
"Tapi, nanti ajarin."
Aku menganggukkan kepala menerima permintaan Dara.
Aku dan Dara berjalan kembali ke depan lalu aku menautkan jari-jari besarku ke jari-jari mungilnya.
Aku mengambil tangan kiri Dara dan kuletakkan di bahuku, sementara tanganku yang lain memeluk pinggangnya posesif.
Aku tersenyum padanya lalu kami mulai berdansa.
Puk.
Puk.
Puk.
Berkali-kali Dara menginjak kakiku yang dibaluti sepatu kulit hitam.
"Apa kamu benar-benar tidak bisa berdansa?" tanyaku menatap matanya.
Dara menggelengkan kepala sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Tap!
Lampu yang tadinya terang, tiba-tiba mati sebagian. Keadaan sedikit gemerlap, hanya ada cahaya dari panggung dan beberapa lampion di meja tamu.
Sementara Dara sedikit meremas jasku.
"Naikkan kakimu."
"Ha?"
Dara menatapku heran.
"Naikkan kakimu ke atas kaki kakak."
"Cepatlah!"
Kami berhenti berdansa, aku menunggu Dara agar segera naik di atas kakiku karena aku tak taham dengan sakitnya jari-jari kakiku yang ia injak.
Dara menginjak kakiku, untung saja dia tak mengenakan high hells.
Aku mulai mengeratkan pelukanku lada pinggangnya agar ia tak terjatuh ketika aku menggerakkan kakiku.
'Geunyeoneun jeongmal aleumdabseubnida. Jigeum geuleul mannaseo neomu nollassseubnida.' Aku membatin melihat paras Dara yang benar-benar cantik di depan mataku.
(Dia benar-benar cantik. Aku sangat terkagum melihatnya sekarang.)
Dara gyang merasa ditatap olehku segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
Ukiran senyunku tercipta melihat tingkahnya yang selalu saja malu seperti ini.
"Apa kakak capek?"
"Tidak."
"Apa aku berat?"
"Tidak, kamu cukup ringan. Padahal kakak udah kasih kamu black card, tapi berat kamu masih gini-gini aja."
Bohong.
Aku cukup kesulitan setiap aku menggerakkan kakiku. Bayangkan saja, jika masing-masing kakiku harus mengangkat berat badan yang lebih dari dua puluh lima kilo.
Sungguh menyiksa, tapi aku tak boleh terlihat lemah di depan Dara maupun tamu lain.
Aku kembali mengeratkan pelukanku pada Dara sehingga dagunya menemlel di bahuku.
"Dangsin-eun oneul bam neomu aleumdawoseo neomu maelyeogjeog-ieoseo jeomjeom deo saranghae. Dangsin-ui eolgul-i gyeolbaeghadeolado oneul bamgwa maeil. Naneun yeojeonhi dangsin-eul salanghabnida. Dangsin-eun je eomeoniwa yeodongsaeng da-eum-eulo gajang aleumdaun yeoseong-ibnida. Dangsin-eun anpakk-i aleumdabseubnida. Naneun dangsin-i nabodaigijeog-igo gojib seuleobjiman jalmosdoen seontaeg-eul seontaeghaji anh-assseubnida. Hajiman dangsin-eun naleul haengboghago usge hal su-issneun salam-ibnida. Hangsang saeng-gaghaneun dangsin. Jamjaneun eolgul-eul bomyeon gwiyeobgo salang seuleobseubnida. Agi sonyeocheoleom. Dara, bujoghadeun him-i issdeun dangsin an-eissneun geos-ibnida. Dangsin-eun yeojeonhi naui My Dara, naui bomul-ibnida. Dangsin-eun daiamondeu, daiamondeu, jinju ttoneun-i sesang-eseo gajang sojunghan geos isang-ibnida," bisikku tepat di telinganya.
(Kamu sangat cantik malam ini, kamu sangat menawan sehingga aku lebih dan sangat mencintaimu. Malam ini dan setiap harinya, walaupun wajahmu polos. Aku tetap mencintaimu, bagiku kamu adalah wanita paling cantik setelah ibu dan adik perempuanku. Kamu cantik diluar maupun dalam. Aku tak salah pilih, walaupun kamu egois dan keras kepala melebihiku. Tapi, kamu orang yang bisa membuatku bahagia dan tertawa. Dirimu yang selalu kupikirkan. Saat melihat wajahmu yang terlelap, kamu lucu dan menggemaskan. Bak bayi perempuan. Dara, apapun dalam dirimu entah itu kekurangan atau kelebihan. Kau tetap Daraku, milikku, barang berhargaku. Kau melebihi berlian, intan, mutiara atau hal yang paling berharga di dunia ini.)
"Artinya apa?" tanyanya mendongak menatapku.
"Apa kakak harus bilang artinya apa?" tanyaku balik.
"Harus, 'kan itu bahasa kakak."
"Bahasa bayi."
Kami tertawa pelan saat Dara menjawabnya 'bahasa bayi'.
Lagu tetap berjalan dengan keadaan yang sedikit remang-remang.
"Tonight, you are really beautiful. What's more, your hijab, and your face make anyone hooked. Including your husband, you are lucky to have an established and handsome husband like me."
Aku kembali berbisik.
(Malam ini, kamu benar-benar cantik. Apalagi hijabmu ini, dan wajahmu yang membuat siapa saja terpikat. Termasuk suamimu ini, kamu beruntung bisa memiliki suami yang mapan dan tampan seperti aku.)
"Kakak itu tadi bicara panjang banget, kok malah kepedean?"
"Kakak bicara kayak gitu tadi."
"Iya, you are also handsome, but arrogant."
"There's no way you have to smile at women other than our family. There's no way you have to continue to spread charm in front of female employees. Where is your pride as a CEO?"
(Gak mungkin kakak harus senyum sama wanita lain selain keluarga kita. Gak mungkin juga kakak harus tebar pesona terus di depam karyawan perempuan. Di mana harga diri kakak sebagai CEO?)
__ADS_1
"You know, since you know you are like a playboy style. Brother used to want to prank you. However, on the first night of our marriage, my sister fell in love when she saw you sleeping. You once smacked your brother's face with your damn little hands. Luckily my brother never had facial surgery. If only I had, huh my handsome face would be gone."
(Kamu tahu, semenjak kakak tahu kamu itu seperti gaya playboy. Kakak dulu sempat ingin mengerjaimu. Tapi, saat malam pertama pernikahan kita, kakak malah jatuh cinta waktu lihat kamu tidur. Kamu pernah tabok wajah kakak dengan tangan mungil sialan kamu itu. Untung saja kakak gak pernah operasi wajah. Kalau saja pernah, huh bakalan habis wajah tampanku ini.)
"Okay, if that is the case ..."
"How are you? I just got angry."
Aku langsung memotong ucapannya.
"Brother knew first."
"Brother is just kidding, honey. Don't frown like that, ah. Want you to kiss in front of invited guests?"
(Ya sudah, kalau begitu ...)
(Kamu ini bagaimana, sih? Kayak gitu aja marah.)
(Kakak duluan, tahu.)
(Kakak cuman bercanda, sayang. Jangan cemberut gitu, ah. Mau kakak cium kamu di depan tamu undangan?)
"Jangan aneh-aneh, ya."
"Siapa yang aneh-aneh? Kakak gak aneh-aneh."
"Tahu, ah."
"Eomeo, nae sarang-eun maeu jjajeung-i nago, eumchimhago, jjing-geuligo geuui gibun-eul byeonhwasikibnida. Hajiman ileohge hwaleul naedeolado yeojeonhi aleumdabgo salang seuleobseubnida. Jigeum dangsin-ege kungkung geolineun neukkim-i deubnida. I hyeongjeneun pyeongbeomhan salam-ibnida."
(Astaga kesayanganku ini sangat mudah marah, cemberut, ngambekkan dan membuat moodnya berubah. Tapi, walaupun kamu marah kayak gini kamu tetap cantik dan menggemaskan. Rasanya ingin menerkammu sekarang juga. Kamu tahu, kakak ini pria normal.)
Dara hanya diam tak menanggapi ucapanku.
Dia tak tahu dengan apa yang kubicarakan dalam bahasa hangul, Korea Selatan.
Cup!
Aku sangat gemas dengan wajahnya sekarang lalu mencium bibirnya. Hanya menempel tanpa *******.
Bahkan aku tak menutup mata untuk melihat ekspresi Dara dengan wajahnya yang sangat terkejut.
Matanya bergetar dan terbelalak.
Sementara aku mulai menutup mata menikmati dingin bibirnya karena hawa semakin dingin hingga menusuk tulang.
Aku mulai menggerakkan bibirku mencari kenikmatan darinya. Lip blam kami bercampur.
Dara tidak menggunakan lip cream, jadi aku merasakan kelembutan bibirnya yang selalu kutahan.
__ADS_1
Kakiku berhenti bergerak, tanganku semakin memeluk pinggangnya hingga mengikis jarak diantara kami berdua.