Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 43. Dara Keguguran


__ADS_3

Dara menatapnya sinis. Sementara Kang Yuri berjalan mendekatinya yang tengah memilih cemilan yang sekarang ia idam-idamkan.


"Kau tahu, aku sangat muak melihat wajahmu. Aku sangat benci denganmu yang sudah menyakiti hatiku dengan merebut Azlan dariku," bisik Kang Yuri padanya.


"Kau tahu, kau sudah putus dengannya. Aku tidak merebut pacarmu, dialah yang menikahiku. Dia menyukaiku, bukan aku yang agresif," balas Dara.


Brak!


Kang Yuri mendorong Dara dengan kasar sehingga ia terjatuh bersamaan dengan troli yang menjadi pengangan nya tadi juga ikut terjatuh.


Di Kantor Azlan


Prang!


Gelas itu tak sengaja tersenggol oleh Azlan ketika ingin duduk setelah menyelesaikan rapat dengan karyawannya.


"Anda tak apa-apa, pak?" tanya staffnya.


"Ah, iya. Tolong bersihkan pecahan itu." Mereka memanggil cleaning service dan membersihkannya.


Di Alfamart


Kang Yuri terkejut dengan darah yang keluar dari pergelangan kaki Adnan ketika ia berusaha berdiri. Dara merasakan kesakitan l


di area perut bagian bawahnya.


Kang Yuri segera berlari keluar dengan perasaan yang amat takut.


"Tolong!" teriak Dara membuat pengunjung dan karyawan di sana menolongnya, memapahnya duduk di kursi.


"Sakit sekali," ringisnya.


"Astaga, Anda pendarahan nona."


Dara menoleh ke kakinya, benar. Darah itu sudah mengalir di kakinya dan sendal yang ia gunakan juga tergenang di sana.


Tak berselang lama, pandangannya mengabur. Untung perempuan paruh baya itu sigap menahan kepalanya sehingga Dara tidak terjatuh lagi.


"Coba di cek dompetnya," ucap karyawan tersebut. Wanita itu melihat isi dalam dompet milik Dara . Dia tidak menemukan ponsel miliknya.


"Tidak dibawanya."


"Kalau begitu, cek ATM-nya. Supaya kita tahu infonya."


Wanita itu memberikan black card milik Dara. Mereka sangat terkejut dengan nama Azlan, pengusaha sukses di bidang properti tersebut.


"Dia istri dari Pak Azlan."


"Kalau begitu, saya akan ke kantornya untuk mengabarkan perihal ini." Salah satu dari mereka mengendarai motor sport dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sementara yang lain, menggotong tubuh Dara ke dalam mobil dan membawa ke rumah sakit terdekat.


Di Kantor Azlan


"Apa Pak Azlan ada di dalam?"


Satpam tersebut menatap karyawan yang memakai seragamnya.


"Untuk apa Anda mencari Pak Azlan? Apa Anda sudah membuat janji padanya?"


"Ada masalah yang sangat besar, izinkan saya menemui beliau."

__ADS_1


Lelaki itu berlari memasuki kantor, keempat satpam tersebut berusaha untuk menahannya dan membawanya keluar dari kantor, karena takut jika CEO itu akan marah dan bisa-bisanya ia di pecat dari kantor ini.


"Pak, izinkan saya," pintanya.


"Anda tunggu di sini, akan saya panggilkan beliau untuk Anda."


Mereka berjalan masuk ke dalam lobi meninggalkan lelaki tersebut yang tengah menunggunya di parkiran.


***


Drt ... drt ...


"Halo."


Azlanmengangkat telepon khusus dari kantornya.


"Maaf, pak mengganggu. Ada yang mencari bapak, seorang laki-laki. Dia bekerja d Alfamart."


Azlan mengerutkan keningnya.


"Ada apa dia mencari saya?" tanyanya heran.


"Saya juga tidak tahu, pak.


"Saya ke sana sekarang."


Azlan memutus panggilannya. Ia berjalan tanpa menggunakan jasnya. Karena ia sedikit kegerahan.


"Ada apa?" tanya Azlan ketika melihat satpamnya tengah menunggunya di meja resepsionis.


"Orangnya di luar, pak."


Mereka menuntun Azlan keluar dari kantor dan ia melihat lelaki yang diceritakan oleh karyawannya.


Matanya membola mendengar penuturan lelaki yang tak ia kenal.


"Jangan mengada-ngada, ya?!" sarkas Azlan .


"Benar, pak. Tadi ada seorang wanita yang berbicara pada istri Anda. Ada sebuah perdebatan dan wanita itu mendorong istri Anda yang sedang belanja."


"Di mana dia sekarang?"


"Di rumah sakit, pak.


"Tunjukkan saya rumah sakitnya."


Lelaki tersebut menganggukkan kepala, Azlan mengikuti motor yang ia kendarai, menuntunnya menuju rumah sakit.


"Kenapa bisa seperti ini, sayang?" gerutu Azlan sambil memukul strinya. Mereka menerobos lampu merah.


Di Rumah Sakit internasional


" Ayo, pak."


"Maaf, orang yang masuk rumah sakit baru ini, ruangannya di mana?" tanya Azlan dengan tergesa-gesa.


Perempuan yang melihat Azlan sedikit terpaku akan ketampanannya.


"Di ruang UGD, Pak."


Mereka segera berjalan menuju ruang UGD sesuai petunjuk dari rumah sakit.

__ADS_1


Ada beberapa orang di sana yang tengah menunggu kedatangan Reyndad.


"Bagaimana istri saya?"


"Senang di tangani dokter, pak. Mohon bersabar," jawab wanita yang menolong Adnan tadi.


Ceklek.


Reyndad segera menghampiri dokter pria tersebut untuk menanyakan keadaan istrinya sekarang. Apakah dia baik-baik saja? Atau malah sebaliknya.


"Istri Anda mengalami pendarahan, sehingga janin yang selama ini ia jaga. Tidak bisa diselamatkan. Maafkan kami dari pihak rumah sakit."


Azlan yang mendengarnya hanya bisa menutup mulutnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Detik itu juga, air matanya luruh keluar dengan deras. Wanita itu berjalan untuk menenangkan Azlan yang tengah menderita dan berduka.


"Sabar, ini ujian. Tak ada Tuhan yang memberi ujian pada hamba-Nya yang bisa menjalani ujian ini," ucapnya seraya menepuk pundak Azlan


"Siapa Anda?" tanya Azlan menatap wanita paruh baya tersebut.


"Saya tadi yang menolong istri Anda."


"Terima kasih banyak, nyonya. Jika tidak ada Anda, saya tidak tahu harus berbuat apa." Azlan mencium tangannya layaknya seorang ibu baginya.


"Jaga dia baik-baik, saya juga mengalami hal yang sama sehingga suami saya pergi meninggalkan saya."


"Maaf, saya membuat Anda bersedih."


"Tak apa, genggam dia dengan erat. Saya dulu sangat terpuruk akan hal ini, saya yakin Anda bisa melewatinya. Hibur dia, saya permisi."


Wanita itu memberikan dompet milik Dara dan meninggalkan Azlan yang tengah terduduk mencerna perkataannya tadi.


Ia merongoh saku celananya untuk mengabari mereka bahwa Dara mengalami insiden. Azlan juga mengirimkan alamat.


***


Seok dan mama bergegas mem-packing bajunya dan malam itu juga ia berangkat menuju bandara.


Mama menangis mendengar kabar tersebut, pasalnya ia sangat menyayangi menantunya dan sangat mengharapkan cucu dari mereka.


***


Azlan Menggenggam tangan Dara yang ditusuk selang infus di punggung tangannya. Air matanya kembali luruh, ia meletakkan kepalanya tepat di lengan milik Dara dan menangis dalam diam.


Bagaimana jika Dara tahu tentang ini? Apa yang akan ia lakukan? Apakah bisa ia melihat senyuman itu? Apa bisa ia mendekap kembali tubuh mungilnya ketika ia tengah banyak pikiran? Apakah ia bisa melihat Dara yang berkutat di dapur? Apa bisa ia melihat raut wajah Dara yang menggemaskan saat ia marah padanya? Apakah bisa? Pikir Azlan.


Ceklek.


Tangisnya terhenti ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Kepalanya bergerak ke belakang dan melihat siapa yang mendatangi ruangannya.


"bunda ."


Bunda Fisya berjalan memeluk Azlan yang berpenampilan kusut tidak seperti biasanya. Wajahnya merah menahan tangis, rambut dan kemejanya sudah berantakan.


Bunda Fisya menenangkan Azlan yang tengah menangis di pelukannya. Ia menyebut nama Dara dan calon bayinya.


"Tenanglah."


17 menit kemudian, tangisan mereka mereda. Azlan menatap Chaca yang melihat kegiatan mereka. Ia merentangkan tangannya dan Chaca datang pada Azlan , memeluknya dengan erat. Tangis gadis kecil itu tumpah.


"Kakak harus kuat," ucap Chaca menyemangati Azlan.

__ADS_1


"Kamu juga, ya." Azlanmelepaskan pelukan mereka lalu ia menghapus air mata di pipi kecil gadis itu.


__ADS_2