
Aku keluar dari mobil saat Dara berjalan menuju motornya. Aku mencekal lengan kirinya sehingga langkahnya terhenti dan menoleh ke belakang.
"Lepas."
Dara memberontak di dalam genggamanku, aku tak melepaskan cengkraman dari tangannya dan memilih membawanya ke dalam pelukanku.
"Ayo, kita pulang, kita buat cerita dari awal lagi."
Aku menghirup aroma tubuhnya yang sangat kurindukan.
"Kembalilah."
Bibirku bergetar mengucapkan kata itu, Dara sama sekali tak membalas pelukannya.
"Pergilah, hidupku sudah tenang sekarang."
Aku melepaskan pelukannya seraya memegang kedua bahunya dan menatap matanya dengan tajam.
"Don't you miss me, honey? I'm really tormented by this situation. It hurts so much, I'm waiting tormented in this situation. Don't you feel it? Have you forgotten our memories first? You love my cousin? You hate, Dara? Do you really want us to part sooner?!" Aku berteriak karena frustasi di depan Dara
(Apa kau tak merindukanku, sayang? Aku sungguh tersiksa dengan keadan ini. Ini sangat menyakitkan, aku sunggu tersiksa di situasi ini. Apa kau tak merasakannya? Apa kau sudah melupakan kenangan kita dulu? Kau mencintai sepupuku? Kau membenci, Dara? Apa kau benar-benar ingin kita berpisah lebih cepat?!)
"Why are you silent? Why are you looking at me like that? Please answer my question."
"I never loved Jong Ru--your distant cousin. You don't slander me like this. Don't talk about things that are impossible and have happened."
"Impossible thing? What's impossible, Dara? This already happened, Jong Ru always took you into his car."
(Kenapa kau diam? Kenapa kau menatapku seperti itu? Tolong jawab pertanyaanku.)
__ADS_1
(Aku tidak pernah mencintai Jong Ru--sepupu jauhmu itu. Kamu jangan memfitnahku sepertin ini. Jangan membicarakan hal yang tidak mungkin dan pernah terjadi.)
(Hal yang tidak mungkin? Apanya yang tidak mungkin, Dara? Ini sudah terjadi, Jong Ru selalu membawamu ke dalam mobilnya.)
Dara membulatkan matanya. Mungkin dia tak percaya dengan apa yang telah kukatakan.
"Why? Are you surprised? Yes, I've been following you guys, I'm worried about your situation. I miss you so much, everything in you, Dara . You changed. You changed in front of me and laughed wildly in front of Jong Ru."
"I changed because of all your doing, Azlan!"
(Kenapa? Kau terkejut? Ya, aku selama ini membuntuti kalian, aku khawatir dengan keadaanmu. Aku sangat merindukanmu, semua yang ada dalam dirimu, Dara. Kau berubah. Kau berubah di depanku dan tertawa dengan lepas di depan Jong Ru.)
(Aku berubah karena ini semua ulahmu, Reyndad!)
Aku terkejut dengan ucapan Dara diiringi dengan teriakan. Air matanya luruh di depanku.
Aku mengangkat tangan hendak menghapus air mata dipipinya, tapi ditepis kasar oleh Dara .
"Can money fulfill everything? No, Dara money can't cure everything. Money can't heal the wounds we've made together."
"Yes, I am the cause. Can you get out of here right now?"
(Aku tidak menyukai Jong Ru, kau paham itu? Aku ke California, itu dibawa oleh sahabatku. Diakuliah di sini. Jadi, jangan pernah usik kehidupanku lagi, jangan pernah ganggu aku lagi. Carilah perempuan yang lebih baik, cantik, dewasa dan pintar dariku. Kau kaya raya dan tampan, sangat mudah bagimu untuk mencari apa yang kau inginkan di dunia ini.)
(Apa uang bisa memenuhi segalanya? Tidak Dara, uang tidak bisa mengobati segalanya. Uang tidak bisa mengobati luka yang sudah kita torehkan bersama-sama.)
(Ya, akulah penyebabnya. Bisakah kau pergi dari sini sekarang juga? )
Aku menggelengkan kepala tanda aku tak bisa lagi menjauhinya. Aku berjalan selamgkah demi selangkah lalu membawa dirinya ke dalam pelukanku.
__ADS_1
Dara memberontak dan memukul dadaku dengan brutal, tapi kutahan. Bukan ini yang kuinginkan, tapi sebuah balasan darinya.
Aku menahan rasa sakit di dadaku akibat perbuatannya, tapi ini tak sebanding dengan betapa marahnya aku pada diriku sendiri.
Betapa kecewanya aku pada Dara, hingga aku dulu merasakan bahwa napas dan denyut nadiku seolah-olah berhenti.
"You know, you had wanted to commit suicide when you and my dad couldn't find you there. I had scratches on my body, because I was too frustrated when you really disappeared in 1 year. I almost gave up on the world, but mama, mother and love strengthened me. I also intend to depend on myself when you are missing for 1 year and 3 months. But, I thought again, before your corpse is really in front of me, I won't believe in your death or losing you in my world," ujarku seraya menahan isak tangis.
(Kau tahu, kakak sempat ingin melakukan bunuh diri ketika kakak dan papa tidak bisa mencari keberadaanmu di sana. Aku sempat menggoreskan luka di tubuhku, karena aku terlalu frustasi ketika kau benar-benar hilang dalam 1 tahun. Aku hampir menyerah pada dunia, tapi mama, ibu dan Cintalah yang menguatkanku. Aku juga berniat menggantungkan diri ketika kau hilang selama 1 tahun 3 bulan. Tapi, aku kembali berpikir, sebelum mayatmu benar-benar ada di depanku, aku takkan percaya dengan kematianmu atau kehilanganmu di duniaku.)
Aku mengeratkan pelukanku pada Dara walau dia masih belum membalas semua perlakuanku.
"I feel that my life spirit has died. He doesn't exist in this world. I thought that you went to Korea, but you didn't. I love my heart without being as passionate as it used to be, when I looked at your peaceful face while sleeping, looked at the beauty of your hazel brownie beads, the smile from your lips, prepared me breakfast, bath water, when I came home from work and spent time with you. Europhia seemed to have been swallowed up by a very short time for me."
(Aku merasakan jika semangat hidupku telah mati. Dia tidak ada di dunia ini. Aku berpikir bahwa kau pergi ke Korea, ternyata tidak. Aku memukai hatiku tanpa segairah dulu, dulu ketika aku menatap wajah damaimu saat terlelap, menatap keindahan manik hazel browniesmu, senyuman dari bibirmu, menyiapkanku sarapan, air untuk mandi, ketika aku pulang bekerja dan menghabiskan waktu bersamamu. Europhia itu seakan habis ditelan waktu yang amat singkat untukku.)
Aku melepaskan pelukanku padanya. Menatap mwajahnya yang sudah basah oleh air matanya sendiri.
Aku pun begitu.
"Kenapa kamu hidup seperti ini? Aku menikahimu bukan karena kasihan, aku merasakan ada yang berbeda dalam diriku hingga sekarang. Kenapa? Kamu melakukan ini, ha? Aku bemar-benar frustasi dan kecewa pada diriku sendiri," sambungku dengan nada bicara yang rendah.
"Pergilah, kita memang ditakdirkan untuk bersama. Tapi, itu dulu. Sekarang, aku tak mau merasakan hidup bersamamu lagi. Kamu punya waktu yang begitu lanjang untuk mencari wanita lain."
Aku menggelengkan kepala tanda tak percaya dan tak setuju dengan permintaan Dara
Hatinya benar-benar keras bak batu sekarang. Sifatnya dingin, dia berubah seratus delapan puluh derajat.
Dara melepaskan tanganku yang menyentuh bahunya lalu berjalan menuju motornya meninggalkanmu yang masih dilema.
__ADS_1
'Jeongmal dangsin-ieyo, Dara? dangsin-eun byeonhaessjiman deoug saag haejyeossseubnida. Meonjeo dangsin-i geuliwoyo, dangsin-ui salangseuleoun bonseong, dangsin-ui miseongsug han haengdong, geuligo jege mangchin geos gat-eun dangsin-ui mal. Dara-eun eodi issseubnikka? geu dangsi eodie iss-eossseubnikka? Naneun yes dangsin-eul ilh-eossseubnida. Ileojima jebal. Jib-e waseo na-ege dol-awa. Manh-eun salamdeul-i jigeumkkaji dangsin-ui dochaggwa jonjaeleul nohchyeossseubnida. Yeoleobun, geuliwoyo. Dara, nan jeongmal neowai sesang-eul mid-eul suga eobs-eo. Jan-inhaessgo nae momgwa ma-eum-i apeugo gotong seuleowossseubnida.' Aku membatin menatap kepergiannya hingga punggung mungil yang selalu kurindukan itu benar-benar lenyap dari pandanganku.
(Apa ini benar-benar dirimu, Dara? Kau sudah berubah, tapi lebih menjadi yang jahat. Aku merindukan dirimu dulu, sifatmu yang menggemaskan, tingkahmu yang belum dewasa dan bicaramu yang terkesan manja padaku. Kamu di mana Dara? Mana kamu yang dulu? Aku kehilangan dirimu yang dulu. Jangan seperti ini, kumohon. Pulanglah dan kembalilah padaku. Banyak orang yang merindukan kedatangan dan kehadiranmu hingga sekarang. Semuanya, aku merindukan hal itu. Dara, aku sungguh tak bisa percaya padamu dan dunia ini. Benar-benar kejam, menyakitkan dan menyiksa batin dan ragaku.)