Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 127.Bawa Saja Paman


__ADS_3

Azlan berlarian ke arah Dara tanpa Dara ketahui. Menarik tangan mungil itu dan Dara juga tidak tinggal diam, dia menarik tangan Ahyun juga dan mereka bermain air bersama Azka, Rara dan Sarah.


"Hei, jangan cipratin airnya terlalu banyak. Nanti bajuku basah," keluh Dara saat Azka mencipratkan air ke bajunya.


"KKemarilah sayang. Jangan di tepi situ, apa kamu tidak mau menikmati ombak pantainya."


Di saat itulah mereka tertawa lepas. Bahkan Reyndad tak segan-segan menggendong tubuh mungilnya ala bridal style lalu membasahi punggung Dara dengan air.


Jarak Azlan dan keponakannya lumayan jauh karena ia ingin menikmati waktu berdua. Jadi, Ahyun yang mengawasi mereka.


"Kak, ini terlalu dalam. Kakak mau tenggelamin aku di pantai ini? Malu kak, banyak orang yang liatin kita," gerutu Dara seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Kini Azlan melepaskan gendongan mereka dan Dara hampir saja tenggelam jika dia tak gesit menggantungkan diri ke tubuh Azlan tepatnya di leher pria itu.


Pandangan mereka bertemu.


"Aku tahu bahwa kamu pergi ke pantai ini hanya sekali ini. Aku tahu jika kamu menyukai pantai dan aku akan melakukan apapun yang membuatmu bisa merasakannya. Tapi, di sisi lain kamu juga harus bisa berenang agar tubuh kamu tumbuh. Tepatnya di bagian tinggi badan. Dan juga agar kehamilan kamu juga sehat, aku akan mengajarkannya untukmu. Jangan takut, aku akan menjagamu." Azlan berucap seraya menopang kedua kaki Dara yang tengah menggantung di pinggangnya.


Azlan melangkahkan kakinya menginjak dasar pantai yang semakin jauh dari tepi pantai membuat Dara melebarkan matanya terkejut.


'Apakah dia akan mencampakkanku di sana, atau dia malah menenggelamkan diriku? Astaga, aku belum melahirkan sekarang!' batinnya berteriak.


Setelah dirasa cukup, Azlan melepaskan satu tangannya yang menopang kaki Dara.


"Kak," panggilnya dengan suara bergetar.


"Kita akan berenang sekarang. Kakak akan mengajarimu," ucap Azlan dan mendapatkan gelengan kepala dari Dara. Ia menolak ajakan sang suami.

__ADS_1


Perlahan pandangan Dara terlihat berbinar menatap wajah Azlan yang basah. Apalagi jika rambut hitam legamnya yang ia kibas ke belakang membuat kening itu terlihat menawan dan paripurna.


Palagi di tambah dengan tahi lalat Azlan di bawah mata sebelah kirinya. Menambah kesan maskulin dan ketampanannya kadar akut.


Azlan yang menyadari pandangan dari sang istri, mulai menyatukan kening mereka. Matahari yang sangat terik itu tak mengganggu aktivitas yang lainnya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Azlan dengan suara husky.


"Aku baru menyangka, kalau suamiku ini tampan juga."


Mendengar penuturan dari sang istri, Azlan terkekeh pelan. Azlan kembali berjalan mendekati bibir pantai dan mendudukkan dirinya di bibir pantai yang masih disapu ombak.


Saat Adnan hendak beranjak dari pangkuan sang suami, Azlan menahan pinggang mungil Dara dan membuat Dara terkejut bukan main.


"Why?" tanyanya dengan suara sedikit bergemetaran.


"Kak, nanti kalo ada turis yang liat, gimana? Malu tahu!" bentak Dara


Ia memukul dada bidang Azlan agar menghentikan kegiatannya yang tengah menatap Dara dalam. Bukan, ini bukan tatapannya yang biasa. Tapi, ini sangat aneh, bahkan Dara sendiri risih berdekatan dengan Azlan.


"Biarkan saja. Lagi pula, kita sudah menikah. Apa yang harus kamu takut dan malukan? Aku tidak memalukanmu. Bahkan, jika kita melakukannya di sini tak ada yang marah atau menghentikan kita, bukan? Kita ini suami istri. Aku jarang membagi waktu berdua denganmu karena kesibukan kantor dan aku selalu merindukanmu bahkan aroma tubuhmu, sayang. Ini canduku dan aku bisa melakukan kapanpun dan di manapun jika aku mau. Kamu harus bisa menurut, menerima dan nikmati saja," bisik Azlan.


Azlan mulai menyentuh kening, pipi dan mata hazel itu dengan birainya. Dara hanya bisa diam sembari meremas baju kaos putih yang dipakai Azlan.


Hati dan jantungnya bergetar dan sebenarnya ia tak ingin melakukan hal ini di pantai.


Bukan Dara yang dahulu menggodanya, melainkan Azlan yang membawa dirinya menjauh dari pada keponakan.

__ADS_1


Dara mengira Azlan akan menenggelamkannya, ternyata tidak.


Puk!


Tanpa segaja, Dara memukul pelan bahu Azlan karena dia kehilangan oksigen. Azlan begitu semangat saat birai mereka menyatu dan menyalurkan rasa yang kadang Azlan tahan karena sang istri tengah mengandung.


Mama juga memberi pencerahan bahwa seorang wanita yang tengah mengandung tidak boleh melakukan hubungan badan dan itu bisa mengakibatkan anak yang dia kandung keguguran.


"Kak-"


"Kakak hanya ingin ini saja. Tidak lebih, jangan takut. Kamu jangan grogi gitu, dong. Rileks."


Azlan memotong ucapannya sambil menyentuh birai Dara dengan jari telunjuknya.


"The plan is that you want to take you swimming. This is also for the needs of you and our children. So that your body is healthy and the possibility of your height changes. Don't think anything weird, honey. There is no way your brother will kill you if you are not wrong, you could say that your husband is insane and crazy people say," gerutu Azlan pada Dara.


(Rencananya kakak mau mengajakmu berenang. Ini juga untuk kebutuhan kamu dan anak kita. Biar tubuh kamu sehat dan kemungkinan tinggi badan kamu berubah. Jangan berpikir yang aneh-aneh, sayang. Tidak mungkin kakak akan membunuhmu jika kamu tidak ada salah, bisa dibilang suamimu ini tidak waras dan gila kata orang.)


"Yes, but brother, don't be like this either. What will people say if we go too far? I'm also the one who is shy and my skin feels very hot too. Luckily, I used sunblock. Brother, all kisses, I'm embarrassed to know. What will happen to Azka, Dara and the others later? They are still small, don't deserve to see this kind of thing."


(Ya, tapi kakak jangan kayak gini juga dong. Apa kata orang nantinya kalau kita sampai kelewatan batas? Aku juga yang malu dan kulit aku rasanya juga panas sekali tadi. Untung aja pake sunblock. Kakak sih, pake cium-ciuman segala, malu tahu. Nanti kalau Azka, Dara dan yang lainnya lihat gimana? Mereka masih kecil, gak pantas liat yang beginian.)


Azlan tertawa mendengar ucapan Dara. Lalu ia berdiri dan kembali ke tempat Azka dan yang lainnya berada. Mereka tengah berteduh di bangku pantai dengan makanan yang mengisi perut mereka.


"Dari mana saja, paman?" tanya Dara.


"Tadi, habis berenang."

__ADS_1


'Tadi wajah Dara benar-benar menggemaskan. Sebegitu takutnya dia jika aku akan melakukan hal yang ia pikirkan di pantai itu? Aku juga tak ingin berbagi tontonan gratis dari para turis yang melihat adegan kami. Hanya membuktikan saja, apakah Dara masih canggung atau tidak. Tapi, nyatanya dia masih grongi dan sesikit takut. Lumayan juga pukulannya tadi, aku hanya takut jika jantungku terjadi masalah akibat pukulannya,' batin Azlan sambil tersenyum mengingat kejadian tadi sembari mengelus dadanya bekas pukulan Dara


__ADS_2