
Aku berjalan membawa es krim kemasan menuju parkiran lalu membuka pintu mobil dan memberikan es krim tersebut pada Dara.
Aku menghapus keringat yang menempel di dahinya dengan punggung tangan dan ibu jariku saat Dara tengah menikmati es krim yang kubawa.
"Enak?" tanyaku seraya mrmbuka bungkusan es krin tersebut lalu melahapnya.
"Banget, manis lagi."
Aku tersenyum mendengarnya. Setelah es krimku habis dalam tiga puluh detik, aku mengeluarkan mobil dati parkiran dibantu oleh tukang parkir.
"Berapa bang?" tanyaku pada tukang parkir laki-laki paruh baya.
"10 ribu."
Aku memberikan uang yang ia minta seraya mengucapkan terima kasih lalu pulang menuju rumah.
***
Sampai di rumah, kami dibantu Bi Ima untuk membawa barang belanjaan ke dapur.
"Bibi sakit? Kok mukanya pucat gitu?"
Aku menoleh ke arah Dara yang tengah menyentuh kening Bi Ima untuk mengecek suhu tubuh beliau.
"Kalau bibi sakit, jangan dipaksa kerja. Bibi bisa bilang sama saya atau istri saya untuk cuti sampai sembuh," ujarku khawatir.
"Gak apa-apa, tuan. Bibi kuat, kok."
"Istirahat dulu, bi."
Adnan menuntun Bi Ima berjalan menuju kamar untuk menyuruhnya beristirahat.
"Gimana?" tanyaku tanpa menoleh ke arah Dara yang berjalan lalu duduk di kursi.
"Kayaknya bibi demam, deh."
"Ya udah, kamu buatin bubur gih," pintaku yang disetujui Dara.
Sementara aku harus mencuci dua potong ayam dan sisanya kumasukkan ke dalam lemari pendingin untuk stok hari esok.
Aku mulai mengambil mangkuk ukuran sedang lalu memasukkan ayam potong tersebut ke dalamnya dan membersihkan di wastafel dengan air mengalir.
Setelahnya aku mulai menaburi garam dan bawang putih di tempat ulekan cabe.
"Udah?" tanyaku pada Dara.
"Sedikit lagi."
Tak berselang lama, Dara mengantar semangkuk bubur buatannya dengan nampan dan segelas jus buah yang ia bawa dengan nampan kayu berbentuk lingkaran.
"Udah."
Aku menoleh ke arah Dara yang berdiri di sampingku saat aku tengah melumuri bumbu-bumbu tersebut.
"Kamu mau masak apa?" tanyaku padanya.
"Ayam ini lumayan banyak, sebagian buat ayam crispy aja."
Aku menganggukkan kepala menyetujui usulannya. Aku berjalan sedikit ke wastafel untuk membersihkan tangan, sementara Dara mulai menaburi tepung terigu dan tepung khusus untuk ayam lalu memecahkan telur ayam.
Aku melihat kegiatannya yang tengah mengocok telur ayam di mangkuk kecil kaca itu.
Perlahan ayam itu ia lumuri tepung yang sudah ia aduk lalu ia masukkan kembali ke dalam telur yang sudah dikocok lalu ia masukkan lagi ke dalam tepung. Begitu seterusnya hingga di rasa cukup, ia masukkan paha dan dada ayam ke dalam minyak panas.
Aku kembali berjalan duduk di meja dekat wastafel lalu membidiknya dari belakang.
Aku mulai berselancar ke WhatsApp group.
Pict.
[Istriku sedang masak, kalian mau berkunjung ke rumah?]
Send!
Beberapa detik kemudian, Cinta tengah menulis sesuatu setelah melihat pesan group dariku.
Ping!
Cinta Bobrok
[Kakak ipar sedang masak apa?]
Aku mulai membalas pesannya.
[여기에 오시려면 먼저 치킨과 밀가루를 사는 것을 잊지 마세요. 아, 우연히도 닭고기 달걀이 부족합니다. 여기에오고 싶다면 가져 오세요. 싸지 않은 것은 없습니다.]
Send!
*Yeogie osilyeomyeon meonjeo chikingwa milgaluleul saneun geos-eul ij-ji maseyo. A, uyeonhido dalg-gogi dalgyal-i bujoghabnida. Yeogie-ogo sipdamyeon gajyeo oseyo. Ssaji anh-eun geos-eun eobs-seubnida.)
(Masak ayam pop, kalau mau ke sini jangan lupa beli ayam sama tepung dulu. Oh iya, kebetulan telur ayam udah menipis. Kalian bawa ya, kalau mau ke sini. Gak ada yang gak murah.)
__ADS_1
Ping!
Cinta Bobrok
[아니오와 동일하지 않는 것이 좋습니다. 집에서 더 좋게 만들면 내 차도 배터리가 부족하지 않습니다.]
(Aniowa dong-ilhaji anhneun geos-i johseubnida. Jib-eseo deo johge mandeulmyeon nae chado baeteoliga bujoghaji anhseubnida.)
(Sama dengan enggak, mending gak usah. Buat di rumah lebih bagus, mobil aku juga gak kehabisan baterai.)
Aku menutup mulutku membaca pesan dari Cinta.
Papa sedang mengetik.
Aku menunggu pesan dari papa dengan mengetuk jariku di atas meja kaca.
Ping!
Papa
[Wah, menantuku sedang masak, ya? Papa sedang di kantor sekarang. Bau ayamnya sampai ke sini tahu. Papa jadi lapar.]
***
Mereka berkejaran lalu memeluk dan mencium pipiku. Mereka sangat friendly denganku termasuk para keponakan Dara.
Lalu aku berjalan ke arah yang lain untuk mencium tangan mereka dan membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Saat menginjak kaki masuk ke dalam, kami mencium harumnya masakan Dara di saat bersamaan membuat papa menoleh ke arahku dengan senyuman.
"Kami mau nyusul Dara dulu ke belakang. Kalian di sini aja, jaga tuh keponakan," ujar Tante Ashilla adik almarhum ayah Dara.
Para perempuan termasuk mama dan Cinta juga ikut ke dapur. Mungkin saja mereka mau memasak makanan yang mereka beli tadi.
"Om, kapan om kasih kami teman?" tanya Zahra yang tengah menikmati cemilan di pangkuanku.
Aku tahu ke mana arah pembicaraan gadis mungil ini. Pasti tentang anak, pikirku.
"Hm, doain om ya, sayang. Semoga om bisa dapat keturunan dan jadi teman kalian."
"Om, kalau anak om nantinya perempuan, Azka mau jadiin dia kekasih Azka. Kalau laki-laki, Azka mau ajarin dia main bola sama basket," cerocos Azka padaku yang sedang memainkan mobil-mobilannya.
"Astaga, Azka. Kamu masih kecil, gak boleh mikirin perempuan dulu. Yang penting kalau kamu pintar, semua perempuan pasti mau sama kamu," ucapku membuat Paman Kim tertawa mendengarnya.
"Samchon, Dara-i yaggan gwachejung-ibnida. Imsin haessseubnikka?" tanya Paman Kim padaku.
"A, samchon-eun eobs-eo. manh-i meog-eunikka jom bae buleugo jib dwie simneun ildo manhda."
"Ne, samchon."
Aku menganggukkan kepala sembari tersenyum pada Paman Kim sebelum akhirnya aku menatap keponakanku.
(Paman lihat Dara sedikit gemukan, apa dia tengah mengandung?)
(Ah, tidak paman. Dia sering makan makanya dia sedikit berisi dan sering menanam juga di belakang rumah.)
(Benarkah? Wah, pasti kamu sering beliin Adnan bunga ya, Reyn?)
(Iya, paman.)
"Paman, kita mau berenang di kolam berenang punya paman. Boleh?" tanya Chaca.
"Boleh ya, paman?"
Mereka mulai deh, pikirku.
"Boleh sayang, ayo ke belakang."
Aku berdiri lalu berjalan menuju belakang rumah di mana kolam berenang di sana. Terlebih dahulu kami membersihkan kolam bersama-sama sebelum akhirnya aku mengisi kolam tersebut dengan air setinggi lutut ku.
Mereka sangat bahagia ketika merasakan sejuknya air di hari yang mulai menjelang sore ini.
Apalagi matahari tidak terlalu terik, karena cuaca sedikit mendung jadi mereka tak kepanasan.
"Oh, iya Azka. Kamu bawa bola gak? Kita main voli di dalam kolam ini," usulku yang diangguki oleh Azka.
Laki-laki bertubuh mungil itu berjalan menaiki beberapa anak tangga yang ada di ujung kolam berenang lalu masuk ke dalam rumahdan keluar dari rumah membawa bola ukuran sedang berwarna purple.
"Nah, anak-anak. Kita akan main bola di atas air ini. Tapi, kalian gunakan tangan untuk mengoper bola ke satu sama lain, ya."
"Baik, paman!" teriak mereka.
Aku mulai memberikan bola itu dari lemparan ku. Mereka juga melempar ke arah teman mereka.
Ada yang tak bisa menangkap bola itu karena kejauhan jadi mereka tenggelam.
"Gwaenchanh-a, Azka?" tanyaku memastikan padanya. Pasalnya Azka yang sering tenggelam karena ia tak bisa menangkap bola itu dan alhasil dia tenggelam.
"Gwaenchanh-a, samchon."
Azka sedikit memukul kepala bagian samping, mungkin air masuk ke telinganya lalu ia kembali melanjutkan permainan ini.
__ADS_1
"Tangkap!"
"Hei, main yang sportif!"
"Lagi, kita gak boleh kalah!"
Begitulah teriakan anak-anak.
Aku naik ke atas lalu melihat mereka dengan duduk di bibir kolam sambil tersenyum dan kadang juga tertawa melihat tingkah mereka.
'Andaikan jika aku sudah memiliki anak sekarang, mungkin saja dia sudah bermain dengan mereka,' batinku.
"Astaga, rupanya kalian di sini."
Aku menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Dara
Perempuan itu berjalan mendekatiku, bukan. Mendekati kami menuju kolam.
"Nih, ayam goreng sama nuggetnya."
Mendengar ucapan Dara, mereka bersorak gembira lalu menaiki tangga untuk mencicipi.
Dara kembali masuk ke dalam rumah dan kembali ke belakang rumah dengan membawakan gelas dan seteko jus strawberry.
"Wah, enak banget tante," ucap mereka pada Dara.
"Ya, siapa dulu dong."
Aku mengambil nugget itu makan bersama mereka. Dara juga melakukan hal yang sama.
"Tadi mereka bawa nugget sama ayam lumayan banyak. Jadinya lama harus masak," ucap Dara yang duduk di sampingku.
"Ya, gak apa-apa. Enak kok," ujar ku kembali memakan fried chicken di dalam mangkuk kaca.
"Hei, kalian di sini rupanya."
Secara bersamaan kami menoleh ke arah suara yang berdiri di ambang pintu. Bunda Fisya.
"Sini makan, bu."
Aku berjalan mendekati mertuaku lalu menariknya untuk makan bersama kami.
"Chaca mana?" tanya Dara pada Bunda Fisya
"Sedang makan sama Kak Cinta. Katanya dia mau main game."
Pasalnya setelah kedatangan Bunda Fisya Chaca langsung berlari masuk ke dalam rumah. Tapi, sebelum itu ia mencuci kaki di kran air tak jauh dari taman bunga milik Dara.
Mendengar itu, mataku membola seiring kunyahan ku terhenti. Ah, aku sudah lama tak bermain Play Station itu.
Dulu, Play Station dan komputer adalah benda yang paling kusuka. Bahkan aku menganggap mereka adalah kekasihku.
Dara menuangkan jus strawbery ke dalam gelas lalu memberikan untuk Bunda Fisya.
"Hm, segar banget."
"Gimana sekolah Chaca, bu?" tanyaku dengan mulut berisi.
"Alhamdulillah sekarang udah meningkat. Dia semangat sekolah, apalagi kalau bunda masakin kue bolu pandan kesukaannya terus bawa ke sekolah. Dia tambah rajin untuk ke sekolah," gerang bunda Fisya.
"Emang dulu-dulu dia gak rajin, bu?" tanyaku lagi.
"Ya, dulu ekonomi kami lumayan susah, nak. Karena Dara harus kuliah setelah lulus SMA."
Aku menganggukkan kepala mengerti.
"Enak gak?" tanyaku pada anak-anak untuk mengalihkan pembicaraan kami.
"Enak banget, om. Kapan-kapan kami main ke sini lagi boleh ya, tante?" tanya Lia pada Dara.
"Boleh sayang."
Dara melemparkan senyum ke arah mereka lalu kami masuk ke dalam karena sudah terlanjur lama memakai baju basah.
Aku masuk ke dalam kamar sementara yang lainnya mandi di kamar mandi dapur dan kamar di sebelah kamar kami.
Dara tengah sibuk memandikan mereka di kamar mandi sebelah. Buktinya, di kamar sebelah selalu ribut.
Aku mengeringkan rambutku dengan hair dryer di depan cermin.
Ceklek!
Aku menoleh ke arah pintu yang ternyata mama.
"Boleh masuk?" tanya mama padaku.
"Boleh, ma."
Aku mematikan hair dryer lalu menyimpan benda itu ke dalam laci meja rias dan menyuruhnya duduk di bibir ranjang.
"Ada apa, ma?" tanyaku penasaran.
__ADS_1