jyeoss-eul ttae geudeul-eun ul jeongdolo chungbunhaessgo naneun geudeul-i maeu ppalli gyeongheom han goeloum-eul neukkyeossda," gumam Azlan seraya meletakkan tangannya di atas kening paripurnanya.


(Apa aku harus memberitahu pada keluargaku termasuk ayah? Huh, jangan-jangan. Dia tengah istirahat sekarang. Aku tak mau mengganggunya. Semuanya berkat dirinya, tangannya telah membantuku untuk membuka kantor di negeri orang dan sekarang aku tak mau menyusahkan dia lagi. Aku sangat berhutang budi padanya hingga saat ini. Aku tak bisa memberikan dia kebahagiaan kecuali ketika Dara berada di depan matanya. Aku sangat merindukan papa, aku sangat ingin menangis di pelukannya. Tapi, aku sudah besar. Lelaki yang pekerja keras dan menjadi seorang suami dengan wanita yang kucintai. Sangat kucintai. Tak ada wanita lain yang bisa menggantikan namanya di hatiku. Cukuplah dulu mereka menangis ketika Dara hilang seperti dunia mereka terhenti dan aku merasakan kepahitan yang mereka alami sangat cepat.)


Netranya tertutup karena merasa sangat lelah memikirkan kejadian sekarang. Rasanya otak itu ingin meledak saja, tak mau memikirkan hal ini, tapi perkataan Dara dan Taeri Hanseol itu melayang-layang di kepalanya.


Ping!


Ponselnya berdering di saku-saku celananya. Tangan kekar itu mencari keberadaannya yang terletak di belakang tubuhnya.


Dapat.


[내가 당신의 작은 가족을 끝내기 전에 제안을 수락하십시오. 아, 정말 아내를 사랑 하시죠? 그는 심지어 당신이 아니라 적의 편에 서고 있습니다.]


Azlan bangun dari ranjang ketika membaca pesan itu dari ponselnya dengan nomor tak dikenal. Nomor baru masuk ke dalam ponselnya.


(Naega dangsin-ui jag-eun gajog-eul kkeutnaegi jeon-e jean-eul sulaghasibsio. A, jeongmal anaeleul salang hasijyo? Geuneun simjieo dangsin-i anila jeog-ui pyeon-e seogo issseubnida.)


(Terimalah tawarannya, sebelum aku yang akan menghabisi keluarga kecilmu. Ah, kau sangat mencintai istrimu, bukan? Dia bahkan sangat berpihak pada musuh, bukan pada dirimu.)

__ADS_1


__ADS_2