
Ah, bagaimana ini? Aku juga tidak paham karena kami telah membayar dan jika kami menjemput kalian, otomatis aku akan membeli yang baru lagi. Ke mana ayahmu, Azka?" tanyaku menggodanya seraya mengibas ke belakang surai hitamku.
"Astaga, paman. Kenapa kau pelit sekali? Itu tak seberapa daripada cemilan kami. Jika saja aku sudah besar, aku pasti akan menyusul kalian ke sana. Bahkan aku akan membayar pantainya jika aku punya banyak uang sekamarku. Dara sekarang tengah menyiapkan perlengkapan kami. Apakah di sana ramai sekali? Aku tak mau melihat orang yang berpakaian minim karena membuatku jijik dan ingin muntah. Beritahu aku," gerutunya memasang wajah marah, tapi menggemaskan.
Aku tertawa sedikit keras karena melihat wajah Azka yang garang. Terlihat ia sangat marah ditandakan dengan telinganya memerah, sama sepertiku.
enak ke sini. Paman Jeehyoon sekarang masih di kantor, sementara Bibi Kim pergi ke kantor lagi karena ada rapat. Terus Azka minta dia di jemput. Dia juga mengatai suamimu yang tampan ini pelit, karena aku tidak mau menjemput mereka."
Dara tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Lalu ia menarik tanganku keluar dari pantai menuju parkiran mobil.
"Ah, bagaimana ini? Aku juga tidak paham karena kami telah membayar dan jika kami menjemput kalian, otomatis aku akan membeli yang baru lagi. Ke mana ayahmu, Azka?"
tanyaku menggodanya seraya mengibas ke belakang surai hitamku.
"Astaga, paman. Kenapa kau pelit sekali? Itu tak seberapa daripada cemilan kami. Jika saja aku sudah besar, aku pasti akan menyusul kalian ke sana. Bahkan aku akan membayar pantainya jika aku punya banyak uang sekamarku. Dara sekarang tengah menyiapkan perlengkapan kami. Apakah di sana ramai sekali? Aku tak mau melihat orang yang berpakaian minim karena membuatku jijik dan ingin muntah. Beritahu aku," gerutunya memasang wajah marah, tapi menggemaskan.
Aku tertawa sedikit keras karena melihat wajah Azka yang garang. Terlihat ia sangat marah ditandakan dengan telinganya memerah, sama sepertiku.
"Ya sudah, kami akan menjemput kalian. Jangan cemas, aku akan membayarnya. Jangan mengatakan paman yanga tampanmu ini pelit, hanya saja aku sekarang tengah menabung untuk anakku kelak. Dulu kau bilang ingin punya adik yang perempuan lalu kau akan menikahinya bukan? Baiklah, segeralah bersiap-siap. Aku tak mau menunggu jika sampai di sana nanti," tuturku.
"Tanpa paman minta, kami akan segera siap-siap dan berlari masuk ke dalam mobilmu."
Tit!
Azka langsung mematikan panggilan video kami sepihak.
"Apa katanya, kak?"
__ADS_1
"Dia mau ikut, tapi Paman dan Bibi Kim tak bisa datang dan tak bisa mengantar mereka ke sini. Paman Jeehyoon sekarang masih di kantor, sementara Bibi Kim pergi ke kantor lagi karena ada rapat. Terus Azka minta dia di jemput. Dia juga mengatai suamimu yang tampan ini pelit, karena aku tidak mau menjemput mereka."
Dara tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Lalu ia menarik tanganku keluar dari pantai menuju parkiran mobil.
***
PoV Author
Sampainya di depan gerbang rumah Kim Jeehyoon, Azka, Ahyun dan para adiknya langsung masuk ke dalam mobil.
Dara sedikit terkejut ketika pintu mobil di sebelahnya terbuka dan munculah Azka di sana.
"Kamu mau duduk di sini, sayang?" tanya Dara seraya mengangkat tubuh mungil Azka yang mengenakan setelan training berwarna maroon bergaris golden.
Azka menganggukkan kepalanya seraya merentangkan tangan ke atas menerima uluran dari Dara.
"Kenapa Azka tidak duduk di belakang sama dengan Kak Ahyun dan para adik-adik perempuanmu? Nanti Tante Dara kesempitan Azka." Azlan menoleh ke arah Azka yang tengah duduk di pangkuan Adnan setelah istrinya menutup pintu mobil.
"Tante, kalau tante keberatan. Aku bisa pindah ke belakang. Tapi, tujuanku duduk di depan untuk mendekat ke anakmu yang ada di dalam perutmu. Bolehkah?" tanya Azka memasang wajah puppy eyes pada Dara.
Dara tersenyum tulus seraya menangkup wajahnya yang chubby putih ditambah dengan bibirnya yang tipis.
"Boleh sayang."
"Dengarkan, paman? Tante Dara aja tidak keberatan jika aku ada di sini. Aku mau mendekat ke adikku ini, aku sangat menginginkan perempuan biar dia bisa menjadi pacarku nanti. Jadi, aku tak kesepian di rumah. Jika aku sudah besar dan bisa menyetir mobil atau mengendarai motor, aku akan sering-sering main ke sana. Memastikan apakah dia sudah makan, sedang belajar atau sedang apa," cerca Azka membuat kedua membesarkan mata tak percaya dengan kata-kata Azka yang sangat sarkatis dan polos.
"Ya, terserahmu saja. Paman mau kamu harus pintar sekolah dan kerja. Kau harus menjadi paman yang punya segalanya dan mantapkan hatimu untuk anakku kelak. Maka, aku akan memberikannya padamu."
__ADS_1
"Hore!" Azka tersenyum bahagia lalu memeluk Dara. Mereka saling berpelukan dan Azka banyak bertanya pada Dara bagaimana cara meluluhkan hati seorang wanita.
"Hei, anak kecil! Jangan berbicara yang tidak-tidak dulu. Kau ini masih kecil, harus banyak belajar dan kembangkan kedisiplinanmu dalam waktu. Kau ini, belum juga kelas 4 sekolah dasar dan masih membicarakan perihal wanita. 'Kan sudah paman katakan, jika kau genius, bukan anakku saja yang menyukaimu, tapi seluruh wanita di sekolahmu. Kau juga harus menjaga penampilan agar terlihat tampan dan sikapmu pada wanita yang kasar dan keras. Nanti yang ada wanita yang kau taksir malah takut dan tak mau berdekatan denganmu bagaimana?" gerutu Azlan sambil fokus menyetir.
"Aish, tante. Bagaimana paman mendekatimu dulu? Apakah dia selalu membelikanmu es krim? Kata Paman Jong Ru wanita itu selalu menyukai es krim, bunga, coklat, boneka atau yang lainnya. Yang penting manis dan cantik."
"Ah, pamanmu tidak melakukan apa-apa, dia langsung menikahi ku dan ya, kami sangat dekat," jawab Dara sekenanya.
Mau berbicara bagaiman dengan anak laki-laki seumur 9 tahun. Belum mengerti apa itu cinta dan kasih sayang terhadap lawan jenisnya.
"Benar-benar si Jong Ru. Otakmu itu sudah di cuci sama dia. Jangan mendekat padanya," titah Azlan pada Azka.
"Bahkan Paman Jong Ru selalu bilang pada kakak kalau mendekati wanita itu punya beberapa teknik," ucap Sarah dari belakang.
"Kau tahu Kak Jahyun? Dia saja belum pacaran padahal dia masih SMP. Lihatlah dia, terlihat santai saja menikmati hidupnya. Kamu ini, masih kecil udah bilang pacar."
Azlan membelokkan mobilnya menuju parkiran pantai yang tadinya ia kunjungi.
"Wah, panas sekali hari ini. Aku tidak mau kulitku gosong, bagaimana caranya tante?" tanya Azka pada Dara.
"Sini biar paman pakaikan kalian sunblock."
Azlan membawa mereka berteduh sementara Dara harus membayar karcis dan beberapa makanan ringan untuk para keponakan Dara.
"Ini karcisnya udah di bayar, terus kita harus masuk," ajak Dara pada mereka. Azka dan lara yang lainnya berlarian menuju tepi pantai. Mereka mengambil pelampung khusus anak-anak yang beraneka ragam. Ada yang bergambar bebek, angsa dan lainnya. Sangat menggemaskan.
"Huh, kakak gak sabar pengen anak banyak. Gak banyak kok, sebelas aja jadi."
__ADS_1
Dara yang tadinya tersenyum melihat mereka berlarian dan tertawa langsung pudar mendengar permintaan Azlan yang benar-benar keterlaluan menurutnya.
Ia menghempaskan tangan Azlan di bahu kirinya dengan kasar lalu mengambil posisi duduk di bangku berpayung. (Gak tahu namanya apa. Kalau ada yang tahu, komen di bawah, ya.)